<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tahun Depan, Obligasi Korporasi Diprediksi Tembus Rp175 Triliun</title><description>Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menyebut penerbitan obligasi korporasi akan lebih gencar di tahun depan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/278/2117899/tahun-depan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp175-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/278/2117899/tahun-depan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp175-triliun"/><item><title>Tahun Depan, Obligasi Korporasi Diprediksi Tembus Rp175 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/278/2117899/tahun-depan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp175-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/278/2117899/tahun-depan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp175-triliun</guid><pubDate>Rabu 16 Oktober 2019 20:45 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/16/278/2117899/tahun-depan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp175-triliun-PXl4NbnTwv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Obligasi Korporasi Tembus Rp175 Triliun (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/16/278/2117899/tahun-depan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp175-triliun-PXl4NbnTwv.jpg</image><title>Obligasi Korporasi Tembus Rp175 Triliun (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menyebut penerbitan obligasi korporasi akan lebih gencar di tahun depan, usai berlalunya tahun pemilu yakni Pilpres 2019. Diperkirakan penerbitan surat utang korporasi akan mencapai Rp155 triliun hingga Rp175 triliun pada 2020.
&amp;nbsp;Baca Juga: Sritex Akan Terbitkan Obligasi Asing Rp3,15 Triliun
Direktur Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Wahyu Trenggono menyatakan, proyeksi tersebut berdasarkan siklus sebelumnya yang terjadi pada tahun 2015, usai Pilpres 2014 selesai. Menurutnya, pada tahun politik, perusahaan umumnya tidak berani melakukan ekspansi bisnis karena penuh ketidakpastian.

&quot;Sehingga mereka tidak menerbitkan obligasi untuk mencari pendanaan guna ekspansi. Biasanya yang ada penerbitan obligasi untuk membayar utang jatuh tempo (refinancing),&quot; ujarnya dalam acara diskusi dengan wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (16/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Terbitkan Obligasi Senilai Rp5 Triliun, BRI Tawarkan Kupon Hingga 8,21%
Pada tahun 2014, tercatat obligasi korporasi yang jatuh tempo sebesar Rp41,52 triliun, sedangkan penerbitan obligasi sebesar Rp47,52 triliun. Namun pada 2015, penerbitan obligasi langsung meningkat jadi sebesar Rp62,75 triliun, jauh di atas nilai obligasi yang jatuh tempo sebesar Rp35,87 triliun.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/08/57972/295790_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Berdasarkan hal tersebut, menurut Wahyu, mencerminkan memang banyak  perusahaan yang menahan ekspansi bisnis, sehingga menahan penerbitan  surat utang di tahun Pilpres.

&quot;Tahun 2014 antara yang obligasi jatuh tempo dan yang diterbitkan  baru nilainya hampir sama. Tapi di 2015, nilai antara keduanya berbeda,  double up (nilai penerbitan obligasi baru dari yang jatuh tempo),&quot;  katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/07/08/57972/295794_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Pada tahun ini, lanjutnya, hingga pertengahan Oktober tercatat  penerbitan surat utang korporasi sudah mencapai Rp94,5 triliun,  sedangkan surat utang jatuh tempo sebesar Rp90,28 triliun. Penerbitan  obligasi ini berpotensi meningkat hingga Rp120 triliun di akhir tahun.

&quot;Tiga minggu ke depan saja ada surat utang senilai Rp15 triliun yang  berpotensi terbit. Jadi mungkin bisa sampai Rp100 triliun-Rp120 triliun  di 2019,&quot; katanya.

Sehingga untuk tahun 2020, Wahyu memastikan nilai penerbitan obligasi  korporasi akan lebih tinggi dari tahun 2019. Namun nilainya tidak akan  mencapai dua kali lipat dari obligasi jatuh tempo, seperti yang terjadi  di 2015. Tahun depan obligasi jatuh tempo tercatat sebesar Rp100  triliun.

