<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>      Ada Trans Jawa hingga Bandara Baru, Kepala BKPM Sebut Infrastruktur RI Masih Kalah</title><description>Pembangunan infrastruktur di Indonesia masih kalah dengan negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113724/ada-trans-jawa-hingga-bandara-baru-kepala-bkpm-sebut-infrastruktur-ri-masih-kalah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113724/ada-trans-jawa-hingga-bandara-baru-kepala-bkpm-sebut-infrastruktur-ri-masih-kalah"/><item><title>      Ada Trans Jawa hingga Bandara Baru, Kepala BKPM Sebut Infrastruktur RI Masih Kalah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113724/ada-trans-jawa-hingga-bandara-baru-kepala-bkpm-sebut-infrastruktur-ri-masih-kalah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113724/ada-trans-jawa-hingga-bandara-baru-kepala-bkpm-sebut-infrastruktur-ri-masih-kalah</guid><pubDate>Senin 07 Oktober 2019 11:09 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/07/320/2113724/ada-trans-jawa-hingga-bandara-baru-kepala-bkpm-sebut-infrastruktur-ri-masih-kalah-D9tk6PVGkq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tol (Dok Jasa Marga)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/07/320/2113724/ada-trans-jawa-hingga-bandara-baru-kepala-bkpm-sebut-infrastruktur-ri-masih-kalah-D9tk6PVGkq.jpg</image><title>Tol (Dok Jasa Marga)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia masih kalah dengan negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam.

Hal itu dia ungkapkan pada acara market sounding proyek kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) pembangunan Bandar Udara Singkawang, Kalimantan Barat di Gedung BPKM.

&quot;Walaupun sudah nikmati banyak kemajuan pembangunan infrastruktur. Seperti jalan Trans Jawa, perluasan terminal bandara. Tapi kalau dilihat dari posisi daya saing kita dibanding negara tetangga, kita masih belum mengejar ketertinggalan itu,&quot; ujar dia, Senin (7/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kepala BKPM hingga Menhub 'Jualan' Bandara Singkawang ke Investor
Dia menjelaskan, dengan adanya itu pemerintah tidak bisa melamban. Walaupun fokus saat ini yakni sumber daya manusia, namun infrastruktur harus akselerasi lebih cepat.

&quot;Salah satu cara yakni dengan menggunakan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan menggandeng swasta,&quot; ungkap dia
&amp;nbsp;Baca Juga: Menko Darmin: Setelah Krisis 1998, Indonesia Kesulitan Bangun Infrastruktur
Sebelumnya, pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pembangunan nasional merupakan sebuah pilihan yang logis dan strategis untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing bangsa.
&amp;nbsp;Daya tahan Indonesia sangat tergantung pada ketangguhan infrastruktur  yang kita miliki, di kota, di desa, di kawasan pedalaman, di kawasan  perbatasan, serta pulau-pulau terluar dan terdepan. Daya tahan ini  terbukti dengan bertahannya Indonesia dalam stagnasi ekonomi dunia lima  tahun terakhir ini.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, peringkat daya saing  infrastruktur Indonesia mengalami peningkatan, dari posisi 61 pada tahun  2013 menjadi 52 pada tahun 2018. Presiden menyadari sepenuhnya bahwa  infrastruktur yang handal merupakan salah satu kunci penting dalam  meningkatkan daya saing Indonesia. Kemudian pada Tahun 2019 ini ekonomi  Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,08%, sementara Negara maju  dan Negara berpenduduk besar lain tumbuh di bawah angka Indonesia.

&quot;Presiden Joko Widodo dalam Visi Indonesia yang disampaikan beliau  pada tanggal 14 Juli 2019 silam di Sentul, Bogor, menyampaikan bahwa  infrastruktur akan terus dilanjutkan, namun tidak berhenti di sana,  melainkan harus dikaitkan dengan kemanfaatan ekonomi dari infrastruktur  tersebut. Di samping itu, juga dipastikan bahwa infrastruktur harus  dihubungkan dengan kawasan industri rakyat, industri kecil, kawasan  ekonomi khusus, kawasan pariwisata dan kawasan pertumbuhan lain,&quot; kata  Menteri Basuki.

&amp;nbsp;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia masih kalah dengan negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam.

Hal itu dia ungkapkan pada acara market sounding proyek kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) pembangunan Bandar Udara Singkawang, Kalimantan Barat di Gedung BPKM.

&quot;Walaupun sudah nikmati banyak kemajuan pembangunan infrastruktur. Seperti jalan Trans Jawa, perluasan terminal bandara. Tapi kalau dilihat dari posisi daya saing kita dibanding negara tetangga, kita masih belum mengejar ketertinggalan itu,&quot; ujar dia, Senin (7/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kepala BKPM hingga Menhub 'Jualan' Bandara Singkawang ke Investor
Dia menjelaskan, dengan adanya itu pemerintah tidak bisa melamban. Walaupun fokus saat ini yakni sumber daya manusia, namun infrastruktur harus akselerasi lebih cepat.

&quot;Salah satu cara yakni dengan menggunakan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan menggandeng swasta,&quot; ungkap dia
&amp;nbsp;Baca Juga: Menko Darmin: Setelah Krisis 1998, Indonesia Kesulitan Bangun Infrastruktur
Sebelumnya, pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pembangunan nasional merupakan sebuah pilihan yang logis dan strategis untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing bangsa.
&amp;nbsp;Daya tahan Indonesia sangat tergantung pada ketangguhan infrastruktur  yang kita miliki, di kota, di desa, di kawasan pedalaman, di kawasan  perbatasan, serta pulau-pulau terluar dan terdepan. Daya tahan ini  terbukti dengan bertahannya Indonesia dalam stagnasi ekonomi dunia lima  tahun terakhir ini.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, peringkat daya saing  infrastruktur Indonesia mengalami peningkatan, dari posisi 61 pada tahun  2013 menjadi 52 pada tahun 2018. Presiden menyadari sepenuhnya bahwa  infrastruktur yang handal merupakan salah satu kunci penting dalam  meningkatkan daya saing Indonesia. Kemudian pada Tahun 2019 ini ekonomi  Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,08%, sementara Negara maju  dan Negara berpenduduk besar lain tumbuh di bawah angka Indonesia.

&quot;Presiden Joko Widodo dalam Visi Indonesia yang disampaikan beliau  pada tanggal 14 Juli 2019 silam di Sentul, Bogor, menyampaikan bahwa  infrastruktur akan terus dilanjutkan, namun tidak berhenti di sana,  melainkan harus dikaitkan dengan kemanfaatan ekonomi dari infrastruktur  tersebut. Di samping itu, juga dipastikan bahwa infrastruktur harus  dihubungkan dengan kawasan industri rakyat, industri kecil, kawasan  ekonomi khusus, kawasan pariwisata dan kawasan pertumbuhan lain,&quot; kata  Menteri Basuki.

&amp;nbsp;
</content:encoded></item></channel></rss>
