<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasca-Pelantikan Jokowi, Apa IHSG Bakal Terus Menguat?</title><description>Pasar juga akan mencermati dampak usai dilantiknya Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf sebagai Presiden dan Wakil Presiden</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/21/278/2119427/pasca-pelantikan-jokowi-apa-ihsg-bakal-terus-menguat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/21/278/2119427/pasca-pelantikan-jokowi-apa-ihsg-bakal-terus-menguat"/><item><title>Pasca-Pelantikan Jokowi, Apa IHSG Bakal Terus Menguat?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/21/278/2119427/pasca-pelantikan-jokowi-apa-ihsg-bakal-terus-menguat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/21/278/2119427/pasca-pelantikan-jokowi-apa-ihsg-bakal-terus-menguat</guid><pubDate>Senin 21 Oktober 2019 06:12 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/20/278/2119427/pasca-pelantikan-jokowi-apa-ihsg-bakal-terus-menguat-SPhIgy09fn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Pergerakan IHSG Menguat. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/20/278/2119427/pasca-pelantikan-jokowi-apa-ihsg-bakal-terus-menguat-SPhIgy09fn.jpg</image><title>Ilustrasi Pergerakan IHSG Menguat. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pergerakan pasar saham Indonesia dalam sepekan ke depan masih dibayangi faktor eksternal seperti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Sedangkan di dalam negeri, pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Tak hanya itu, pasar juga akan mencermati dampak usai dilantiknya Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf sebagai Presiden dan Wakil Presiden untuk 5 tahun ke depan.
Baca Juga: Hari Terakhir Kerja Kabinet Kerja I, IHSG Setop di Zona Hijau
&amp;ldquo;Pasar masih akan mencermati kesepakatan perang dagang antara AS dan China. Minggu lalu pasar di warnai harapan yang turun naik terkait kesepakatan perang dagang. Tengah pekan pasar sempat optimis setelah Presiden Donald Trump mengatakan fase pertama perjanjian perdagangan akan disusun dalam tiga pekan ke depan,&amp;rdquo; ujar Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee, dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/10/2019).

AS akan menunda kenaikan tarif impor yang semula akan dimulai pekan depan. Sedangkan China direncanakan akan membeli antara USD40 miliar dan USD50 miliar produk pertanian AS.
Pasar menjadi khawatir karena Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan kenaikan tarif Desember terhadap produk China akan dilakukan jika kesepakatan tidak tercapai. Pejabat AS dan China mengatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kesepakatan dapat dicapai.
Baca Juga: Jeda Siang, IHSG Tak Banyak bergerak di 6.188
&amp;ldquo;China masih menginginkan adanya putaran pembicaraan selanjutnya, sebelum Presiden Xi Jinping menandatangi fase pertama kesepakatan.  China ingin AS membatalkan kenaikan tarif yang direncanakan untuk Desember. Banyak hal yang harus di sepakati membuat masalah perang dagang masih mempengaruhi pasar dalam beberapa pekan ke depan,&amp;rdquo; tuturnya.Beberapa data AS di yang keluar pekan lalu di bawah harapan pasar.  Data Konstruksi rumah baru di AS turun 9% di bulan September dari bulan  sebelumnya. Produksi industri turun 0,4% di bulan September, penurunan  satu bulan terbesar sejak April. Penggunaan kapasitas industri merosot  ke 77,5 pada September dari 77,9 di Agustus. Data penjualan ritel juga  mengalami penurunan untuk pertama kali dalam 7 bulan terakhir.
Penjualan eceran selama periode September mengalami penurunan menjadi  (-0,3%) lebih rendah dari yang diasumsikan ekonom sebelumnya sebesar  +0,3%. Menjelang pertemuan FOMC bulan Oktober ini beberapa data AS  mengalami perlambatan membuat probabilitas Fed melakukan pelonggaran  kebijakan moneter semakin besar. Fed berpeluang menurunkan tingkat suku  bunga nya. Ini menjadi sentiment positif di pasar.

Musim laporan keuangan perusahaan kuartal ketiga AS dimulai dengan  awal yang baik. Sebanyak 83% perusahaan di dalam indeks S&amp;amp;P 500 yang  telah melaporkan berhasil melampaui ekspektasi analis. IMF mengatakan  bahwa pasar saham AS dinilai terlalu tinggi karena kepercayaan pada  penyelamatan Federal Reserve. Hal ini tercermin dari probabilitas  pemotongan suku bunga Oktober oleh Fed yang naik menjadi 90,9% setelah  data penjualan ritel dirilis.
