<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alasan Kota Besar Dirancang Tak Ramah Akan Kebutuhan Anak</title><description>Selama 15 tahun, Palazzo tinggal di apartemen dengan peraturan sewa masa-terbatas di Kota New York, bersama sang suami, Evan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122571/alasan-kota-besar-dirancang-tak-ramah-akan-kebutuhan-anak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122571/alasan-kota-besar-dirancang-tak-ramah-akan-kebutuhan-anak"/><item><title>Alasan Kota Besar Dirancang Tak Ramah Akan Kebutuhan Anak</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122571/alasan-kota-besar-dirancang-tak-ramah-akan-kebutuhan-anak</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/470/2122571/alasan-kota-besar-dirancang-tak-ramah-akan-kebutuhan-anak</guid><pubDate>Senin 28 Oktober 2019 12:23 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/28/470/2122571/alasan-kota-besar-dirancang-tak-ramah-akan-kebutuhan-anak-mfpfb7SNj4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kota (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/28/470/2122571/alasan-kota-besar-dirancang-tak-ramah-akan-kebutuhan-anak-mfpfb7SNj4.jpg</image><title>Kota (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Selama 15 tahun, Palazzo tinggal di apartemen dengan peraturan sewa masa-terbatas di Kota New York, bersama sang suami, Evan, dan pada akhirnya dengan anak laki-laki mereka (kini berusia sembilan tahun).

Meskipun ketiganya harus hidup berhimpitan dalam apartemen satu-kamar, di mana tempat tidur sang anak hanya dua jengkal dari tempat tidurnya, Palazzo bertekad untuk bertahan tinggal di Manhattan. Sebagai seorang aktor dan model lepasan untuk produk sepatu, kesempatan kerjanya lebih banyak tersedia di kota.
 
Baca juga: 10 Kota Terkaya Dalam Sejarah, Ada yang Sudah Hancur!
Akan tetapi, sekalinya masa sewa apartemen habis, mereka tak punya alasan untuk tetap tinggal mengingat kondisi finansial yang tidak memungkinkan.

Bukan saja karena biaya sewa apartemennya yang jadi tiga kali lipat, tapi juga karena tidak mampu membayar sewa parkir permanen untuk mobil mereka, yang sangat penting untuk bisa mengantar-jemput anak lelaki mereka; terkadang mereka harus berputar-putar sampai dua jam untuk cari tempat parkir di tepi jalan.

Saat itu, mereka juga sedang mencoba untuk punya anak lagi, untuk itu mereka membutuhkan tempat tinggal yang lebih besar. Saat mencari-cari rumah, &quot;kami hanya menemukan rumah-rumah kecil yang lokasinya semakin dan semakin jauh&quot;, dengan akses ruang terbuka publik yang terbatas.
 
Baca juga: 5 Kota Termahal di Asia, Hong Kong Jadi Juaranya! 
Setelah perhitungan yang rumit, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan kota. Palazzo beralih fokus pekerjaan, dari akting ke pekerjaan kreatif yang lebih memungkinkan dilakukan dari rumah seperti penyuntingan video; Evan adalah musisi jazz yang profesinya lebih sering menuntut untuk bepergian.

Palazzo terkejut akan betapa senangnya ia tinggal di pedesaan, dan betapa baiknya anak-anaknya beradaptasi. Awalnya, anak laki-lakinya tidak mahir menaiki tiang permainan bergelantungan, kini ia terampil memanjat pohon.

Meski menyenangi gaya hidupnya yang baru, Palazzo tetap mencintai suasana kota - tapi cukup banyak keluarga lain sepertinya yang mulai menganggap pusat perkotaan semakin tidak menggairahkan.
Baca juga: Kalahkan Singapura, Tokyo Kembali Dinobatkan sebagai Kota Teraman di Dunia
 
Menurunnya jumlah anak di perkotaan

Kota-kota berpengaruh, di mana 'pemenang mendapatkan semuanya', semakin menarik kalangan profesional penggila kerja dan berpenghasilan tinggi yang tidak punya waktu, uang ataupun ketertarikan untuk membangun keluarga.

