<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Melambat Gara-Gara AS-China, Kemiskinan pun Bergejolak</title><description>Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan melambat dari 6,3% menjadi 5,8%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/20/2115131/ekonomi-melambat-gara-gara-as-china-kemiskinan-pun-bergejolak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/20/2115131/ekonomi-melambat-gara-gara-as-china-kemiskinan-pun-bergejolak"/><item><title>Ekonomi Melambat Gara-Gara AS-China, Kemiskinan pun Bergejolak</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/20/2115131/ekonomi-melambat-gara-gara-as-china-kemiskinan-pun-bergejolak</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/20/2115131/ekonomi-melambat-gara-gara-as-china-kemiskinan-pun-bergejolak</guid><pubDate>Kamis 10 Oktober 2019 12:19 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/10/20/2115131/ekonomi-melambat-gara-gara-as-china-kemiskinan-pun-bergejolak-X7P9Bktj7m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Melambat Gara-Gara AS-China (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/10/20/2115131/ekonomi-melambat-gara-gara-as-china-kemiskinan-pun-bergejolak-X7P9Bktj7m.jpg</image><title>Ekonomi Melambat Gara-Gara AS-China (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan melambat dari 6,3% pada tahun 2018 menjadi 5,8% pada 2019, kemudian 5,7% dan 5,6% masing-masing pada tahun 2020 dan 2021.

Melemahnya permintaan global, termasuk dari China, dan meningkatnya ketidakpastian ketegangan perdagangan AS-China yang sedang berlangsung telah menyebabkan penurunan ekspor dan pertumbuhan investasi, menguji ketahanan kawasan. Demikian menurut Weathering Growing Risk, laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2019 yang dirilis Bank Dunia hari ini.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bos IMF yang Baru Gregetan Sama Perang Dagang
Di kawasan ini, selain China, pertumbuhan konsumsi tetap stabil, meskipun sedikit lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal. Namun, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang lebih kecil di kawasan ini tetap kuat, mencerminkan keadaan spesifik negara termasuk pertumbuhan yang stabil di sektor pariwisata, real estat, dan ekstraktif.

&quot;Ketika pertumbuhan melambat, demikian juga tingkat penurunan kemiskinan,&quot; kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (10/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Hubungan AS-China Makin Tak Karuan karena Visa, Wall Street Terkapar
Bank Dunia memperkirakan bahwa hampir seperempat penduduk di negara-negara berkembang Asia Timur dan Pasifik hidup di bawah garis kemiskinan kelas menengah-atas sebesar USD5,50 per hari. Ini mencakup hampir 7 juta orang lebih banyak dari yang kami proyeksikan pada bulan April, ketika pertumbuhan kawasan terlihat lebih kuat.
&amp;nbsp;Laporan ini menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan perdagangan  menimbulkan ancaman jangka panjang terhadap pertumbuhan kawasan.  Sementara beberapa negara berharap mendapat manfaat dari konfigurasi  ulang lanskap perdagangan global, rantai nilai global yang tidak  fleksibel membatasi sisi positif bagi negara-negara di kawasan dalam  waktu dekat.

&amp;ldquo;Ketika perusahaan-perusahaan mencari cara untuk menghindari tarif,  akan sulit bagi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk  menggantikan peran Tiongkok dalam rantai produksi global dalam jangka  pendek karena infrastruktur yang tidak memadai dan skala produksi yang  kecil,&amp;rdquo; kata Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Andrew  Mason.

Laporan ini memperingatkan bahwa risiko penurunan pertumbuhan kawasan  telah meningkat. Ketegangan perdagangan yang berkepanjangan antara  China dan Amerika Serikat akan terus menekan pertumbuhan investasi,  mengingat tingkat ketidakpastian yang tinggi. Perlambatan di Tiongkok  yang terjadi lebih cepat dari perkiraan, perkembangan di kawasan Euro  dan Amerika Serikat, serta Brexit yang kacau, selanjutnya dapat  melemahkan permintaan eksternal untuk ekspor kawasan.
&amp;nbsp;Tingkat utang yang tinggi dan meningkat di beberapa negara juga   membatasi kemampuan mereka untuk menggunakan kebijakan fiskal dan   moneter untuk mengurangi dampak perlambatan. Selain itu, setiap   perubahan mendadak dalam kondisi keuangan global dapat berdampak pada   biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk kawasan tersebut, mengurangi   pertumbuhan kredit dan semakin membebani investasi swasta dan   pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Untuk menghadapi risiko yang terus meningkat, laporan   merekomendasikan bahwa negara-negara dengan ruang kebijakan yang cukup   menggunakan langkah-langkah fiskal dan/atau moneter untuk membantu   merangsang ekonomi mereka, sambil menjaga kesinambungan fiskal dan   utang. Negara-negara di kawasan ini juga akan mendapatkan manfaat dengan   terus mempertahankan keterbukaan perdagangan serta memperdalam   integrasi perdagangan regional.

