<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Malaysia Geber Jalan Layang Johor-Singapura Demi Atasi Kemacetan</title><description>Malaysia memberikan kepastian soal nasib proyek Rapid Transit System (RTS) Singapura-Johor Bahru.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/320/2126416/malaysia-geber-jalan-layang-johor-singapura-demi-atasi-kemacetan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/320/2126416/malaysia-geber-jalan-layang-johor-singapura-demi-atasi-kemacetan"/><item><title>Malaysia Geber Jalan Layang Johor-Singapura Demi Atasi Kemacetan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/320/2126416/malaysia-geber-jalan-layang-johor-singapura-demi-atasi-kemacetan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/06/320/2126416/malaysia-geber-jalan-layang-johor-singapura-demi-atasi-kemacetan</guid><pubDate>Rabu 06 November 2019 13:29 WIB</pubDate><dc:creator>Adhyasta Dirgantara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/06/320/2126416/malaysia-geber-jalan-layang-johor-singapura-demi-atasi-kemacetan-AtvMjIdOHl.png" expression="full" type="image/jpeg">Proyek Rapid Transit System Malaysia (Foto: Business Insider)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/06/320/2126416/malaysia-geber-jalan-layang-johor-singapura-demi-atasi-kemacetan-AtvMjIdOHl.png</image><title>Proyek Rapid Transit System Malaysia (Foto: Business Insider)</title></images><description>JAKARTA - Malaysia memberikan kepastian soal nasib proyek Rapid Transit System (RTS) Singapura-Johor Bahru. Sayangnya, masyarakat Malaysia harus menunggu agak lama pembangunan proyek RTS yang disebut-sebut bisa mengatasi kemacetan ini.
Pasalnya, penandatanganan perjanjian akan ditunda hingga April 2020 karena kedua negara saat ini sedang membahas perubahan yang diusulkan oleh pemerintah Malaysia. Demikian seperti diungkapkan oleh Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan.
Baca Juga: Kendalikan Karhutla, Indonesia Diminta Belajar dari Malaysia
Dalam pesan tertulisnya, Khaw mengatakan bahwa Singapura telah menyetujui permintaan lain oleh Malaysia untuk perpanjangan enam bulan hingga 30 April 2020. Perpanjangan tersebut ada kaitannya dengan kerja sama bilateral. Lebih-lebih, tidak akan dikenakan biaya tambahan untuk pihak Malaysia.
Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke juga mengatakan kepada Parlemen Malaysia pada hari Senin bahwa kedua negara saat ini sedang membahas perubahan yang diusulkan. Perubahan tersebut melibatkan perubahan rencana awal yaitu menggunakan sistem mass rapid transit (MRT) Singapura, menjadi sistem light rail transit (LRT), seperti yang diadopsi di Kuala Lumpur.

&amp;ldquo;Kami tidak hanya melihat biaya konstruksi, tetapi juga biaya operasi dan penumpang. Kami menemukan bahwa sistem LRT cocok untuk proyek kereta api, dengan hanya dua stasiun, yaitu Bukit Chagar di sisi Johor dan Woodlands di Singapura,&amp;rdquo; ujar Loke, demikian dilansir dari Business Insider Singapore, Rabu (6/11/2019).
Selain itu, Khaw mengatakan bahwa Singapura tidak berkewajiban untuk menerima perubahan ini, tetapi mereka akan tetap waspada. &quot;Tetap berpikiran terbuka dan menilai mereka dengan hati-hati dan obyektif,&quot; tegas Khaw.Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad pada 31 Oktober  mengumumkan kelanjutan proyek RTS dengan biaya lebih rendah RM3,6 miliar  (SGD1 miliar) atau terpotong 36% dari jumlah awal yakni RM4,93 miliar.
Dr Mahathir mengatakan bahwa sebagian besar penghematan berasal dari  biaya tanah yang melibatkan stasiun yang diusulkan di Bukit Chagar, yang  sebelumnya dimiliki oleh Penguasa Johor. Namun, dia tidak menyebutkan  permintaan penangguhan tersebut.
Awalnya, RTS sepanjang 4 km dijadwalkan selesai pada 2024, tetapi diproyeksikan akan molor karena banyaknya penundaan.

