<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gaya Hidup Vs Gaji, Cukup Enggak Ya?</title><description>Menjalani kehidupan sebagai manusia di era perubahan tentu memiliki banyak tuntutan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123277/gaya-hidup-vs-gaji-cukup-enggak-ya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123277/gaya-hidup-vs-gaji-cukup-enggak-ya"/><item><title>Gaya Hidup Vs Gaji, Cukup Enggak Ya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123277/gaya-hidup-vs-gaji-cukup-enggak-ya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123277/gaya-hidup-vs-gaji-cukup-enggak-ya</guid><pubDate>Rabu 30 Oktober 2019 06:19 WIB</pubDate><dc:creator>Rizqa Leony Putri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/29/320/2123277/gaya-hidup-vs-gaji-cukup-enggak-ya-rhMFazWxV3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Trik Hemat (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/29/320/2123277/gaya-hidup-vs-gaji-cukup-enggak-ya-rhMFazWxV3.jpg</image><title>Trik Hemat (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Menjalani kehidupan sebagai manusia di era perubahan tentu memiliki banyak tuntutan. Salah satunya adalah tuntutan akan gaya hidup yang terus berubah dari masa ke masa.
Sayangnya, kerap kali seseorang terlalu memaksakan kehendaknya untuk mengikuti gaya hidup yang ada di lingkungan sekitarnya. Seperti halnya masyarakat yang hidup di pusat kota dengan gaya hidup yang sering kali terbilang mewah.
Baca Juga: Ingin Hidup Hemat? Ini 6 Hal yang Harus Kamu Lakukan!
Bukan tidak mungkin, memiliki telepon genggam keluaran terbaru, pakaian dari merek ternama, hingga menghabiskan waktu di kedai kopi kekinian sudah jadi bagian dari gaya hidup masa kini, khususnya di lingkungan kota besar. Hal inilah yang acap kali membuat seseorang mengeluhkan masalah finansial di mana gaya hidup berada jauh di atas kemampuannya.
Senada, Perencana Keuangan Eko Endarto menuturkan bahwa hal ini kerap kali terjadi karena kebiasaan masyarakat yang menujukan penghasilannya untuk memenuhi seluruh pengeluaran.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau penghasilan ditujukan untuk memenuhi semua pengeluaran pasti tidak akan cukup. Karena penghasilan terbatas dan pengeluaran tidak terbatas,&quot; jelasnya saat dihubungi Okezone.
Sebaiknya, seseorang harus dapat menyeimbangkan pengeluaran dan pemasukannya setiap bulan. Menurut Eko, hal itu dapat dilakukan salah satunya dengan membuat prioritas.&quot;Buat prioritas. Sebab dengan prioritas kita bisa memastikan  (pengeluaran) yang harus didahulukan akan keluar terlebih dahulu,&quot; jelas  Eko.
Sama halnya dengan seseorang yang tengah memiliki beban cicilan. Ia  tetap harus tahu bagaimana mengatur antara membayar cicilan,  mengeluarkan konsumsi bulanan dengan tetap menabung.

Eko menjelaskan, seseorang yang tengah berada di situasi tersebut  harus memberikan prioritas keuangannya kepada cicilan utang terlebih  dahulu dengan jumlah maksimal sebesar 30% dari total pemasukan. Lalu  dilanjutkan dengan investasi dan proteksi minimal 10% dari total  pemasukan.
&quot;Jadi 2 prioritas di atas dulu baru konsumsi,&quot; ujar Eko.</description><content:encoded>JAKARTA - Menjalani kehidupan sebagai manusia di era perubahan tentu memiliki banyak tuntutan. Salah satunya adalah tuntutan akan gaya hidup yang terus berubah dari masa ke masa.
Sayangnya, kerap kali seseorang terlalu memaksakan kehendaknya untuk mengikuti gaya hidup yang ada di lingkungan sekitarnya. Seperti halnya masyarakat yang hidup di pusat kota dengan gaya hidup yang sering kali terbilang mewah.
Baca Juga: Ingin Hidup Hemat? Ini 6 Hal yang Harus Kamu Lakukan!
Bukan tidak mungkin, memiliki telepon genggam keluaran terbaru, pakaian dari merek ternama, hingga menghabiskan waktu di kedai kopi kekinian sudah jadi bagian dari gaya hidup masa kini, khususnya di lingkungan kota besar. Hal inilah yang acap kali membuat seseorang mengeluhkan masalah finansial di mana gaya hidup berada jauh di atas kemampuannya.
Senada, Perencana Keuangan Eko Endarto menuturkan bahwa hal ini kerap kali terjadi karena kebiasaan masyarakat yang menujukan penghasilannya untuk memenuhi seluruh pengeluaran.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau penghasilan ditujukan untuk memenuhi semua pengeluaran pasti tidak akan cukup. Karena penghasilan terbatas dan pengeluaran tidak terbatas,&quot; jelasnya saat dihubungi Okezone.
Sebaiknya, seseorang harus dapat menyeimbangkan pengeluaran dan pemasukannya setiap bulan. Menurut Eko, hal itu dapat dilakukan salah satunya dengan membuat prioritas.&quot;Buat prioritas. Sebab dengan prioritas kita bisa memastikan  (pengeluaran) yang harus didahulukan akan keluar terlebih dahulu,&quot; jelas  Eko.
Sama halnya dengan seseorang yang tengah memiliki beban cicilan. Ia  tetap harus tahu bagaimana mengatur antara membayar cicilan,  mengeluarkan konsumsi bulanan dengan tetap menabung.

Eko menjelaskan, seseorang yang tengah berada di situasi tersebut  harus memberikan prioritas keuangannya kepada cicilan utang terlebih  dahulu dengan jumlah maksimal sebesar 30% dari total pemasukan. Lalu  dilanjutkan dengan investasi dan proteksi minimal 10% dari total  pemasukan.
&quot;Jadi 2 prioritas di atas dulu baru konsumsi,&quot; ujar Eko.</content:encoded></item></channel></rss>