Perselisihan perdagangan AS-China yang sedang berlangsung, bersama   dengan melambatnya pertumbuhan global, juga meningkatkan kebutuhan bagi   negara-negara di kawasan melakukan reformasi agar produktivitas mereka   meningkat dan mendorong pertumbuhan. Ini termasuk reformasi peraturan   yang meningkatkan iklim perdagangan dan investasi untuk menarik   investasi dan memfasilitasi pergerakan barang, teknologi, dan   keterampilan.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan melambat dari 6,3% pada tahun 2018 menjadi 5,8% pada 2019, kemudian 5,7% dan 5,6% masing-masing pada tahun 2020 dan 2021.

Melemahnya permintaan global, termasuk dari China, dan meningkatnya ketidakpastian ketegangan perdagangan AS-China yang sedang berlangsung telah menyebabkan penurunan ekspor dan pertumbuhan investasi, menguji ketahanan kawasan. Demikian menurut Weathering Growing Risk, laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2019 yang dirilis Bank Dunia hari ini.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bos IMF yang Baru Gregetan Sama Perang Dagang
Di kawasan ini, selain China, pertumbuhan konsumsi tetap stabil, meskipun sedikit lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal. Namun, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang lebih kecil di kawasan ini tetap kuat, mencerminkan keadaan spesifik negara termasuk pertumbuhan yang stabil di sektor pariwisata, real estat, dan ekstraktif.

&quot;Ketika pertumbuhan melambat, demikian juga tingkat penurunan kemiskinan,&quot; kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (10/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Hubungan AS-China Makin Tak Karuan karena Visa, Wall Street Terkapar
Bank Dunia memperkirakan bahwa hampir seperempat penduduk di negara-negara berkembang Asia Timur dan Pasifik hidup di bawah garis kemiskinan kelas menengah-atas sebesar USD5,50 per hari. Ini mencakup hampir 7 juta orang lebih banyak dari yang kami proyeksikan pada bulan April, ketika pertumbuhan kawasan terlihat lebih kuat.
&amp;nbsp;Laporan ini menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan perdagangan  menimbulkan ancaman jangka panjang terhadap pertumbuhan kawasan.  Sementara beberapa negara berharap mendapat manfaat dari konfigurasi  ulang lanskap perdagangan global, rantai nilai global yang tidak  fleksibel membatasi sisi positif bagi negara-negara di kawasan dalam  waktu dekat.

&amp;ldquo;Ketika perusahaan-perusahaan mencari cara untuk menghindari tarif,  akan sulit bagi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk  menggantikan peran Tiongkok dalam rantai produksi global dalam jangka  pendek karena infrastruktur yang tidak memadai dan skala produksi yang  kecil,&amp;rdquo; kata Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Andrew  Mason.

Laporan ini memperingatkan bahwa risiko penurunan pertumbuhan kawasan  telah meningkat. Ketegangan perdagangan yang berkepanjangan antara  China dan Amerika Serikat akan terus menekan pertumbuhan investasi,  mengingat tingkat ketidakpastian yang tinggi. Perlambatan di Tiongkok  yang terjadi lebih cepat dari perkiraan, perkembangan di kawasan Euro  dan Amerika Serikat, serta Brexit yang kacau, selanjutnya dapat  melemahkan permintaan eksternal untuk ekspor kawasan.
&amp;nbsp;Tingkat utang yang tinggi dan meningkat di beberapa negara juga   membatasi kemampuan mereka untuk menggunakan kebijakan fiskal dan   moneter untuk mengurangi dampak perlambatan. Selain itu, setiap   perubahan mendadak dalam kondisi keuangan global dapat berdampak pada   biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk kawasan tersebut, mengurangi   pertumbuhan kredit dan semakin membebani investasi swasta dan   pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Untuk menghadapi risiko yang terus meningkat, laporan   merekomendasikan bahwa negara-negara dengan ruang kebijakan yang cukup   menggunakan langkah-langkah fiskal dan/atau moneter untuk membantu   merangsang ekonomi mereka, sambil menjaga kesinambungan fiskal dan   utang. Negara-negara di kawasan ini juga akan mendapatkan manfaat dengan   terus mempertahankan keterbukaan perdagangan serta memperdalam   integrasi perdagangan regional.

Perselisihan perdagangan AS-China yang sedang berlangsung, bersama   dengan melambatnya pertumbuhan global, juga meningkatkan kebutuhan bagi   negara-negara di kawasan melakukan reformasi agar produktivitas mereka   meningkat dan mendorong pertumbuhan. Ini termasuk reformasi peraturan   yang meningkatkan iklim perdagangan dan investasi untuk menarik   investasi dan memfasilitasi pergerakan barang, teknologi, dan   keterampilan.
</content:encoded></item></channel></rss>
