<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Hunian Tak Terjangkau Buat Pasutri Harus Hidup Sendiri-Sendiri</title><description>Pasar hunian yang sangat mahal di Hong Kong memaksa banyak keluarga harus tinggal terpisah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122561/harga-hunian-tak-terjangkau-buat-pasutri-harus-hidup-sendiri-sendiri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122561/harga-hunian-tak-terjangkau-buat-pasutri-harus-hidup-sendiri-sendiri"/><item><title>Harga Hunian Tak Terjangkau Buat Pasutri Harus Hidup Sendiri-Sendiri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122561/harga-hunian-tak-terjangkau-buat-pasutri-harus-hidup-sendiri-sendiri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122561/harga-hunian-tak-terjangkau-buat-pasutri-harus-hidup-sendiri-sendiri</guid><pubDate>Senin 28 Oktober 2019 11:58 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/28/470/2122561/harga-hunian-tak-terjangkau-buat-pasutri-harus-hidup-sendiri-sendiri-aalQmLhdJu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">apartemen (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/28/470/2122561/harga-hunian-tak-terjangkau-buat-pasutri-harus-hidup-sendiri-sendiri-aalQmLhdJu.jpg</image><title>apartemen (Okezone)</title></images><description>HONG KONG - Apakah Anda bisa tinggal terpisah dari suami atau istri Anda? Pasar hunian yang sangat mahal di Hong Kong memaksa banyak keluarga harus tinggal terpisah - dengan hanya sedikit solusi di pelupuk mata.

Lam Lok dan Jason Chau jatuh cinta ketika mereka bekerja di Disneyland pada musim panas tahun 2012. Jason menyukai kepribadian Lam yang supel, sementara Lam mengagumi bentuk punggung Jason yang kuat. Jason lantas mengajaknya makan malam dan Lam pun mau.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Cari Rumah Murah? Siapkan Budget Rp138 Juta
Tiga tahun kemudian mereka menikah dan memiliki seorang anak. Akan tetapi, tidak seperti kisah cinta yang dijalani, kehidupan nyata mereka jauh dari kisah dongeng.

Lam, berusia 31 tahun, tinggal bersama orang tuanya di North Point, di Distrik Timur Pulau Hong Kong. Jaraknya satu jam perjalanan dari Pulau Tsing Yi, di mana Jason (35 tahun) juga tinggal bersama ayah-ibunya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jokowi Minta Pengusaha Kebut Pembangunan Rumah PNS
Anak perempuan mereka yang masih berumur tiga tahun, bernama Yu, menghabiskan hari Senin sampai Kamis di rumah Lam, dan berakhir pekan di rumah Jason. Ketiganya tidak bisa pindah ke salah satu rumah keluarga, kata Lam, karena ruang tidurnya terlalu sempit untuk diisi dua orang dewasa dan satu anak.

&quot;Saya tidak sanggup pada mulanya. Kami kadang meragukan pernikahan kami sendiri karena hidup terpisah membuat kami merasa seperti masih lajang,&quot; ungkap Lam. &quot;Butuh waktu lebih dari setahun sampai kami mulai terbiasa dengan pola hidup seperti ini.&quot;
&amp;nbsp;
Pada bulan pertama setelah Yu lahir, Lam kesulitan merawat bayi itu, meskipun sudah dibantu sang Ibu. &quot;Suami saya tidak bisa berbagi tugas membesarkan Yu karena ia tinggal sangat jauh. Kami juga tidak bisa melihat perkembangan Yu bersama-sama,&quot; ungkapnya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Suplai Properti Residensial di DKI Jakarta Tumbang 19%
Jika Anda pikir situasi seperti ini terdengar aneh, secara mengejutkan, kondisi tersebut justru menjadi semakin umum di tengah pasar hunian Hong Kong yang amat sangat tidak terjangkau.

Lam dan Jason berada di tengah meningkatnya jumlah pasangan menikah yang tidak bisa tinggal bersama dalam satu atap.

 
Harga tinggi, ekspektasi rendah

Hampir tiap satu dari 10 pasangan menikah di Hong Kong tidak tinggal bersama pasangan mereka. Dan bagi mereka yang tinggal bersama, hingga 12% di antara mereka yang berusia 25-34 tahun tinggal menumpang dengan orang tua mereka, menurut data pemerintah tahun 2018.

