<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Jokowi: Patut Kita Syukuri</title><description>Jokowi menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di kisaran 5%  merupakan angka yang bagus di tengah kondisi gejolak ekonomi global</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/20/2126378/pertumbuhan-ekonomi-5-02-jokowi-patut-kita-syukuri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/20/2126378/pertumbuhan-ekonomi-5-02-jokowi-patut-kita-syukuri"/><item><title>Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Jokowi: Patut Kita Syukuri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/20/2126378/pertumbuhan-ekonomi-5-02-jokowi-patut-kita-syukuri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/20/2126378/pertumbuhan-ekonomi-5-02-jokowi-patut-kita-syukuri</guid><pubDate>Rabu 06 November 2019 12:24 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/06/20/2126378/pertumbuhan-ekonomi-5-02-jokowi-patut-kita-syukuri-ZghMWq8r5a.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi (Foto: Okezone.com/Yohana)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/06/20/2126378/pertumbuhan-ekonomi-5-02-jokowi-patut-kita-syukuri-ZghMWq8r5a.jpeg</image><title>Presiden Jokowi (Foto: Okezone.com/Yohana)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di kisaran 5% merupakan angka yang bagus di tengah kondisi gejolak ekonomi global. Lantaran, banyak negara lain yang bahkan pertumbuhan ekonominya jatuh lebih dalam.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% di kuartal III-2019. Melambat dari posisi kuartal III-2018 yang sebesar 5,17%, maupun dari kuartal II-2019 yang sebesar 5,05%.
Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,02%, Pengusaha Pikir-Pikir untuk Ekspansi
&quot;Hampir semua negara pertumbuhan ekonominya turun, tapi kita Alhamdullilah kita masih diberi angka 5%, lebih sedikit memang. Tapi sudah diberi lebih dari 5% itu sudah bagus,&quot; ungkap Jokowi dalam acara IBEX 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/112019).
Menurut Jokowi, banyak sejumlah negara yang mengalami pelemahan ekonomi lebih dalam dari Indonesia. Teranyar, Hong Kong mengalami reses dengan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi 3,2% di kuartal III-2019, dari sebelumnya di kuartal II-2019 terkontraksi 0,4%.
&amp;nbsp;
&quot;Negara lainnya ada yang tumbuh minus, ada yang menuju nol, ada yang berkurang 1%-2%, bahkan ada yang dari 7% menjadi 1%. Jadi dengan 5% itu menandakan lebih bagus dari negara-negara lain, ini patut kita syukuri,&quot; katanya.
Dia juga mengatakan, pada dasarnya Indonesia memiliki potensi menjadi negara dengan pendapatan tinggi (high income country). Oleh sebab itu perlu terus menggenjot perekonomian untuk keluar dari jebakan negara dengan pendapatan menengah (middle income country).Potensi yang besar sudah terlihat dari status Indonesia sebagai  negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) berskala USD1 triliun. Bahkan  paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) Indonesia berada di  peringkat ke-7 di dunia.
&quot;Artinya kita sebesarnya besar, punya potensi menjadi negara yang berpenghasilan tinggi,&quot; katanya.

Namun dalam mendorong perekonomian Tanah Air, Jokowi mengaku  diingatkan oleh Managing Director Monetary Fund (IMF) Kristalina  Georgieva untuk berhati-hati. Mengingat saat ini perang dagang antara  Amerika Serikat dan China masih berlangsung, bahkan ekonomi dunia  diperkirakan hanya mampu tumbuh 3% di 2019.
&quot;Saya kemarin bertemu Manageing Director IMF yang baru dia berikan  warning 'Jokowi hati-hati dalam mengelola moneter maupun fiskal karena  kondisi dunia seperti ini,&quot; kata Jokowi.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di kisaran 5% merupakan angka yang bagus di tengah kondisi gejolak ekonomi global. Lantaran, banyak negara lain yang bahkan pertumbuhan ekonominya jatuh lebih dalam.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% di kuartal III-2019. Melambat dari posisi kuartal III-2018 yang sebesar 5,17%, maupun dari kuartal II-2019 yang sebesar 5,05%.
Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,02%, Pengusaha Pikir-Pikir untuk Ekspansi
&quot;Hampir semua negara pertumbuhan ekonominya turun, tapi kita Alhamdullilah kita masih diberi angka 5%, lebih sedikit memang. Tapi sudah diberi lebih dari 5% itu sudah bagus,&quot; ungkap Jokowi dalam acara IBEX 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/112019).
Menurut Jokowi, banyak sejumlah negara yang mengalami pelemahan ekonomi lebih dalam dari Indonesia. Teranyar, Hong Kong mengalami reses dengan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi 3,2% di kuartal III-2019, dari sebelumnya di kuartal II-2019 terkontraksi 0,4%.
&amp;nbsp;
&quot;Negara lainnya ada yang tumbuh minus, ada yang menuju nol, ada yang berkurang 1%-2%, bahkan ada yang dari 7% menjadi 1%. Jadi dengan 5% itu menandakan lebih bagus dari negara-negara lain, ini patut kita syukuri,&quot; katanya.
Dia juga mengatakan, pada dasarnya Indonesia memiliki potensi menjadi negara dengan pendapatan tinggi (high income country). Oleh sebab itu perlu terus menggenjot perekonomian untuk keluar dari jebakan negara dengan pendapatan menengah (middle income country).Potensi yang besar sudah terlihat dari status Indonesia sebagai  negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) berskala USD1 triliun. Bahkan  paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) Indonesia berada di  peringkat ke-7 di dunia.
&quot;Artinya kita sebesarnya besar, punya potensi menjadi negara yang berpenghasilan tinggi,&quot; katanya.

Namun dalam mendorong perekonomian Tanah Air, Jokowi mengaku  diingatkan oleh Managing Director Monetary Fund (IMF) Kristalina  Georgieva untuk berhati-hati. Mengingat saat ini perang dagang antara  Amerika Serikat dan China masih berlangsung, bahkan ekonomi dunia  diperkirakan hanya mampu tumbuh 3% di 2019.
&quot;Saya kemarin bertemu Manageing Director IMF yang baru dia berikan  warning 'Jokowi hati-hati dalam mengelola moneter maupun fiskal karena  kondisi dunia seperti ini,&quot; kata Jokowi.</content:encoded></item></channel></rss>