Analisa Sensus Amerika Serikat menunjukkan bahwa di kota-kota padat penduduk di Amerika, lulusan perguruan tinggi dengan karakteristik tidak memiliki anak, ras kulit putih, kaya, merupakan demografi yang paling cepat tumbuh.

Sebagai contoh, kota pusat start-up nan mahal, San Francisco, memiliki proporsi penduduk anak-anak paling kecil (13%) di antara 100 kota besar di AS, hampir separuh angka proporsi rata-rata nasional sebesar 23%. Angka itu hampir menurun setengahnya sejak tahun 1970.

Ada sejumlah alasan di balik menurunnya jumlah total penduduk anak-anak di kota-kota besar, termasuk fakta bahwa penduduk di banyak negara, termasuk di benua Amerika, secara umum memang memiliki anak lebih sedikit.
 
Baca juga: Bogor Utara Akan Jadi Kawasan Pusat Bisnis Baru
Michael Seman, yang meneliti manajemen seni dan tata kota di Colorado State University, menyebut faktor-faktor lainnya, termasuk &quot;para imigran lebih memilih daerah pinggiran ketimbang pusat kota, dan pilihan yang terus-menerus diambil keluarga muda asal perkotaan untuk tinggal di pinggiran kota karena prestasi sekolah yang lebih tinggi, rumah yang lebih besar dan pilihan pekerjaan yang lebih fleksibel&quot;.

Hal krusial di antara faktor-faktor tersebut adalah keterjangkauan - atau justru ketidakterjangkauan, apa yang Seman sebut &quot;valuasi real estat yang terus meningkat&quot;.

Lia Karsten, peneliti keluarga dan geografi perkotaan di Universitas Amsterdam, mengatakan bahwa banyak keluarga yang secara besar-besaran meninggalkan kawasan perkotaan dalam dua atau tiga tahun terakhir. (Ada pengecualian, misalnya, di Berlin dan beberapa lingkungan di Paris.)

Kali ini mereka tidak memilih pinggiran kota karena visi lingkungan yang lebih indah, melainkan karena mereka tak mampu lagi membiaya kehidupan di kota.Harga yang harus dibayar untuk menjadi kota ramah anak

Mungkin kelihatannya keterjangkauan hidup di perkotaan bagi banyak  keluarga merupakan masalah kekuatan pasar belaka. Akan tetapi,  kebijakan-kebijakan spesifik yang ada turut membentuk memungkinkan atau  tidaknya kehidupan di sana.

Meski sulit menentukan dengan tepat seberapa banyak kehidupan suatu  keluarga membebani kota, pada umumnya lebih daripada warga yang hanya  punya satu atau tidak punya sanak sama sekali.

Beberapa pejabat perkotaan beralasan bahwa, secara ekonomi, lebih  masuk akal untuk memprioritaskan penduduk tanpa-anak, yang bisa membawa  keuntungan ekonomi bersih terhadap kota, ketimbang keluarga, yang justru  membawa kerugian.

Lagipula, anak-anak tidak menciptakan nilai 'belanja' yang besar atau  membayar pajak. Selain itu, operasional sekolah juga bisa menjadi  pengeluaran terbesar pemerintah daerah.

Di Amerika Serikat, penutupan sekolah-sekolah negeri menjadi salah  satu dampak proses gentrifikasi. Contoh mumpuninya ada di Philadephia,  di mana sebuah sekolah tinggi teknik ditutup dan diubah menjadi sebuah  restoran pop-up kelas atas.

