<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rapat Bulanan BI, Suku Bunga Bakal Bertahan di 5%?</title><description>Pandangan ekonom beragam terkait proyeksi keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI)  atau BI 7-Days Reverse Repo Rate.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/24/20/2121115/rapat-bulanan-bi-suku-bunga-bakal-bertahan-di-5</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/24/20/2121115/rapat-bulanan-bi-suku-bunga-bakal-bertahan-di-5"/><item><title>Rapat Bulanan BI, Suku Bunga Bakal Bertahan di 5%?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/24/20/2121115/rapat-bulanan-bi-suku-bunga-bakal-bertahan-di-5</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/24/20/2121115/rapat-bulanan-bi-suku-bunga-bakal-bertahan-di-5</guid><pubDate>Kamis 24 Oktober 2019 11:56 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/24/20/2121115/rapat-bulanan-bi-suku-bunga-bakal-bertahan-di-5-vtSFC2XozL.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/24/20/2121115/rapat-bulanan-bi-suku-bunga-bakal-bertahan-di-5-vtSFC2XozL.jpeg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pandangan ekonom beragam terkait proyeksi keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI)  atau BI 7-Days Reverse Repo Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan September 2019. Lantaran, probabilitas suku bunga acuan akan di tahan atau diturunkan cukup berimbang yakni 50% : 50%.
&quot;Makanya view (pandangan) kalangan ekonom terbelah antara yang memprediksi tetap dengan yang turun,&quot; ujar Ekonom BNI Ryan Kiryanto kepada Okezone, Kamis (24/10/2019).
Baca juga: BI Kembali Turunkan Suku Bunga Acuannya Jadi 5,25%
Ryan sendiri memproyeksikan Bank Sentral bakal menahan suku bunga acuan tetap di level 5,25%, meskipun ada peluang besar bagi BI untuk memangkas sebesar 25 basis poin (bps) ke 5%.
&quot;Saya kira BI masih akan menahan BI rate tetap di 5,25%,&quot; katanya.
Menurutnya, hal yang perlu menjadi perhatian adalah upaya BI dalam pelonggaran kebijakan moneter telah dilakukan, namun sayangnya belum berdampak ke permintaan kredit yang naik dan ketatnya likuiditas bank yang tidak melonggar. Hal itu dikarenakan kebijakan fiskal yang counter cyclical, di mana harusnya menjadi stimulus ekspansioner untuk perekonomian dan perbankan belum secara optimal dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan.

&quot;Ini sayang sekali karena waktu tinggal dua bulan lagi sebelum 2019 berakhir. Intinya, belanja barang dan belanja modal pemerintah (kementerian/lembaga) harus segera dilakukan supaya Produk Domestik Bruto di kuartal IV bisa tumbuh di atas 5%,&quot; katanya.
Sementara Ekonom Bank Pertama Josua Pardede memproyeksikan, Bank Sentral bakal menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps. Hal ini dengan mempertimbangkan terjaganya stabilitas perekonomian domestik yang tercermin dari perkembangan laju inflasi terkendali serta stabilitas nilai tukar Rupiah.&quot;BI berpeluang untuk kembali memangkas suku bunga acuan menjadi 5,0%,&quot; katanya.
Dia menjelaskan, laju inflasi cenderung stabil di masih dalam sasaran  inflasi BI di kisaran 3,5&amp;plusmn;1% hingga akhir tahun ini. Selain itu, nilai  tukar Rupiah cenderung stabil dalam sebulan terakhir ini di mana  volatilitas Rupiah secara rata-rata menurun.

Terindikasi dari one-month implied volatility yang turun jadi kurang  dari 6% sejak pertengahan bulan ini. Rupiah secara rata-rata cenderung  stabil di level Rp14.150 per USD sepanjang bulan Oktober ini.  Terkendalinya laju inflasi serta kestabilan nilai tukar Rupiah juga  ditopang oleh ekspektasi penurunan defisit transaksi berjalan sejalan  dengan membaiknya neraca perdagangan sepanjang kuartal III-2019.
&quot;Momentum pelonggaran kebijakan moneter dengan penurunan suku bunga  acuan, juga di saat bersamaan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan  ekonomi domestik di tengah tren perlambatan ekonomi global yang dapat  mempengaruhi perekonomian nasional,&quot; jelas Josua.</description><content:encoded>JAKARTA - Pandangan ekonom beragam terkait proyeksi keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI)  atau BI 7-Days Reverse Repo Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan September 2019. Lantaran, probabilitas suku bunga acuan akan di tahan atau diturunkan cukup berimbang yakni 50% : 50%.
&quot;Makanya view (pandangan) kalangan ekonom terbelah antara yang memprediksi tetap dengan yang turun,&quot; ujar Ekonom BNI Ryan Kiryanto kepada Okezone, Kamis (24/10/2019).
Baca juga: BI Kembali Turunkan Suku Bunga Acuannya Jadi 5,25%
Ryan sendiri memproyeksikan Bank Sentral bakal menahan suku bunga acuan tetap di level 5,25%, meskipun ada peluang besar bagi BI untuk memangkas sebesar 25 basis poin (bps) ke 5%.
&quot;Saya kira BI masih akan menahan BI rate tetap di 5,25%,&quot; katanya.
Menurutnya, hal yang perlu menjadi perhatian adalah upaya BI dalam pelonggaran kebijakan moneter telah dilakukan, namun sayangnya belum berdampak ke permintaan kredit yang naik dan ketatnya likuiditas bank yang tidak melonggar. Hal itu dikarenakan kebijakan fiskal yang counter cyclical, di mana harusnya menjadi stimulus ekspansioner untuk perekonomian dan perbankan belum secara optimal dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan.

&quot;Ini sayang sekali karena waktu tinggal dua bulan lagi sebelum 2019 berakhir. Intinya, belanja barang dan belanja modal pemerintah (kementerian/lembaga) harus segera dilakukan supaya Produk Domestik Bruto di kuartal IV bisa tumbuh di atas 5%,&quot; katanya.
Sementara Ekonom Bank Pertama Josua Pardede memproyeksikan, Bank Sentral bakal menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps. Hal ini dengan mempertimbangkan terjaganya stabilitas perekonomian domestik yang tercermin dari perkembangan laju inflasi terkendali serta stabilitas nilai tukar Rupiah.&quot;BI berpeluang untuk kembali memangkas suku bunga acuan menjadi 5,0%,&quot; katanya.
Dia menjelaskan, laju inflasi cenderung stabil di masih dalam sasaran  inflasi BI di kisaran 3,5&amp;plusmn;1% hingga akhir tahun ini. Selain itu, nilai  tukar Rupiah cenderung stabil dalam sebulan terakhir ini di mana  volatilitas Rupiah secara rata-rata menurun.

Terindikasi dari one-month implied volatility yang turun jadi kurang  dari 6% sejak pertengahan bulan ini. Rupiah secara rata-rata cenderung  stabil di level Rp14.150 per USD sepanjang bulan Oktober ini.  Terkendalinya laju inflasi serta kestabilan nilai tukar Rupiah juga  ditopang oleh ekspektasi penurunan defisit transaksi berjalan sejalan  dengan membaiknya neraca perdagangan sepanjang kuartal III-2019.
&quot;Momentum pelonggaran kebijakan moneter dengan penurunan suku bunga  acuan, juga di saat bersamaan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan  ekonomi domestik di tengah tren perlambatan ekonomi global yang dapat  mempengaruhi perekonomian nasional,&quot; jelas Josua.</content:encoded></item></channel></rss>
