<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengintip Perputaran Uang dari Bisnis Keripik Mangrove</title><description>Mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan, Pangandaran berhasil mengembangkan keripik mangrove dari bahan dasar daun Jeruju.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/13/320/2116295/mengintip-perputaran-uang-dari-bisnis-keripik-mangrove</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/13/320/2116295/mengintip-perputaran-uang-dari-bisnis-keripik-mangrove"/><item><title>Mengintip Perputaran Uang dari Bisnis Keripik Mangrove</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/13/320/2116295/mengintip-perputaran-uang-dari-bisnis-keripik-mangrove</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/13/320/2116295/mengintip-perputaran-uang-dari-bisnis-keripik-mangrove</guid><pubDate>Minggu 13 Oktober 2019 14:23 WIB</pubDate><dc:creator>Maghfira Nursyabila</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/13/320/2116295/mengintip-perputaran-uang-dari-bisnis-keripik-mangrove-6MMuo1Ioaz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Peluang Bisnis Keripik Mangrove (Foto: Okezone.com/Fira)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/13/320/2116295/mengintip-perputaran-uang-dari-bisnis-keripik-mangrove-6MMuo1Ioaz.jpg</image><title>Peluang Bisnis Keripik Mangrove (Foto: Okezone.com/Fira)</title></images><description>JAKARTA - Mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan, Pangandaran, Fajar Alhabsi, Erinatisia, Ervina Rahmasari, Primadina dan Fani Muhammad berhasil mengembangkan keripik mangrove dari bahan dasar daun Jeruju.
&amp;nbsp;Baca Juga: Coba Bisnis Minuman Jelly dari Buah Nipah, Modalnya Enggak Besar
Erina menjelaskan ide membuat keripik mangrove yang diberi nama Djeruzu ini muncul karena potensi mangrove di Indonesia sangat berlimpah terutama di pesisir pantai Pangandaran yang banyak ditanami daun Jeruju.

&quot;Kita terinspirasi dengan tanaman mangrove yang ada di sekitar kampus, jadi kita memiliki inovasi untuk mengolah Jeruju sebagai makanan. Selama ini kan masyarakat hanya melihat fungsi ekologisnya saja dari mangrove,&quot; ujar Erina saat ditemui Okezone di acara Workshop Kewirausahaan Sektor Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jualan Ikan Krispi, Modal Minim Untung Besar
Bisnis yang diketuai oleh Fajar Alhabsi ini memilih daun Jeruju sebagai bahan dasar utama produknya karena daun Jeruju dinilai terdapat banyak kandungan salah satunya asam amino sebagai pencegah kanker, pembersih darah dan anti radang.
&amp;nbsp;Erina mengaku bahwa hambatan yang mereka alami selama memproduksi  makanan ini hanya ada di jarak antara pasar tempat membeli alat-alat  pembuat keripik, jadi membutuhkan waktu yang lama untuk memproduksi  keripik ini.

Asal tahu saja, untuk membuat satu produk chips mangrove dengan berat  24 kg mereka akan menghabiskan dua malam untuk proses pengolahan  bahan-bahannya.

Selain itu, modal yang dibutuhkan para wirausahawan ini sebesar  Rp11.000 per kaleng dan dijual Rp17.000 per kaleng, lalu 10% dari  penjualan mereka juga digunakan rehabilitas penanaman mangrove.

Keunggulan dari keripik mangrove ini juga terdapat di kemasan produk  yang menggunakan kaleng yang dinilai bisa didaur ulang kembali dan  tentunya ramah lingkungan.
&amp;nbsp;Tak hanya itu, mereka juga memiliki strategi dalam mempromosikan   produk mereka dengan cara dua tahap, yaitu retail dan sosial media.

&quot;Kita melakukan dua tahap dalam strategi promosi, yang pertama retail   dengan menaruh dagangan kami di sekitar kawasan ekowisata Pangandaran,   dan yang kedua media sosial seperti Facebook, Instagram dan Whatsapp,&quot;   ujar Erina.

Mereka berharap dengan adanya produk ini bisa menjadi motivasi bagi   masyarakat untuk meningkatkan minat dalam mengelola tanaman mangrove dan   dapat dikembangkan kembali.
</description><content:encoded>JAKARTA - Mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan, Pangandaran, Fajar Alhabsi, Erinatisia, Ervina Rahmasari, Primadina dan Fani Muhammad berhasil mengembangkan keripik mangrove dari bahan dasar daun Jeruju.
&amp;nbsp;Baca Juga: Coba Bisnis Minuman Jelly dari Buah Nipah, Modalnya Enggak Besar
Erina menjelaskan ide membuat keripik mangrove yang diberi nama Djeruzu ini muncul karena potensi mangrove di Indonesia sangat berlimpah terutama di pesisir pantai Pangandaran yang banyak ditanami daun Jeruju.

&quot;Kita terinspirasi dengan tanaman mangrove yang ada di sekitar kampus, jadi kita memiliki inovasi untuk mengolah Jeruju sebagai makanan. Selama ini kan masyarakat hanya melihat fungsi ekologisnya saja dari mangrove,&quot; ujar Erina saat ditemui Okezone di acara Workshop Kewirausahaan Sektor Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jualan Ikan Krispi, Modal Minim Untung Besar
Bisnis yang diketuai oleh Fajar Alhabsi ini memilih daun Jeruju sebagai bahan dasar utama produknya karena daun Jeruju dinilai terdapat banyak kandungan salah satunya asam amino sebagai pencegah kanker, pembersih darah dan anti radang.
&amp;nbsp;Erina mengaku bahwa hambatan yang mereka alami selama memproduksi  makanan ini hanya ada di jarak antara pasar tempat membeli alat-alat  pembuat keripik, jadi membutuhkan waktu yang lama untuk memproduksi  keripik ini.

Asal tahu saja, untuk membuat satu produk chips mangrove dengan berat  24 kg mereka akan menghabiskan dua malam untuk proses pengolahan  bahan-bahannya.

Selain itu, modal yang dibutuhkan para wirausahawan ini sebesar  Rp11.000 per kaleng dan dijual Rp17.000 per kaleng, lalu 10% dari  penjualan mereka juga digunakan rehabilitas penanaman mangrove.

Keunggulan dari keripik mangrove ini juga terdapat di kemasan produk  yang menggunakan kaleng yang dinilai bisa didaur ulang kembali dan  tentunya ramah lingkungan.
&amp;nbsp;Tak hanya itu, mereka juga memiliki strategi dalam mempromosikan   produk mereka dengan cara dua tahap, yaitu retail dan sosial media.

&quot;Kita melakukan dua tahap dalam strategi promosi, yang pertama retail   dengan menaruh dagangan kami di sekitar kawasan ekowisata Pangandaran,   dan yang kedua media sosial seperti Facebook, Instagram dan Whatsapp,&quot;   ujar Erina.

Mereka berharap dengan adanya produk ini bisa menjadi motivasi bagi   masyarakat untuk meningkatkan minat dalam mengelola tanaman mangrove dan   dapat dikembangkan kembali.
</content:encoded></item></channel></rss>
