<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Penopangnya Kinerja Ekspor dan Konsumsi Pemerintah</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02% (year on year/yoy) di kuartal III-2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/20/2125957/pertumbuhan-ekonomi-5-02-penopangnya-kinerja-ekspor-dan-konsumsi-pemerintah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/20/2125957/pertumbuhan-ekonomi-5-02-penopangnya-kinerja-ekspor-dan-konsumsi-pemerintah"/><item><title>Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Penopangnya Kinerja Ekspor dan Konsumsi Pemerintah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/20/2125957/pertumbuhan-ekonomi-5-02-penopangnya-kinerja-ekspor-dan-konsumsi-pemerintah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/20/2125957/pertumbuhan-ekonomi-5-02-penopangnya-kinerja-ekspor-dan-konsumsi-pemerintah</guid><pubDate>Selasa 05 November 2019 14:01 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/05/20/2125957/pertumbuhan-ekonomi-5-02-penopangnya-kinerja-ekspor-dan-konsumsi-pemerintah-rWjEb6J3mD.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala BPS Suhariyanto (Foto: Yohana/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/05/20/2125957/pertumbuhan-ekonomi-5-02-penopangnya-kinerja-ekspor-dan-konsumsi-pemerintah-rWjEb6J3mD.jpeg</image><title>Kepala BPS Suhariyanto (Foto: Yohana/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02% (year on year/yoy) di kuartal III-2019. Pertumbuhan itu melambat bila dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,05% yoy, juga dari kuartal III-2019 yang sebesar 5,17% yoy.
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, mayoritas komponen penopang pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran, mengalami pertumbuhan dan hanya impor yang terkontraksi. Meski demikian pertumbuhan ekspor dan konsumsi pemerintah cenderung stagnan di kuartal III-2019.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2019 Diumumkan, Hasilnya?
&quot;Seluruh komponen pertumbuhan positif kecuali impor yang terkontraksi,&quot; ungkap dia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (5/11/2019).
Ekspor tercatat hanya mampu tumbuh 0,02% yoy di kuartal III-2019 dengan kontribusinya 18,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang secara nominal berjumlah Rp4.067,8 triliun. Membaik dari kuartal sebelumnya yang tumbuh -1,98% yoy, namun memburuk dari kuartal III-2019 yang tumbuh 8,08% yoy.

Sedangkan konsumsi pemerintah hanya mampu tumbuh 0,98% yoy dengan kontribusinya 8,36% terhadap PDB. Realisasi itu mengalami perlambatan dari kuartal II-2019 yang mampu tumbuh 8,25% yoy, juga melambat dari kuartal III-2018 yang tumbuh 6,27% yoy.
&quot;Melambatnya konsumsi pemerintah salah satunya didorong penurunan belanja barang dan jasa,&quot; kata dia.
Kecuk, sapaan akrabnya, menyebutkan pertumbuhan impor mengalami kontraksi -6,73% yoy dengan kontribusinya terhadap PDB juga terkontraksi -18,81%. Penurunan pertumbuhan itu terjadi pada impor migas, non migas, maupun jasa. Realisasi itu juga menunjukkan kontraksi lebih dalam dari kinerja pada kuartal II-2019 yang sebesar -6,78% yoy. Adapun pada kuartal III-2019 impor tercatat tumbuh 14,02% yoy.
Sedangkan untuk konsumsi rumah tangga tercatat masih menjadi penopang  utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusinya pada PDB  sebesar 56,52% dan mengalami pertumbuhan 5,01% yoy di kuartal III-2019.
Pertumbuhan ini melambat dibandingkan kuartal II-2019 yang tumbuh  5,17% yoy, namun sedikit membaik dibandingkan kuartal III-2018 yang  tumbuh 5% yoy. &quot;Perlambatan dari kuartal sebelumnya ini dipahami karena  waktu itu ada lebaran dan liburan sehingga konsumsi meningkat. Tapi bila  dilihat dengan kuartal III-2018 konsumsi lebih membaik,&quot; jelasnya.

