<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menteri Suharso Manfaatkan Big Data untuk Perencanaan Pembangunan</title><description>Indonesia ke depan perlu pemanfaatan sumber data baru untuk perencanaan pembangunan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2124204/menteri-suharso-manfaatkan-big-data-untuk-perencanaan-pembangunan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2124204/menteri-suharso-manfaatkan-big-data-untuk-perencanaan-pembangunan"/><item><title>Menteri Suharso Manfaatkan Big Data untuk Perencanaan Pembangunan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2124204/menteri-suharso-manfaatkan-big-data-untuk-perencanaan-pembangunan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/10/31/320/2124204/menteri-suharso-manfaatkan-big-data-untuk-perencanaan-pembangunan</guid><pubDate>Kamis 31 Oktober 2019 17:19 WIB</pubDate><dc:creator>Delia Citra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/31/320/2124204/menteri-suharso-manfaatkan-big-data-untuk-perencanaan-pembangunan-ucuAUqUQ7a.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembangunan Infrastruktur (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/31/320/2124204/menteri-suharso-manfaatkan-big-data-untuk-perencanaan-pembangunan-ucuAUqUQ7a.jpg</image><title>Pembangunan Infrastruktur (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia ke depan perlu pemanfaatan sumber data baru untuk perencanaan pembangunan. Diperlukan juga revolusi data dalam menyusun kebijakan-kebijakan strategis dan tepat sasaran.

Dalam hal ini, Kementerian PPN/Bappenas telah menggunakan Big Data untuk menyusun perencanaan pembangunan nasional dan merekomendasikan kebijakan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Susunan Menteri Kabinet Indonesia Maju Bidang Ekonomi
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, data digital perlu dikelola menjadi Big Data agar tersedia informasi yang akurat bagi perumus kebijakan guna merancang, memantau, dan mengevaluasi kebijakan yang ada. Data yang dikelola dengan baik bisa menghasilkan nilai ekonomi dan sosial yang amat besar.

&amp;ldquo;Data merupakan sumber daya baru yang berharga bagi bangsa Indonesia karena berpotensi menghasilkan nilai ekonomi dan sosial cukup besar,&amp;rdquo; ujar Menteri Suharso dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (31/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jadi Menteri, Suharso Ngaku Dibolehkan Jokowi Tetap Jabat Ketum PPP
Big Data analytics merujuk kepada kemampuan untuk memanfaatkan volume data yang besar, jenis yang beragam, dan kecepatan terbentuknya yang tinggi. Big Data tidak menggantikan data konvensional, tetapi dapat saling melengkapi hasil analisis yang lebih kaya.

Menurut Suharso, paling tidak terdapat tiga manfaat data. Pertama, sebagai bahan perumusan kebijakan. Dengan data yang berkualitas, perumusan kebijakan dapat lebih responsif dan tepat sasaran.

Perumusan target kinerja pembangunan juga lebih terukur, serta perumusan indikator dan target kinerja pembangunan yang lebih baik. Selain itu, sebagai bahan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan. Kedua, untuk penelitian dan pendidikan.
&amp;nbsp;Dengan data yang akurat maka penelitian akan lebih berkualitas. Data  dan informasi yang digunakan juga lebih akurat dan terkini, serta sarana  pendidikan yang lebih baik. Ketiga, bagi pelaku bisnis. Data berguna  untuk penyusunan business plan lebih akurat, serta meningkatkan minat  investor untuk melakukan usaha atau investasi.

Saat ini, Indonesia masih dihadapkan dengan sejumlah tantangan  memanfaatkan sumber data baru untuk perencanaan pembangunan, antara lain  kemampuan analisis, di mana masih dibutuhkan SDM dengan keahlian  tertentu yang belum banyak tersedia untuk melakukan eksplorasi dan  analisis data baru.
&amp;nbsp;
Kemudian, kemampuan teknis untuk menggali data, memantau data,  menjaga standar data, serta mengintegrasikan berbagai sumber data. Kedua  tantangan ini membutuhkan penguatan kapasitas dan alih pengetahuan.