Rapat di jadwalkan 31 Oktober 2019 dengan harapan Fed menurunkan  bunga ke 1.50 sampai 1.75 %. Masalah Brexit masih akan menjadi perhatian  pasar.
&amp;ldquo;Setelah mendapat angin segar dari Perdana Menteri Inggris Boris  Johnson lewat Twitter nya &quot;kami memiliki kesepakatan Brexit baru yang  hebat&quot;. Dia meminta anggota parlemen Inggris untuk mendukung kesepakatan  itu ketika diajukan ke DPR, Sabtu. Hal ini di konfirmasi Presiden  Komisi Eropa Jean-Claude Juncker yang juga mencuit bahwa kesepakatan itu  cukup &quot;adil dan seimbang&quot;,&amp;rdquo; tuturnya,
Irlandia Utara juga di harapkan membantu meratifikasi perjanjian  tersebut, untuk menegaskan akan menolak untuk mendukung kesepakatan itu.  Berita positif ini tidak bertahan lama di pasar karena anggota parlemen  Inggris meragukan rancangan kesepakatan Brexit yang disepakati Inggris  dan Uni Eropa. Keraguan timbul akibat perkiraan apakah parlemen Inggris  akan mendukung kesepakatan tersebut.Democratic Unionist Party (DUP), sekutu utama pemerintahan Johnson,   menyatakan akan menentang kesepakatan itu karena &quot;bisa merusak&quot; Good   Friday Agreement (GFA), gencatan senjata hukum yang memulihkan   perdamaian di perbatasan antara Irlandia Utara dan Republik Irlandia.   Gonjang ganjing Brexit masih akan mewarnai pasar.
Data ekonomi China yang keluar pekan lalu juga tidak terlalu baik.   GDP China hanya tumbuh 6,0 persen (YoY), lebih rendah dari perkiraan   sebesar 6,1%. China diperkirakan akan segera mempercepat stimulus dalam   1-2 kuartal ke depan jika ingin memenuhi target pertumbuhan ekonomi   antara 5,5% dan 6% pada tahun selanjutnya.
Perang dagang China dan AS telah membebani perekonomiannya. Diketahui   pertumbuhan ekonomi China di kuartal terakhir sebesar 6,2% merupakan   terendah dalam 27 tahun terakhir. Stimulus dari China akan menjadi   berita yang positif bagi pasar.
Dari dalam negeri terdapat jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan   di Rabu - Kamis, 23 - 24 Oktober. Melihat rapat Fed masih akan di  adakan  di akhir Oktober, kami perkirakan BI akan mempertahankan suku  bunga.
&amp;ldquo;IHSG dalam sepekan ke depan berpeluang konsolidasi melemah dengan support di   level 6.143 sampai 6.099 dan resistance di level 6.201 sampai 6.318&amp;rdquo;   tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pergerakan pasar saham Indonesia dalam sepekan ke depan masih dibayangi faktor eksternal seperti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Sedangkan di dalam negeri, pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Tak hanya itu, pasar juga akan mencermati dampak usai dilantiknya Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf sebagai Presiden dan Wakil Presiden untuk 5 tahun ke depan.
Baca Juga: Hari Terakhir Kerja Kabinet Kerja I, IHSG Setop di Zona Hijau
&amp;ldquo;Pasar masih akan mencermati kesepakatan perang dagang antara AS dan China. Minggu lalu pasar di warnai harapan yang turun naik terkait kesepakatan perang dagang. Tengah pekan pasar sempat optimis setelah Presiden Donald Trump mengatakan fase pertama perjanjian perdagangan akan disusun dalam tiga pekan ke depan,&amp;rdquo; ujar Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee, dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/10/2019).

AS akan menunda kenaikan tarif impor yang semula akan dimulai pekan depan. Sedangkan China direncanakan akan membeli antara USD40 miliar dan USD50 miliar produk pertanian AS.
Pasar menjadi khawatir karena Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan kenaikan tarif Desember terhadap produk China akan dilakukan jika kesepakatan tidak tercapai. Pejabat AS dan China mengatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kesepakatan dapat dicapai.
