<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lagi Tren Co-Living, Prospek Menggiurkan bagi Investor Properti</title><description>Konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau seperti co-living semakin banyak diminati masyarakat  urban.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/470/2115693/lagi-tren-co-living-prospek-menggiurkan-bagi-investor-properti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/470/2115693/lagi-tren-co-living-prospek-menggiurkan-bagi-investor-properti"/><item><title>Lagi Tren Co-Living, Prospek Menggiurkan bagi Investor Properti</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/470/2115693/lagi-tren-co-living-prospek-menggiurkan-bagi-investor-properti</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/11/470/2115693/lagi-tren-co-living-prospek-menggiurkan-bagi-investor-properti</guid><pubDate>Jum'at 11 Oktober 2019 14:39 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/11/470/2115693/lagi-tren-co-living-prospek-menggiurkan-bagi-investor-properti-f2ZX71iulL.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/11/470/2115693/lagi-tren-co-living-prospek-menggiurkan-bagi-investor-properti-f2ZX71iulL.jpeg</image><title>Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living semakin banyak diminati masyarakat urban. Namun saat ini belum banyak pengembang atau pengelola yang membuat konsep properti seperti co-living.
Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan, pengembangan konsep co-living ini sebenarnya mirip seperti kos-kosan. Lewat konsep Co-Living ini, masyarakat bisa tinggal bersama dengan fasilitas umum yang juga dapat dipakai bersama.
Baca juga: Menteri Sofyan: Kita Permudah Investor Sektor Properti
Dan peluang ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang dan pengelola dalam mengembangkan bisnisnya. Mengingat kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dengan lokasi strategis masih sangat besar.
&amp;ldquo;Kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, sementara pasokannya belum banyak. Saya lihat potensi ini cukup baik bagi pengembang dan pengelola yang ingin bermain di bisnis ini,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Menurut Ferry, berdasarkan data jumlah pekerja kelas menengah yang tinggal di tengah kota belum banyak. Sebab kebanyakan pemain apartemen atau hunian sewa di tengah kota lebih diperuntukkan bagi kelas menengah atas.
Sehingga kelas menengah bawah lebih memilih hunian berupa kos-kosan. Sedangkan kos-kosan yang ada saat ini konsepnya pun belum sesuai harapan para pekerja.
&amp;ldquo;Dari sisi bangunan, ada pengelola yang mengklaim properti yang dikelolanya itu co-living, tapi konsepnya masih kayak apartemen biasa, belum ada sesuatu yang mencirikan kalau itu co-living,&amp;rdquo; jelasnya.Oleh karena itu, potensi dan peluang bisnis untuk menciptakan hunian  co-living masih terbuka lebar. Pengembangan co-living opsinya bisa  bermacam-macam, contohnya developer yang bangun, terus menjual ke  investor untuk disewakan. Atau  juga bisa developer mendirikan satu  bangunan untuk co-living lalu dikelolanya sendiri.
&amp;ldquo;Bisa juga bangunan co-living dibangun terus ditawarkan ke operator  untuk pengelolaan. Potensi bisnisnya besar, dan bisnis co-living  biasanya hidup dari penyewaan,&amp;rdquo; jelas Ferry.
Baca juga: Sri Mulyani 'Skak' Pengusaha Properti Lewat Pertumbuhan, Ini Faktanya!
Tidak hanya itu, Ferry menjelaskan apabila ada konsep hunian seperti  apartemen yang ukurannya bisa diperkecil dan dibentuk co-living dengan  harga mendekati kos-kosan, akan banyak peminatnya. Karena dirinya  meyakini hunian yang lebih rapih juga bonafit, bisa lebih laku  dibandingkan kos-kosan biasa.

&amp;ldquo;Properti yang harus digerakkan itu yang bisa menjangkau end user dan  bisa diterima soal harga, konsep dan lokasi seperti co-living ini.  Investor bisa masuk ke segmen bisnis ini karena punya potensi yang  sangat besar, dan pemainnya juga belum banyak,&amp;rdquo; kata Ferry.