Tantangan selanjutnya, dukungan kebijakan terkait dengan tata kelola  data, proses berbagi data (pemerintah-swasta), dan pengambilan keputusan  berbasis data. Lalu kemampuan sosio-politis, untuk menjaga kepercayaan  masyarakat bahwa data ini dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Hal ini  membutuhkan sinergi dengan Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, pihak  swasta, dan strategi komunikasi dengan masyarakat.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia ke depan perlu pemanfaatan sumber data baru untuk perencanaan pembangunan. Diperlukan juga revolusi data dalam menyusun kebijakan-kebijakan strategis dan tepat sasaran.

Dalam hal ini, Kementerian PPN/Bappenas telah menggunakan Big Data untuk menyusun perencanaan pembangunan nasional dan merekomendasikan kebijakan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Susunan Menteri Kabinet Indonesia Maju Bidang Ekonomi
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, data digital perlu dikelola menjadi Big Data agar tersedia informasi yang akurat bagi perumus kebijakan guna merancang, memantau, dan mengevaluasi kebijakan yang ada. Data yang dikelola dengan baik bisa menghasilkan nilai ekonomi dan sosial yang amat besar.

&amp;ldquo;Data merupakan sumber daya baru yang berharga bagi bangsa Indonesia karena berpotensi menghasilkan nilai ekonomi dan sosial cukup besar,&amp;rdquo; ujar Menteri Suharso dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (31/10/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jadi Menteri, Suharso Ngaku Dibolehkan Jokowi Tetap Jabat Ketum PPP
Big Data analytics merujuk kepada kemampuan untuk memanfaatkan volume data yang besar, jenis yang beragam, dan kecepatan terbentuknya yang tinggi. Big Data tidak menggantikan data konvensional, tetapi dapat saling melengkapi hasil analisis yang lebih kaya.

Menurut Suharso, paling tidak terdapat tiga manfaat data. Pertama, sebagai bahan perumusan kebijakan. Dengan data yang berkualitas, perumusan kebijakan dapat lebih responsif dan tepat sasaran.

Perumusan target kinerja pembangunan juga lebih terukur, serta perumusan indikator dan target kinerja pembangunan yang lebih baik. Selain itu, sebagai bahan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan. Kedua, untuk penelitian dan pendidikan.
&amp;nbsp;Dengan data yang akurat maka penelitian akan lebih berkualitas. Data  dan informasi yang digunakan juga lebih akurat dan terkini, serta sarana  pendidikan yang lebih baik. Ketiga, bagi pelaku bisnis. Data berguna  untuk penyusunan business plan lebih akurat, serta meningkatkan minat  investor untuk melakukan usaha atau investasi.

Saat ini, Indonesia masih dihadapkan dengan sejumlah tantangan  memanfaatkan sumber data baru untuk perencanaan pembangunan, antara lain  kemampuan analisis, di mana masih dibutuhkan SDM dengan keahlian  tertentu yang belum banyak tersedia untuk melakukan eksplorasi dan  analisis data baru.
&amp;nbsp;
Kemudian, kemampuan teknis untuk menggali data, memantau data,  menjaga standar data, serta mengintegrasikan berbagai sumber data. Kedua  tantangan ini membutuhkan penguatan kapasitas dan alih pengetahuan.

Tantangan selanjutnya, dukungan kebijakan terkait dengan tata kelola  data, proses berbagi data (pemerintah-swasta), dan pengambilan keputusan  berbasis data. Lalu kemampuan sosio-politis, untuk menjaga kepercayaan  masyarakat bahwa data ini dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Hal ini  membutuhkan sinergi dengan Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, pihak  swasta, dan strategi komunikasi dengan masyarakat.
</content:encoded></item></channel></rss>