Lam menyalahkan lokasi rumah mereka yang berada di tanah dengan peraturan penggunaan lahan terbatas serta harga properti Hong Kong yang selama sembilan tahun berturut-turut menjadi yang termahal di dunia.

Menurut Studi Demografi Keterjangkauan Hunian Internasional 2019, yang meranking 309 kawasan metropolitan di delapan negara, Hong Kong diranking sebagai pasar yang paling tidak terjangkau.

Harga rata-rata rumah di sana berada di kisaran 21 kali penghasilan tahunan rata-rata suatu rumah tangga; sebagai perbandingan, harga rumah di pasar Eropa yang paling mahal - kawasan London dan sekitarnya - hanya seharga 8,3 kali penghasilan tahunan rata-rata rumah tangga.

Bahkan untuk menyewa kamar kos saja - yang biasanya terbentuk dari unit apartemen yang diberi sekat-sekat untuk menampung lebih banyak orang - sulit, biayanya mencapai HK$4 ribu (Rp7 juta) per bulan. Biasanya kamar itu hanya bisa muat satu tempat tidur.

Penghasilan tahunan rata-rata pekerja di Hong Kong yang berusia 15-24 tahun yaitu HK$10.750 (19,5 juta), dan sedikit lebih tinggi, HK$21.000 (38 juta), bagi pegawai usia 30-39.

Bahkan, walaupun suami dan istri sama-sama memiliki penghasilan yang baik dari karir masing-masing, &quot;kelas menengah sulit membeli rumah sendiri dengan ukuran yang layak&quot;, ungkap Michael Rowse, mantan direktur jenderal program pemerintah InvestHK.
Kemarahan terhadap masalah permukiman di sana turut memicu gelombang unjuk rasa yang terjadi di Hong Kong belakangan.

Meskipun demonstrasi mulanya disebabkan oleh rancangan undang-undang  ekstradisi yang kini sudah dicabut, ada pula kekhawatiran terhadap  pengaruh Beijing serta jalan buntu untuk mencapai demokrasi yang lebih  baik.
&amp;nbsp;
Demonstrasi juga didorong rasa frustrasi terhadap kegagalan  pemerintah untuk menanggulangi masalah kesenjangan - persepsi bahwa  pemerintah lebih 'membela' para pengembang properti ketimbang warganya  sendiri - ditambah kekhawatiran tentang dampak para imigran dari daratan  terhadap inventaris permukiman menjadi faktor-faktor lain yang ikut  memicu protes.

Lam, seorang pekerja media, dan Chau, staf Disneyland, sama-sama  memiliki pendapatan di bawah rata-rata. Keduanya tidak membayar uang  sewa kepada orang tua masing-masing, tapi tetap kesulitan menabung untuk  membayar cicilan rumah dan pengeluaran terkait anak mereka.

&quot;Kami berencana tinggal bersama, tapi dalam jangka pendek hal itu tidak mungkin,&quot; ujar Chau.


Bersama tapi terpisah

Agar bisa tinggal bersama, banyak pasangan muda Hong Kong yang  mencari alternatif untuk tempat tinggal pribadi dalam bentuk perumahan  umum. Tapi tidak mudah mendapatkan rumah susun umum; akibat tingginya  permintaan tapi rendahnya ketersediaan, waktu tunggu rata-rata bisa  mencapai lima setengah tahun. Sampai Juli saja, sudah ada 147 ribu  pendaftar di daftar tunggu.

Kathy Tam, 28 tahun, dan suaminya, Louis Lee (32 tahun), berhasil  mendapatkan rumah susun publik setelah mendaftar sejak tahun 2012,  bertahun-tahun sebelum akhirnya menikah pada tahun 2017. &quot;Kami sudah  yakin pada satu sama lain, sehingga - bahkan tanpa rumah susun untuk  tinggal bersama, kami memutuskan untuk menikah,&quot; ujar Tam.

Karena Lee sudah membuat perencanaan, mereka hanya harus tinggal  terpisah selama satu tahun sebelum akhirnya pindah ke rumah susun seluas  21 meter persegi, di mana kini mereka tinggali bersama seekor kucing.