Demikian juga, beberapa kota di Finlandia yang menutup sejumlah taman  bermain sehingga mereka tidak perlu melakukan investasi - yang  sebenarnya diperlukan - untuk memenuhi standar keamanan kota terbaru.
&amp;nbsp;
Rumah-rumah yang mudah dijangkau juga merupakan kunci untuk  memungkinkan keluarga hidup di kota, akan tetapi banyak kota besar yang  tidak memiliki rumah berkamar-banyak yang harganya terjangkau.

Diperkirakan hanya 5% rumah disewakan dengan tarif pasar di kota-kota  besar di AS yang memiliki setidaknya tiga kamar - dan di kawasan  seperti Los Angeles, sebagian besar rumah tangga berpenghasilan menengah  tidak mampu membeli rumah berkamar-banyak yang tersedia.

Bahkan di kota-kota dengan rumah-rumah yang lebih ramah keluarga,  seperti Amsterdam, propertinya seringkali 'dipecah' kembali menjadi  unit-unit terpisah untuk disewakan kepada penduduk lajang dan mereka  yang tidak punya anak (sebuah praktik kontroversial yang di Belanda  dikenal dengan sebutan 'verkamering').

Hal ini menguntungkan pihak pengembang dan tuan tanah yang dapat  memperoleh lebih banyak uang dari penambahan unit tempat tinggal yang  dimampatkan ke dalam luasan rumah yang sama.

Satu cara Amsterdam merespons krisis ruang di sana adalah dengan  membangun gedung-gedung tinggi. Namun Karsten, yang telah tinggal  berpuluh-puluh tahun di lingkungan Middenmeer, Amsterdam bersama  keluarganya, berpendapat bahwa gedung tinggi tidak terlalu ramah  keluarga.

Penelitiannya menunjukkan bahwa bahkan di Hong Kong, di mana  merupakan hal yang biasa bagi banyak keluarga untuk tinggal di  gedung-gedung tinggi, banyak keluarga yang mengeluhkan jenis bangunan  tersebut, karena dinilai tidak memiliki sistem sekat suara ataupun ruang  terbuka seperti rumah tapak pada umumnya.Akan tetapi, hal ini bukan berarti gedung tinggi tidak layak huni bagi kalangan keluarga.

Sejumlah gedung hunian di Singapura justru membanggakan area bermain  ramah anak dan taman atap mereka, yang menunjukkan bahwa hunian tersebut  dapat memicu pola pikir kreatif untuk menciptakan lingkungan yang  nyaman bagi setiap jenis hunian.

Karsten menyadari bahwa penilitian dalam isu tersebut masih sangat  terbatas dan juga masih ada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan  permukiman yang berbeda-beda di kota besar.

&quot;Sangat mudah sebenarnya untuk membangun atau menyediakan hunian bagi  orang dewasa lajang. Mereka bisa tinggal di mana saja,&quot; ujarnya,  &quot;sementara jauh lebih sulit untuk membuat lingkungan dan hunian yang  ramah keluarga sekaligus mudah dijangkau oleh anak-anak.&quot;

Meski demikian, beberapa kota sebenarnya tengah melawan tren tersebut.

Vancouver, Kanada mempersyaratkan proporsi tertentu untuk proyek  pembangunan perumahan agar memasukkan unit hunian dengan jumlah kamar  banyak.

Rotterdam, Belanda dipuji karena telah memperlebar jalur pejalan kaki  dan membangun hunian yang lebih ramah keluarga. Akan tetapi,  kebijakan-kebijakan tersebut memang belum bersifat universal.

Siapa yang benar-benar bisa berkembang?

Seperti biasa, orang kaya agak terisolasi dari kurangnya dukungan  untuk keluarga. Pusat-pusat kota memiliki konsentrasi fasilitas  berbeda-beda yang melayani keluarga dan anak-anak, tetapi tidak semuanya  mungkin terjangkau oleh siapa saja.

Palazzo memerhatikan bahwa, secara etnis, kota Manhattan yang sarat  keragaman menjadi semakin tidak beragam secara ekonomi selama 15 tahun  ia tinggal di sana - dan, kemudian, lebih sulit diakses. Kini, katanya,  &quot;ada banyak jenis usaha untuk melayani kebutuhan anak-anak, namun  harganya mahal&quot;.

