<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Joint Venture Pertamina-Rosneft Tanda Tangan Kontrak Kilang Tuban</title><description>PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia telah menandatangani  perjanjian dengan Spanish Tecnicas Reunidas SA di Moskow, Rusia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123511/joint-venture-pertamina-rosneft-tanda-tangan-kontrak-kilang-tuban</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123511/joint-venture-pertamina-rosneft-tanda-tangan-kontrak-kilang-tuban"/><item><title>Joint Venture Pertamina-Rosneft Tanda Tangan Kontrak Kilang Tuban</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123511/joint-venture-pertamina-rosneft-tanda-tangan-kontrak-kilang-tuban</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/30/320/2123511/joint-venture-pertamina-rosneft-tanda-tangan-kontrak-kilang-tuban</guid><pubDate>Rabu 30 Oktober 2019 11:14 WIB</pubDate><dc:creator>Maghfira Nursyabila</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/30/320/2123511/joint-venture-pertamina-rosneft-tanda-tangan-kontrak-kilang-tuban-Fo439URdra.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kilang (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/30/320/2123511/joint-venture-pertamina-rosneft-tanda-tangan-kontrak-kilang-tuban-Fo439URdra.jpg</image><title>Kilang (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia telah menandatangani perjanjian dengan Spanish Tecnicas Reunidas SA di Moskow, Rusia. Hal ini untuk melaksanakan Basic Engineering Design (BED) dan Front-End Engineering Design (FEED) terkait proyek pembangunan kompleks kilang minyak dan petrokimia di Tuban, Jawa Timur.

PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia merupakan joint venture yang telah dibentuk sejak Oktober 2016 dengan kepemilikan saham Pertamina sebanyak 55 persen dan Rosneft 45 persen sisanya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Restrukturisasi Tuban Petro, Indonesia Hemat Devisa Negara Rp5 Triliun/Tahun
Melansir dari keterangan terbuka, Rabu (30/10/2019), usaha patungan dua perusahaan migas ini dibentuk dengan melihat kondisi pasar dan prospek pertumbuhan Indonesia yang menjanjikan. Hal inilah yang kemudian mendorong Pertamina dan Rosneft bersepakat untuk mengembangkan konsep komplek kilang dan petrokimia yang memiliki daya saing yang tinggi. Bahkan pabrik tersebut nantinya diprediksi akan menjadi salah satu kilang dengan teknologi tercanggih di dunia (dengan indeks kompleksitas Nelson mencapai 13.1).
&amp;nbsp;
Kilang Tuban didesain untuk memiliki kapasitas pengolahan utama hingga 15 mmta, yang sebagian di antaranya akan mengolah Petrokimia seperti produk Etilen sebanyak 1 mmta dan hidrokarbon aromatik sebanyak 1,3 mmta.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pemerintah Segera Caplok 95,9% Saham Tuban Petro
Proyek tersebut akan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia, baik dalam penyediaan infrastruktur yang diperlukan maupun kebutuhan lainnya. Kilang Tuban rencananya akan mulai berjalan pada tahun 2025. Dan dari titik inilah, klaster industri kimia baru akan tercipta di Tuban.Bagi Pertamina, penandatanganan kali ini merupakan tonggak penting  atas kemajuan proyek Kilang Tuban. Sebagai bagian dari New Grass Root  Refinery (NGRR) yang dibangun Pertamina, Kilang Tuban akan menjadi  penopang bisnis Pertamina ke depannya. Baik untuk memenuhi kebutuhan  energi di dalam negeri, maupun untuk menghasilkan produk petrokimia yang  bernilai tinggi.

Dengan adanya tambahan kilang Tuban dan beberapa kilang lainnya, maka  Indonesia diprediksi tidak perlu mengimpor BBM setelah semua proyek  kilang selesai. Lebih dari itu, Pertamina juga bisa memasok produk hasil  olahannya yang berlebih ke pasar komersial. Hal ini tentunya menjadi  perhatian utama perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja dan  kesejahteraan Indonesia.
</description><content:encoded>JAKARTA - PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia telah menandatangani perjanjian dengan Spanish Tecnicas Reunidas SA di Moskow, Rusia. Hal ini untuk melaksanakan Basic Engineering Design (BED) dan Front-End Engineering Design (FEED) terkait proyek pembangunan kompleks kilang minyak dan petrokimia di Tuban, Jawa Timur.

PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia merupakan joint venture yang telah dibentuk sejak Oktober 2016 dengan kepemilikan saham Pertamina sebanyak 55 persen dan Rosneft 45 persen sisanya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Restrukturisasi Tuban Petro, Indonesia Hemat Devisa Negara Rp5 Triliun/Tahun
Melansir dari keterangan terbuka, Rabu (30/10/2019), usaha patungan dua perusahaan migas ini dibentuk dengan melihat kondisi pasar dan prospek pertumbuhan Indonesia yang menjanjikan. Hal inilah yang kemudian mendorong Pertamina dan Rosneft bersepakat untuk mengembangkan konsep komplek kilang dan petrokimia yang memiliki daya saing yang tinggi. Bahkan pabrik tersebut nantinya diprediksi akan menjadi salah satu kilang dengan teknologi tercanggih di dunia (dengan indeks kompleksitas Nelson mencapai 13.1).
&amp;nbsp;
Kilang Tuban didesain untuk memiliki kapasitas pengolahan utama hingga 15 mmta, yang sebagian di antaranya akan mengolah Petrokimia seperti produk Etilen sebanyak 1 mmta dan hidrokarbon aromatik sebanyak 1,3 mmta.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pemerintah Segera Caplok 95,9% Saham Tuban Petro
Proyek tersebut akan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia, baik dalam penyediaan infrastruktur yang diperlukan maupun kebutuhan lainnya. Kilang Tuban rencananya akan mulai berjalan pada tahun 2025. Dan dari titik inilah, klaster industri kimia baru akan tercipta di Tuban.Bagi Pertamina, penandatanganan kali ini merupakan tonggak penting  atas kemajuan proyek Kilang Tuban. Sebagai bagian dari New Grass Root  Refinery (NGRR) yang dibangun Pertamina, Kilang Tuban akan menjadi  penopang bisnis Pertamina ke depannya. Baik untuk memenuhi kebutuhan  energi di dalam negeri, maupun untuk menghasilkan produk petrokimia yang  bernilai tinggi.

Dengan adanya tambahan kilang Tuban dan beberapa kilang lainnya, maka  Indonesia diprediksi tidak perlu mengimpor BBM setelah semua proyek  kilang selesai. Lebih dari itu, Pertamina juga bisa memasok produk hasil  olahannya yang berlebih ke pasar komersial. Hal ini tentunya menjadi  perhatian utama perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja dan  kesejahteraan Indonesia.
</content:encoded></item></channel></rss>
