<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Pamer Kekuatan Industri 4.0, Fokus ke 5 Sektor Ini</title><description>Indonesia terus berjuang untuk menjadi pemimpin ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun 2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/04/320/2112843/ri-pamer-kekuatan-industri-4-0-fokus-ke-5-sektor-ini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/04/320/2112843/ri-pamer-kekuatan-industri-4-0-fokus-ke-5-sektor-ini"/><item><title>RI Pamer Kekuatan Industri 4.0, Fokus ke 5 Sektor Ini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/04/320/2112843/ri-pamer-kekuatan-industri-4-0-fokus-ke-5-sektor-ini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/04/320/2112843/ri-pamer-kekuatan-industri-4-0-fokus-ke-5-sektor-ini</guid><pubDate>Jum'at 04 Oktober 2019 13:43 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/04/320/2112843/ri-pamer-kekuatan-industri-4-0-fokus-ke-5-sektor-ini-dvv3PXArab.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI Pamer Industri 4.0 (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/04/320/2112843/ri-pamer-kekuatan-industri-4-0-fokus-ke-5-sektor-ini-dvv3PXArab.jpg</image><title>RI Pamer Industri 4.0 (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia terus berjuang untuk menjadi pemimpin ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun 2020. Target itu diperkuat seiring telah diluncurkannya peta jalan Making Indonesia 4.0, yang didedikasikan untuk modernisasi sektor manufaktur melalui pemanfaatan teknologi industri 4.0.

&amp;ldquo;Saat ini, ekonomi Indonesia yang terbesar di ASEAN, dan pada tahun 2030 ditargetkan bisa naik ke peringkat 10 besar ekonomi dunia. Ini merupakan aspirasi besar yang ada dalam Making Indonesia 4.0,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto seperti dilansir dari laman Setkab, Jakarta, Jumat (4/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing, Sektor Logistik Harus Berbenah di Industri 4.0
Berdasarkan peta jalan tersebut, pada tahap awal implementasi industri 4.0, Indonesia akan lebih fokus mengembangkan lima sektor manufaktur andalannya, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika. Kelima sektor itu yang dipilih karena mampu memberikan kontribusi hingga 60% terhadap PDB nasional, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

&amp;ldquo;Sektor-sektor tersebut yang akan menjadi prioritas pengembangan ke depannya. Dalam implementasi strateginya, perlu melibatkan stakeholders terkait meliputi pemerintah, asosiasi industri, perusahaan swasta, perguruan tinggi, dan investor,&amp;rdquo; papar Menperin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bekraf Geber Kualitas SDM Hadapi Industri 4.0
Penerapan industri 4.0 dinilai memberikan efek ganda bagi Indonesia  melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 1%-2% dari baseline 5%,  peningkatan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional hingga  25%, peningkatan ekspor bersih hingga 10%, serta peningkatan biaya  penelitian dan pengembangan sekitar 2% dari PDB.

Adapun teknologi yang sedang berkembang seiring bergulirnya industri  4.0, antara lain berupa artificial intelligence (AI), advanced robotic,  internet of things (IoT), 3D Printing, dan Augmented Reality/Virtual  Reality (AR/VR). &amp;ldquo;Teknologi ini dinilai dapat meningkatkan produktivitas  dan kualitas bagi sektor industri secara lebih efisien. Sehingga sektor  industri akan terus berkontribusi besar pada ekonomi,&amp;rdquo; sambung  Menperin.

Pada triwulan II tahun 2019, sektor industri masih memberikan  kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB)  nasional dengan capaian 19,52% (y-on-y). &amp;ldquo;Dari capaian yang mendekati 20% tersebut, Indonesia hampir sejajar dengan Jerman,&amp;rdquo; ujar  Menperin.
Momentum Tepat

Oleh karenanya, dengan terpilihya Indonesia sebagai The Official   Partner Country pada Hannover Messe 2020, Menperin menilai, menjadi   momentum yang tepat untuk menunjukkan kemampuan industri manufaktur   nasional di mata dunia dalam bertransformasi menuju industri 4.0.

&amp;ldquo;Indonesia akan menempati panggung utama pameran terbesar dunia untuk   teknologi industri tersebut. Kegiatannya akan berlangsung pada 20-24   April 2020 di Hannover Messe, Jerman,&amp;rdquo; ungkap Airlangga.

Hannover Messe 2020 juga merupakan salah satu upaya Indonesia untuk   memperkenalkan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang sudah dicanangkan   oleh Presiden Joko Widodo. Selain itu, mendorong peningkatan investasi   sektor industri manufaktur dan pengembangan infrastruktur digital di   Indonesia.