Hal itu menunjukkan bahwa keluarga yang masih tinggal di San  Francisco cenderung merupakan keluarga yang makmur, di mana 30%  anak-anak mereka bersekolah di sekolah swasta.

Karena pergerakan keluarga kelas menengah ke atas seringkali  mengikuti lokasi sekolah bergengsi berada, orang tua muda profesional di  San Francisco mampu bertahan tinggal di tempat mereka berada dan  mengambil keuntungan dari layanan swasta yang diberikan.

Beberapa warga juga ingin menjaga agar segala sesuatunya bersifat khusus untuk dewasa.

Amy Beins, 32 tahun, dan suaminya, yang baru-baru ini meninggalkan  Seattle, menyukai ruang tanpa-anak. Beins bukan anti-anak, dan ia juga  mendambakan jalanan, taman dan perumahan yang aman layaknya kalangan  keluarga yang sudah punya anak.
&amp;nbsp;
Namun ia mengatakan bahwa ia &quot;lebih baik membayar lebih untuk tinggal  di apartemen bebas-anak, ketimbang yang memfasilitasi anak-anak&quot;.

Menciptakan ruang yang khusus ditujukan bagi orang dewasa seperti  Beins menjadi bisnis yang tepat dikembangkan di banyak kota-kota pusat  tren, yang melakukan pengembangan pertokoan dan industri yang  menyediakan beragam pilihan fasilitas bersantai.

Bayangkan pusat aktivitas kebugaran alih-alih arena bermain anak;  kafe video game alih-alih arkade; dan salon anjing alih-alih pangkas  rambut anak.

Akan tetapi, meski bisnis untuk melayani anak muda lajang  menjanjikan, kota-kota juga perlu mendukung kebutuhan kalangan  profesional muda dan antargenerasi jika ingin tetap berkembang untuk  jangka panjang.

Misalnya saja, hunian yang sempit dan digunakan untuk jangka pendek  hanya cocok bagi siswa dan orang-orang yang suka singgah, tapi tidak  memberikan insentif kepada penduduk untuk tetap tinggal dan memberikan  perbaikan yang berkelanjutan terhadap lingkungan tersebut - atau  membayar pajak, dan lebih menghabiskan uang mereka di kota.Faktanya, kota-kota di AS yang ramah keluarga mengalami pertumbuhan  perekonomian yang lebih baik. Salah satu alasannya adalah karena mereka  memiliki pondasi ekonomi jangka panjang yang lebih kuat dibandingkan  industri yang mudah berubah mengikuti kebutuhan anak muda lajang.

Keuntungan lain yang tidak terlalu kelihatan adalah apa yang disebut  Karsten sebagai &quot;mengakar dan mengingat&quot;, atau nilai-nilai memiliki  penduduk yang berakar pada suatu kota, yang tumbuh di sana dan dapat  menceritakan perubahan kota itu dari waktu ke waktu.

Hal itu membawa keuntungan lainnya juga; dalam survei para perencana  kota AS pada tahun 2008, 90% setuju bahwa lingkungan dengan penduduk  yang menetap seumur hidup mereka terasa lebih hidup.

Keuntungan terhadap pemberdayaan perempuan juga bisa mundur lagi jika banyak keluarga terpaksa tinggal di pinggiran kota. &quot;

Bagi kebanyakan perempuan dan anak-anak, perpindahan kembali ke  pinggiran kota bisa berarti kembalinya mereka harus mengemban  tugas-tugas tradisional,&quot; ujar Karsten.

Hal ini karena banyak peningkatan tenaga kerja wanita selama  pertengahan tahun 1990-an disebabkan oleh memungkinkannya mereka untuk  tinggal di kota-kota padat.