&quot;Tidak tinggal bersama untuk jangka panjang akan membuat kami merasa  keluarga kami tidak lengkap, makanya sekarang kami sangat bersyukur bisa  tinggal bersama. Kami tidak akan berpikir untuk mempunyai anak tanpa  ini,&quot; katanya.

Keengganan Tam dan Lee untuk memiliki anak tanpa tinggal bersama  mencerminkan dampak yang lebih besar bagi wilayah tersebut, karena masa  depan populasi Hong Kong ada di tangan pasangan-pasangan muda seperti  mereka.

Kawasan itu memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan terus menurun;  tingkat kelahirannya jatuh lebih dari 50% dari 16,8 kelahiran per 1.000  orang pada tahun 1981, menjadi 7,7 pada tahun 2017, menurut data  pemerintah setempat.

Hong Kong juga merupakan salah satu negara dengan populasi menua  terbesar di Asia. Jumlah penduduk lanjut usia di sana akan menjadi  sepertiga populasi pada tahun 2036 mendatang.

Jika angka kelahiran yang rendah terus terjadi, jumlah anak-anak  berusia di bawah 15 tahun hanya akan memenuhi 10% jumlah populasi Hong  Kong pada tahun 2066.

Menjaga 'percikan cinta' itu tetap hidup

Demografi penduduk bukan jadi satu-satunya masalah jika para pasangan  tinggal terpisah, tetapi juga dasar-dasar hubungan mereka. Bagaimana  cara menjaga pernikahan Anda agar tetap sehat ketika Anda tidak tinggal  bersama dengan pasangan?

Wilfred Wong dan Joyce Leung, sama-sama berusia 30 tahun, kini  tinggal bersama keluarga masing-masing: Joyce, di kamar dengan kasur  bertingkat masa kecilnya yang dijejali berbagai boneka binatang;  sementara Wilfred tinggal di Kowloon, berjarak 40 menit di seberang  pelabuhan.Keduanya tahu bahwa mereka harus menunggu bertahun-tahun hingga  akhirnya bisa tinggal bersama, tapi tetap memutuskan menikah awal tahun  ini.

Wilfred mengatakan bahwa mereka berkirim pesan dan membuat jadwal  telepon dan kencan untuk memastikan bahwa mereka tetap dekat.  &quot;Kedengarannya aneh,&quot; ujarnya, &quot;tetapi tinggal terpisah sebenarnya bisa  menjaga 'percikan cinta' dalam pernikahanmu.&quot;

Sama seperti Wilfred dan Joyce, Lam dan Jason juga berkencan dan  berjalan-jalan bersama ke Jepang setiap kali orang tua mereka punya  waktu untuk membantu mengurus Yu, anak mereka. Terkadang, mereka  menghabiskan malam di hotel lokal, dan membawa Yu jalan-jalan ke  Disneyland untuk piknik keluarga.

Setiap minggunya, Jason akan mencoba menyelipkan waktu lebih banyak  untuk bersama istri dan anaknya dengan mengantar mereka pulang sebelum  ia sendiri pulang ke rumahnya di Tsing Yi menggunakan kereta bawah  tanah.

Tetap saja, meskipun para pasangan bisa menemukan waktu untuk  dinikmati bersama, tinggal terpisah bisa menciptakan kesepian - terlepas  dari usia mereka.

Rasa sepi itu kerap mendera Ma Hoi-shing yang sudah berusia 69 tahun,  seorang mantan pegawai di kasino Macau. Ia tinggal terpisah dari  istrinya yang berusia 62 tahun, Jin Guo Fei, yang pertama ia lihat  ketika tengah berjudi.

'Rumah' Ma hanya berbentuk ruangan kos seluas 5,5 meter persegi tanpa  jendela, dengan harga sewa sebesar dua pertiga dana subsidi bulanan  dari pemerintah sebesar HK$5 ribu (Rp9 juta) yang diterimanya.

Sementara Jin secara rutin pulang ke rumahnya di Hangzhou, China  daratan setiap beberapa bulan sekali, sebagiannya karena masalah  kesehatan yang dideritanya akibat tinggal di rumah kos Ma yang tidak  berventilasi.

&quot;Rumah kos itu sangat kecil dan sangat sulit bagi saya untuk tinggal di sana,&quot; ungkap Jin.