Sementara itu salah satu pemain bisnis co-living yakni PT Hoppor  International atau yang lebih dikenal dengan nama Kamar Keluarga  mengamini hal tersebut.
CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan dirinya melihat bahwa  masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep co-living sangat  besar. Oleh karena itu, dirinya mencoba membuat sebuah konsep yang  memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap,  dan harga yang terjangkau.
Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga ada sebanyak 2.041 di 75   lokasi strategis. Dari semua yang tersedia, seluruhnya memiliki  akses   transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.
&amp;ldquo;Kami memanfaatkan teknologi berbasis web dan aplikasi untuk   memberikan fasilitas dan pelayanan, sehingga seluruh kebutuhan end to   end pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja,&amp;rdquo; kata   Charles.
Baca juga: 'Skak' Pengusaha Properti, Sri Mulyani: Kapan Bisa Tumbuh 10%?
Menurut Charles, ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar   Keluarga. Pertama, pilar BOT (build operate transfer). Di pilar ini,   Kamar Keluarga membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya   menggunakan sistem bagi hasil.
Pilar kedua yaitu Kamar Keluarga (KK) Aset. Dimana Kamar Keluarga   membantu para investor pemula yang belum pernah berbisnis properti,   dalam hal mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan   Return of Investment (RoI) yang memuaskan, serta mendukung pertumbuhan   ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.
Lalu yang ketiga, Kamar Keluarga hanya menjadi Operator. Kamar   Keluarga mengelola seluruh lahan yang sudah dijadikan kos dan menerapkan   konsep co-living di kosan tersebut.

Lalu pilar keempat, yaitu Kamar Keluarga Development yang ahli dalam   membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga  terjangkau  dapat memanfaatkan lahan yang tersisa. Lahan sisa tersebut  dapat  dijadikan rumah minimalis atau bangunan lain guna mendorong para   generasi milenial untuk memiliki properti pribadi di masa depan.
Dan pilar kelima yaitu Kamar Keluarga Vertikal. Memanfaatkan ruang   yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau   tempat makan.
&amp;ldquo;Lengkapnya konsep yang kami tawarkan itu membuat investor dapat   memilih sesuai kebutuhannya. Dan itu yang membuat kami berkembang dengan   cepat karena investor diuntungkan,&amp;rdquo; tutup Charles.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living semakin banyak diminati masyarakat urban. Namun saat ini belum banyak pengembang atau pengelola yang membuat konsep properti seperti co-living.
Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan, pengembangan konsep co-living ini sebenarnya mirip seperti kos-kosan. Lewat konsep Co-Living ini, masyarakat bisa tinggal bersama dengan fasilitas umum yang juga dapat dipakai bersama.
Baca juga: Menteri Sofyan: Kita Permudah Investor Sektor Properti
Dan peluang ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang dan pengelola dalam mengembangkan bisnisnya. Mengingat kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dengan lokasi strategis masih sangat besar.
&amp;ldquo;Kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, sementara pasokannya belum banyak. Saya lihat potensi ini cukup baik bagi pengembang dan pengelola yang ingin bermain di bisnis ini,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Menurut Ferry, berdasarkan data jumlah pekerja kelas menengah yang tinggal di tengah kota belum banyak. Sebab kebanyakan pemain apartemen atau hunian sewa di tengah kota lebih diperuntukkan bagi kelas menengah atas.
Sehingga kelas menengah bawah lebih memilih hunian berupa kos-kosan. Sedangkan kos-kosan yang ada saat ini konsepnya pun belum sesuai harapan para pekerja.