Akan tetapi akan lebih berat bagi orang tua yang bekerja, jika lebih  banyak waktu harus dialokasikan untuk mengantar-jemput anak mereka  bersekolah, bekerja dan menuju lokasi-lokasi penting lainnya.

Maka, ya, memang menantang untuk bisa merancang kota yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya.

Akan tetapi, pada akhirnya, hal itu juga penting untuk stabilitas  ekonomi, untuk kesetaraan gender, dan untuk berbagai kualitas lain yang  sulit digambarkan yang bisa membuat suatu kota lebih dari sekadar tempat  tinggal warganya.</description><content:encoded>JAKARTA - Selama 15 tahun, Palazzo tinggal di apartemen dengan peraturan sewa masa-terbatas di Kota New York, bersama sang suami, Evan, dan pada akhirnya dengan anak laki-laki mereka (kini berusia sembilan tahun).

Meskipun ketiganya harus hidup berhimpitan dalam apartemen satu-kamar, di mana tempat tidur sang anak hanya dua jengkal dari tempat tidurnya, Palazzo bertekad untuk bertahan tinggal di Manhattan. Sebagai seorang aktor dan model lepasan untuk produk sepatu, kesempatan kerjanya lebih banyak tersedia di kota.
 
Baca juga: 10 Kota Terkaya Dalam Sejarah, Ada yang Sudah Hancur!
Akan tetapi, sekalinya masa sewa apartemen habis, mereka tak punya alasan untuk tetap tinggal mengingat kondisi finansial yang tidak memungkinkan.

Bukan saja karena biaya sewa apartemennya yang jadi tiga kali lipat, tapi juga karena tidak mampu membayar sewa parkir permanen untuk mobil mereka, yang sangat penting untuk bisa mengantar-jemput anak lelaki mereka; terkadang mereka harus berputar-putar sampai dua jam untuk cari tempat parkir di tepi jalan.

Saat itu, mereka juga sedang mencoba untuk punya anak lagi, untuk itu mereka membutuhkan tempat tinggal yang lebih besar. Saat mencari-cari rumah, &quot;kami hanya menemukan rumah-rumah kecil yang lokasinya semakin dan semakin jauh&quot;, dengan akses ruang terbuka publik yang terbatas.
 
Baca juga: 5 Kota Termahal di Asia, Hong Kong Jadi Juaranya! 
Setelah perhitungan yang rumit, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan kota. Palazzo beralih fokus pekerjaan, dari akting ke pekerjaan kreatif yang lebih memungkinkan dilakukan dari rumah seperti penyuntingan video; Evan adalah musisi jazz yang profesinya lebih sering menuntut untuk bepergian.

Palazzo terkejut akan betapa senangnya ia tinggal di pedesaan, dan betapa baiknya anak-anaknya beradaptasi. Awalnya, anak laki-lakinya tidak mahir menaiki tiang permainan bergelantungan, kini ia terampil memanjat pohon.

Meski menyenangi gaya hidupnya yang baru, Palazzo tetap mencintai suasana kota - tapi cukup banyak keluarga lain sepertinya yang mulai menganggap pusat perkotaan semakin tidak menggairahkan.
Baca juga: Kalahkan Singapura, Tokyo Kembali Dinobatkan sebagai Kota Teraman di Dunia
 
Menurunnya jumlah anak di perkotaan

Kota-kota berpengaruh, di mana 'pemenang mendapatkan semuanya', semakin menarik kalangan profesional penggila kerja dan berpenghasilan tinggi yang tidak punya waktu, uang ataupun ketertarikan untuk membangun keluarga.

Analisa Sensus Amerika Serikat menunjukkan bahwa di kota-kota padat penduduk di Amerika, lulusan perguruan tinggi dengan karakteristik tidak memiliki anak, ras kulit putih, kaya, merupakan demografi yang paling cepat tumbuh.