Ma sudah mendaftarkan dirinya untuk mendapat rumah susun publik Hong  Kong agar keduanya bisa tinggal di lingkungan yang lebih baik. Untuk  saat ini mereka hanya menghabiskan sedikit waktu untuk bersama.  Lagi-lagi, walaupun mereka tahu akan menghadapi berbagai tantangan  karena tinggal terpisah, mereka menikah.

Bahkan di tahun ketiga penantian mereka akan rumah subsidi pemerintah  tersebut, Jin mengatakan bahwa hidup mereka berdua dangat menyenangkan.</description><content:encoded>HONG KONG - Apakah Anda bisa tinggal terpisah dari suami atau istri Anda? Pasar hunian yang sangat mahal di Hong Kong memaksa banyak keluarga harus tinggal terpisah - dengan hanya sedikit solusi di pelupuk mata.

Lam Lok dan Jason Chau jatuh cinta ketika mereka bekerja di Disneyland pada musim panas tahun 2012. Jason menyukai kepribadian Lam yang supel, sementara Lam mengagumi bentuk punggung Jason yang kuat. Jason lantas mengajaknya makan malam dan Lam pun mau.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Cari Rumah Murah? Siapkan Budget Rp138 Juta
Tiga tahun kemudian mereka menikah dan memiliki seorang anak. Akan tetapi, tidak seperti kisah cinta yang dijalani, kehidupan nyata mereka jauh dari kisah dongeng.

Lam, berusia 31 tahun, tinggal bersama orang tuanya di North Point, di Distrik Timur Pulau Hong Kong. Jaraknya satu jam perjalanan dari Pulau Tsing Yi, di mana Jason (35 tahun) juga tinggal bersama ayah-ibunya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jokowi Minta Pengusaha Kebut Pembangunan Rumah PNS
Anak perempuan mereka yang masih berumur tiga tahun, bernama Yu, menghabiskan hari Senin sampai Kamis di rumah Lam, dan berakhir pekan di rumah Jason. Ketiganya tidak bisa pindah ke salah satu rumah keluarga, kata Lam, karena ruang tidurnya terlalu sempit untuk diisi dua orang dewasa dan satu anak.

&quot;Saya tidak sanggup pada mulanya. Kami kadang meragukan pernikahan kami sendiri karena hidup terpisah membuat kami merasa seperti masih lajang,&quot; ungkap Lam. &quot;Butuh waktu lebih dari setahun sampai kami mulai terbiasa dengan pola hidup seperti ini.&quot;
&amp;nbsp;
Pada bulan pertama setelah Yu lahir, Lam kesulitan merawat bayi itu, meskipun sudah dibantu sang Ibu. &quot;Suami saya tidak bisa berbagi tugas membesarkan Yu karena ia tinggal sangat jauh. Kami juga tidak bisa melihat perkembangan Yu bersama-sama,&quot; ungkapnya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Suplai Properti Residensial di DKI Jakarta Tumbang 19%
Jika Anda pikir situasi seperti ini terdengar aneh, secara mengejutkan, kondisi tersebut justru menjadi semakin umum di tengah pasar hunian Hong Kong yang amat sangat tidak terjangkau.

Lam dan Jason berada di tengah meningkatnya jumlah pasangan menikah yang tidak bisa tinggal bersama dalam satu atap.

 
Harga tinggi, ekspektasi rendah

Hampir tiap satu dari 10 pasangan menikah di Hong Kong tidak tinggal bersama pasangan mereka. Dan bagi mereka yang tinggal bersama, hingga 12% di antara mereka yang berusia 25-34 tahun tinggal menumpang dengan orang tua mereka, menurut data pemerintah tahun 2018.

Lam menyalahkan lokasi rumah mereka yang berada di tanah dengan peraturan penggunaan lahan terbatas serta harga properti Hong Kong yang selama sembilan tahun berturut-turut menjadi yang termahal di dunia.

Menurut Studi Demografi Keterjangkauan Hunian Internasional 2019, yang meranking 309 kawasan metropolitan di delapan negara, Hong Kong diranking sebagai pasar yang paling tidak terjangkau.