Chairman Managing Board Deutsche Messe, Dr. Jochen K&amp;ouml;ckler   menyampaikan, sebagai partner country di Hannover Messe, Indonesia tidak   hanya memperkuat hubungan ekonominya dengan Jerman, tetapi juga   menunjukkan dirinya dalam event penting dunia tersebut.
&amp;nbsp;
Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Republik Federasi Jerman untuk    Indonesia Peter Schoof menyebutkan, ada empat alasan Indonesia tepat    dipilih sebagai mitra resmi pada perhelatan Hannover Messe 2020.    Pertama, hubungan Indonesia dan Jerman selama beberapa dekade terakhir    terus terjalin baik dan kuat, khususnya dalam bidang kerja sama  ekonomi.

&amp;ldquo;Banyak perusahaan Jerman yang sudah lama ada di Indonesia. Kami    terus mendukung negara ini untuk tumbuh dan berkembang, dan kami juga    sudah banyak mendapatkan manfaat dari inspirasi yang ada di Indonesia,&amp;rdquo;    tutur Peter. Alasan kedua adalah potensi Indonesia yang luar biasa.  Hal   ini terlihat dari hasil penelitian McKinsey, yang memposisikan  ekonomi   Indonesia saat ini berada di peringkat ke-16 dunia. Bahkan,  diproyeksi   bisa menembus hingga peringkat ke-7 pada tahun 2050.

&amp;ldquo;Indonesia punya sumber daya alam dan sumber daya manusia (SDM) yang    sangat besar, serta didukung dengan infrastruktur yang lengkap. Ini    menjadi peluang bagi Indonesia,&amp;rdquo; ujar Duta Besar Jerman itu.

Alasan ketiga, yakni Pemerintah Indonesia sudah tepat memilih program    prioritas pembangunan ke depannya adalah pengembangan kualitas SDM.    &amp;ldquo;Sebab, pembangunan SDM adalah salah satu syarat yang paling penting    bagi Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok global yang tentunya    akan dapat meningkatkan nilai tambah dan inovasi,&amp;rdquo; imbuhnya.

Kemudian, alasan terakhir karena Indonesia adalah negara demokratis,    dan Jerman mendukung negara yang ingin menjalin kerja sama secara    multilateral. &amp;ldquo;Tahun ini kami melihat demokrasi yang dijalankan oleh    Indonesia. Indonesia tidak hanya bersaing di tingkat ASEAN, tetapi juga    kancah global,&amp;rdquo; tandas Peter.

Volume perdagangan antara Jerman dan Indonesia berjumlah lebih dari 6    miliar dollar AS pada 2017. Ekspor Jerman ke Indonesia sebagian besar    terdiri dari mesin, produk kimia, teknologi pengukur dan kontrol,   teknik  elektro, elektronik, kendaraan dan bagian kendaraan. Sementara   itu,  Indonesia mengekspor produk tekstil, sepatu, elektronik, makanan   dan  bahan baku ke Jerman. Saat ini lebih dari 250 perusahaan Jerman    menjalankan bisnis di Indonesia, di antaranya Festo, Robert Bosch, SAP,    T&amp;Uuml;V NORD, Siemens, MAN, ThyssenKrupp, BASF, Bayer, Daimler dan BMW.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia terus berjuang untuk menjadi pemimpin ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun 2020. Target itu diperkuat seiring telah diluncurkannya peta jalan Making Indonesia 4.0, yang didedikasikan untuk modernisasi sektor manufaktur melalui pemanfaatan teknologi industri 4.0.

&amp;ldquo;Saat ini, ekonomi Indonesia yang terbesar di ASEAN, dan pada tahun 2030 ditargetkan bisa naik ke peringkat 10 besar ekonomi dunia. Ini merupakan aspirasi besar yang ada dalam Making Indonesia 4.0,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto seperti dilansir dari laman Setkab, Jakarta, Jumat (4/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing, Sektor Logistik Harus Berbenah di Industri 4.0
Berdasarkan peta jalan tersebut, pada tahap awal implementasi industri 4.0, Indonesia akan lebih fokus mengembangkan lima sektor manufaktur andalannya, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika. Kelima sektor itu yang dipilih karena mampu memberikan kontribusi hingga 60% terhadap PDB nasional, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

&amp;ldquo;Sektor-sektor tersebut yang akan menjadi prioritas pengembangan ke depannya. Dalam implementasi strateginya, perlu melibatkan stakeholders terkait meliputi pemerintah, asosiasi industri, perusahaan swasta, perguruan tinggi, dan investor,&amp;rdquo; papar Menperin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bekraf Geber Kualitas SDM Hadapi Industri 4.0
Penerapan industri 4.0 dinilai memberikan efek ganda bagi Indonesia  melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 1%-2% dari baseline 5%,  peningkatan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional hingga  25%, peningkatan ekspor bersih hingga 10%, serta peningkatan biaya  penelitian dan pengembangan sekitar 2% dari PDB.

