<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Utang Luar Negeri Naik 8,8% Jadi Rp5.567,5 Triliun pada Agustus 2019</title><description>BI mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2019 tumbuh melambat dengan struktur yang sehat</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/20/2117023/utang-luar-negeri-naik-8-8-jadi-rp5-567-5-triliun-pada-agustus-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/20/2117023/utang-luar-negeri-naik-8-8-jadi-rp5-567-5-triliun-pada-agustus-2019"/><item><title>Utang Luar Negeri Naik 8,8% Jadi Rp5.567,5 Triliun pada Agustus 2019</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/20/2117023/utang-luar-negeri-naik-8-8-jadi-rp5-567-5-triliun-pada-agustus-2019</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/20/2117023/utang-luar-negeri-naik-8-8-jadi-rp5-567-5-triliun-pada-agustus-2019</guid><pubDate>Selasa 15 Oktober 2019 10:59 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/15/20/2117023/utang-luar-negeri-naik-8-8-jadi-usd393-5-miliar-pada-agustus-2019-hVph1uBVGa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/15/20/2117023/utang-luar-negeri-naik-8-8-jadi-usd393-5-miliar-pada-agustus-2019-hVph1uBVGa.jpg</image><title>Uang Rupiah. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2019 tumbuh melambat dengan struktur yang sehat. ULN Indonesia pada akhir Agustus 2019 tercatat sebesar USD393,5 miliar atau setara Rp5.567,5 triliun (kurs Rp14.148 per USD), terdiri dari ULN publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar USD196,3 miliar, serta ULN swasta (termasuk BUMN) sebesar USD197,2 miliar.
Melansir keterangan BI, Selasa (15/10/2019), ULN Indonesia tersebut tumbuh 8,8% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,9% (yoy), terutama dipengaruhi oleh transaksi pembayaran neto ULN. Perlambatan pertumbuhan ULN tersebut disebabkan oleh menurunnya posisi ULN publik dan ULN swasta dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Ditanya soal Indonesia Darurat Utang, Sri Mulyani: Mahasiswa Harus Bisa Baca Data
Sementara itu, untuk ULN pemerintah tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. ULN pemerintah pada Agustus 2019 tumbuh 8,6% (yoy) menjadi sebesar USD193,5 miliar, melambat dari bulan Juli 2019 yang tumbuh 9,7% (yoy). Selain tumbuh melambat, posisi ULN pemerintah tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya karena berkurangnya posisi Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki oleh investor asing.

Hal ini antara lain dipengaruhi oleh faktor ketidakpastian di pasar keuangan global seiring dengan ketegangan perdagangan yang masih berlanjut dan risiko geopolitik yang meningkat. Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,9% dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,4%), sektor jasa pendidikan (15,9%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,2%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,9%).
Baca Juga: Setelah Green Bond Terbitlah Blue Bond, Apa Itu?
Sedangkan ULN swasta tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya. Posisi ULN swasta pada akhir Agustus 2019 tumbuh 9,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 12,6% (yoy). Pelunasan utang dagang korporasi bukan lembaga keuangan mendorong penurunan posisi ULN swasta sebesar USD2,6 miliar menjadi USD197,2 miliar.Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan  asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas,  uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.  Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta  mencapai 75,6%.
Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip  kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara  lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada  Agustus 2019 sebesar 36,1%, membaik dibandingkan dengan rasio pada bulan  sebelumnya.
Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN  berjangka panjang dengan pangsa 88,1% dari total ULN. Dalam rangka  menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus  meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan  penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga  akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan  meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2019 tumbuh melambat dengan struktur yang sehat. ULN Indonesia pada akhir Agustus 2019 tercatat sebesar USD393,5 miliar atau setara Rp5.567,5 triliun (kurs Rp14.148 per USD), terdiri dari ULN publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar USD196,3 miliar, serta ULN swasta (termasuk BUMN) sebesar USD197,2 miliar.
Melansir keterangan BI, Selasa (15/10/2019), ULN Indonesia tersebut tumbuh 8,8% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,9% (yoy), terutama dipengaruhi oleh transaksi pembayaran neto ULN. Perlambatan pertumbuhan ULN tersebut disebabkan oleh menurunnya posisi ULN publik dan ULN swasta dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Ditanya soal Indonesia Darurat Utang, Sri Mulyani: Mahasiswa Harus Bisa Baca Data
Sementara itu, untuk ULN pemerintah tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. ULN pemerintah pada Agustus 2019 tumbuh 8,6% (yoy) menjadi sebesar USD193,5 miliar, melambat dari bulan Juli 2019 yang tumbuh 9,7% (yoy). Selain tumbuh melambat, posisi ULN pemerintah tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya karena berkurangnya posisi Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki oleh investor asing.

Hal ini antara lain dipengaruhi oleh faktor ketidakpastian di pasar keuangan global seiring dengan ketegangan perdagangan yang masih berlanjut dan risiko geopolitik yang meningkat. Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,9% dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,4%), sektor jasa pendidikan (15,9%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,2%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,9%).
Baca Juga: Setelah Green Bond Terbitlah Blue Bond, Apa Itu?
Sedangkan ULN swasta tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya. Posisi ULN swasta pada akhir Agustus 2019 tumbuh 9,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 12,6% (yoy). Pelunasan utang dagang korporasi bukan lembaga keuangan mendorong penurunan posisi ULN swasta sebesar USD2,6 miliar menjadi USD197,2 miliar.Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan  asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas,  uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.  Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta  mencapai 75,6%.
Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip  kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara  lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada  Agustus 2019 sebesar 36,1%, membaik dibandingkan dengan rasio pada bulan  sebelumnya.
Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN  berjangka panjang dengan pangsa 88,1% dari total ULN. Dalam rangka  menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus  meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan  penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga  akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan  meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.</content:encoded></item></channel></rss>