&amp;ldquo;Dari sisi bangunan, ada pengelola yang mengklaim properti yang dikelolanya itu co-living, tapi konsepnya masih kayak apartemen biasa, belum ada sesuatu yang mencirikan kalau itu co-living,&amp;rdquo; jelasnya.Oleh karena itu, potensi dan peluang bisnis untuk menciptakan hunian  co-living masih terbuka lebar. Pengembangan co-living opsinya bisa  bermacam-macam, contohnya developer yang bangun, terus menjual ke  investor untuk disewakan. Atau  juga bisa developer mendirikan satu  bangunan untuk co-living lalu dikelolanya sendiri.
&amp;ldquo;Bisa juga bangunan co-living dibangun terus ditawarkan ke operator  untuk pengelolaan. Potensi bisnisnya besar, dan bisnis co-living  biasanya hidup dari penyewaan,&amp;rdquo; jelas Ferry.
Baca juga: Sri Mulyani 'Skak' Pengusaha Properti Lewat Pertumbuhan, Ini Faktanya!
Tidak hanya itu, Ferry menjelaskan apabila ada konsep hunian seperti  apartemen yang ukurannya bisa diperkecil dan dibentuk co-living dengan  harga mendekati kos-kosan, akan banyak peminatnya. Karena dirinya  meyakini hunian yang lebih rapih juga bonafit, bisa lebih laku  dibandingkan kos-kosan biasa.

&amp;ldquo;Properti yang harus digerakkan itu yang bisa menjangkau end user dan  bisa diterima soal harga, konsep dan lokasi seperti co-living ini.  Investor bisa masuk ke segmen bisnis ini karena punya potensi yang  sangat besar, dan pemainnya juga belum banyak,&amp;rdquo; kata Ferry.
Sementara itu salah satu pemain bisnis co-living yakni PT Hoppor  International atau yang lebih dikenal dengan nama Kamar Keluarga  mengamini hal tersebut.
CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan dirinya melihat bahwa  masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep co-living sangat  besar. Oleh karena itu, dirinya mencoba membuat sebuah konsep yang  memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap,  dan harga yang terjangkau.
Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga ada sebanyak 2.041 di 75   lokasi strategis. Dari semua yang tersedia, seluruhnya memiliki  akses   transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.
&amp;ldquo;Kami memanfaatkan teknologi berbasis web dan aplikasi untuk   memberikan fasilitas dan pelayanan, sehingga seluruh kebutuhan end to   end pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja,&amp;rdquo; kata   Charles.
Baca juga: 'Skak' Pengusaha Properti, Sri Mulyani: Kapan Bisa Tumbuh 10%?
Menurut Charles, ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar   Keluarga. Pertama, pilar BOT (build operate transfer). Di pilar ini,   Kamar Keluarga membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya   menggunakan sistem bagi hasil.
Pilar kedua yaitu Kamar Keluarga (KK) Aset. Dimana Kamar Keluarga   membantu para investor pemula yang belum pernah berbisnis properti,   dalam hal mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan   Return of Investment (RoI) yang memuaskan, serta mendukung pertumbuhan   ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.
Lalu yang ketiga, Kamar Keluarga hanya menjadi Operator. Kamar   Keluarga mengelola seluruh lahan yang sudah dijadikan kos dan menerapkan   konsep co-living di kosan tersebut.

Lalu pilar keempat, yaitu Kamar Keluarga Development yang ahli dalam   membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga  terjangkau  dapat memanfaatkan lahan yang tersisa. Lahan sisa tersebut  dapat  dijadikan rumah minimalis atau bangunan lain guna mendorong para   generasi milenial untuk memiliki properti pribadi di masa depan.
Dan pilar kelima yaitu Kamar Keluarga Vertikal. Memanfaatkan ruang   yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau   tempat makan.
&amp;ldquo;Lengkapnya konsep yang kami tawarkan itu membuat investor dapat   memilih sesuai kebutuhannya. Dan itu yang membuat kami berkembang dengan   cepat karena investor diuntungkan,&amp;rdquo; tutup Charles.</content:encoded></item></channel></rss>