Baca Juga: Jeda Siang, IHSG Tak Banyak bergerak di 6.188
&amp;ldquo;China masih menginginkan adanya putaran pembicaraan selanjutnya, sebelum Presiden Xi Jinping menandatangi fase pertama kesepakatan.  China ingin AS membatalkan kenaikan tarif yang direncanakan untuk Desember. Banyak hal yang harus di sepakati membuat masalah perang dagang masih mempengaruhi pasar dalam beberapa pekan ke depan,&amp;rdquo; tuturnya.Beberapa data AS di yang keluar pekan lalu di bawah harapan pasar.  Data Konstruksi rumah baru di AS turun 9% di bulan September dari bulan  sebelumnya. Produksi industri turun 0,4% di bulan September, penurunan  satu bulan terbesar sejak April. Penggunaan kapasitas industri merosot  ke 77,5 pada September dari 77,9 di Agustus. Data penjualan ritel juga  mengalami penurunan untuk pertama kali dalam 7 bulan terakhir.
Penjualan eceran selama periode September mengalami penurunan menjadi  (-0,3%) lebih rendah dari yang diasumsikan ekonom sebelumnya sebesar  +0,3%. Menjelang pertemuan FOMC bulan Oktober ini beberapa data AS  mengalami perlambatan membuat probabilitas Fed melakukan pelonggaran  kebijakan moneter semakin besar. Fed berpeluang menurunkan tingkat suku  bunga nya. Ini menjadi sentiment positif di pasar.

Musim laporan keuangan perusahaan kuartal ketiga AS dimulai dengan  awal yang baik. Sebanyak 83% perusahaan di dalam indeks S&amp;amp;P 500 yang  telah melaporkan berhasil melampaui ekspektasi analis. IMF mengatakan  bahwa pasar saham AS dinilai terlalu tinggi karena kepercayaan pada  penyelamatan Federal Reserve. Hal ini tercermin dari probabilitas  pemotongan suku bunga Oktober oleh Fed yang naik menjadi 90,9% setelah  data penjualan ritel dirilis.
Rapat di jadwalkan 31 Oktober 2019 dengan harapan Fed menurunkan  bunga ke 1.50 sampai 1.75 %. Masalah Brexit masih akan menjadi perhatian  pasar.
&amp;ldquo;Setelah mendapat angin segar dari Perdana Menteri Inggris Boris  Johnson lewat Twitter nya &quot;kami memiliki kesepakatan Brexit baru yang  hebat&quot;. Dia meminta anggota parlemen Inggris untuk mendukung kesepakatan  itu ketika diajukan ke DPR, Sabtu. Hal ini di konfirmasi Presiden  Komisi Eropa Jean-Claude Juncker yang juga mencuit bahwa kesepakatan itu  cukup &quot;adil dan seimbang&quot;,&amp;rdquo; tuturnya,
Irlandia Utara juga di harapkan membantu meratifikasi perjanjian  tersebut, untuk menegaskan akan menolak untuk mendukung kesepakatan itu.  Berita positif ini tidak bertahan lama di pasar karena anggota parlemen  Inggris meragukan rancangan kesepakatan Brexit yang disepakati Inggris  dan Uni Eropa. Keraguan timbul akibat perkiraan apakah parlemen Inggris  akan mendukung kesepakatan tersebut.Democratic Unionist Party (DUP), sekutu utama pemerintahan Johnson,   menyatakan akan menentang kesepakatan itu karena &quot;bisa merusak&quot; Good   Friday Agreement (GFA), gencatan senjata hukum yang memulihkan   perdamaian di perbatasan antara Irlandia Utara dan Republik Irlandia.   Gonjang ganjing Brexit masih akan mewarnai pasar.
Data ekonomi China yang keluar pekan lalu juga tidak terlalu baik.   GDP China hanya tumbuh 6,0 persen (YoY), lebih rendah dari perkiraan   sebesar 6,1%. China diperkirakan akan segera mempercepat stimulus dalam   1-2 kuartal ke depan jika ingin memenuhi target pertumbuhan ekonomi   antara 5,5% dan 6% pada tahun selanjutnya.
Perang dagang China dan AS telah membebani perekonomiannya. Diketahui   pertumbuhan ekonomi China di kuartal terakhir sebesar 6,2% merupakan   terendah dalam 27 tahun terakhir. Stimulus dari China akan menjadi   berita yang positif bagi pasar.
Dari dalam negeri terdapat jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan   di Rabu - Kamis, 23 - 24 Oktober. Melihat rapat Fed masih akan di  adakan  di akhir Oktober, kami perkirakan BI akan mempertahankan suku  bunga.
&amp;ldquo;IHSG dalam sepekan ke depan berpeluang konsolidasi melemah dengan support di   level 6.143 sampai 6.099 dan resistance di level 6.201 sampai 6.318&amp;rdquo;   tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
