<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peluang Besar di Industri Properti, Harga Rumah Terus Naik</title><description>Bisnis di bidang properti masih menghadapi berbagai tantangan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/470/2117352/peluang-besar-di-industri-properti-harga-rumah-terus-naik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/470/2117352/peluang-besar-di-industri-properti-harga-rumah-terus-naik"/><item><title>Peluang Besar di Industri Properti, Harga Rumah Terus Naik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/470/2117352/peluang-besar-di-industri-properti-harga-rumah-terus-naik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/15/470/2117352/peluang-besar-di-industri-properti-harga-rumah-terus-naik</guid><pubDate>Selasa 15 Oktober 2019 22:16 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/15/470/2117352/peluang-besar-di-industri-properti-harga-rumah-terus-naik-Y2WeFRobjU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri Properti (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/15/470/2117352/peluang-besar-di-industri-properti-harga-rumah-terus-naik-Y2WeFRobjU.jpg</image><title>Industri Properti (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Bisnis di bidang properti masih menghadapi berbagai tantangan seperti backlog dan kapasitas penyediaan rumah, namun masih banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk memperluas potensi bisnis.
&amp;nbsp;Baca Juga: 4 Hal Wajib Dilakukan Sebelum Investasi Properti
Adapun tantangan sekaligus peluang di sektor properti yakni angka backlog yang masih cukup besar sekitar 11,4 juta rumah yang menunggu untuk segera diselesaikan.

&quot;Penyelesaian backlog perumahan diharapkan bisa memiliki multiplier effect terhadap 136 subsektor industri yang berujung pada pertumbuhan PDB,&quot; kata Direktur Strategic Human Capital BTN Yossi Istanto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (15/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Lagi Tren Co-Living, Prospek Menggiurkan bagi Investor Properti
Selain itu masih ada gap antara kebutuhan rumah baru yakni sekitar 800.000 unit per tahun dengan kapasitas bangun pengembang yang hanya 250.000-400.000 unit per tahun.

Yossi menambahkan dukungan pemerintah baik dari kementerian maupun regulator untuk mendorong sektor properti sangat besar. Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia juga merupakan peluang karena mereka memiliki potensi ekonomi yang besar.

&amp;ldquo;Rasio Mortgage to GDP Indonesia baru 2,9%, berarti masih banyak ruang bisnis perumahan yang bisa dikembangkan,&amp;rdquo; papar Yossi.
&amp;nbsp;

Menurut Yossi, menjadi entrepreneur merupakan salah satu pilihan yang  bisa diambil di era disrupsi, mengingat rasio pengusaha di Indonesia  masih sedikit dibandingkan jumlah penduduk sekitar 3,1%.

Salah satu sektor yang menarik adalah menjadi pengembang properti  mengingat masih besarnya potensi pengembangan perumahan dengan harga  rumah yang terus naik.

&quot;Oleh karena itu menjadi entrepreneur di bidang properti merupakan  pilihan yang sangat menjanjikan. Kami mengajak para mahasiswa untuk  menjadi pengusaha properti, karena imbal hasilnya sangat menguntungkan,&amp;rdquo;  tegas Yossi.

Dia menjelaskan, BTN sebagai bank fokus bidang perumahan mendorong  penciptaan entrepreneur di bidang properti secara komprehensif melalui  program pendidikan dan produk pembiayaan. &amp;ldquo;Bank BTN akan membantu bagi  yang ingin menjadi entrepreneur di bidang properti melalui tahapan  pembelajaran untuk bisa menjadi developer masa depan,&amp;rdquo; ungkap Yossi.
&amp;nbsp;Sementara itu, BTN menyatakan telah berhasil melakukan efisiensi   sebesar Rp150 miliar tahun ini dengan melakukan digitalisasi dalam   pengelolaan SDM. Salah satunya dengan menerapkan e-learning kepada   pegawai yang akan dipromosikan.

&amp;ldquo;Dengan e-learning kami bisa menghemat sekitar Rp80 miliar, ini   berhasil dari efisiensi biaya akomodasi dan tiket peserta learning. Ini   jumlah yang cukup besar dan tentu berimbas kepada penurunan biaya   operasional,&amp;rdquo; ujarnya.

