<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Penyebab Kredit Bermasalah Jasa Konstruksi Meningkat</title><description>Gapensi menyatakan bahwa rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) terjadi kenaikan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/320/2125665/ini-penyebab-kredit-bermasalah-jasa-konstruksi-meningkat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/320/2125665/ini-penyebab-kredit-bermasalah-jasa-konstruksi-meningkat"/><item><title>Ini Penyebab Kredit Bermasalah Jasa Konstruksi Meningkat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/320/2125665/ini-penyebab-kredit-bermasalah-jasa-konstruksi-meningkat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/04/320/2125665/ini-penyebab-kredit-bermasalah-jasa-konstruksi-meningkat</guid><pubDate>Senin 04 November 2019 19:41 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/04/320/2125665/ini-penyebab-kredit-bermasalah-jasa-konstruksi-meningkat-f1nfxSAQix.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Infrastruktur (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/04/320/2125665/ini-penyebab-kredit-bermasalah-jasa-konstruksi-meningkat-f1nfxSAQix.jpg</image><title>Infrastruktur (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menyatakan bahwa rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) terjadi kenaikan. Salah satunya, dari sector jasa konstruksi.

Menurut Wakil Ketua Umum V Gapensi La Ode Saiful Akbar, realisasi penyaluran kredit paling tinggi justru terjadi di sektor bisnis jasa konstruksi, yang tumbuh sekitar 26,2% atau setara Rp356 triliun. Akan tetapi, masih ada sejumlah masalah fundamental yang menurutnya menjadi salah satu penyebab utama tingginya rasio NPL di sektor tersebut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kredit Bermasalah Naik, OJK: Itu Hanya Sementara
&quot;Jadi, salah satu masalahnya yakni, selama ini pekerjaan konstruksinya dikuasai BUMN sehingga proyek-proyek itu tidak mencapai ke pengusaha-pengusaha swasta,&quot; ujar dia pada diskusi di Gedung BEI, Jakarta, Senin (4/11/2019).
&amp;nbsp;
Dia menuturkan, sebelumnya pemerintah telah menentukan, bahwa proyek konstruksi yang bisa dikerjakan oleh BUMN hanyalah proyek yang bernilai di atas Rp100 miliar.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kredit Macet UMKM Lebih Rendah dari Rata-Rata Nasional 
&quot;Namun realisasinya, proyek-proyek di bawah Rp100 miliar itu akhirnya di monopoli oleh para anak perusahaan BUMN tersebut,&quot; tutur dia.

Dia menjelaskan bahwa para pengusaha swasta nasional itu hanya dilibatkan sebagai subkontraktor. Di mana pola pembayaran pun dilakukan per tiga bulan atau per enam bulan.
 
&amp;nbsp;Baca juga:LPS Buka-bukaan Alasan Bunga Kredit Tak Kunjung Turun
&quot;Sehingga, para pengusaha yang menjadi subkontraktor itu pun terpaksa harus meminjam kepada pihak bank, akibat lambatnya pola dan mekanisme pembayaran kepada pihak pengusaha swasta yang menjadi subkontraktor,&quot; ungkap dia.

Dia menambahkan, masalah lainnya adalah tingkat kepercayaan dari  pihak perbankan kepada para pengusaha swasta, yang kerap meminta aspek  penjaminan dengan dinilai sangat besar.

&quot;Meskipun cukup dipahami bahwa tujuan pihak perbankan tersebut adalah  demi meminimalisir risiko kredit. Tapi kami menilai jika hal itu kerap  berlebihan dalam praktiknya di lapangan,&quot; ujar dia.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit di bulan  Mei 2019 sebesar 11,05% year-on-year (yoy), sama dengan pertumbuhan  bulan sebelumnya.

Non Performing Loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah juga masih  terjaga di level 2,61% di bulan Mei. Meski di beberapa sektor tercatat  mengalami kenaikan, NPL di bawah 5% masih termasuk kategori sehat.  Sektor konstruksi misalnya, NPL di bulan Mei tercatat sebesar 3,79%  dibandingkan posisi akhir 2018 sebesar 3,14%.</description><content:encoded>JAKARTA - Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menyatakan bahwa rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) terjadi kenaikan. Salah satunya, dari sector jasa konstruksi.

Menurut Wakil Ketua Umum V Gapensi La Ode Saiful Akbar, realisasi penyaluran kredit paling tinggi justru terjadi di sektor bisnis jasa konstruksi, yang tumbuh sekitar 26,2% atau setara Rp356 triliun. Akan tetapi, masih ada sejumlah masalah fundamental yang menurutnya menjadi salah satu penyebab utama tingginya rasio NPL di sektor tersebut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kredit Bermasalah Naik, OJK: Itu Hanya Sementara
&quot;Jadi, salah satu masalahnya yakni, selama ini pekerjaan konstruksinya dikuasai BUMN sehingga proyek-proyek itu tidak mencapai ke pengusaha-pengusaha swasta,&quot; ujar dia pada diskusi di Gedung BEI, Jakarta, Senin (4/11/2019).
&amp;nbsp;
Dia menuturkan, sebelumnya pemerintah telah menentukan, bahwa proyek konstruksi yang bisa dikerjakan oleh BUMN hanyalah proyek yang bernilai di atas Rp100 miliar.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kredit Macet UMKM Lebih Rendah dari Rata-Rata Nasional 
&quot;Namun realisasinya, proyek-proyek di bawah Rp100 miliar itu akhirnya di monopoli oleh para anak perusahaan BUMN tersebut,&quot; tutur dia.

Dia menjelaskan bahwa para pengusaha swasta nasional itu hanya dilibatkan sebagai subkontraktor. Di mana pola pembayaran pun dilakukan per tiga bulan atau per enam bulan.
 
&amp;nbsp;Baca juga:LPS Buka-bukaan Alasan Bunga Kredit Tak Kunjung Turun
&quot;Sehingga, para pengusaha yang menjadi subkontraktor itu pun terpaksa harus meminjam kepada pihak bank, akibat lambatnya pola dan mekanisme pembayaran kepada pihak pengusaha swasta yang menjadi subkontraktor,&quot; ungkap dia.

Dia menambahkan, masalah lainnya adalah tingkat kepercayaan dari  pihak perbankan kepada para pengusaha swasta, yang kerap meminta aspek  penjaminan dengan dinilai sangat besar.

&quot;Meskipun cukup dipahami bahwa tujuan pihak perbankan tersebut adalah  demi meminimalisir risiko kredit. Tapi kami menilai jika hal itu kerap  berlebihan dalam praktiknya di lapangan,&quot; ujar dia.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit di bulan  Mei 2019 sebesar 11,05% year-on-year (yoy), sama dengan pertumbuhan  bulan sebelumnya.

Non Performing Loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah juga masih  terjaga di level 2,61% di bulan Mei. Meski di beberapa sektor tercatat  mengalami kenaikan, NPL di bawah 5% masih termasuk kategori sehat.  Sektor konstruksi misalnya, NPL di bulan Mei tercatat sebesar 3,79%  dibandingkan posisi akhir 2018 sebesar 3,14%.</content:encoded></item></channel></rss>
