<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Petani Akan Tertatanya Lahan Persawahan di Jatiluwih</title><description>Mungkin belum banyak yang tahu mengenai Jatiluwih. Sebuah desa dengan  pemandangan sawah berundak yang hijau nan sejuk di Kecamatan Penebel.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/320/2117640/cerita-petani-akan-tertatanya-lahan-persawahan-di-jatiluwih</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/320/2117640/cerita-petani-akan-tertatanya-lahan-persawahan-di-jatiluwih"/><item><title>Cerita Petani Akan Tertatanya Lahan Persawahan di Jatiluwih</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/320/2117640/cerita-petani-akan-tertatanya-lahan-persawahan-di-jatiluwih</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/16/320/2117640/cerita-petani-akan-tertatanya-lahan-persawahan-di-jatiluwih</guid><pubDate>Rabu 16 Oktober 2019 13:25 WIB</pubDate><dc:creator>Fiddy Anggriawan </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/16/320/2117640/cerita-petani-akan-tertatanya-lahan-persawahan-di-jatiluwih-JZjx5lE0ov.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Persawahan di Jatiluwih (Foto: Okezone.com/Fiddy Anggriawan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/16/320/2117640/cerita-petani-akan-tertatanya-lahan-persawahan-di-jatiluwih-JZjx5lE0ov.jpg</image><title>Persawahan di Jatiluwih (Foto: Okezone.com/Fiddy Anggriawan)</title></images><description>BALI - Mungkin belum banyak yang tahu mengenai Jatiluwih. Sebuah desa dengan pemandangan sawah berundak yang hijau nan sejuk di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Ya, kali ini Okezone mendapat kesempatan bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menengok indahnya argo eco tourism tersebut. Sebuah area persawahan berundak yang dikelola mandiri oleh para petani lokal yang kini familiar dengan nama Jatiluwih Rice Terrace.
 
Baca juga: Si Beneng, Talas Jumbo Pandeglang Menembus Belanda
Salah seorang Ketua Kelompok Tani Jatiluwih, I Wayan Mustra menjelaskan, di sini ada banyak petani yang mengelola area persawahan berundak. Dia mengatakan, satu kelompok tani terdiri dari 10 hingga 20 orang petani.

&quot;Di sini semua kepemilikan sawah pribadi semua. Pengairannya menggunakan Subak. Kami kelompok tani, mengelola pupuk sendiri dan tidak menggunakan pestisida, makannya udaranya segar,&quot; kata Wayan saat berbincang dengan Okezone, Selasa 15 Oktober 2019.
 
Baca juga: Menggebrak, Kacang Tanah Indonesia Tembus Pasar Dunia
Dia menceritakan, para petani di Jatiluwih biasa mengolah pupuk yang berasal dari kotoran sapi. Proses pengolahan kotoran sapi jadi pupuk, kata Wayan, idealnya memakan waktu 3 sampai 4 bulan.

&quot;Di sini panen padi 2 kali setahun, yaitu Januari dan Agustus,&quot; tuturnya.
 
Baca juga: Ekspor Pertanian RI Meningkat, Ternyata China Masih Sering Impor 

Dalam pengelolaan sawah berundak di Jatiluwih, Wayan dan para petani ingin tetap menjaga kelestarian alam. Baik dari sisi keasriannya maupun budayanya.

&quot;Budaya di sini dalam artian Subak di Bali, yang kental dengan upacara adatnya. Perairan sawah di sini semua dari Subak. Walau kemarau, air tetap ada meski debitnya hanya sepertiga dari saat musim penghujan,&quot; ucap Wayan.
Wayan menjelaskan, total area lahan pesawahan di Jatiluwih mencapai  sekira 303 hektare. Namun, yang efektif ditanami padi sekira 227  hektare. Sisanya, kata Wayan dibuat kandang sapi dan jalan untuk  lintasan wisatawan.