Harga rata-rata rumah di sana berada di kisaran 21 kali penghasilan tahunan rata-rata suatu rumah tangga; sebagai perbandingan, harga rumah di pasar Eropa yang paling mahal - kawasan London dan sekitarnya - hanya seharga 8,3 kali penghasilan tahunan rata-rata rumah tangga.

Bahkan untuk menyewa kamar kos saja - yang biasanya terbentuk dari unit apartemen yang diberi sekat-sekat untuk menampung lebih banyak orang - sulit, biayanya mencapai HK$4 ribu (Rp7 juta) per bulan. Biasanya kamar itu hanya bisa muat satu tempat tidur.

Penghasilan tahunan rata-rata pekerja di Hong Kong yang berusia 15-24 tahun yaitu HK$10.750 (19,5 juta), dan sedikit lebih tinggi, HK$21.000 (38 juta), bagi pegawai usia 30-39.

Bahkan, walaupun suami dan istri sama-sama memiliki penghasilan yang baik dari karir masing-masing, &quot;kelas menengah sulit membeli rumah sendiri dengan ukuran yang layak&quot;, ungkap Michael Rowse, mantan direktur jenderal program pemerintah InvestHK.
Kemarahan terhadap masalah permukiman di sana turut memicu gelombang unjuk rasa yang terjadi di Hong Kong belakangan.

Meskipun demonstrasi mulanya disebabkan oleh rancangan undang-undang  ekstradisi yang kini sudah dicabut, ada pula kekhawatiran terhadap  pengaruh Beijing serta jalan buntu untuk mencapai demokrasi yang lebih  baik.
&amp;nbsp;
Demonstrasi juga didorong rasa frustrasi terhadap kegagalan  pemerintah untuk menanggulangi masalah kesenjangan - persepsi bahwa  pemerintah lebih 'membela' para pengembang properti ketimbang warganya  sendiri - ditambah kekhawatiran tentang dampak para imigran dari daratan  terhadap inventaris permukiman menjadi faktor-faktor lain yang ikut  memicu protes.

Lam, seorang pekerja media, dan Chau, staf Disneyland, sama-sama  memiliki pendapatan di bawah rata-rata. Keduanya tidak membayar uang  sewa kepada orang tua masing-masing, tapi tetap kesulitan menabung untuk  membayar cicilan rumah dan pengeluaran terkait anak mereka.

&quot;Kami berencana tinggal bersama, tapi dalam jangka pendek hal itu tidak mungkin,&quot; ujar Chau.


Bersama tapi terpisah

Agar bisa tinggal bersama, banyak pasangan muda Hong Kong yang  mencari alternatif untuk tempat tinggal pribadi dalam bentuk perumahan  umum. Tapi tidak mudah mendapatkan rumah susun umum; akibat tingginya  permintaan tapi rendahnya ketersediaan, waktu tunggu rata-rata bisa  mencapai lima setengah tahun. Sampai Juli saja, sudah ada 147 ribu  pendaftar di daftar tunggu.

Kathy Tam, 28 tahun, dan suaminya, Louis Lee (32 tahun), berhasil  mendapatkan rumah susun publik setelah mendaftar sejak tahun 2012,  bertahun-tahun sebelum akhirnya menikah pada tahun 2017. &quot;Kami sudah  yakin pada satu sama lain, sehingga - bahkan tanpa rumah susun untuk  tinggal bersama, kami memutuskan untuk menikah,&quot; ujar Tam.

Karena Lee sudah membuat perencanaan, mereka hanya harus tinggal  terpisah selama satu tahun sebelum akhirnya pindah ke rumah susun seluas  21 meter persegi, di mana kini mereka tinggali bersama seekor kucing.

&quot;Tidak tinggal bersama untuk jangka panjang akan membuat kami merasa  keluarga kami tidak lengkap, makanya sekarang kami sangat bersyukur bisa  tinggal bersama. Kami tidak akan berpikir untuk mempunyai anak tanpa  ini,&quot; katanya.

Keengganan Tam dan Lee untuk memiliki anak tanpa tinggal bersama  mencerminkan dampak yang lebih besar bagi wilayah tersebut, karena masa  depan populasi Hong Kong ada di tangan pasangan-pasangan muda seperti  mereka.

