<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konsep Smart City Kunci Sukses Pemindahan Ibu Kota</title><description>Konsep smart city dinilai sebagai solusi pemerataan pembangunan di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/03/470/2112134/konsep-smart-city-kunci-sukses-pemindahan-ibu-kota</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/03/470/2112134/konsep-smart-city-kunci-sukses-pemindahan-ibu-kota"/><item><title>Konsep Smart City Kunci Sukses Pemindahan Ibu Kota</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/03/470/2112134/konsep-smart-city-kunci-sukses-pemindahan-ibu-kota</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/03/470/2112134/konsep-smart-city-kunci-sukses-pemindahan-ibu-kota</guid><pubDate>Kamis 03 Oktober 2019 05:42 WIB</pubDate><dc:creator>Rani Hardjanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/02/470/2112134/konsep-smart-city-kunci-sukses-pemindahan-ibu-kota-agLKxgbSUo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Konsep Smart City Kunci Sukses Pemindahan Ibu Kota (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/02/470/2112134/konsep-smart-city-kunci-sukses-pemindahan-ibu-kota-agLKxgbSUo.jpg</image><title>Konsep Smart City Kunci Sukses Pemindahan Ibu Kota (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Konsep smart city dinilai sebagai solusi pemerataan pembangunan di Indonesia dan keberlanjutan proyek pemindahan ibu kota negara.

&amp;ldquo;Tiap negara dalam pemindahan ibu kotanya memiliki pertimbangan dan alasan masing-masing,&amp;rdquo; ungkap alumni Teknik Sipil ITS Lucia Karina dalam seminar bertajuk Diseminasi dalam Persiapan Pembangunan Ibu kota Negara, seperti dikutip dari laman ITS, Kamis (3/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Ingin Berkantor di Ibu Kota Baru pada 2024
Tak hanya Indonesia, dia mengungkapkan bahwa beberapa negara telah lebih dulu memiliki sejarah pemindahan ibu kota. Menurutnya, di Indonesia sendiri selain berfokus pada pembenahan tata kota Ibu Kota DKI Jakarta yang kini semakin padat, pemindahan ibu kota juga menitikberatkan pada pemerataan  pembangunan di luar Pulau Jawa yang tidak sepadan dengan pembangunan di Pulau Jawa.

Lucia kemudian mengungkapkan bahwa yang menjadi kunci sukses dan terpenting dalam pemerataan pembangunan di Indonesia adalah konsep Kota Cerdas (Smart City). Konsep tersebut berpedoman pada tiga faktor penting yakni ekonomi, lingkungan, dan komunitas masyarakat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menteri PUPR Beberkan Sistem Urbanisasi di Ibu Kota Baru
&amp;ldquo;Tiga poin tersebut merupakan rangkuman dari 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi fokus dunia,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;Selanjutnya, alumni Departemen Teknik Sipil ITS tersebut  mengungkapkan bahwa konsep Kota Cerdas memiliki beberapa kunci agar  terwujud, di antaranya Smart Infrastructure, Smart Urban Planning, Smart  Mobility, Smart Waste Management, Smart Water Sanitation, Smart  Education, Smart Energy, Smart Security, Smart Housing, Smart Building,  Smart Government, dan Government itu sendiri. Untuk Smart  Infrastructure, dia berpendapat bahwa bukan pembangunan kota yang  diikuti infrastuktur, tapi infrastruktur yang diikuti dengan pembangunan  kota.

Wanita yang sejak kecil memiliki hobi membaca tersebut juga  memaparkan, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas juga menjadi  faktor penentu dalam pembangunan Kota Cerdas. menurutnya, peningkatan  kualitas SDM dapat dimulai dari tingkat perguruan tinggi yang kelak  dampaknya akan menyebar luas pada masyarakat.
&amp;ldquo;Ini dapat juga kita lakukan di ITS, terbuka ruang sebesar-besarnya untuk mengedukasi teman-teman mahasiswa,&quot; katanya.

&amp;nbsp;Lucia juga menekankan kepada para mahasiswa dan alumni teknik bahwa   peran insinyur sangat besar dan berpotensi untuk ikut andil dalam proyek   pemindahan ibu kota ini. &amp;ldquo;Sebagai insinyur, kita tahu fakta di   lapangan, kita bisa berkontribusi di dalam pembangunan, regulasi, dan   kebijakan publik,&amp;rdquo; ungkapnya.

Menilik fakta bahwa Departemen Teknik Sipil ITS memiliki akreditas   tingkat dunia dan lulusan dengan indeks tinggi, merupakan bukti konkret   bahwa warga ITS lebih dari siap untuk terjun langsung dalam proyek ini.   &amp;ldquo;ITS itu lumbungnya insinyur dengan jiwa kemanusiaan yang tinggi. Jadi   kami siap untuk mendukung proses pemindahan ini. Semua ahlinya ada di   sini,&quot; jelas Lucia.
&amp;nbsp;
Tak terbatas beberapa departemen dan warga ITS saja, Lucia juga   menjelaskan bahwa hal ini merupakan tantangan bagi seluruh bidang   departemen dan perguruan tinggi untuk bersama-sama berkolaborasi.   &amp;rdquo;Kolaborasi antar orang-orang yang memiliki pengalaman dan orang-orang   yang ahli di bidangnya, dapat menjadi satu-kesatuan yakni Center of   Championship,&amp;rdquo; paparnya.

