<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Google: Asia Tenggara Mulai Kejar Amerika untuk Urusan Ekonomi Digital</title><description>Asia Tenggara menjadi kawasan paling potensial untuk ekonomi digital.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113782/google-asia-tenggara-mulai-kejar-amerika-untuk-urusan-ekonomi-digital</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113782/google-asia-tenggara-mulai-kejar-amerika-untuk-urusan-ekonomi-digital"/><item><title>Google: Asia Tenggara Mulai Kejar Amerika untuk Urusan Ekonomi Digital</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113782/google-asia-tenggara-mulai-kejar-amerika-untuk-urusan-ekonomi-digital</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/07/320/2113782/google-asia-tenggara-mulai-kejar-amerika-untuk-urusan-ekonomi-digital</guid><pubDate>Senin 07 Oktober 2019 12:51 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/07/320/2113782/google-asia-tenggara-mulai-kejar-amerika-untuk-urusan-ekonomi-digital-4OPOpOSIJf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Google soal Ekonomi Digital (Foto: Okezone.com/Giri)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/07/320/2113782/google-asia-tenggara-mulai-kejar-amerika-untuk-urusan-ekonomi-digital-4OPOpOSIJf.jpg</image><title>Google soal Ekonomi Digital (Foto: Okezone.com/Giri)</title></images><description>JAKARTA - Asia Tenggara menjadi kawasan paling potensial untuk ekonomi digital. Pasalnya, dalam laporan e-Conomy SEA tahun ini yang disusun oleh Google. Temasek, dan Bain &amp;amp; Company menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi digital yang pesat di Asia Tenggara.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menperin: Digital Akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi hingga 2%
Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf mengatakan, tumbuh pesatnya angka ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara didorong oleh jumlah pengguna internet. Saat ini angka pengguna internet di kawasan asia tenggara mencapai 360 juta.

Angka ini mengalami kenaikan hampir lima kali lipat dibandingkan tahun 2015. Pada 2015, angka pengguna internet di kawasan Asia Tenggara hanya sebanyak 100 juta saja.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pengusaha Minta Pajak Ekonomi Digital Bersifat Adil
&amp;ldquo;Negara di Asia Tenggara terus closing the gap dengan negara-negara seperti Amerika,&amp;rdquo; ujarnya dalam acara paparan di Kantor Google, Jakarta, Senin (7/10/2019).
Meskipun begitu lanjut Randy, masi ada beberapa pekerjaan rumah yang  harus dikejar oleh negara-negara di Asia Tenggara. Karena dari jumlah  360 juta, hanya setengahnya saja yang sudah paham dan menggunakan  teknologi digital untuk mengembangkan perekonomian.

&amp;ldquo;Yang berpartisipasi baru 180 juta. Setengahnya lagi mungkin udah  berpartisipasi dengan Whatsapp tapi belum berpartisipasi di internet  ekonomi. Jadi kesempatannya sangat besar. Kita sudah maju tapi  kesempatan untuk maju masih sangat besar,&amp;rdquo; katanya.


Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain &amp;amp;  Company Florian Hoppe mengatakan, meskipun tumbuh pesat namun masih ada  beberapa gap yang harus dikejar oleh negara-negara di Asia Tenggara.  Salah satunya adalah masih rendahnya akses keuangan digital dari  masyarakatnya.

&amp;ldquo;Dengan 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan dan  92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi dan data  dapat dimanfaatkan untuk mengubah cara orang Indonesia menangani  pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi, dan asuransi online,&amp;rdquo;  katanya.
Tentunya menurut Hoppe, hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh   pemain-pemain besar. Utamanya seperti Indonesia dan Vietnam yang   memiliki potensi pertumbuhan paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

&amp;ldquo;Terdapat kekurangan akses untuk layanan keuangan di Asia Tenggara   dan ini jelas merupakan peluang bagi Indonesia, yang hanya 42 juta   penduduknya memiliki rekening bank,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Asia Tenggara menjadi kawasan paling potensial untuk ekonomi digital. Pasalnya, dalam laporan e-Conomy SEA tahun ini yang disusun oleh Google. Temasek, dan Bain &amp;amp; Company menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi digital yang pesat di Asia Tenggara.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menperin: Digital Akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi hingga 2%
Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf mengatakan, tumbuh pesatnya angka ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara didorong oleh jumlah pengguna internet. Saat ini angka pengguna internet di kawasan asia tenggara mencapai 360 juta.

Angka ini mengalami kenaikan hampir lima kali lipat dibandingkan tahun 2015. Pada 2015, angka pengguna internet di kawasan Asia Tenggara hanya sebanyak 100 juta saja.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pengusaha Minta Pajak Ekonomi Digital Bersifat Adil
&amp;ldquo;Negara di Asia Tenggara terus closing the gap dengan negara-negara seperti Amerika,&amp;rdquo; ujarnya dalam acara paparan di Kantor Google, Jakarta, Senin (7/10/2019).
Meskipun begitu lanjut Randy, masi ada beberapa pekerjaan rumah yang  harus dikejar oleh negara-negara di Asia Tenggara. Karena dari jumlah  360 juta, hanya setengahnya saja yang sudah paham dan menggunakan  teknologi digital untuk mengembangkan perekonomian.

&amp;ldquo;Yang berpartisipasi baru 180 juta. Setengahnya lagi mungkin udah  berpartisipasi dengan Whatsapp tapi belum berpartisipasi di internet  ekonomi. Jadi kesempatannya sangat besar. Kita sudah maju tapi  kesempatan untuk maju masih sangat besar,&amp;rdquo; katanya.


Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain &amp;amp;  Company Florian Hoppe mengatakan, meskipun tumbuh pesat namun masih ada  beberapa gap yang harus dikejar oleh negara-negara di Asia Tenggara.  Salah satunya adalah masih rendahnya akses keuangan digital dari  masyarakatnya.

&amp;ldquo;Dengan 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan dan  92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi dan data  dapat dimanfaatkan untuk mengubah cara orang Indonesia menangani  pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi, dan asuransi online,&amp;rdquo;  katanya.
Tentunya menurut Hoppe, hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh   pemain-pemain besar. Utamanya seperti Indonesia dan Vietnam yang   memiliki potensi pertumbuhan paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

&amp;ldquo;Terdapat kekurangan akses untuk layanan keuangan di Asia Tenggara   dan ini jelas merupakan peluang bagi Indonesia, yang hanya 42 juta   penduduknya memiliki rekening bank,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