Sebagai contoh, kota pusat start-up nan mahal, San Francisco, memiliki proporsi penduduk anak-anak paling kecil (13%) di antara 100 kota besar di AS, hampir separuh angka proporsi rata-rata nasional sebesar 23%. Angka itu hampir menurun setengahnya sejak tahun 1970.

Ada sejumlah alasan di balik menurunnya jumlah total penduduk anak-anak di kota-kota besar, termasuk fakta bahwa penduduk di banyak negara, termasuk di benua Amerika, secara umum memang memiliki anak lebih sedikit.
 
Baca juga: Bogor Utara Akan Jadi Kawasan Pusat Bisnis Baru
Michael Seman, yang meneliti manajemen seni dan tata kota di Colorado State University, menyebut faktor-faktor lainnya, termasuk &quot;para imigran lebih memilih daerah pinggiran ketimbang pusat kota, dan pilihan yang terus-menerus diambil keluarga muda asal perkotaan untuk tinggal di pinggiran kota karena prestasi sekolah yang lebih tinggi, rumah yang lebih besar dan pilihan pekerjaan yang lebih fleksibel&quot;.

Hal krusial di antara faktor-faktor tersebut adalah keterjangkauan - atau justru ketidakterjangkauan, apa yang Seman sebut &quot;valuasi real estat yang terus meningkat&quot;.

Lia Karsten, peneliti keluarga dan geografi perkotaan di Universitas Amsterdam, mengatakan bahwa banyak keluarga yang secara besar-besaran meninggalkan kawasan perkotaan dalam dua atau tiga tahun terakhir. (Ada pengecualian, misalnya, di Berlin dan beberapa lingkungan di Paris.)

Kali ini mereka tidak memilih pinggiran kota karena visi lingkungan yang lebih indah, melainkan karena mereka tak mampu lagi membiaya kehidupan di kota.Harga yang harus dibayar untuk menjadi kota ramah anak

Mungkin kelihatannya keterjangkauan hidup di perkotaan bagi banyak  keluarga merupakan masalah kekuatan pasar belaka. Akan tetapi,  kebijakan-kebijakan spesifik yang ada turut membentuk memungkinkan atau  tidaknya kehidupan di sana.

Meski sulit menentukan dengan tepat seberapa banyak kehidupan suatu  keluarga membebani kota, pada umumnya lebih daripada warga yang hanya  punya satu atau tidak punya sanak sama sekali.

Beberapa pejabat perkotaan beralasan bahwa, secara ekonomi, lebih  masuk akal untuk memprioritaskan penduduk tanpa-anak, yang bisa membawa  keuntungan ekonomi bersih terhadap kota, ketimbang keluarga, yang justru  membawa kerugian.

Lagipula, anak-anak tidak menciptakan nilai 'belanja' yang besar atau  membayar pajak. Selain itu, operasional sekolah juga bisa menjadi  pengeluaran terbesar pemerintah daerah.

Di Amerika Serikat, penutupan sekolah-sekolah negeri menjadi salah  satu dampak proses gentrifikasi. Contoh mumpuninya ada di Philadephia,  di mana sebuah sekolah tinggi teknik ditutup dan diubah menjadi sebuah  restoran pop-up kelas atas.

Demikian juga, beberapa kota di Finlandia yang menutup sejumlah taman  bermain sehingga mereka tidak perlu melakukan investasi - yang  sebenarnya diperlukan - untuk memenuhi standar keamanan kota terbaru.
&amp;nbsp;
Rumah-rumah yang mudah dijangkau juga merupakan kunci untuk  memungkinkan keluarga hidup di kota, akan tetapi banyak kota besar yang  tidak memiliki rumah berkamar-banyak yang harganya terjangkau.

Diperkirakan hanya 5% rumah disewakan dengan tarif pasar di kota-kota  besar di AS yang memiliki setidaknya tiga kamar - dan di kawasan  seperti Los Angeles, sebagian besar rumah tangga berpenghasilan menengah  tidak mampu membeli rumah berkamar-banyak yang tersedia.

