<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perang Dagang China-Amerika Bakal Pengaruhi Ekspor RI, Begini Penjelasannya!</title><description>Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui kondisi global yang semakin tidak stabil akan menjadi sentimen negatif.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/20/2114793/perang-dagang-china-amerika-bakal-pengaruhi-ekspor-ri-begini-penjelasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/20/2114793/perang-dagang-china-amerika-bakal-pengaruhi-ekspor-ri-begini-penjelasannya"/><item><title>Perang Dagang China-Amerika Bakal Pengaruhi Ekspor RI, Begini Penjelasannya!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/20/2114793/perang-dagang-china-amerika-bakal-pengaruhi-ekspor-ri-begini-penjelasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/20/2114793/perang-dagang-china-amerika-bakal-pengaruhi-ekspor-ri-begini-penjelasannya</guid><pubDate>Rabu 09 Oktober 2019 15:42 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/09/20/2114793/perang-dagang-china-amerika-bakal-pengaruhi-ekspor-ri-begini-penjelasannya-YhHP53KGPk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/09/20/2114793/perang-dagang-china-amerika-bakal-pengaruhi-ekspor-ri-begini-penjelasannya-YhHP53KGPk.jpg</image><title>Menko Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui kondisi global yang semakin tidak stabil akan menjadi sentimen negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi, kondisi ini diyakini tidak akan berdampak terlalu signifikan.

&quot;Kita tahu, China dan Amerika Serikat merupakan negara mitra dagang utama Indonesia. Dengan semakin panasnya tensi dagang antara kedua negara adidaya tersebut, maka neraca dagang RI dengan AS dan China dipastikan akan terdampak,&quot; ujar dia di kantornya, Rabu (9/10/2019)
 
&amp;nbsp;Baca juga: Fokus Jokowi Soal Kemiskinan 5 Tahun ke Depan, Ini Bocoran Menteri PPN 
Namun, lanjut dia dilihat porsi sumbangan pertumbuhan ekonomi, net ekspor bukan merupakan yang terbesar. Sehingga dampak dari perlemahan dagang dengan kedua negara dinilai tidak akan terlalu signifikan.

&quot;Pengaruh perdagangan global itu ada tapi enggak sebanyak misalnya Malaysia, apalagi Singapura. Singapura sudah 0 (pertumbuhan ekonominya). Nah, kalau ditanya ada dampaknya? Ada, karena negara tujuan utama ekspor kita adalah Amerika dan China,&quot; tutur dia.
 
Baca juga: Booming Harga Komoditas Berakhir, Ekonomi RI Hanya Mampu Tumbuh 5% pada 2015-2019
Menurut dia, selama hampir 6 bulan terakhir baik ekspor maupun impor nasional mengalami perlemahan. &quot;Tapi sejak bulan lalu kalau tak salah sudah membaik lagi,&quot; ungkap dia.Oleh karena itu, tutur dia, dirinya optimis bahwa pertumbuhan ekonomi  kuartal III-2019 akan berada di atas 5%. Di mana konsumsi rumah tangga  diyakini masih menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi.

&quot;Karena memang kita bergantung pada demand dalam negeri daripada  ekspor. Jadi jangan dicampur aduk kalau dunia lagi payah terus kita  dianggap juga payah,&quot; pungkas dia.

Seperti diketahui, melihat data realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal  II 2019, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendongkrak utama, dengan  angka pertumbuhan sebesar 5,17%. Sedangkan ekspor nett (ekspor dikurangi  impor) terkontraksi 1,84%.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui kondisi global yang semakin tidak stabil akan menjadi sentimen negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi, kondisi ini diyakini tidak akan berdampak terlalu signifikan.

&quot;Kita tahu, China dan Amerika Serikat merupakan negara mitra dagang utama Indonesia. Dengan semakin panasnya tensi dagang antara kedua negara adidaya tersebut, maka neraca dagang RI dengan AS dan China dipastikan akan terdampak,&quot; ujar dia di kantornya, Rabu (9/10/2019)
 
&amp;nbsp;Baca juga: Fokus Jokowi Soal Kemiskinan 5 Tahun ke Depan, Ini Bocoran Menteri PPN 
Namun, lanjut dia dilihat porsi sumbangan pertumbuhan ekonomi, net ekspor bukan merupakan yang terbesar. Sehingga dampak dari perlemahan dagang dengan kedua negara dinilai tidak akan terlalu signifikan.

&quot;Pengaruh perdagangan global itu ada tapi enggak sebanyak misalnya Malaysia, apalagi Singapura. Singapura sudah 0 (pertumbuhan ekonominya). Nah, kalau ditanya ada dampaknya? Ada, karena negara tujuan utama ekspor kita adalah Amerika dan China,&quot; tutur dia.
 
Baca juga: Booming Harga Komoditas Berakhir, Ekonomi RI Hanya Mampu Tumbuh 5% pada 2015-2019
Menurut dia, selama hampir 6 bulan terakhir baik ekspor maupun impor nasional mengalami perlemahan. &quot;Tapi sejak bulan lalu kalau tak salah sudah membaik lagi,&quot; ungkap dia.Oleh karena itu, tutur dia, dirinya optimis bahwa pertumbuhan ekonomi  kuartal III-2019 akan berada di atas 5%. Di mana konsumsi rumah tangga  diyakini masih menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi.

&quot;Karena memang kita bergantung pada demand dalam negeri daripada  ekspor. Jadi jangan dicampur aduk kalau dunia lagi payah terus kita  dianggap juga payah,&quot; pungkas dia.

Seperti diketahui, melihat data realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal  II 2019, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendongkrak utama, dengan  angka pertumbuhan sebesar 5,17%. Sedangkan ekspor nett (ekspor dikurangi  impor) terkontraksi 1,84%.</content:encoded></item></channel></rss>