Sementara, kontribusi terbesar kedua berasal dari investasi atau  Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 32,32% terhadap PDB atau  tumbuh 4,21% yoy. Meski demikian pertumbuhan ini melambat dibandingkan  kuartal sebelumnya yang sebesar 5,01% yoy, juga jauh melambat dibanding  kuartal III-2018 yang tumbuh 6,96% yoy.
&quot;Diharapkan pada kuartal ke IV-2019 PMTB bisa membaik pertumbuhannya,&quot; tambah Kecuk.
Sedangkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga  nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 7,44% yoy, meski  kontribusinya kecil hanya 1,25% pada PDB. Tetapi melambat dari kuartal  II-2019 yang tumbuh 15,28% yoy yang saat itu terdorong karena adanya  kegiatan pemilu. Juga melambat dibandingkan kuartal III-2018 yang tumbuh  8,59% yoy.
&quot;Jadi kontribusi pertumbuhan ekonomi masih didominasi konsumsi rumah tangga, PMTB, dan ekspor,&quot; tutup dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02% (year on year/yoy) di kuartal III-2019. Pertumbuhan itu melambat bila dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,05% yoy, juga dari kuartal III-2019 yang sebesar 5,17% yoy.
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, mayoritas komponen penopang pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran, mengalami pertumbuhan dan hanya impor yang terkontraksi. Meski demikian pertumbuhan ekspor dan konsumsi pemerintah cenderung stagnan di kuartal III-2019.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2019 Diumumkan, Hasilnya?
&quot;Seluruh komponen pertumbuhan positif kecuali impor yang terkontraksi,&quot; ungkap dia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (5/11/2019).
Ekspor tercatat hanya mampu tumbuh 0,02% yoy di kuartal III-2019 dengan kontribusinya 18,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang secara nominal berjumlah Rp4.067,8 triliun. Membaik dari kuartal sebelumnya yang tumbuh -1,98% yoy, namun memburuk dari kuartal III-2019 yang tumbuh 8,08% yoy.

Sedangkan konsumsi pemerintah hanya mampu tumbuh 0,98% yoy dengan kontribusinya 8,36% terhadap PDB. Realisasi itu mengalami perlambatan dari kuartal II-2019 yang mampu tumbuh 8,25% yoy, juga melambat dari kuartal III-2018 yang tumbuh 6,27% yoy.
&quot;Melambatnya konsumsi pemerintah salah satunya didorong penurunan belanja barang dan jasa,&quot; kata dia.
Kecuk, sapaan akrabnya, menyebutkan pertumbuhan impor mengalami kontraksi -6,73% yoy dengan kontribusinya terhadap PDB juga terkontraksi -18,81%. Penurunan pertumbuhan itu terjadi pada impor migas, non migas, maupun jasa. Realisasi itu juga menunjukkan kontraksi lebih dalam dari kinerja pada kuartal II-2019 yang sebesar -6,78% yoy. Adapun pada kuartal III-2019 impor tercatat tumbuh 14,02% yoy.
Sedangkan untuk konsumsi rumah tangga tercatat masih menjadi penopang  utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusinya pada PDB  sebesar 56,52% dan mengalami pertumbuhan 5,01% yoy di kuartal III-2019.
Pertumbuhan ini melambat dibandingkan kuartal II-2019 yang tumbuh  5,17% yoy, namun sedikit membaik dibandingkan kuartal III-2018 yang  tumbuh 5% yoy. &quot;Perlambatan dari kuartal sebelumnya ini dipahami karena  waktu itu ada lebaran dan liburan sehingga konsumsi meningkat. Tapi bila  dilihat dengan kuartal III-2018 konsumsi lebih membaik,&quot; jelasnya.

Sementara, kontribusi terbesar kedua berasal dari investasi atau  Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 32,32% terhadap PDB atau  tumbuh 4,21% yoy. Meski demikian pertumbuhan ini melambat dibandingkan  kuartal sebelumnya yang sebesar 5,01% yoy, juga jauh melambat dibanding  kuartal III-2018 yang tumbuh 6,96% yoy.
&quot;Diharapkan pada kuartal ke IV-2019 PMTB bisa membaik pertumbuhannya,&quot; tambah Kecuk.
Sedangkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga  nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 7,44% yoy, meski  kontribusinya kecil hanya 1,25% pada PDB. Tetapi melambat dari kuartal  II-2019 yang tumbuh 15,28% yoy yang saat itu terdorong karena adanya  kegiatan pemilu. Juga melambat dibandingkan kuartal III-2018 yang tumbuh  8,59% yoy.
&quot;Jadi kontribusi pertumbuhan ekonomi masih didominasi konsumsi rumah tangga, PMTB, dan ekspor,&quot; tutup dia.</content:encoded></item></channel></rss>