&quot;Di tahun 2015 ekonomi tidak segalau saat ini. Sekarang ekonomi  global sangat tidak pasti, karena adanya perang dagang Amerika Serikat  dan China, terlebih ekonomi kedua negara itu juga melemah. Maka enggak  bisa seoptimis 2015, kira-kira hanya naik 75% sekitar Rp155  triliun-Rp175 triliun,&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/18/55421/280681_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;</description><content:encoded>JAKARTA - Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menyebut penerbitan obligasi korporasi akan lebih gencar di tahun depan, usai berlalunya tahun pemilu yakni Pilpres 2019. Diperkirakan penerbitan surat utang korporasi akan mencapai Rp155 triliun hingga Rp175 triliun pada 2020.
&amp;nbsp;Baca Juga: Sritex Akan Terbitkan Obligasi Asing Rp3,15 Triliun
Direktur Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Wahyu Trenggono menyatakan, proyeksi tersebut berdasarkan siklus sebelumnya yang terjadi pada tahun 2015, usai Pilpres 2014 selesai. Menurutnya, pada tahun politik, perusahaan umumnya tidak berani melakukan ekspansi bisnis karena penuh ketidakpastian.

&quot;Sehingga mereka tidak menerbitkan obligasi untuk mencari pendanaan guna ekspansi. Biasanya yang ada penerbitan obligasi untuk membayar utang jatuh tempo (refinancing),&quot; ujarnya dalam acara diskusi dengan wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (16/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Terbitkan Obligasi Senilai Rp5 Triliun, BRI Tawarkan Kupon Hingga 8,21%
Pada tahun 2014, tercatat obligasi korporasi yang jatuh tempo sebesar Rp41,52 triliun, sedangkan penerbitan obligasi sebesar Rp47,52 triliun. Namun pada 2015, penerbitan obligasi langsung meningkat jadi sebesar Rp62,75 triliun, jauh di atas nilai obligasi yang jatuh tempo sebesar Rp35,87 triliun.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/08/57972/295790_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Berdasarkan hal tersebut, menurut Wahyu, mencerminkan memang banyak  perusahaan yang menahan ekspansi bisnis, sehingga menahan penerbitan  surat utang di tahun Pilpres.

&quot;Tahun 2014 antara yang obligasi jatuh tempo dan yang diterbitkan  baru nilainya hampir sama. Tapi di 2015, nilai antara keduanya berbeda,  double up (nilai penerbitan obligasi baru dari yang jatuh tempo),&quot;  katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/07/08/57972/295794_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Pada tahun ini, lanjutnya, hingga pertengahan Oktober tercatat  penerbitan surat utang korporasi sudah mencapai Rp94,5 triliun,  sedangkan surat utang jatuh tempo sebesar Rp90,28 triliun. Penerbitan  obligasi ini berpotensi meningkat hingga Rp120 triliun di akhir tahun.

&quot;Tiga minggu ke depan saja ada surat utang senilai Rp15 triliun yang  berpotensi terbit. Jadi mungkin bisa sampai Rp100 triliun-Rp120 triliun  di 2019,&quot; katanya.

Sehingga untuk tahun 2020, Wahyu memastikan nilai penerbitan obligasi  korporasi akan lebih tinggi dari tahun 2019. Namun nilainya tidak akan  mencapai dua kali lipat dari obligasi jatuh tempo, seperti yang terjadi  di 2015. Tahun depan obligasi jatuh tempo tercatat sebesar Rp100  triliun.

&quot;Di tahun 2015 ekonomi tidak segalau saat ini. Sekarang ekonomi  global sangat tidak pasti, karena adanya perang dagang Amerika Serikat  dan China, terlebih ekonomi kedua negara itu juga melemah. Maka enggak  bisa seoptimis 2015, kira-kira hanya naik 75% sekitar Rp155  triliun-Rp175 triliun,&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/18/55421/280681_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
