<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Angka Pertumbuhan Ekonomi RI Dipertanyakan, Ini Komentar BPS</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% (year on year/yoy) pada kuartal III-2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/320/2126135/angka-pertumbuhan-ekonomi-ri-dipertanyakan-ini-komentar-bps</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/320/2126135/angka-pertumbuhan-ekonomi-ri-dipertanyakan-ini-komentar-bps"/><item><title>Angka Pertumbuhan Ekonomi RI Dipertanyakan, Ini Komentar BPS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/320/2126135/angka-pertumbuhan-ekonomi-ri-dipertanyakan-ini-komentar-bps</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/05/320/2126135/angka-pertumbuhan-ekonomi-ri-dipertanyakan-ini-komentar-bps</guid><pubDate>Selasa 05 November 2019 19:16 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/05/320/2126135/angka-pertumbuhan-ekonomi-ri-dipertanyakan-ini-komentar-bps-39EjQY2kEc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala BPS Suhariyanto (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/05/320/2126135/angka-pertumbuhan-ekonomi-ri-dipertanyakan-ini-komentar-bps-39EjQY2kEc.jpg</image><title>Kepala BPS Suhariyanto (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% (year on year/yoy) pada kuartal III-2019. Banyak yang meragukan data yang dikeluarkan oleh BPS ini termasuk juga dari Sebuah Lembaga Riset asal Inggris yakni Capital Economics.

Lembaga tersebut justru memprediksi seharusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dibawah angka tersebut. Karena berbagai indikator menunjukkan data data pelemahan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,02%, Pengusaha Pikir-Pikir untuk Ekspansi
Misalny,a data neraca perdagangan yang menunjukkan tanda-tanda defisit. Selain itu, konsumsi dan juga investasi juga tercatat melambat pada kuartal III-2019 ini.
&amp;nbsp;
Menanggapi hal tersebut, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pihaknya mengaku sudah menghitung dengan sangat teliti dan detail angka pertumbuhan ekonomi ini. Penghitungan dilakukan secara manual yang mencakup konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi hingga ekspor impor.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Penopangnya Kinerja Ekspor dan Konsumsi Pemerintah
&quot;Saya sebut dulu, ketika kita menghitung PDB, semuanya harus mengacu pada manual dari PDB. Harus diikuti semuanya. Kedua, BPS ini dimonitor oleh forum masyarakat statistik. Yang kedua teman-teman IMF selalu datang ke BPS minimal sekali setahun dengan timnya check,&quot; ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/11/2019)

Lagi pula, pria yang kerap disapa Kecuk ini menyebut ada penurunan yang cukup tajam. Berdasarkan data kuartal sebelumnya, angka pertumbuhan ekonomi tercatat 5,17% saat ini 5,02%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi RI Kuartal III-2019 Diprediksi Hanya Tumbuh 5,01%
Menurut Kecuk, seluruh indikator yang disebutkan memang diakui BPS mengalami penurunan. Namun masih tetap tumbuh meskipun memang di bawah dari target dan kuartal sebelumnya.
&quot;Gak juga, maksud saya iramanya mungkin. Misalnya saya bilang tadi,  indeks ritel itu turun tuh. Kemarin dari 4,5 ke 1,84 turun kan, tapi kan  tidak negatif. Betul kan? masih tumbuh,&quot; jelasnya.

Lagipula, lanjut Kecuk, dirinya tidak mungkin mengeluarkan data yang  asal-asalan. Karena ini menyangkut pada kredibilitas negara dan lembaga  negara.

&quot;BPS ini dimonitor oleh forum masyarakat statistik. Teman-teman IMF  (International Monetary Fund) juga selalu datang ke BPS, minimal sekali  setahun dengan timnya untuk check. Dan selama lima tahun berturut-turut,  kita dapat statement bahwa data PDB akurat. Sekarang betul nggak bahwa  kita stable? Tidak juga, dari 5,17% ke 5,02%, kan turunnya tajam,&quot;  jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% (year on year/yoy) pada kuartal III-2019. Banyak yang meragukan data yang dikeluarkan oleh BPS ini termasuk juga dari Sebuah Lembaga Riset asal Inggris yakni Capital Economics.

Lembaga tersebut justru memprediksi seharusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dibawah angka tersebut. Karena berbagai indikator menunjukkan data data pelemahan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,02%, Pengusaha Pikir-Pikir untuk Ekspansi
Misalny,a data neraca perdagangan yang menunjukkan tanda-tanda defisit. Selain itu, konsumsi dan juga investasi juga tercatat melambat pada kuartal III-2019 ini.
&amp;nbsp;
Menanggapi hal tersebut, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pihaknya mengaku sudah menghitung dengan sangat teliti dan detail angka pertumbuhan ekonomi ini. Penghitungan dilakukan secara manual yang mencakup konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi hingga ekspor impor.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Penopangnya Kinerja Ekspor dan Konsumsi Pemerintah
&quot;Saya sebut dulu, ketika kita menghitung PDB, semuanya harus mengacu pada manual dari PDB. Harus diikuti semuanya. Kedua, BPS ini dimonitor oleh forum masyarakat statistik. Yang kedua teman-teman IMF selalu datang ke BPS minimal sekali setahun dengan timnya check,&quot; ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/11/2019)

Lagi pula, pria yang kerap disapa Kecuk ini menyebut ada penurunan yang cukup tajam. Berdasarkan data kuartal sebelumnya, angka pertumbuhan ekonomi tercatat 5,17% saat ini 5,02%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi RI Kuartal III-2019 Diprediksi Hanya Tumbuh 5,01%
Menurut Kecuk, seluruh indikator yang disebutkan memang diakui BPS mengalami penurunan. Namun masih tetap tumbuh meskipun memang di bawah dari target dan kuartal sebelumnya.
&quot;Gak juga, maksud saya iramanya mungkin. Misalnya saya bilang tadi,  indeks ritel itu turun tuh. Kemarin dari 4,5 ke 1,84 turun kan, tapi kan  tidak negatif. Betul kan? masih tumbuh,&quot; jelasnya.

Lagipula, lanjut Kecuk, dirinya tidak mungkin mengeluarkan data yang  asal-asalan. Karena ini menyangkut pada kredibilitas negara dan lembaga  negara.

&quot;BPS ini dimonitor oleh forum masyarakat statistik. Teman-teman IMF  (International Monetary Fund) juga selalu datang ke BPS, minimal sekali  setahun dengan timnya untuk check. Dan selama lima tahun berturut-turut,  kita dapat statement bahwa data PDB akurat. Sekarang betul nggak bahwa  kita stable? Tidak juga, dari 5,17% ke 5,02%, kan turunnya tajam,&quot;  jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