Tak tanggung-tanggung, ke depannya, Lucia berharap bahwa ide ini   dapat ditindaklanjuti dengan serius oleh pemerintah, yakni dengan   pembentukan forum gabungan mahasiswa untuk membahas masalah ini. &amp;ldquo;Smart   City akan lebih dapat terealisasi dengan dukungan para mahasiswa. Dari   rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,&amp;rdquo; pungkasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Konsep smart city dinilai sebagai solusi pemerataan pembangunan di Indonesia dan keberlanjutan proyek pemindahan ibu kota negara.

&amp;ldquo;Tiap negara dalam pemindahan ibu kotanya memiliki pertimbangan dan alasan masing-masing,&amp;rdquo; ungkap alumni Teknik Sipil ITS Lucia Karina dalam seminar bertajuk Diseminasi dalam Persiapan Pembangunan Ibu kota Negara, seperti dikutip dari laman ITS, Kamis (3/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Ingin Berkantor di Ibu Kota Baru pada 2024
Tak hanya Indonesia, dia mengungkapkan bahwa beberapa negara telah lebih dulu memiliki sejarah pemindahan ibu kota. Menurutnya, di Indonesia sendiri selain berfokus pada pembenahan tata kota Ibu Kota DKI Jakarta yang kini semakin padat, pemindahan ibu kota juga menitikberatkan pada pemerataan  pembangunan di luar Pulau Jawa yang tidak sepadan dengan pembangunan di Pulau Jawa.

Lucia kemudian mengungkapkan bahwa yang menjadi kunci sukses dan terpenting dalam pemerataan pembangunan di Indonesia adalah konsep Kota Cerdas (Smart City). Konsep tersebut berpedoman pada tiga faktor penting yakni ekonomi, lingkungan, dan komunitas masyarakat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menteri PUPR Beberkan Sistem Urbanisasi di Ibu Kota Baru
&amp;ldquo;Tiga poin tersebut merupakan rangkuman dari 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi fokus dunia,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;Selanjutnya, alumni Departemen Teknik Sipil ITS tersebut  mengungkapkan bahwa konsep Kota Cerdas memiliki beberapa kunci agar  terwujud, di antaranya Smart Infrastructure, Smart Urban Planning, Smart  Mobility, Smart Waste Management, Smart Water Sanitation, Smart  Education, Smart Energy, Smart Security, Smart Housing, Smart Building,  Smart Government, dan Government itu sendiri. Untuk Smart  Infrastructure, dia berpendapat bahwa bukan pembangunan kota yang  diikuti infrastuktur, tapi infrastruktur yang diikuti dengan pembangunan  kota.

Wanita yang sejak kecil memiliki hobi membaca tersebut juga  memaparkan, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas juga menjadi  faktor penentu dalam pembangunan Kota Cerdas. menurutnya, peningkatan  kualitas SDM dapat dimulai dari tingkat perguruan tinggi yang kelak  dampaknya akan menyebar luas pada masyarakat.
&amp;ldquo;Ini dapat juga kita lakukan di ITS, terbuka ruang sebesar-besarnya untuk mengedukasi teman-teman mahasiswa,&quot; katanya.

&amp;nbsp;Lucia juga menekankan kepada para mahasiswa dan alumni teknik bahwa   peran insinyur sangat besar dan berpotensi untuk ikut andil dalam proyek   pemindahan ibu kota ini. &amp;ldquo;Sebagai insinyur, kita tahu fakta di   lapangan, kita bisa berkontribusi di dalam pembangunan, regulasi, dan   kebijakan publik,&amp;rdquo; ungkapnya.

Menilik fakta bahwa Departemen Teknik Sipil ITS memiliki akreditas   tingkat dunia dan lulusan dengan indeks tinggi, merupakan bukti konkret   bahwa warga ITS lebih dari siap untuk terjun langsung dalam proyek ini.   &amp;ldquo;ITS itu lumbungnya insinyur dengan jiwa kemanusiaan yang tinggi. Jadi   kami siap untuk mendukung proses pemindahan ini. Semua ahlinya ada di   sini,&quot; jelas Lucia.
&amp;nbsp;
Tak terbatas beberapa departemen dan warga ITS saja, Lucia juga   menjelaskan bahwa hal ini merupakan tantangan bagi seluruh bidang   departemen dan perguruan tinggi untuk bersama-sama berkolaborasi.   &amp;rdquo;Kolaborasi antar orang-orang yang memiliki pengalaman dan orang-orang   yang ahli di bidangnya, dapat menjadi satu-kesatuan yakni Center of   Championship,&amp;rdquo; paparnya.

Tak tanggung-tanggung, ke depannya, Lucia berharap bahwa ide ini   dapat ditindaklanjuti dengan serius oleh pemerintah, yakni dengan   pembentukan forum gabungan mahasiswa untuk membahas masalah ini. &amp;ldquo;Smart   City akan lebih dapat terealisasi dengan dukungan para mahasiswa. Dari   rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,&amp;rdquo; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
