<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketahanan Pangan Harus Berlandasan Kedaulatan dan Kemandirian</title><description>Salah satu cara untuk mencapai agenda pembangunan yang berorientasi pada  kesejahteraan rakyat adalah melalui peningkatan kedaulatan pangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/320/2115365/ketahanan-pangan-harus-berlandasan-kedaulatan-dan-kemandirian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/320/2115365/ketahanan-pangan-harus-berlandasan-kedaulatan-dan-kemandirian"/><item><title>Ketahanan Pangan Harus Berlandasan Kedaulatan dan Kemandirian</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/320/2115365/ketahanan-pangan-harus-berlandasan-kedaulatan-dan-kemandirian</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/10/320/2115365/ketahanan-pangan-harus-berlandasan-kedaulatan-dan-kemandirian</guid><pubDate>Kamis 10 Oktober 2019 18:44 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/10/320/2115365/ketahanan-pangan-harus-berlandasan-kedaulatan-dan-kemandirian-IepqGP2bVP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Beras (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/10/320/2115365/ketahanan-pangan-harus-berlandasan-kedaulatan-dan-kemandirian-IepqGP2bVP.jpg</image><title>Beras (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Salah satu cara untuk mencapai agenda pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat adalah melalui peningkatan kedaulatan pangan.  Sejalan dengan hal tersebut, maka pembangunan ketahanan pangan, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang, harus berlandaskan pada kedaulatan dan kemandirian pangan.
Untuk merealisasikan ketahanan, kedaulatan, dan kemandirian pangan, saat ini Indonesia menghadapi banyak tantangan. Dimulai dari kebijakan yang tumpang tindih antara kementerian dan lembaga, perbedaan data mengenai supply and demand pangan nasional, hingga alih fungsi lahan yang berdampak pada keterbatasan lahan produktif.
Baca juga: Ketika Negara Terkecil di ASEAN Mencoba Swasembada Pangan
Kementerian Pertanian sendiri menyatakan, tantangan lainnya dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia, salah satunya adalah peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 305 juta jiwa di tahun 2035. Sementara peningkatan jumlah penduduk selalu diiringi oleh peningkatan jumlah pangan.

Kementan memprediksi kebutuhan konsumsi beras, pada 2035 akan naik 19,6%, jagung naik  20%, dan diikuti komoditas lainnya. Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang dalam peningkatan produksi, apalagi sumberdaya lahan yang dimiliki Indonesia begitu besar.
Baca juga: Genjot Ekspor, RI Bangun Gudang Pangan Raksasa di 5 Kota 
Dalam seminar yang diselenggarakan oleh IDX Channel ini, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatut Sumbogodjati mengatakan, pemerintah tetap fokus pada pembangunan pertanian, dengan manfaatkan sumber daya yang ada. Gatut menegaskan saat ini Indonesia masih pada koridor yang tepat dalam menuju ketahanan pangan.
Kementan, kata Gatut, juga telah melakukan harmonisasi regulasi, agar  mampu menciptakan iklim usaha pertanian yang kondusif dan mendukung  terciptanya ketahaan pangan.
Selain itu, Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik WIbowo  menyatakan, diperlukan kajian mendalam mengenai kebijakan yang menyentuh  sisi penyediaan bibit dan pakan, dikarenakan komponen bibit dan bahan  baku pakan masih tergantung pada impor, khususnya jagung. Sampai saat  ini komponen pakan menyerap lebih dari 70% dari biaya produksi.

Upaya tersebut diharapkan dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan  simultan lintas kementerian dan juga melibatkan subsektor lain.

Eko juga mengatakan, proyeksi konsumsi daging sapi perkapita dan  nasional kedepannya diperkirakan positif. Hal ini juga harus diikuti  dengan perbaikan system peternakan di Indonesia agar produksi dalam  negeri dapat menutupi konsumsi nasional. Salah satu usaha perbaikan  system peternakan adalah dengan pengaturan rasio perbandingan impor sapi  antara indukan dan bakalan (Permentan Nomor 2 Tahun 2017).

Dari sisi pembiayaan, Senior Vice President Micro Development &amp;amp;   Agent Banking Bank Mandiri, Zedo Faly mengatakan, perbankan memiliki   beberapa peran dalam mendukung ketahanan pangan. Di antaranya,    menciptakan akses permodalan yang mudah, cepat, dan sederhana untuk   petani dan nelayan.

&amp;ldquo;(Kedua), mengedukasi petani dan nelayan tentang pentingnya literasi keuangan, khususnya produk tabungan,&amp;rdquo; ujarnya.

Ketiga, lanjutnya, menciptakan peluang usaha yang berhubungan dengan   jasa keuangan, seperti layanan keagenan tanpa kantor (branchless   banking) dan financial technology.Beberapa program inisiatif yang dilakukan oleh Bank Mandiri, antara  lain adalah Kartu Tani. Ini merupakan program pemerintah sebagai solusi  pembayaran dan monitoring untuk penyaluran pupuk bersubsidi langsung  kepada petani. Jumlah kartu terdistribusi sampai bulan Agustus 2019  sebesar 842.049 kartu.
Selain itu, Bank Mandiri juga menginisiasi program Redistribusi Aset.  Ini merupakan program pemberian hak pengelolaan aset (terutama tanah)  dari negara kepada rakyat khususnya petani, khususnya petani yang tidak  punya tanah garapan Penerima SK Hutan Sosial Binaan Bank Mandiri sebesar  7.308 KK. Melalui program ini, Bank Mandiri juga mengadakan pelatihan  kepada 198 petani perwakilan Kelompok Penerima SK s.d awal bulan Mei  2019.

Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan  Indonesia harus fokus pada pengelolaan sistem pertanian, agar tercipta  mata rantai yang baik antara suplai hasil pertanian, dengan kebutuhan  pangan di masyarakat. Pengelolaan sistem pertanian yang baik diharapkan  mampu menekan impor pangan.
Dari pemaparan para narsumber tersebut, dapat disimpulkan perlunya  sinergitas antara pemerintah dan pemangku kepentingan terkait, agar  target ketahanan pangan bisa berjalan sesuai dengan koridor, dan peran  para pemangku kepentingan bisa dimaksimalkan untuk menjaga  keberlangsungan rantai pangan di Indonesia.
</description><content:encoded>JAKARTA - Salah satu cara untuk mencapai agenda pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat adalah melalui peningkatan kedaulatan pangan.  Sejalan dengan hal tersebut, maka pembangunan ketahanan pangan, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang, harus berlandaskan pada kedaulatan dan kemandirian pangan.
Untuk merealisasikan ketahanan, kedaulatan, dan kemandirian pangan, saat ini Indonesia menghadapi banyak tantangan. Dimulai dari kebijakan yang tumpang tindih antara kementerian dan lembaga, perbedaan data mengenai supply and demand pangan nasional, hingga alih fungsi lahan yang berdampak pada keterbatasan lahan produktif.
Baca juga: Ketika Negara Terkecil di ASEAN Mencoba Swasembada Pangan
Kementerian Pertanian sendiri menyatakan, tantangan lainnya dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia, salah satunya adalah peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 305 juta jiwa di tahun 2035. Sementara peningkatan jumlah penduduk selalu diiringi oleh peningkatan jumlah pangan.

Kementan memprediksi kebutuhan konsumsi beras, pada 2035 akan naik 19,6%, jagung naik  20%, dan diikuti komoditas lainnya. Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang dalam peningkatan produksi, apalagi sumberdaya lahan yang dimiliki Indonesia begitu besar.
Baca juga: Genjot Ekspor, RI Bangun Gudang Pangan Raksasa di 5 Kota 
Dalam seminar yang diselenggarakan oleh IDX Channel ini, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatut Sumbogodjati mengatakan, pemerintah tetap fokus pada pembangunan pertanian, dengan manfaatkan sumber daya yang ada. Gatut menegaskan saat ini Indonesia masih pada koridor yang tepat dalam menuju ketahanan pangan.
Kementan, kata Gatut, juga telah melakukan harmonisasi regulasi, agar  mampu menciptakan iklim usaha pertanian yang kondusif dan mendukung  terciptanya ketahaan pangan.
Selain itu, Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik WIbowo  menyatakan, diperlukan kajian mendalam mengenai kebijakan yang menyentuh  sisi penyediaan bibit dan pakan, dikarenakan komponen bibit dan bahan  baku pakan masih tergantung pada impor, khususnya jagung. Sampai saat  ini komponen pakan menyerap lebih dari 70% dari biaya produksi.

Upaya tersebut diharapkan dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan  simultan lintas kementerian dan juga melibatkan subsektor lain.

Eko juga mengatakan, proyeksi konsumsi daging sapi perkapita dan  nasional kedepannya diperkirakan positif. Hal ini juga harus diikuti  dengan perbaikan system peternakan di Indonesia agar produksi dalam  negeri dapat menutupi konsumsi nasional. Salah satu usaha perbaikan  system peternakan adalah dengan pengaturan rasio perbandingan impor sapi  antara indukan dan bakalan (Permentan Nomor 2 Tahun 2017).

Dari sisi pembiayaan, Senior Vice President Micro Development &amp;amp;   Agent Banking Bank Mandiri, Zedo Faly mengatakan, perbankan memiliki   beberapa peran dalam mendukung ketahanan pangan. Di antaranya,    menciptakan akses permodalan yang mudah, cepat, dan sederhana untuk   petani dan nelayan.

&amp;ldquo;(Kedua), mengedukasi petani dan nelayan tentang pentingnya literasi keuangan, khususnya produk tabungan,&amp;rdquo; ujarnya.

Ketiga, lanjutnya, menciptakan peluang usaha yang berhubungan dengan   jasa keuangan, seperti layanan keagenan tanpa kantor (branchless   banking) dan financial technology.Beberapa program inisiatif yang dilakukan oleh Bank Mandiri, antara  lain adalah Kartu Tani. Ini merupakan program pemerintah sebagai solusi  pembayaran dan monitoring untuk penyaluran pupuk bersubsidi langsung  kepada petani. Jumlah kartu terdistribusi sampai bulan Agustus 2019  sebesar 842.049 kartu.
Selain itu, Bank Mandiri juga menginisiasi program Redistribusi Aset.  Ini merupakan program pemberian hak pengelolaan aset (terutama tanah)  dari negara kepada rakyat khususnya petani, khususnya petani yang tidak  punya tanah garapan Penerima SK Hutan Sosial Binaan Bank Mandiri sebesar  7.308 KK. Melalui program ini, Bank Mandiri juga mengadakan pelatihan  kepada 198 petani perwakilan Kelompok Penerima SK s.d awal bulan Mei  2019.

Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan  Indonesia harus fokus pada pengelolaan sistem pertanian, agar tercipta  mata rantai yang baik antara suplai hasil pertanian, dengan kebutuhan  pangan di masyarakat. Pengelolaan sistem pertanian yang baik diharapkan  mampu menekan impor pangan.
Dari pemaparan para narsumber tersebut, dapat disimpulkan perlunya  sinergitas antara pemerintah dan pemangku kepentingan terkait, agar  target ketahanan pangan bisa berjalan sesuai dengan koridor, dan peran  para pemangku kepentingan bisa dimaksimalkan untuk menjaga  keberlangsungan rantai pangan di Indonesia.
</content:encoded></item></channel></rss>
