<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hemat vs Pelit, Kamu yang Mana?</title><description>Berhemat adalah pilihan seseorang dalam menjalani hidupnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2123605/hemat-vs-pelit-kamu-yang-mana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2123605/hemat-vs-pelit-kamu-yang-mana"/><item><title>Hemat vs Pelit, Kamu yang Mana?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2123605/hemat-vs-pelit-kamu-yang-mana</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2123605/hemat-vs-pelit-kamu-yang-mana</guid><pubDate>Kamis 31 Oktober 2019 06:39 WIB</pubDate><dc:creator>Rizqa Leony Putri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/30/320/2123605/hemat-vs-pelit-kamu-yang-mana-3VkhaCw0em.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Trik Hemat (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/30/320/2123605/hemat-vs-pelit-kamu-yang-mana-3VkhaCw0em.jpg</image><title>Trik Hemat (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Berhemat adalah pilihan seseorang dalam menjalani hidupnya. Hal itu lumrah dilakukan karena bisa jadi itu merupakan salah satu strategi yang digunakan demi mengatur keuangannya.
Namun sayangnya, ketika seseorang mencoba berhemat ia justru dianggap sebagai seorang yang pelit. Anggapan inilah yang membuat seseorang terkadang menjadi enggan untuk berhemat karena takut terlihat pelit.
Baca Juga: Ingin Hidup Hemat? Ini 6 Hal yang Harus Kamu Lakukan!
Menanggapi hal ini, Perencana Keuangan Ahmad Ghazali pun menjelaskan, bahwa memang antara hemat dan pelit hanya memiliki perbedaan yang tipis. Kedua hal ini dapat dilihat perbedaannya tergantung alasan yang ada dibaliknya.
&quot;Hemat dan pelit kadang beda tipis, tergantung alasannya,&quot; jelas Ghazali saat dihubungi Okezone.

Menurut Ghazali, hemat dan pelit dapat dibedakan dengan dengan batasan ukuran kenyamanan. Seorang yang berhemat masih akan merasakan kenyamanan atau berkompromi dengan level kenyamanan tersebut.
&quot;Tapi ketika pelit, sesungguhnya kita merasa tidak nyaman, merasa tersiksa atau terpaksa,&quot; ujar Ghazali.Ia pun menggambarkan sebuah situasi jika kita ingin berhemat untuk  makan siang. Seorang yang pelit mungkin akan membeli makanan yang murah  padahal bisa jadi ia tidak menyukainya.
Ataupun porsi makanannya yang terlalu kecil maupun tempat makannya  yang bisa dibilang kurang nyaman. Tetapi seorang tersebut akan tetap  memaksakan diri. Sementara orang yang hemat akan mencari makanan yang  tetap enak dan tempat yang nyaman dengan harga yang lebih rendah.
Baca Juga: Gaji Bulanan Sering Habis Sebelum Akhir Bulan? Cobain Tips Ini
&quot;Atau bisa jadi makannya di tempat yang sama dengan si pelit tadi.  Tetapi dia kreatif mencari promo online yang kadang tidak dicantumkan di  counter kalau pesan langsung,&quot; papar Ghazali.
Tak hanya itu, lanjut Ghazali, seorang pelit akan lebih  mempertimbangkan harga, sedangkan orang hemat akan lebih  mempertimbangkan value. Sama halnya ketika membeli barang, akan terlihat  perbedaan antara seorang yang hemat dan yang pelit.

&quot;Seorang yang pelit akan memilih barang yang paling murah, tapi belum  tentu awet. Sementara, si hemat akan pertimbangkan value di mana harga  tersebut bisa bertahan sampai berapa lama pemakaian,&quot; jelas Ghazali.
Terkait anggapan orang lain, Ghazali mengatakan agar tidak perlu  terlalu menanggapi apa yang dipikirkan oleh orang lain. Karena  menurutnya, satu-satunya pihak yang mengerti situasi sendiri adalah diri  sendiri.</description><content:encoded>JAKARTA - Berhemat adalah pilihan seseorang dalam menjalani hidupnya. Hal itu lumrah dilakukan karena bisa jadi itu merupakan salah satu strategi yang digunakan demi mengatur keuangannya.
Namun sayangnya, ketika seseorang mencoba berhemat ia justru dianggap sebagai seorang yang pelit. Anggapan inilah yang membuat seseorang terkadang menjadi enggan untuk berhemat karena takut terlihat pelit.
Baca Juga: Ingin Hidup Hemat? Ini 6 Hal yang Harus Kamu Lakukan!
Menanggapi hal ini, Perencana Keuangan Ahmad Ghazali pun menjelaskan, bahwa memang antara hemat dan pelit hanya memiliki perbedaan yang tipis. Kedua hal ini dapat dilihat perbedaannya tergantung alasan yang ada dibaliknya.
&quot;Hemat dan pelit kadang beda tipis, tergantung alasannya,&quot; jelas Ghazali saat dihubungi Okezone.

Menurut Ghazali, hemat dan pelit dapat dibedakan dengan dengan batasan ukuran kenyamanan. Seorang yang berhemat masih akan merasakan kenyamanan atau berkompromi dengan level kenyamanan tersebut.
&quot;Tapi ketika pelit, sesungguhnya kita merasa tidak nyaman, merasa tersiksa atau terpaksa,&quot; ujar Ghazali.Ia pun menggambarkan sebuah situasi jika kita ingin berhemat untuk  makan siang. Seorang yang pelit mungkin akan membeli makanan yang murah  padahal bisa jadi ia tidak menyukainya.
Ataupun porsi makanannya yang terlalu kecil maupun tempat makannya  yang bisa dibilang kurang nyaman. Tetapi seorang tersebut akan tetap  memaksakan diri. Sementara orang yang hemat akan mencari makanan yang  tetap enak dan tempat yang nyaman dengan harga yang lebih rendah.
Baca Juga: Gaji Bulanan Sering Habis Sebelum Akhir Bulan? Cobain Tips Ini
&quot;Atau bisa jadi makannya di tempat yang sama dengan si pelit tadi.  Tetapi dia kreatif mencari promo online yang kadang tidak dicantumkan di  counter kalau pesan langsung,&quot; papar Ghazali.
Tak hanya itu, lanjut Ghazali, seorang pelit akan lebih  mempertimbangkan harga, sedangkan orang hemat akan lebih  mempertimbangkan value. Sama halnya ketika membeli barang, akan terlihat  perbedaan antara seorang yang hemat dan yang pelit.

&quot;Seorang yang pelit akan memilih barang yang paling murah, tapi belum  tentu awet. Sementara, si hemat akan pertimbangkan value di mana harga  tersebut bisa bertahan sampai berapa lama pemakaian,&quot; jelas Ghazali.
Terkait anggapan orang lain, Ghazali mengatakan agar tidak perlu  terlalu menanggapi apa yang dipikirkan oleh orang lain. Karena  menurutnya, satu-satunya pihak yang mengerti situasi sendiri adalah diri  sendiri.</content:encoded></item></channel></rss>
