<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mumpung Masih Muda, Milenial Perlu Perhatikan Ini Sebelum Ajukan KPR</title><description>Meningkatnya harga properti saat ini tidak lagi dapat dipungkiri oleh masyarakat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/12/320/2116065/mumpung-masih-muda-milenial-perlu-perhatikan-ini-sebelum-ajukan-kpr</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/12/320/2116065/mumpung-masih-muda-milenial-perlu-perhatikan-ini-sebelum-ajukan-kpr"/><item><title>Mumpung Masih Muda, Milenial Perlu Perhatikan Ini Sebelum Ajukan KPR</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/12/320/2116065/mumpung-masih-muda-milenial-perlu-perhatikan-ini-sebelum-ajukan-kpr</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/12/320/2116065/mumpung-masih-muda-milenial-perlu-perhatikan-ini-sebelum-ajukan-kpr</guid><pubDate>Sabtu 12 Oktober 2019 21:11 WIB</pubDate><dc:creator>Rizqa Leony Putri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/12/320/2116065/mumpung-masih-muda-milenial-perlu-perhatikan-ini-sebelum-ajukan-kpr-vf0gBWVDA9.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/12/320/2116065/mumpung-masih-muda-milenial-perlu-perhatikan-ini-sebelum-ajukan-kpr-vf0gBWVDA9.jpeg</image><title>Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Meningkatnya harga properti saat ini tidak lagi dapat dipungkiri oleh masyarakat. Tak heran, intensitas daya beli properti, rumah tapak, maupun apartemen masih terbilang rendah. Kebanyakan orang, khususnya generasi muda, enggan membeli rumah, dan properti sejenis. Hal itu dikarenakan waktu yang tak sebentar untuk menyiapkan dan mengumpulkan dana hingga cukup untuk membeli sebuah aset properti.
Hal inilah yang membuat tren Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pun semakin digandrungi. Fasilitas peminjaman ini sering dimanfaatkan sebagai cara alternatif dalam membeli properti. Layanan ini dinilai memudahkan terutama dari segi finansial generasi muda, ataupun bagi orang-orang yang baru berumah tangga.
Baca Juga: Ingin Ajukan KPR? Kenali Seluk-beluknya
Perencana Keuangan Prita Hapsari Ghozie menjelaskan, pembelian rumah dengan KPR sebagai suatu jalan yang harus dilakukan. Karena pembelian dengan metode pembayaran tunai dirasa sulit untuk dilakukan saat ini, mengingat biaya yang diperlukan sangatlah besar.
&quot;Pembelian rumah dengan KPR memang suatu hal yang mau tidak mau dilakukan, kecuali generasi muda itu dapat warisan atau hibah. Sepertinya sulit ya beli secara cash,&quot; jelasnya saat dihubungi Okezone siang ini, Jumat (11/10/2019).

Selain itu, dalam memutuskan untuk mengambil KPR, perlu mempertimbangkan beberapa hal yang nantinya juga dapat memengaruhi kelancaran pembayaran cicilan Menurut Prita, saat membeli rumah seseorang harus memastikan kesesuaiannya dengan kemampuan finansial dimiliki.
&quot;Indikatornya kita punya DP antara 20%-30% dari harga rumah,&quot; tuturnya.Saat mengambil KPR sebaiknya ukurlah kemampuan finansial yang  dimiliki. Maksimal cicilan KPR yang dilakukan sebaiknya berkisar 30%  dari jumlah penghasilan bulanan. Tak hanya itu, sebaiknya tidak boleh  ada cicilan lain yang dilakukan bersamaan agar tidak memberatkan.

Pertimbangan lain, lanjut Prita, adalah jenis hunian yang akan  dibeli, bisa berbentuk rumah tapak ataupun rumah susun. Hal ini  sebaiknya disesuaikan dengan gaya hidup masing-masing.
Mengenai tren pembelian rumah generasi muda saat ini, Prita  menjelaskan bahwa rumah tinggal pertama adalah aset terbesar yang  mungkin dimiliki setiap orang. Dengan demikian bisa meninggalkan anak  keturunan dalam kondisi berkecukupan. Memiliki rumah tinggal, secara  tidak langsung memaksa masyarakat agar secara pasti memiliki aset.</description><content:encoded>JAKARTA - Meningkatnya harga properti saat ini tidak lagi dapat dipungkiri oleh masyarakat. Tak heran, intensitas daya beli properti, rumah tapak, maupun apartemen masih terbilang rendah. Kebanyakan orang, khususnya generasi muda, enggan membeli rumah, dan properti sejenis. Hal itu dikarenakan waktu yang tak sebentar untuk menyiapkan dan mengumpulkan dana hingga cukup untuk membeli sebuah aset properti.
Hal inilah yang membuat tren Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pun semakin digandrungi. Fasilitas peminjaman ini sering dimanfaatkan sebagai cara alternatif dalam membeli properti. Layanan ini dinilai memudahkan terutama dari segi finansial generasi muda, ataupun bagi orang-orang yang baru berumah tangga.
Baca Juga: Ingin Ajukan KPR? Kenali Seluk-beluknya
Perencana Keuangan Prita Hapsari Ghozie menjelaskan, pembelian rumah dengan KPR sebagai suatu jalan yang harus dilakukan. Karena pembelian dengan metode pembayaran tunai dirasa sulit untuk dilakukan saat ini, mengingat biaya yang diperlukan sangatlah besar.
&quot;Pembelian rumah dengan KPR memang suatu hal yang mau tidak mau dilakukan, kecuali generasi muda itu dapat warisan atau hibah. Sepertinya sulit ya beli secara cash,&quot; jelasnya saat dihubungi Okezone siang ini, Jumat (11/10/2019).

Selain itu, dalam memutuskan untuk mengambil KPR, perlu mempertimbangkan beberapa hal yang nantinya juga dapat memengaruhi kelancaran pembayaran cicilan Menurut Prita, saat membeli rumah seseorang harus memastikan kesesuaiannya dengan kemampuan finansial dimiliki.
&quot;Indikatornya kita punya DP antara 20%-30% dari harga rumah,&quot; tuturnya.Saat mengambil KPR sebaiknya ukurlah kemampuan finansial yang  dimiliki. Maksimal cicilan KPR yang dilakukan sebaiknya berkisar 30%  dari jumlah penghasilan bulanan. Tak hanya itu, sebaiknya tidak boleh  ada cicilan lain yang dilakukan bersamaan agar tidak memberatkan.

Pertimbangan lain, lanjut Prita, adalah jenis hunian yang akan  dibeli, bisa berbentuk rumah tapak ataupun rumah susun. Hal ini  sebaiknya disesuaikan dengan gaya hidup masing-masing.
Mengenai tren pembelian rumah generasi muda saat ini, Prita  menjelaskan bahwa rumah tinggal pertama adalah aset terbesar yang  mungkin dimiliki setiap orang. Dengan demikian bisa meninggalkan anak  keturunan dalam kondisi berkecukupan. Memiliki rumah tinggal, secara  tidak langsung memaksa masyarakat agar secara pasti memiliki aset.</content:encoded></item></channel></rss>