Yossi mengungkapkan, era disrupsi memunculkan peluang dan tantangan   baru yang membuat bisnis memerlukan transformasi di bidang digital.   Transformasi ini harus didukung dengan peningkatan kompetensi SDM.

&amp;ldquo;Peluang dan tantangan baru ini yang banyak membuat anak muda ingin menjadi entrepreneur,&amp;rdquo; paparnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Bisnis di bidang properti masih menghadapi berbagai tantangan seperti backlog dan kapasitas penyediaan rumah, namun masih banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk memperluas potensi bisnis.
&amp;nbsp;Baca Juga: 4 Hal Wajib Dilakukan Sebelum Investasi Properti
Adapun tantangan sekaligus peluang di sektor properti yakni angka backlog yang masih cukup besar sekitar 11,4 juta rumah yang menunggu untuk segera diselesaikan.

&quot;Penyelesaian backlog perumahan diharapkan bisa memiliki multiplier effect terhadap 136 subsektor industri yang berujung pada pertumbuhan PDB,&quot; kata Direktur Strategic Human Capital BTN Yossi Istanto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (15/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Lagi Tren Co-Living, Prospek Menggiurkan bagi Investor Properti
Selain itu masih ada gap antara kebutuhan rumah baru yakni sekitar 800.000 unit per tahun dengan kapasitas bangun pengembang yang hanya 250.000-400.000 unit per tahun.

Yossi menambahkan dukungan pemerintah baik dari kementerian maupun regulator untuk mendorong sektor properti sangat besar. Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia juga merupakan peluang karena mereka memiliki potensi ekonomi yang besar.

&amp;ldquo;Rasio Mortgage to GDP Indonesia baru 2,9%, berarti masih banyak ruang bisnis perumahan yang bisa dikembangkan,&amp;rdquo; papar Yossi.
&amp;nbsp;

Menurut Yossi, menjadi entrepreneur merupakan salah satu pilihan yang  bisa diambil di era disrupsi, mengingat rasio pengusaha di Indonesia  masih sedikit dibandingkan jumlah penduduk sekitar 3,1%.

Salah satu sektor yang menarik adalah menjadi pengembang properti  mengingat masih besarnya potensi pengembangan perumahan dengan harga  rumah yang terus naik.

&quot;Oleh karena itu menjadi entrepreneur di bidang properti merupakan  pilihan yang sangat menjanjikan. Kami mengajak para mahasiswa untuk  menjadi pengusaha properti, karena imbal hasilnya sangat menguntungkan,&amp;rdquo;  tegas Yossi.

Dia menjelaskan, BTN sebagai bank fokus bidang perumahan mendorong  penciptaan entrepreneur di bidang properti secara komprehensif melalui  program pendidikan dan produk pembiayaan. &amp;ldquo;Bank BTN akan membantu bagi  yang ingin menjadi entrepreneur di bidang properti melalui tahapan  pembelajaran untuk bisa menjadi developer masa depan,&amp;rdquo; ungkap Yossi.
&amp;nbsp;Sementara itu, BTN menyatakan telah berhasil melakukan efisiensi   sebesar Rp150 miliar tahun ini dengan melakukan digitalisasi dalam   pengelolaan SDM. Salah satunya dengan menerapkan e-learning kepada   pegawai yang akan dipromosikan.

&amp;ldquo;Dengan e-learning kami bisa menghemat sekitar Rp80 miliar, ini   berhasil dari efisiensi biaya akomodasi dan tiket peserta learning. Ini   jumlah yang cukup besar dan tentu berimbas kepada penurunan biaya   operasional,&amp;rdquo; ujarnya.

Yossi mengungkapkan, era disrupsi memunculkan peluang dan tantangan   baru yang membuat bisnis memerlukan transformasi di bidang digital.   Transformasi ini harus didukung dengan peningkatan kompetensi SDM.

&amp;ldquo;Peluang dan tantangan baru ini yang banyak membuat anak muda ingin menjadi entrepreneur,&amp;rdquo; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