Bahkan di kota-kota dengan rumah-rumah yang lebih ramah keluarga,  seperti Amsterdam, propertinya seringkali 'dipecah' kembali menjadi  unit-unit terpisah untuk disewakan kepada penduduk lajang dan mereka  yang tidak punya anak (sebuah praktik kontroversial yang di Belanda  dikenal dengan sebutan 'verkamering').

Hal ini menguntungkan pihak pengembang dan tuan tanah yang dapat  memperoleh lebih banyak uang dari penambahan unit tempat tinggal yang  dimampatkan ke dalam luasan rumah yang sama.

Satu cara Amsterdam merespons krisis ruang di sana adalah dengan  membangun gedung-gedung tinggi. Namun Karsten, yang telah tinggal  berpuluh-puluh tahun di lingkungan Middenmeer, Amsterdam bersama  keluarganya, berpendapat bahwa gedung tinggi tidak terlalu ramah  keluarga.

Penelitiannya menunjukkan bahwa bahkan di Hong Kong, di mana  merupakan hal yang biasa bagi banyak keluarga untuk tinggal di  gedung-gedung tinggi, banyak keluarga yang mengeluhkan jenis bangunan  tersebut, karena dinilai tidak memiliki sistem sekat suara ataupun ruang  terbuka seperti rumah tapak pada umumnya.Akan tetapi, hal ini bukan berarti gedung tinggi tidak layak huni bagi kalangan keluarga.

Sejumlah gedung hunian di Singapura justru membanggakan area bermain  ramah anak dan taman atap mereka, yang menunjukkan bahwa hunian tersebut  dapat memicu pola pikir kreatif untuk menciptakan lingkungan yang  nyaman bagi setiap jenis hunian.

Karsten menyadari bahwa penilitian dalam isu tersebut masih sangat  terbatas dan juga masih ada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan  permukiman yang berbeda-beda di kota besar.

&quot;Sangat mudah sebenarnya untuk membangun atau menyediakan hunian bagi  orang dewasa lajang. Mereka bisa tinggal di mana saja,&quot; ujarnya,  &quot;sementara jauh lebih sulit untuk membuat lingkungan dan hunian yang  ramah keluarga sekaligus mudah dijangkau oleh anak-anak.&quot;

Meski demikian, beberapa kota sebenarnya tengah melawan tren tersebut.

Vancouver, Kanada mempersyaratkan proporsi tertentu untuk proyek  pembangunan perumahan agar memasukkan unit hunian dengan jumlah kamar  banyak.

Rotterdam, Belanda dipuji karena telah memperlebar jalur pejalan kaki  dan membangun hunian yang lebih ramah keluarga. Akan tetapi,  kebijakan-kebijakan tersebut memang belum bersifat universal.

Siapa yang benar-benar bisa berkembang?

Seperti biasa, orang kaya agak terisolasi dari kurangnya dukungan  untuk keluarga. Pusat-pusat kota memiliki konsentrasi fasilitas  berbeda-beda yang melayani keluarga dan anak-anak, tetapi tidak semuanya  mungkin terjangkau oleh siapa saja.

Palazzo memerhatikan bahwa, secara etnis, kota Manhattan yang sarat  keragaman menjadi semakin tidak beragam secara ekonomi selama 15 tahun  ia tinggal di sana - dan, kemudian, lebih sulit diakses. Kini, katanya,  &quot;ada banyak jenis usaha untuk melayani kebutuhan anak-anak, namun  harganya mahal&quot;.

Hal itu menunjukkan bahwa keluarga yang masih tinggal di San  Francisco cenderung merupakan keluarga yang makmur, di mana 30%  anak-anak mereka bersekolah di sekolah swasta.

Karena pergerakan keluarga kelas menengah ke atas seringkali  mengikuti lokasi sekolah bergengsi berada, orang tua muda profesional di  San Francisco mampu bertahan tinggal di tempat mereka berada dan  mengambil keuntungan dari layanan swasta yang diberikan.

