<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perbankan Sulit Dongkrak Perekonomian RI di Tengah Ketidakpastian Global</title><description>Perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China berdampak besar terhadap perekonomian dunia, salah satunya Indonesia</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125728/perbankan-sulit-dongkrak-perekonomian-ri-di-tengah-ketidakpastian-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125728/perbankan-sulit-dongkrak-perekonomian-ri-di-tengah-ketidakpastian-global"/><item><title>Perbankan Sulit Dongkrak Perekonomian RI di Tengah Ketidakpastian Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125728/perbankan-sulit-dongkrak-perekonomian-ri-di-tengah-ketidakpastian-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/20/2125728/perbankan-sulit-dongkrak-perekonomian-ri-di-tengah-ketidakpastian-global</guid><pubDate>Senin 04 November 2019 21:59 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/04/20/2125728/perbankan-sulit-dongkrak-perekonomian-ri-di-tengah-ketidakpastian-global-11aBhgVPWn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">IDX Buat Acara Economic Outlook 2020. (Foto: Okezone.com/IDX)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/04/20/2125728/perbankan-sulit-dongkrak-perekonomian-ri-di-tengah-ketidakpastian-global-11aBhgVPWn.jpg</image><title>IDX Buat Acara Economic Outlook 2020. (Foto: Okezone.com/IDX)</title></images><description>JAKARTA - Pasar keuangan global terus mengalami ketidakpastian di tengah berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China dan risiko geopolitik yang terus menekan perekonomian dunia.
Kenaikan tarif dagang oleh AS dan Tiongkok berdampak langsung pada penurunan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi. Bisa dilihat dari perekonomian AS yang tumbuh melambat akibat ekspor menurun dan investasi nonresidensial.
Baca Juga: Sederet Tantangan Sektor Perbankan di Kabinet Jokowi-Ma'ruf, Apa Saja?
Kenaikan tarif dagang oleh AS dan Tiongkok yang terus berlangsung makin menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Perekonomian AS tumbuh melambat akibat penurunan ekspor dan investasi nonresidensial. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, Tiongkok dan India juga berlanjut, dipengaruhi penurunan ekspor dan kemudian berdampak pada penurunan permintaan domestik.
Menurut Komisaris Independen Bank Central Asia Raden Pardede, perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China berdampak besar terhadap perekonomian dunia, salah satunya Indonesia. Dampaknya terhadap perbankan dalam melakukan fungsi intermedia.

&quot;Saat ini terjadi kekeliruan jika perbankan yang diharapkan mendorong perekonomian, justru dari capital market,&quot; ucap Raden Pardede, Senin (4/11/2019).
Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi telah mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti obligasi Pemeritah AS dan Jepang, serta komoditas emas, meskipun aliran modal ke negara berkembang tetap terjadi. Dinamika ekonomi global tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal.
Baca Juga: Kondisi Perbankan 5 Tahun Terakhir, Masalah di Kredit Macet
Menyikapi hal tersebut, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,75%.
Kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat. Kebijakan ini didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.Sementara itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memprediksi kondisi  likuiditas ketat masih dialami perbankan pada 2020. Pasalnya tingkat  ekspansif penyaluran kredit tidak diimbangi dengan pertumbuhan  penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang memadai.
Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan memperkirakan rasio pembiayaan  terhadap pendanaan (Loan To Deposit Ratio/LDR) industri perbankan di  2020 mencapai 100,6%, sementara di akhir 2019 sebesar 96,8%.
&amp;ldquo;Tingkat LDR yang diproyeksikan LPS tersebut di atas ketentuan batas  atas Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) Bank Indonesia yakni  sebesar 94%. Sementara batas bawah RIM ditetapkan BI sebesar 84%,&amp;rdquo; ucap  Fauzi Ichsan.
Sebagai informasi, IDX Channel menyelenggarakan special event  Economic Outlook Perbankan 2020 dengan tema Keketatan Likuiditas dan  Ancaman NPL Ancam Perbankan. Spacial dialog ini menghadirkan narasumber,  Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan,  Komisaris Independen Bank Central Asia Raden Pardede, Ketua Umum  Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) La Ode   Saiful Akbar dan Ketua Umum Komite Tetap Koperasi dan UKM Kadin,  Syarmila.</description><content:encoded>JAKARTA - Pasar keuangan global terus mengalami ketidakpastian di tengah berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China dan risiko geopolitik yang terus menekan perekonomian dunia.
Kenaikan tarif dagang oleh AS dan Tiongkok berdampak langsung pada penurunan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi. Bisa dilihat dari perekonomian AS yang tumbuh melambat akibat ekspor menurun dan investasi nonresidensial.
Baca Juga: Sederet Tantangan Sektor Perbankan di Kabinet Jokowi-Ma'ruf, Apa Saja?
Kenaikan tarif dagang oleh AS dan Tiongkok yang terus berlangsung makin menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Perekonomian AS tumbuh melambat akibat penurunan ekspor dan investasi nonresidensial. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, Tiongkok dan India juga berlanjut, dipengaruhi penurunan ekspor dan kemudian berdampak pada penurunan permintaan domestik.
Menurut Komisaris Independen Bank Central Asia Raden Pardede, perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China berdampak besar terhadap perekonomian dunia, salah satunya Indonesia. Dampaknya terhadap perbankan dalam melakukan fungsi intermedia.

&quot;Saat ini terjadi kekeliruan jika perbankan yang diharapkan mendorong perekonomian, justru dari capital market,&quot; ucap Raden Pardede, Senin (4/11/2019).
Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi telah mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti obligasi Pemeritah AS dan Jepang, serta komoditas emas, meskipun aliran modal ke negara berkembang tetap terjadi. Dinamika ekonomi global tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal.
Baca Juga: Kondisi Perbankan 5 Tahun Terakhir, Masalah di Kredit Macet
Menyikapi hal tersebut, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,75%.
Kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat. Kebijakan ini didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.Sementara itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memprediksi kondisi  likuiditas ketat masih dialami perbankan pada 2020. Pasalnya tingkat  ekspansif penyaluran kredit tidak diimbangi dengan pertumbuhan  penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang memadai.
Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan memperkirakan rasio pembiayaan  terhadap pendanaan (Loan To Deposit Ratio/LDR) industri perbankan di  2020 mencapai 100,6%, sementara di akhir 2019 sebesar 96,8%.
&amp;ldquo;Tingkat LDR yang diproyeksikan LPS tersebut di atas ketentuan batas  atas Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) Bank Indonesia yakni  sebesar 94%. Sementara batas bawah RIM ditetapkan BI sebesar 84%,&amp;rdquo; ucap  Fauzi Ichsan.
Sebagai informasi, IDX Channel menyelenggarakan special event  Economic Outlook Perbankan 2020 dengan tema Keketatan Likuiditas dan  Ancaman NPL Ancam Perbankan. Spacial dialog ini menghadirkan narasumber,  Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan,  Komisaris Independen Bank Central Asia Raden Pardede, Ketua Umum  Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) La Ode   Saiful Akbar dan Ketua Umum Komite Tetap Koperasi dan UKM Kadin,  Syarmila.</content:encoded></item></channel></rss>