&quot;RTS akan secara signifikan mengurangi kemacetan jalan layang  Johor-Singapura, memfasilitasi bisnis dan pariwisata, serta membawa  orang-orang kita jadi lebih dekat,&quot; ucap Khaw.
Nantinya, RTS akan memiliki kapasitas 10.000 penumpang, dengan  diprediksikan akan ada 254.000 orang menggunakan sisi Johor Baru dan  113.000 menggunakan sisi yang kedua dalam satu hari.
Menurut Land Transport Authority (LTA), perkiraan waktu awal untuk  perjalanan kereta api RTS adalah 10 menit. Saat ini, orang membutuhkan  waktu antara 40 menit sampai dua jam untuk melewati jalan layang  Johor-Singapura sepanjang 1,06 km pada jam-jam sibuk.</description><content:encoded>JAKARTA - Malaysia memberikan kepastian soal nasib proyek Rapid Transit System (RTS) Singapura-Johor Bahru. Sayangnya, masyarakat Malaysia harus menunggu agak lama pembangunan proyek RTS yang disebut-sebut bisa mengatasi kemacetan ini.
Pasalnya, penandatanganan perjanjian akan ditunda hingga April 2020 karena kedua negara saat ini sedang membahas perubahan yang diusulkan oleh pemerintah Malaysia. Demikian seperti diungkapkan oleh Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan.
Baca Juga: Kendalikan Karhutla, Indonesia Diminta Belajar dari Malaysia
Dalam pesan tertulisnya, Khaw mengatakan bahwa Singapura telah menyetujui permintaan lain oleh Malaysia untuk perpanjangan enam bulan hingga 30 April 2020. Perpanjangan tersebut ada kaitannya dengan kerja sama bilateral. Lebih-lebih, tidak akan dikenakan biaya tambahan untuk pihak Malaysia.
Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke juga mengatakan kepada Parlemen Malaysia pada hari Senin bahwa kedua negara saat ini sedang membahas perubahan yang diusulkan. Perubahan tersebut melibatkan perubahan rencana awal yaitu menggunakan sistem mass rapid transit (MRT) Singapura, menjadi sistem light rail transit (LRT), seperti yang diadopsi di Kuala Lumpur.

&amp;ldquo;Kami tidak hanya melihat biaya konstruksi, tetapi juga biaya operasi dan penumpang. Kami menemukan bahwa sistem LRT cocok untuk proyek kereta api, dengan hanya dua stasiun, yaitu Bukit Chagar di sisi Johor dan Woodlands di Singapura,&amp;rdquo; ujar Loke, demikian dilansir dari Business Insider Singapore, Rabu (6/11/2019).
Selain itu, Khaw mengatakan bahwa Singapura tidak berkewajiban untuk menerima perubahan ini, tetapi mereka akan tetap waspada. &quot;Tetap berpikiran terbuka dan menilai mereka dengan hati-hati dan obyektif,&quot; tegas Khaw.Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad pada 31 Oktober  mengumumkan kelanjutan proyek RTS dengan biaya lebih rendah RM3,6 miliar  (SGD1 miliar) atau terpotong 36% dari jumlah awal yakni RM4,93 miliar.
Dr Mahathir mengatakan bahwa sebagian besar penghematan berasal dari  biaya tanah yang melibatkan stasiun yang diusulkan di Bukit Chagar, yang  sebelumnya dimiliki oleh Penguasa Johor. Namun, dia tidak menyebutkan  permintaan penangguhan tersebut.
Awalnya, RTS sepanjang 4 km dijadwalkan selesai pada 2024, tetapi diproyeksikan akan molor karena banyaknya penundaan.

&quot;RTS akan secara signifikan mengurangi kemacetan jalan layang  Johor-Singapura, memfasilitasi bisnis dan pariwisata, serta membawa  orang-orang kita jadi lebih dekat,&quot; ucap Khaw.
Nantinya, RTS akan memiliki kapasitas 10.000 penumpang, dengan  diprediksikan akan ada 254.000 orang menggunakan sisi Johor Baru dan  113.000 menggunakan sisi yang kedua dalam satu hari.
Menurut Land Transport Authority (LTA), perkiraan waktu awal untuk  perjalanan kereta api RTS adalah 10 menit. Saat ini, orang membutuhkan  waktu antara 40 menit sampai dua jam untuk melewati jalan layang  Johor-Singapura sepanjang 1,06 km pada jam-jam sibuk.</content:encoded></item></channel></rss>