Beberapa warga juga ingin menjaga agar segala sesuatunya bersifat khusus untuk dewasa.

Amy Beins, 32 tahun, dan suaminya, yang baru-baru ini meninggalkan  Seattle, menyukai ruang tanpa-anak. Beins bukan anti-anak, dan ia juga  mendambakan jalanan, taman dan perumahan yang aman layaknya kalangan  keluarga yang sudah punya anak.
&amp;nbsp;
Namun ia mengatakan bahwa ia &quot;lebih baik membayar lebih untuk tinggal  di apartemen bebas-anak, ketimbang yang memfasilitasi anak-anak&quot;.

Menciptakan ruang yang khusus ditujukan bagi orang dewasa seperti  Beins menjadi bisnis yang tepat dikembangkan di banyak kota-kota pusat  tren, yang melakukan pengembangan pertokoan dan industri yang  menyediakan beragam pilihan fasilitas bersantai.

Bayangkan pusat aktivitas kebugaran alih-alih arena bermain anak;  kafe video game alih-alih arkade; dan salon anjing alih-alih pangkas  rambut anak.

Akan tetapi, meski bisnis untuk melayani anak muda lajang  menjanjikan, kota-kota juga perlu mendukung kebutuhan kalangan  profesional muda dan antargenerasi jika ingin tetap berkembang untuk  jangka panjang.

Misalnya saja, hunian yang sempit dan digunakan untuk jangka pendek  hanya cocok bagi siswa dan orang-orang yang suka singgah, tapi tidak  memberikan insentif kepada penduduk untuk tetap tinggal dan memberikan  perbaikan yang berkelanjutan terhadap lingkungan tersebut - atau  membayar pajak, dan lebih menghabiskan uang mereka di kota.Faktanya, kota-kota di AS yang ramah keluarga mengalami pertumbuhan  perekonomian yang lebih baik. Salah satu alasannya adalah karena mereka  memiliki pondasi ekonomi jangka panjang yang lebih kuat dibandingkan  industri yang mudah berubah mengikuti kebutuhan anak muda lajang.

Keuntungan lain yang tidak terlalu kelihatan adalah apa yang disebut  Karsten sebagai &quot;mengakar dan mengingat&quot;, atau nilai-nilai memiliki  penduduk yang berakar pada suatu kota, yang tumbuh di sana dan dapat  menceritakan perubahan kota itu dari waktu ke waktu.

Hal itu membawa keuntungan lainnya juga; dalam survei para perencana  kota AS pada tahun 2008, 90% setuju bahwa lingkungan dengan penduduk  yang menetap seumur hidup mereka terasa lebih hidup.

Keuntungan terhadap pemberdayaan perempuan juga bisa mundur lagi jika banyak keluarga terpaksa tinggal di pinggiran kota. &quot;

Bagi kebanyakan perempuan dan anak-anak, perpindahan kembali ke  pinggiran kota bisa berarti kembalinya mereka harus mengemban  tugas-tugas tradisional,&quot; ujar Karsten.

Hal ini karena banyak peningkatan tenaga kerja wanita selama  pertengahan tahun 1990-an disebabkan oleh memungkinkannya mereka untuk  tinggal di kota-kota padat.

Akan tetapi akan lebih berat bagi orang tua yang bekerja, jika lebih  banyak waktu harus dialokasikan untuk mengantar-jemput anak mereka  bersekolah, bekerja dan menuju lokasi-lokasi penting lainnya.

Maka, ya, memang menantang untuk bisa merancang kota yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya.

Akan tetapi, pada akhirnya, hal itu juga penting untuk stabilitas  ekonomi, untuk kesetaraan gender, dan untuk berbagai kualitas lain yang  sulit digambarkan yang bisa membuat suatu kota lebih dari sekadar tempat  tinggal warganya.</content:encoded></item></channel></rss>
