<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daya Saing Indonesia Turun, Sri Mulyani: Perlu Evaluasi Anggaran</title><description>Peringkat daya saing global Indonesia mengalami penurunan 5 peringkat, dari posisi 45 pada 2018 menjadi ke 50 di tahun 2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/20/2115758/daya-saing-indonesia-turun-sri-mulyani-perlu-evaluasi-anggaran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/20/2115758/daya-saing-indonesia-turun-sri-mulyani-perlu-evaluasi-anggaran"/><item><title>Daya Saing Indonesia Turun, Sri Mulyani: Perlu Evaluasi Anggaran</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/20/2115758/daya-saing-indonesia-turun-sri-mulyani-perlu-evaluasi-anggaran</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/20/2115758/daya-saing-indonesia-turun-sri-mulyani-perlu-evaluasi-anggaran</guid><pubDate>Jum'at 11 Oktober 2019 16:21 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/11/20/2115758/daya-saing-indonesia-turun-sri-mulyani-perlu-evaluasi-anggaran-ZFQ09CqqZh.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/11/20/2115758/daya-saing-indonesia-turun-sri-mulyani-perlu-evaluasi-anggaran-ZFQ09CqqZh.jpeg</image><title>Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Peringkat daya saing global Indonesia mengalami penurunan 5 peringkat, dari posisi 45 pada 2018 menjadi ke 50 di tahun 2019 dari 141 negara di dunia. Hal itu berdasarkan laporan  Global Competitiveness Index 2019 yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum).
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, yang menjadi sorotan dalam daya saing Indonesia adalah kualitas sumber daya manusia yang masih rendah. Oleh sebab itu, perlu dilakukan evaluasi anggaran secara menyeluruh, mengingat dana yang digelontorkan negara untuk pendidikan sangat besar yakni 20% dari belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
&amp;nbsp;Baca Juga: Daya Saing Indonesia Turun ke 50, Makin Jauh dari Malaysia dan Thailand
Pada tahun 2019 alokasi anggaran untuk pendidikan sebesar Rp492,5 triliun. Kemudian kembali mengalami kenaikan menjadi Rp508 triliun di tahun 2020.
&quot;Sekarang pertanyaannya yang sering muncul dengan anggaran segitu besar kenapa kita tak bisa mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik? Itu yang mungkin jadi fokus kami. Apakah perlu dilakukan betul-betul di evaluasi bersama,&quot; ujarnya ditemui di Pantai Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Jumat (11/10/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/08/29/58577/299813_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sri Mulyani Buka-bukaan soal Ekonomi RI di Manager Forum MNC Group&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Dia menyatakan, dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia memang tidak bisa dilakukan dalam waktu jangka pendek. Oleh sebab itu perlu rancangan yang tepat untuk menyusun program pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
&quot;(Perlu evaluasi) apakah efektivitasnya dan bagaimana memperbaiki hasil dari keseluruhan anggaran, apakah memperbaiki di semua lini, baik di kurikulumnya, proses belajarnya, gurunya sampai kepada sistem penyampaiannya, itu perlu,&quot; jelasnya.Di sisi lain, lanjutnya, pemerintah akan terus melakukan perbaikan  melalui program-program yang sudah dicanangkan seperti pendidikan  vokasi. Pelatihan ini tidak hanya melibatkan peran pemerintah, namun  juga swasta, terlebih didorong dengan adanya insentif fiskal  superdeduction tax bagi perusahaan yang menyediakan pendidikan vokasi.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/08/29/58577/299814_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sri Mulyani Buka-bukaan soal Ekonomi RI di Manager Forum MNC Group&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kemudian juga dengan memberikan insentif ke daerah-daerah berupa  anggaran untuk bisa meningkatkan kualitas pendidikan. &quot;Kemenkeu selalu  siap membantu dalam membangun, tapi itu tergantung dengan kementerian  dan lembaga itu sendiri. Baik oleh Kemenristekdikti, Kemendikbud,  Kemenperin, Kemenenaker, maupun pemerintah daerah,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Peringkat daya saing global Indonesia mengalami penurunan 5 peringkat, dari posisi 45 pada 2018 menjadi ke 50 di tahun 2019 dari 141 negara di dunia. Hal itu berdasarkan laporan  Global Competitiveness Index 2019 yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum).
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, yang menjadi sorotan dalam daya saing Indonesia adalah kualitas sumber daya manusia yang masih rendah. Oleh sebab itu, perlu dilakukan evaluasi anggaran secara menyeluruh, mengingat dana yang digelontorkan negara untuk pendidikan sangat besar yakni 20% dari belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
&amp;nbsp;Baca Juga: Daya Saing Indonesia Turun ke 50, Makin Jauh dari Malaysia dan Thailand
Pada tahun 2019 alokasi anggaran untuk pendidikan sebesar Rp492,5 triliun. Kemudian kembali mengalami kenaikan menjadi Rp508 triliun di tahun 2020.
&quot;Sekarang pertanyaannya yang sering muncul dengan anggaran segitu besar kenapa kita tak bisa mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik? Itu yang mungkin jadi fokus kami. Apakah perlu dilakukan betul-betul di evaluasi bersama,&quot; ujarnya ditemui di Pantai Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Jumat (11/10/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/08/29/58577/299813_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sri Mulyani Buka-bukaan soal Ekonomi RI di Manager Forum MNC Group&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
Dia menyatakan, dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia memang tidak bisa dilakukan dalam waktu jangka pendek. Oleh sebab itu perlu rancangan yang tepat untuk menyusun program pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
&quot;(Perlu evaluasi) apakah efektivitasnya dan bagaimana memperbaiki hasil dari keseluruhan anggaran, apakah memperbaiki di semua lini, baik di kurikulumnya, proses belajarnya, gurunya sampai kepada sistem penyampaiannya, itu perlu,&quot; jelasnya.Di sisi lain, lanjutnya, pemerintah akan terus melakukan perbaikan  melalui program-program yang sudah dicanangkan seperti pendidikan  vokasi. Pelatihan ini tidak hanya melibatkan peran pemerintah, namun  juga swasta, terlebih didorong dengan adanya insentif fiskal  superdeduction tax bagi perusahaan yang menyediakan pendidikan vokasi.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/08/29/58577/299814_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sri Mulyani Buka-bukaan soal Ekonomi RI di Manager Forum MNC Group&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Kemudian juga dengan memberikan insentif ke daerah-daerah berupa  anggaran untuk bisa meningkatkan kualitas pendidikan. &quot;Kemenkeu selalu  siap membantu dalam membangun, tapi itu tergantung dengan kementerian  dan lembaga itu sendiri. Baik oleh Kemenristekdikti, Kemendikbud,  Kemenperin, Kemenenaker, maupun pemerintah daerah,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
