<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penerimaan Bea Cukai Capai Rp158,7 Triliun, 76% dari Target APBN 2019</title><description>Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan penerimaan negara dari bea dan cukai mencapai Rp158,7 triliun</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125710/penerimaan-bea-cukai-capai-rp158-7-triliun-76-dari-target-apbn-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125710/penerimaan-bea-cukai-capai-rp158-7-triliun-76-dari-target-apbn-2019"/><item><title>Penerimaan Bea Cukai Capai Rp158,7 Triliun, 76% dari Target APBN 2019</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125710/penerimaan-bea-cukai-capai-rp158-7-triliun-76-dari-target-apbn-2019</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125710/penerimaan-bea-cukai-capai-rp158-7-triliun-76-dari-target-apbn-2019</guid><pubDate>Senin 04 November 2019 20:53 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/04/20/2125710/penerimaan-bea-cukai-capai-rp158-7-triliun-76-dari-target-apbn-2019-4dzmx9sl30.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/04/20/2125710/penerimaan-bea-cukai-capai-rp158-7-triliun-76-dari-target-apbn-2019-4dzmx9sl30.jpg</image><title>Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan penerimaan negara dari bea dan cukai mencapai Rp158,7 triliun hingga akhir Oktober 2019 atau setara dengan  76% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar Rp208,8 triliun. Realisasi itu tumbuh 9,9% dari realiasi di periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp144,3 triliun.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi menyatakan, terdapat beberapa pos penerimaan yakni bea masuk dan bea keluar yang pertumbuhannya mengalami penurunan. Perlambatan tersebut disebabkan tertekannya volume perdagangan dunia akibat perang dagang Amerika Serikat dan China.
Baca Juga: Produk Pemurni Udara Indonesia Masuk Pasar Amarika, Bea Cukai: Kemajuan Bersama
Bea masuk tercatat Rp30,31 triliun hingga akhir Oktober atau setara 77,9% dari target yang sebesar Rp38,8 triliun. Realisasi itu mengalami penurunan 4,8% dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp32,2 triliun.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/10/22/53834/271838_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelabuhan Tanjung Priok, Gerbang Menuju Ekspor Impor&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Begitu pula dengan bea keluar, realisasinya mencapai Rp2,8 triliun atau 65,2% dari target Rp4,4 triliun di 2019. Mengalami penurunan 48,4% dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp5,6 triliun.
&quot;Memang yang mengalami penurunan itu bea masuk dan bea keluar. Terutama bea keluar karena ada kondisi yang trade war (perang dagang),&quot; ujar dia ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (4/11/2019).
Baca Juga: Bea Cukai dan Karantina Pertanian Lepas Ekspor Komoditas Pertanian di Labura
Adapun untuk penerimaan dari cukai tercatat mencapai Rp125,5 triliun hingga 31 Oktober 2019 atau 75,8% dari target sebesar Rp165,5 triliun. Realisasi ini tumbuh 18% dari realisasi di periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp106,3 triliun.
Sebelumnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut memaparkan kondisi pelemahan perdagangan dunia tercermin dari perlambatan kinerja bea masuk dan keluar di beberapa sektor lapangan usaha utama.Untuk bea keluar, terhitung per September 2019, penerimaan dari  sektor pertambangan terkoreksi 48,18%. Kemudian pada bea masuk, tercatat  dari sektor perdagagan terkoreksi 8,4%, industri pengolahan 7,3% dan  konstruksi 3,2%.
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) bahkan  memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 3% di tahun ini, terendah  sejak krisis yang terjadi di tahun 2008-2009. Volume perdagangan dunia  pun hingga akhir tahun diperkirakan hanya akan tumbuh 1,1%.
&quot;Sehingga kondisi ini mempengaruhi kinerja cukai, banyak lapangan  usaha yang mengalami kontraksi, industri pengolahan pun tumbuh negatif,&quot;  ujar Sri Mulyani.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan penerimaan negara dari bea dan cukai mencapai Rp158,7 triliun hingga akhir Oktober 2019 atau setara dengan  76% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar Rp208,8 triliun. Realisasi itu tumbuh 9,9% dari realiasi di periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp144,3 triliun.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi menyatakan, terdapat beberapa pos penerimaan yakni bea masuk dan bea keluar yang pertumbuhannya mengalami penurunan. Perlambatan tersebut disebabkan tertekannya volume perdagangan dunia akibat perang dagang Amerika Serikat dan China.
Baca Juga: Produk Pemurni Udara Indonesia Masuk Pasar Amarika, Bea Cukai: Kemajuan Bersama
Bea masuk tercatat Rp30,31 triliun hingga akhir Oktober atau setara 77,9% dari target yang sebesar Rp38,8 triliun. Realisasi itu mengalami penurunan 4,8% dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp32,2 triliun.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2018/10/22/53834/271838_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pelabuhan Tanjung Priok, Gerbang Menuju Ekspor Impor&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Begitu pula dengan bea keluar, realisasinya mencapai Rp2,8 triliun atau 65,2% dari target Rp4,4 triliun di 2019. Mengalami penurunan 48,4% dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp5,6 triliun.
&quot;Memang yang mengalami penurunan itu bea masuk dan bea keluar. Terutama bea keluar karena ada kondisi yang trade war (perang dagang),&quot; ujar dia ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (4/11/2019).
Baca Juga: Bea Cukai dan Karantina Pertanian Lepas Ekspor Komoditas Pertanian di Labura
Adapun untuk penerimaan dari cukai tercatat mencapai Rp125,5 triliun hingga 31 Oktober 2019 atau 75,8% dari target sebesar Rp165,5 triliun. Realisasi ini tumbuh 18% dari realisasi di periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp106,3 triliun.
Sebelumnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut memaparkan kondisi pelemahan perdagangan dunia tercermin dari perlambatan kinerja bea masuk dan keluar di beberapa sektor lapangan usaha utama.Untuk bea keluar, terhitung per September 2019, penerimaan dari  sektor pertambangan terkoreksi 48,18%. Kemudian pada bea masuk, tercatat  dari sektor perdagagan terkoreksi 8,4%, industri pengolahan 7,3% dan  konstruksi 3,2%.
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) bahkan  memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 3% di tahun ini, terendah  sejak krisis yang terjadi di tahun 2008-2009. Volume perdagangan dunia  pun hingga akhir tahun diperkirakan hanya akan tumbuh 1,1%.
&quot;Sehingga kondisi ini mempengaruhi kinerja cukai, banyak lapangan  usaha yang mengalami kontraksi, industri pengolahan pun tumbuh negatif,&quot;  ujar Sri Mulyani.</content:encoded></item></channel></rss>