Wisatawan lokal dan mancanegara, lanjut Wayan, justru senang  berkunjung ketika musim panen di Jatiluwih tiba. &quot;Kalau panen di sini  tidak ditutup, justru wisatawan senang jika sedang proses panen. Mereka  ingin merasakan mencabut padinya. Di sini wisatawan yang dominan dari  Eropa seperti Prancis. Kalau Asia dari Korea, Taiwan dan Jepang yang  banyak datang,&quot; urainya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pertanian RI Tergantung Keberanian Milenial Jadi Petani

Saat ditanya apa yang masih menjadi kendala dalam pengelolaan sawah  berundak di Jatiluwih? Wayan menuturkan, ada sedikit permasalahan, yaitu  pasca-panen. &quot;Kita belum ada produk olahan dan di pemasaran masih ada  kendala. Mudah-mudahan dengan koperasi subak yang baru kita bentuk  sehingga produk pertanian kita bisa dipasarkan lebih baik. Sejauh ini  pemasaran kita masih di lokal Bali saja,&quot; ungkap Wayan.

Sementara Kepala Biro Humas Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan,  di sini pihaknya ingin menunjukan bahwa sektor pertanian itu tidak  berdiri sendiri. Ada beberapa aspek seperti budaya, pariwisata dan  kelestarian alam. Menurut dia, yang terpenting dari semua kombinasi itu  memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat lokal di Jatiluwih.

&quot;Kawasan padi Jatiluwih sudah masuk dalam warisan kekayaan dunia untuk sistem pengairan subaknya,&quot; turur Boga.

Sistem padi di sini, sambung Boga, memang dikelola secara organik.  Pendekatannya lebih kepada mempertahankan budaya dan tradisi. &quot;Jadi  walaupun diberikan masukan soal pemanfaatan teknologi dalam penanaman  padi, tapi mereka tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi. Jadi sistem  bertaninya tidak merusak lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia,  produknya adalah tanaman organik,&quot; papar dia.Boga mengungkapkan, tanpa adanya produk kimia, udara di Jatiluwih   jadi lebih bersih dan segar, lingkungan pun tidak tercemar. Kemudian   yang terpenting adalah kelestarian alam.

&quot;Kawasan ini luar biasa, karena menambah nilai ekonomi sebagai argo   eco tourism bagi masyarakat dan petani di sini. Harapan kami tentu   kawasan pertanian ini bisa dipertahankan dengan proteksi,&quot; terang dia.

&quot;Kemudian, perbaikan pengendalian hama penyakit. Kita bisa   memperkenalkan teknologi organik dari biji-bijian hingga kencing kambing   dan sapi untuk mengendalikan hama pengganggu tanaman,&quot; kata Boga   menutup pembicaraan.</description><content:encoded>BALI - Mungkin belum banyak yang tahu mengenai Jatiluwih. Sebuah desa dengan pemandangan sawah berundak yang hijau nan sejuk di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Ya, kali ini Okezone mendapat kesempatan bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menengok indahnya argo eco tourism tersebut. Sebuah area persawahan berundak yang dikelola mandiri oleh para petani lokal yang kini familiar dengan nama Jatiluwih Rice Terrace.
 
Baca juga: Si Beneng, Talas Jumbo Pandeglang Menembus Belanda
Salah seorang Ketua Kelompok Tani Jatiluwih, I Wayan Mustra menjelaskan, di sini ada banyak petani yang mengelola area persawahan berundak. Dia mengatakan, satu kelompok tani terdiri dari 10 hingga 20 orang petani.

&quot;Di sini semua kepemilikan sawah pribadi semua. Pengairannya menggunakan Subak. Kami kelompok tani, mengelola pupuk sendiri dan tidak menggunakan pestisida, makannya udaranya segar,&quot; kata Wayan saat berbincang dengan Okezone, Selasa 15 Oktober 2019.
 