Kawasan itu memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan terus menurun;  tingkat kelahirannya jatuh lebih dari 50% dari 16,8 kelahiran per 1.000  orang pada tahun 1981, menjadi 7,7 pada tahun 2017, menurut data  pemerintah setempat.

Hong Kong juga merupakan salah satu negara dengan populasi menua  terbesar di Asia. Jumlah penduduk lanjut usia di sana akan menjadi  sepertiga populasi pada tahun 2036 mendatang.

Jika angka kelahiran yang rendah terus terjadi, jumlah anak-anak  berusia di bawah 15 tahun hanya akan memenuhi 10% jumlah populasi Hong  Kong pada tahun 2066.

Menjaga 'percikan cinta' itu tetap hidup

Demografi penduduk bukan jadi satu-satunya masalah jika para pasangan  tinggal terpisah, tetapi juga dasar-dasar hubungan mereka. Bagaimana  cara menjaga pernikahan Anda agar tetap sehat ketika Anda tidak tinggal  bersama dengan pasangan?

Wilfred Wong dan Joyce Leung, sama-sama berusia 30 tahun, kini  tinggal bersama keluarga masing-masing: Joyce, di kamar dengan kasur  bertingkat masa kecilnya yang dijejali berbagai boneka binatang;  sementara Wilfred tinggal di Kowloon, berjarak 40 menit di seberang  pelabuhan.Keduanya tahu bahwa mereka harus menunggu bertahun-tahun hingga  akhirnya bisa tinggal bersama, tapi tetap memutuskan menikah awal tahun  ini.

Wilfred mengatakan bahwa mereka berkirim pesan dan membuat jadwal  telepon dan kencan untuk memastikan bahwa mereka tetap dekat.  &quot;Kedengarannya aneh,&quot; ujarnya, &quot;tetapi tinggal terpisah sebenarnya bisa  menjaga 'percikan cinta' dalam pernikahanmu.&quot;

Sama seperti Wilfred dan Joyce, Lam dan Jason juga berkencan dan  berjalan-jalan bersama ke Jepang setiap kali orang tua mereka punya  waktu untuk membantu mengurus Yu, anak mereka. Terkadang, mereka  menghabiskan malam di hotel lokal, dan membawa Yu jalan-jalan ke  Disneyland untuk piknik keluarga.

Setiap minggunya, Jason akan mencoba menyelipkan waktu lebih banyak  untuk bersama istri dan anaknya dengan mengantar mereka pulang sebelum  ia sendiri pulang ke rumahnya di Tsing Yi menggunakan kereta bawah  tanah.

Tetap saja, meskipun para pasangan bisa menemukan waktu untuk  dinikmati bersama, tinggal terpisah bisa menciptakan kesepian - terlepas  dari usia mereka.

Rasa sepi itu kerap mendera Ma Hoi-shing yang sudah berusia 69 tahun,  seorang mantan pegawai di kasino Macau. Ia tinggal terpisah dari  istrinya yang berusia 62 tahun, Jin Guo Fei, yang pertama ia lihat  ketika tengah berjudi.

'Rumah' Ma hanya berbentuk ruangan kos seluas 5,5 meter persegi tanpa  jendela, dengan harga sewa sebesar dua pertiga dana subsidi bulanan  dari pemerintah sebesar HK$5 ribu (Rp9 juta) yang diterimanya.

Sementara Jin secara rutin pulang ke rumahnya di Hangzhou, China  daratan setiap beberapa bulan sekali, sebagiannya karena masalah  kesehatan yang dideritanya akibat tinggal di rumah kos Ma yang tidak  berventilasi.

&quot;Rumah kos itu sangat kecil dan sangat sulit bagi saya untuk tinggal di sana,&quot; ungkap Jin.

Ma sudah mendaftarkan dirinya untuk mendapat rumah susun publik Hong  Kong agar keduanya bisa tinggal di lingkungan yang lebih baik. Untuk  saat ini mereka hanya menghabiskan sedikit waktu untuk bersama.  Lagi-lagi, walaupun mereka tahu akan menghadapi berbagai tantangan  karena tinggal terpisah, mereka menikah.

Bahkan di tahun ketiga penantian mereka akan rumah subsidi pemerintah  tersebut, Jin mengatakan bahwa hidup mereka berdua dangat menyenangkan.</content:encoded></item></channel></rss>