Adapun teknologi yang sedang berkembang seiring bergulirnya industri  4.0, antara lain berupa artificial intelligence (AI), advanced robotic,  internet of things (IoT), 3D Printing, dan Augmented Reality/Virtual  Reality (AR/VR). &amp;ldquo;Teknologi ini dinilai dapat meningkatkan produktivitas  dan kualitas bagi sektor industri secara lebih efisien. Sehingga sektor  industri akan terus berkontribusi besar pada ekonomi,&amp;rdquo; sambung  Menperin.

Pada triwulan II tahun 2019, sektor industri masih memberikan  kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB)  nasional dengan capaian 19,52% (y-on-y). &amp;ldquo;Dari capaian yang mendekati 20% tersebut, Indonesia hampir sejajar dengan Jerman,&amp;rdquo; ujar  Menperin.
Momentum Tepat

Oleh karenanya, dengan terpilihya Indonesia sebagai The Official   Partner Country pada Hannover Messe 2020, Menperin menilai, menjadi   momentum yang tepat untuk menunjukkan kemampuan industri manufaktur   nasional di mata dunia dalam bertransformasi menuju industri 4.0.

&amp;ldquo;Indonesia akan menempati panggung utama pameran terbesar dunia untuk   teknologi industri tersebut. Kegiatannya akan berlangsung pada 20-24   April 2020 di Hannover Messe, Jerman,&amp;rdquo; ungkap Airlangga.

Hannover Messe 2020 juga merupakan salah satu upaya Indonesia untuk   memperkenalkan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang sudah dicanangkan   oleh Presiden Joko Widodo. Selain itu, mendorong peningkatan investasi   sektor industri manufaktur dan pengembangan infrastruktur digital di   Indonesia.

Chairman Managing Board Deutsche Messe, Dr. Jochen K&amp;ouml;ckler   menyampaikan, sebagai partner country di Hannover Messe, Indonesia tidak   hanya memperkuat hubungan ekonominya dengan Jerman, tetapi juga   menunjukkan dirinya dalam event penting dunia tersebut.
&amp;nbsp;
Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Republik Federasi Jerman untuk    Indonesia Peter Schoof menyebutkan, ada empat alasan Indonesia tepat    dipilih sebagai mitra resmi pada perhelatan Hannover Messe 2020.    Pertama, hubungan Indonesia dan Jerman selama beberapa dekade terakhir    terus terjalin baik dan kuat, khususnya dalam bidang kerja sama  ekonomi.

&amp;ldquo;Banyak perusahaan Jerman yang sudah lama ada di Indonesia. Kami    terus mendukung negara ini untuk tumbuh dan berkembang, dan kami juga    sudah banyak mendapatkan manfaat dari inspirasi yang ada di Indonesia,&amp;rdquo;    tutur Peter. Alasan kedua adalah potensi Indonesia yang luar biasa.  Hal   ini terlihat dari hasil penelitian McKinsey, yang memposisikan  ekonomi   Indonesia saat ini berada di peringkat ke-16 dunia. Bahkan,  diproyeksi   bisa menembus hingga peringkat ke-7 pada tahun 2050.

&amp;ldquo;Indonesia punya sumber daya alam dan sumber daya manusia (SDM) yang    sangat besar, serta didukung dengan infrastruktur yang lengkap. Ini    menjadi peluang bagi Indonesia,&amp;rdquo; ujar Duta Besar Jerman itu.

Alasan ketiga, yakni Pemerintah Indonesia sudah tepat memilih program    prioritas pembangunan ke depannya adalah pengembangan kualitas SDM.    &amp;ldquo;Sebab, pembangunan SDM adalah salah satu syarat yang paling penting    bagi Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok global yang tentunya    akan dapat meningkatkan nilai tambah dan inovasi,&amp;rdquo; imbuhnya.

Kemudian, alasan terakhir karena Indonesia adalah negara demokratis,    dan Jerman mendukung negara yang ingin menjalin kerja sama secara    multilateral. &amp;ldquo;Tahun ini kami melihat demokrasi yang dijalankan oleh    Indonesia. Indonesia tidak hanya bersaing di tingkat ASEAN, tetapi juga    kancah global,&amp;rdquo; tandas Peter.

Volume perdagangan antara Jerman dan Indonesia berjumlah lebih dari 6    miliar dollar AS pada 2017. Ekspor Jerman ke Indonesia sebagian besar    terdiri dari mesin, produk kimia, teknologi pengukur dan kontrol,   teknik  elektro, elektronik, kendaraan dan bagian kendaraan. Sementara   itu,  Indonesia mengekspor produk tekstil, sepatu, elektronik, makanan   dan  bahan baku ke Jerman. Saat ini lebih dari 250 perusahaan Jerman    menjalankan bisnis di Indonesia, di antaranya Festo, Robert Bosch, SAP,    T&amp;Uuml;V NORD, Siemens, MAN, ThyssenKrupp, BASF, Bayer, Daimler dan BMW.</content:encoded></item></channel></rss>