Baca juga: Menggebrak, Kacang Tanah Indonesia Tembus Pasar Dunia
Dia menceritakan, para petani di Jatiluwih biasa mengolah pupuk yang berasal dari kotoran sapi. Proses pengolahan kotoran sapi jadi pupuk, kata Wayan, idealnya memakan waktu 3 sampai 4 bulan.

&quot;Di sini panen padi 2 kali setahun, yaitu Januari dan Agustus,&quot; tuturnya.
 
Baca juga: Ekspor Pertanian RI Meningkat, Ternyata China Masih Sering Impor 

Dalam pengelolaan sawah berundak di Jatiluwih, Wayan dan para petani ingin tetap menjaga kelestarian alam. Baik dari sisi keasriannya maupun budayanya.

&quot;Budaya di sini dalam artian Subak di Bali, yang kental dengan upacara adatnya. Perairan sawah di sini semua dari Subak. Walau kemarau, air tetap ada meski debitnya hanya sepertiga dari saat musim penghujan,&quot; ucap Wayan.
Wayan menjelaskan, total area lahan pesawahan di Jatiluwih mencapai  sekira 303 hektare. Namun, yang efektif ditanami padi sekira 227  hektare. Sisanya, kata Wayan dibuat kandang sapi dan jalan untuk  lintasan wisatawan.

Wisatawan lokal dan mancanegara, lanjut Wayan, justru senang  berkunjung ketika musim panen di Jatiluwih tiba. &quot;Kalau panen di sini  tidak ditutup, justru wisatawan senang jika sedang proses panen. Mereka  ingin merasakan mencabut padinya. Di sini wisatawan yang dominan dari  Eropa seperti Prancis. Kalau Asia dari Korea, Taiwan dan Jepang yang  banyak datang,&quot; urainya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pertanian RI Tergantung Keberanian Milenial Jadi Petani

Saat ditanya apa yang masih menjadi kendala dalam pengelolaan sawah  berundak di Jatiluwih? Wayan menuturkan, ada sedikit permasalahan, yaitu  pasca-panen. &quot;Kita belum ada produk olahan dan di pemasaran masih ada  kendala. Mudah-mudahan dengan koperasi subak yang baru kita bentuk  sehingga produk pertanian kita bisa dipasarkan lebih baik. Sejauh ini  pemasaran kita masih di lokal Bali saja,&quot; ungkap Wayan.

Sementara Kepala Biro Humas Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan,  di sini pihaknya ingin menunjukan bahwa sektor pertanian itu tidak  berdiri sendiri. Ada beberapa aspek seperti budaya, pariwisata dan  kelestarian alam. Menurut dia, yang terpenting dari semua kombinasi itu  memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat lokal di Jatiluwih.

&quot;Kawasan padi Jatiluwih sudah masuk dalam warisan kekayaan dunia untuk sistem pengairan subaknya,&quot; turur Boga.

Sistem padi di sini, sambung Boga, memang dikelola secara organik.  Pendekatannya lebih kepada mempertahankan budaya dan tradisi. &quot;Jadi  walaupun diberikan masukan soal pemanfaatan teknologi dalam penanaman  padi, tapi mereka tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi. Jadi sistem  bertaninya tidak merusak lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia,  produknya adalah tanaman organik,&quot; papar dia.Boga mengungkapkan, tanpa adanya produk kimia, udara di Jatiluwih   jadi lebih bersih dan segar, lingkungan pun tidak tercemar. Kemudian   yang terpenting adalah kelestarian alam.

&quot;Kawasan ini luar biasa, karena menambah nilai ekonomi sebagai argo   eco tourism bagi masyarakat dan petani di sini. Harapan kami tentu   kawasan pertanian ini bisa dipertahankan dengan proteksi,&quot; terang dia.

&quot;Kemudian, perbaikan pengendalian hama penyakit. Kita bisa   memperkenalkan teknologi organik dari biji-bijian hingga kencing kambing   dan sapi untuk mengendalikan hama pengganggu tanaman,&quot; kata Boga   menutup pembicaraan.</content:encoded></item></channel></rss>
