<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gojek hingga Bukalapak IPO, Rahasia Perusahaan Bisa Terbongkar</title><description>Wacana perusahaan rintisan (startup) mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah bergulir sejak lama,</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/26/278/2122001/gojek-hingga-bukalapak-ipo-rahasia-perusahaan-bisa-terbongkar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/26/278/2122001/gojek-hingga-bukalapak-ipo-rahasia-perusahaan-bisa-terbongkar"/><item><title>Gojek hingga Bukalapak IPO, Rahasia Perusahaan Bisa Terbongkar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/26/278/2122001/gojek-hingga-bukalapak-ipo-rahasia-perusahaan-bisa-terbongkar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/26/278/2122001/gojek-hingga-bukalapak-ipo-rahasia-perusahaan-bisa-terbongkar</guid><pubDate>Sabtu 26 Oktober 2019 10:22 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/26/278/2122001/gojek-hingga-bukalapak-ipo-rahasia-perusahaan-bisa-terbongkar-SGEzmKZReg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gojek IPO (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/26/278/2122001/gojek-hingga-bukalapak-ipo-rahasia-perusahaan-bisa-terbongkar-SGEzmKZReg.jpg</image><title>Gojek IPO (Foto: Okezone.com)</title></images><description>LOMBOK - Wacana perusahaan rintisan (startup) mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah bergulir sejak lama, namun hingga kini tak ada satu pun yang terealisasikan.

Padahal di Indonesia bahkan ada 3 startup unicorn (valuasi USD1 miliar) yakni Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka, serta decacorn (valuasi USD10 miliar) yakni Gojek.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dirut BEI Minta Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak Segera IPO
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen salah satu alasan yang membuat startup sulit sekali melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) adalah tingginya persaingan antar pelaku usaha.

Mengingat, perusahaan tercatat dituntut untuk transparansi sehingga model bisnis bisa terbaca oleh banyak pihak.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pemerintah Kritik Unicorn yang Belum IPO
&quot;Ini dugaan saya, kalau startup itu sekarang IPO maka jadi transparan. Padahal itulah kompetitif mereka, soal ranah bsinis mereka seperti apa,&quot; ujar Hoesen dalam acara Sharing Session Antara OJK dengan SRO Pasar Modal di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (25/10/2019) malam.

&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/04/11/56769/288646_medium.jpg&quot; alt=&quot;Presiden Jokowi Temui Bos GOJEK di Mitra Juara GOJEK&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;IPO memang menuntut transparansi perusahaan, mulai rencana bisnis,  pengelolaan, hingga kondisi keuangan perusahaan. Padahal dalam iklim  startup, kompetisi yang terjadi adalah bagaimana para pelaku usaha bisa  menghasilkan inovasi-inovasi terbaru dan tentu ini bersifat rahasia.

&quot;Kan kayak peer to peer lending (startup fintech) begitu, mereka jadi  ketahuan kan (rahasianya), jadi ratusan hingga ribuan bisa membuat  aplikasi yang sama,&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/09/03/58634/300183_medium.jpg&quot; alt=&quot;Ratusan Pengemudi Gojek Geruduk Kedubes Malaysia&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Oleh karena itu, Hoesen pun tak muluk-muluk menuntut untuk setiap  startup melantai di BEI. Menurutnya, dia memahami kondisi persaingan  bisnis yang terjadi.

&quot;Untuk IPO harus jadi transparan dan itu kelihatan pembukuannya,  margin dari mana dan sebagainya. Itu mungkin rahasia dapurnya. Jadi  enggak ngotot untuk mereka masuk pasar modal, karena membuat pihak lain  meniru model bisnis itu enggak susah,&quot; ungkap dia.

Sekedar diketahui, di luar negeri sudah ada startup yang sudah  melakukan IPO di antaranya Uber pada Mei 2019 dan Lyft di Maret 2019.  Kedua perusahaan ride hailing (jasa berbagu tumpangan) yang tercatat di  Bursa Efek New York tersebut, harga sahamnya justru terus menyusur  lantaran belum berhasil membukukan laba.
</description><content:encoded>LOMBOK - Wacana perusahaan rintisan (startup) mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah bergulir sejak lama, namun hingga kini tak ada satu pun yang terealisasikan.

Padahal di Indonesia bahkan ada 3 startup unicorn (valuasi USD1 miliar) yakni Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka, serta decacorn (valuasi USD10 miliar) yakni Gojek.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dirut BEI Minta Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak Segera IPO
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen salah satu alasan yang membuat startup sulit sekali melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) adalah tingginya persaingan antar pelaku usaha.

Mengingat, perusahaan tercatat dituntut untuk transparansi sehingga model bisnis bisa terbaca oleh banyak pihak.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pemerintah Kritik Unicorn yang Belum IPO
&quot;Ini dugaan saya, kalau startup itu sekarang IPO maka jadi transparan. Padahal itulah kompetitif mereka, soal ranah bsinis mereka seperti apa,&quot; ujar Hoesen dalam acara Sharing Session Antara OJK dengan SRO Pasar Modal di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (25/10/2019) malam.

&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/04/11/56769/288646_medium.jpg&quot; alt=&quot;Presiden Jokowi Temui Bos GOJEK di Mitra Juara GOJEK&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;IPO memang menuntut transparansi perusahaan, mulai rencana bisnis,  pengelolaan, hingga kondisi keuangan perusahaan. Padahal dalam iklim  startup, kompetisi yang terjadi adalah bagaimana para pelaku usaha bisa  menghasilkan inovasi-inovasi terbaru dan tentu ini bersifat rahasia.

&quot;Kan kayak peer to peer lending (startup fintech) begitu, mereka jadi  ketahuan kan (rahasianya), jadi ratusan hingga ribuan bisa membuat  aplikasi yang sama,&quot; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/09/03/58634/300183_medium.jpg&quot; alt=&quot;Ratusan Pengemudi Gojek Geruduk Kedubes Malaysia&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Oleh karena itu, Hoesen pun tak muluk-muluk menuntut untuk setiap  startup melantai di BEI. Menurutnya, dia memahami kondisi persaingan  bisnis yang terjadi.

&quot;Untuk IPO harus jadi transparan dan itu kelihatan pembukuannya,  margin dari mana dan sebagainya. Itu mungkin rahasia dapurnya. Jadi  enggak ngotot untuk mereka masuk pasar modal, karena membuat pihak lain  meniru model bisnis itu enggak susah,&quot; ungkap dia.

Sekedar diketahui, di luar negeri sudah ada startup yang sudah  melakukan IPO di antaranya Uber pada Mei 2019 dan Lyft di Maret 2019.  Kedua perusahaan ride hailing (jasa berbagu tumpangan) yang tercatat di  Bursa Efek New York tersebut, harga sahamnya justru terus menyusur  lantaran belum berhasil membukukan laba.
</content:encoded></item></channel></rss>
