<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IMF Proyeksi Ekonomi Global 2019 di 3%, Paling Lambat Sejak Krisis 2008-2009</title><description>Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali  mengoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2%</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/20/2117506/imf-proyeksi-ekonomi-global-2019-di-3-paling-lambat-sejak-krisis-2008-2009</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/20/2117506/imf-proyeksi-ekonomi-global-2019-di-3-paling-lambat-sejak-krisis-2008-2009"/><item><title>IMF Proyeksi Ekonomi Global 2019 di 3%, Paling Lambat Sejak Krisis 2008-2009</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/20/2117506/imf-proyeksi-ekonomi-global-2019-di-3-paling-lambat-sejak-krisis-2008-2009</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/20/2117506/imf-proyeksi-ekonomi-global-2019-di-3-paling-lambat-sejak-krisis-2008-2009</guid><pubDate>Rabu 16 Oktober 2019 09:19 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/16/20/2117506/imf-proyeksi-ekonomi-global-2019-di-3-paling-lambat-sejak-krisis-2008-2009-2ykamrl2CL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dolar (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/16/20/2117506/imf-proyeksi-ekonomi-global-2019-di-3-paling-lambat-sejak-krisis-2008-2009-2ykamrl2CL.jpg</image><title>Dolar (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali mengoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% dari proyeksi yang dikeluarkan pada Juli lalu. Dengan revisi tersebut, maka diperkirakan ekonomi global hanya mampu tumbuh 3% di tahun 2019.
&quot;Laju pertumbuhan paling lambat sejak krisis keuangan global pada 2008-2009,&quot; ujar Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam keterangan tertulis, Rabu (16/10/2019).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Perubahan Iklim Kian Ganas, Ini Imbas ke Perekonomian versi Goldman Sachs
Pemangkasan proyeksi tersebut telah dilakukan berkali-kali oleh IMF. Pada awal tahun diperkirakan ekonomi global mampu tumbuh 3,5%, kemudian dipangkas pada April 2019 sebesar 3,3% dan pada Juli menjadi 3,2%.
&amp;nbsp;
IMF menilai pertumbuhan terus melemah dengan meningkatnya perang dagang dan ketegangan geopolitik di berbagai negara. Bahkan, ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina diperkirakan akan secara kumulatif mengurangi tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 0,8% pada tahun 2020.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Fenomena Bank Sentral Dunia Ramai-Ramai Turunkan Suku Bunga, Ada Apa?
Dalam October World Economic Outlook, IMF  memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di 2020 menjadi 3,4%, turun 0,2% dari prediksi pada April lalu. Pertumbuhan ini dinilai cukup moderat.
Lemahnya pertumbuhan ekonomi global didorong penurunan tajam dari aktivitas manufaktur dan pergadangan global akibat eskalasi perang dagang. IMF menilai aksi saling berbalas tarif bea masuk yang tinggi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan yang berlangsung berkepanjangan tentu merusak investasi dan permintaan barang modal.
 
&amp;nbsp;Baca juga: BTS Sumbang Ekonomi Korsel hingga USD37 Miliar
Selain itu, industri otomotif mengalami kontraksi karena berbagai faktor, seperti gangguan dari standar emisi baru di Kawasan Euro dan China yang memiliki efek tahan lama. Secara keseluruhan, pertumbuhan volume perdagangan pada paruh pertama 2019 telah jatuh ke 1%, level terlemah sejak 2012.IMF mencatat kebijakan moneter telah memainkan peran penting dalam  mendukung pertumbuhan ekonomi. Bank-bank sentral utama di dunia dengan  tepat melonggarkan kebijakan moneternya, sehingga mengurangi risiko  penurunan pertumbuhan ekonomi.
&quot;Dalam penilaian kami, tanpa adanya stimulus moneter seperti itu,  pertumbuhan global akan lebih rendah sebesar 0,5% di tahun 2019 dan  2020,&quot; katanya.
Ekonomi negara-negara maju terus mengalami perlambatan, IMF  memperkirakan pertumbuhannya hanya sebesar 1,7% di 2019 dan 2020. Lebih  rendah dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 2,3%.

Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang diperkirakan 3,9% pada  tahun 2019, melambat dari pertumbuhan di 2018 yang sebesar 4,5%.  Utamanya dipengaruhi ketidakpastian perdagangan global dan kebijakan  domestik negara-negara tersebut, disamping juga karena ekonomi China  yang melemah.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang  diperkirakan bakal mengalami pemulihan di tahun 2020 menjadi 4,6%.  Lantaran bakal terjadi pemulihan di Brasil, India, Meksiko, Rusia, dan  Arab Saudi yang pada 2018-2019 mengalami perlambatan ekonomi cukup  dalam. Di sisi lain, Argentina, Iran, dan Turki diperkirakan tak  mengalami resesi cukup dalam di 2020.
&quot;Namun, ada ketidakpastian yang cukup besar pada pemulihan tersebut,  terlebih ketika ekonomi Amerika Serikat, Jepang, dan Cina diperkirakan  akan melambat lebih jauh hingga 2020,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali mengoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% dari proyeksi yang dikeluarkan pada Juli lalu. Dengan revisi tersebut, maka diperkirakan ekonomi global hanya mampu tumbuh 3% di tahun 2019.
&quot;Laju pertumbuhan paling lambat sejak krisis keuangan global pada 2008-2009,&quot; ujar Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam keterangan tertulis, Rabu (16/10/2019).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Perubahan Iklim Kian Ganas, Ini Imbas ke Perekonomian versi Goldman Sachs
Pemangkasan proyeksi tersebut telah dilakukan berkali-kali oleh IMF. Pada awal tahun diperkirakan ekonomi global mampu tumbuh 3,5%, kemudian dipangkas pada April 2019 sebesar 3,3% dan pada Juli menjadi 3,2%.
&amp;nbsp;
IMF menilai pertumbuhan terus melemah dengan meningkatnya perang dagang dan ketegangan geopolitik di berbagai negara. Bahkan, ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina diperkirakan akan secara kumulatif mengurangi tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 0,8% pada tahun 2020.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Fenomena Bank Sentral Dunia Ramai-Ramai Turunkan Suku Bunga, Ada Apa?
Dalam October World Economic Outlook, IMF  memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di 2020 menjadi 3,4%, turun 0,2% dari prediksi pada April lalu. Pertumbuhan ini dinilai cukup moderat.
Lemahnya pertumbuhan ekonomi global didorong penurunan tajam dari aktivitas manufaktur dan pergadangan global akibat eskalasi perang dagang. IMF menilai aksi saling berbalas tarif bea masuk yang tinggi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan yang berlangsung berkepanjangan tentu merusak investasi dan permintaan barang modal.
 
&amp;nbsp;Baca juga: BTS Sumbang Ekonomi Korsel hingga USD37 Miliar
Selain itu, industri otomotif mengalami kontraksi karena berbagai faktor, seperti gangguan dari standar emisi baru di Kawasan Euro dan China yang memiliki efek tahan lama. Secara keseluruhan, pertumbuhan volume perdagangan pada paruh pertama 2019 telah jatuh ke 1%, level terlemah sejak 2012.IMF mencatat kebijakan moneter telah memainkan peran penting dalam  mendukung pertumbuhan ekonomi. Bank-bank sentral utama di dunia dengan  tepat melonggarkan kebijakan moneternya, sehingga mengurangi risiko  penurunan pertumbuhan ekonomi.
&quot;Dalam penilaian kami, tanpa adanya stimulus moneter seperti itu,  pertumbuhan global akan lebih rendah sebesar 0,5% di tahun 2019 dan  2020,&quot; katanya.
Ekonomi negara-negara maju terus mengalami perlambatan, IMF  memperkirakan pertumbuhannya hanya sebesar 1,7% di 2019 dan 2020. Lebih  rendah dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 2,3%.

Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang diperkirakan 3,9% pada  tahun 2019, melambat dari pertumbuhan di 2018 yang sebesar 4,5%.  Utamanya dipengaruhi ketidakpastian perdagangan global dan kebijakan  domestik negara-negara tersebut, disamping juga karena ekonomi China  yang melemah.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang  diperkirakan bakal mengalami pemulihan di tahun 2020 menjadi 4,6%.  Lantaran bakal terjadi pemulihan di Brasil, India, Meksiko, Rusia, dan  Arab Saudi yang pada 2018-2019 mengalami perlambatan ekonomi cukup  dalam. Di sisi lain, Argentina, Iran, dan Turki diperkirakan tak  mengalami resesi cukup dalam di 2020.
&quot;Namun, ada ketidakpastian yang cukup besar pada pemulihan tersebut,  terlebih ketika ekonomi Amerika Serikat, Jepang, dan Cina diperkirakan  akan melambat lebih jauh hingga 2020,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
