<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Saingi E-Commerce yang Merajalela, Pemilik Mal Bisa Pakai Konsep Grab and Go</title><description>Pusat perbelanjaan seperti mall, tetap mampu bersaing dengan e-commerce.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/470/2114878/saingi-e-commerce-yang-merajalela-pemilik-mal-bisa-pakai-konsep-grab-and-go</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/470/2114878/saingi-e-commerce-yang-merajalela-pemilik-mal-bisa-pakai-konsep-grab-and-go"/><item><title>Saingi E-Commerce yang Merajalela, Pemilik Mal Bisa Pakai Konsep Grab and Go</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/470/2114878/saingi-e-commerce-yang-merajalela-pemilik-mal-bisa-pakai-konsep-grab-and-go</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/09/470/2114878/saingi-e-commerce-yang-merajalela-pemilik-mal-bisa-pakai-konsep-grab-and-go</guid><pubDate>Rabu 09 Oktober 2019 20:03 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/09/470/2114878/saingi-e-commerce-yang-merajalela-pemilik-mal-bisa-pakai-konsep-grab-and-go-g006ktwRn4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mall (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/09/470/2114878/saingi-e-commerce-yang-merajalela-pemilik-mal-bisa-pakai-konsep-grab-and-go-g006ktwRn4.jpg</image><title>Mall (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menyatakan, pusat perbelanjaan seperti mall, tetap mampu bersaing dengan e-commerce. Dia menilai, pada dasarnya e-commerce tidak bisa menggantikan kehadiran pusat perbelanjaan.

&quot;Pusat perbelanjaan dengan bisnis e-commerce memang dampaknya tidak signifikan. Karena belanja melalui handphone tidak bisa mengalahkan pengalaman berbelanja di pusat perbelanjaan,&quot; ujarnya di Gedung WTC I, Jakarta, Rabu (9/10/2019).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Lawan Online, Okupansi Mal di Jakarta Didominasi Sektor Makanan dan Minuman
Menurutnya, untuk terus mampu bersaing, pemilik pusat perbelanjaan harus melakukan penataan ulang ruang yang ada. Di antaranya dengan menciptakan co-working space yang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

&quot;Mal juga sudah berubah menjadi tempat melakukan bisnis, sehingga ruang kerja sama seperti co-working bisa mendorong keramaian dan meningkatkan serapan,&quot; kata Ferry.
 
Baca juga: Okupansi Mal di Jakarta Mulai Penuh, Buktinya Banyak Tenant Baru
Selain itu, pengusaha ritel modern juga harus mampu melakukan inovasi, yakni dengan lebih menekankan pengalaman pelanggan. Pemanfaatan teknologi juga perlu dilakukan untuk mendorong pembelian yang lebih implusif.

&quot;Ciptakan ruang pasar dengan cara yang kreatif bukan mengganggu pasar yang ada,&quot; ujarnya.
 
Baca juga: Dubai Bangun Mal Terbesar di Dunia Senilai Rp29,2 Triliun, Ini Penampakannya
Dia menyatakan, kemudahan dalam berbelanja juga akan menjadi daya tarik pusat perbelanjaan untuk bersaing dengan e-commerce. Hal itu dapat dilakukan kemudahan dengan penyajian, pengiriman, serta pembayaran.

Menurutnya, konsep grab and go saat ini sudah mulai marak diterapkan. &quot;Karena konsep dengan belanja barang ke toko besar,  parkirnya repot dan tempat luas sehingga tidak fokus. Sehingga kini mulai menjadi favorit konsep Grab and Go,&quot; katanya,Ferry menekankan, pusat perbelanjaan pada dasarnya tetap memikat  dengan menjadi tempat rekreasi. Tercermin dari pertumbuhan pembangunan  infrastruktur dan rumah tinggal yang membuat pengembang memperluas  pembangunan pusat perbelanjaan ke wilayah Bodetabek (Bogor, Depok,  Tanggerang, Bekasi).

&quot;Sekarang sudah ada Mall Pakuwon, Ciputra, Aeon, Jaya Property dan Transcorp,&quot; katanya.

Ferry juga memproyeksi, total pasok ritel yang akan beroperasi pada  2019-2023 akan sebanyak 1,2 juta meter persegi. Dari total tersebut, 70%  akan berada di wilayah Bodetabek. &quot;Nanti  juga akan ada mal baru di  kawasan pusat bisnis pada tahun 2020,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menyatakan, pusat perbelanjaan seperti mall, tetap mampu bersaing dengan e-commerce. Dia menilai, pada dasarnya e-commerce tidak bisa menggantikan kehadiran pusat perbelanjaan.

&quot;Pusat perbelanjaan dengan bisnis e-commerce memang dampaknya tidak signifikan. Karena belanja melalui handphone tidak bisa mengalahkan pengalaman berbelanja di pusat perbelanjaan,&quot; ujarnya di Gedung WTC I, Jakarta, Rabu (9/10/2019).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Lawan Online, Okupansi Mal di Jakarta Didominasi Sektor Makanan dan Minuman
Menurutnya, untuk terus mampu bersaing, pemilik pusat perbelanjaan harus melakukan penataan ulang ruang yang ada. Di antaranya dengan menciptakan co-working space yang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

&quot;Mal juga sudah berubah menjadi tempat melakukan bisnis, sehingga ruang kerja sama seperti co-working bisa mendorong keramaian dan meningkatkan serapan,&quot; kata Ferry.
 
Baca juga: Okupansi Mal di Jakarta Mulai Penuh, Buktinya Banyak Tenant Baru
Selain itu, pengusaha ritel modern juga harus mampu melakukan inovasi, yakni dengan lebih menekankan pengalaman pelanggan. Pemanfaatan teknologi juga perlu dilakukan untuk mendorong pembelian yang lebih implusif.

&quot;Ciptakan ruang pasar dengan cara yang kreatif bukan mengganggu pasar yang ada,&quot; ujarnya.
 
Baca juga: Dubai Bangun Mal Terbesar di Dunia Senilai Rp29,2 Triliun, Ini Penampakannya
Dia menyatakan, kemudahan dalam berbelanja juga akan menjadi daya tarik pusat perbelanjaan untuk bersaing dengan e-commerce. Hal itu dapat dilakukan kemudahan dengan penyajian, pengiriman, serta pembayaran.

Menurutnya, konsep grab and go saat ini sudah mulai marak diterapkan. &quot;Karena konsep dengan belanja barang ke toko besar,  parkirnya repot dan tempat luas sehingga tidak fokus. Sehingga kini mulai menjadi favorit konsep Grab and Go,&quot; katanya,Ferry menekankan, pusat perbelanjaan pada dasarnya tetap memikat  dengan menjadi tempat rekreasi. Tercermin dari pertumbuhan pembangunan  infrastruktur dan rumah tinggal yang membuat pengembang memperluas  pembangunan pusat perbelanjaan ke wilayah Bodetabek (Bogor, Depok,  Tanggerang, Bekasi).

&quot;Sekarang sudah ada Mall Pakuwon, Ciputra, Aeon, Jaya Property dan Transcorp,&quot; katanya.

Ferry juga memproyeksi, total pasok ritel yang akan beroperasi pada  2019-2023 akan sebanyak 1,2 juta meter persegi. Dari total tersebut, 70%  akan berada di wilayah Bodetabek. &quot;Nanti  juga akan ada mal baru di  kawasan pusat bisnis pada tahun 2020,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
