<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bisnis Properti Disebut Kian Lesu, Ini Penyebabnya</title><description>Tidak dapat dipungkiri bahwa properti merupakan kebutuhan pokok yang wajib dimiliki oleh setiap orang di Indonesia</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/08/470/2127419/bisnis-properti-disebut-kian-lesu-ini-penyebabnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/08/470/2127419/bisnis-properti-disebut-kian-lesu-ini-penyebabnya"/><item><title>Bisnis Properti Disebut Kian Lesu, Ini Penyebabnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/08/470/2127419/bisnis-properti-disebut-kian-lesu-ini-penyebabnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/08/470/2127419/bisnis-properti-disebut-kian-lesu-ini-penyebabnya</guid><pubDate>Jum'at 08 November 2019 15:38 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/08/470/2127419/bisnis-properti-disebut-kian-lesu-ini-penyebabnya-llHVhZUxoL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri Properti Disebut Lesu (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/08/470/2127419/bisnis-properti-disebut-kian-lesu-ini-penyebabnya-llHVhZUxoL.jpg</image><title>Industri Properti Disebut Lesu (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Tidak dapat dipungkiri bahwa properti merupakan kebutuhan pokok yang wajib dimiliki oleh setiap orang di Indonesia. Namun saat ini, masyarakat terutama justru kesulitan mendapatkan properti karena berbagai faktor.

Berdasarkan statisik yang diumumkan oleh pemerintah pada Maret 2019 melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), secara keseluruhan backlog rumah saat ini telah mencapai lebih dari 7.6 unit.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kabinet Baru Jokowi, Ini Harapan Pelaku Industri Properti
Di sisi lain, industri properti di Indonesia terus mengalami stagnasi. Seiring dengan perlambatan industri properti, para pelaku properti  terus berkurang, terutama broker properti dikarenakan sengitnya persaingan, penjualan yang semakin  susah dan susahnya mendapat tenaga pemasaran baru yang kompeten, memperkuat stigma di mata  masyarakat bahwa industri properti adalah industri yang ekslusif untuk kalangan tertentu, dan sangat  susah untuk ikut serta didalamnya.

Merespons hal itu, CEO SQM Property Denny Asalim mengatakan bahwa properti di Indonesia masuk ke masa yang cukup sulit. Bisnis properti melemah dari tahun ke tahun. Di mana ketika penjualan properti semakin sulit, untuk memastikan penjualan properti tetap bisa dijalankan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Lagi Tren Co-Living, Prospek Menggiurkan bagi Investor Properti
&quot;Maka itu, pengeluaran dari segi promosi juga akan bertambah. Penambahan biaya promosi tersebut tentunya selain mengurangi margin keuntungan pengembang. Tapi juga berakibat ke harga jual yang dibebankan ke konsumen akan lebih tinggi untuk mengimbangi biaya yang terus bertambah,&quot; ujar dia pada peluncuran perusahaan SQM Property di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

&amp;nbsp;Dia menuturkan, berangkat dari poin tersebut, maka itu, pihaknya  melihat peluang untuk SQM hadir untuk memberikan solusi. &quot;Tujuan kami  membangun SQM Property karena kita bisa mengubah cara pemasaran  properti,&quot; ungkap dia.

Kemudian, lanjut dia, apabila dilihat dari segi teknologi, platform  ini berbentuk crowdsourcing yang mempertemukan penjual dan pembeli  melalui sistem referensi.

&quot;Teknologi yang kami hadirkan secara garis besar adalah sistem  referensi, tetapi dibelakang interface aplikasi ini, sistem kita  ditopang dengan teknologi Search Algorithm yang bisa mempertemukan pihak  penjual dan pembeli dengan lebih mudah,&quot; jelas dia.
&amp;nbsp;
Dia manambahkan, SQM Property selanjutnya akan menempatkan staff yang  telah berpengalaman dibidang properti untuk menghubungi prospek  tersebut, dari penjelasan mendalam sampai ke janji pertemuan hingga  transaksi properti berhasil dan pengguna akan mendapat insentif berupa  komisi jutaan Rupiah per transaksi dan juga point yang bisa ditukarkan  dengan hadiah menarik lainnya.

&quot;Pengguna atau member bisa berinteraksi dengan staff SQM langsung  atau juga bisa hanya dengan memantau proses penjualan tersebut ditangan  melalui aplikasi SQM Property,&quot; kata dia

Ketika ditanya apakah dengan hadirnya SQM Property akan mendisruptif  para pemain atau broker properti yang sudah eksis. &quot;Saya katakan banyak  Proptech yang beberapa tahun ini hadir di Indonesia yang bersifat  disruptif,&quot; pungkas dia.

</description><content:encoded>JAKARTA - Tidak dapat dipungkiri bahwa properti merupakan kebutuhan pokok yang wajib dimiliki oleh setiap orang di Indonesia. Namun saat ini, masyarakat terutama justru kesulitan mendapatkan properti karena berbagai faktor.

Berdasarkan statisik yang diumumkan oleh pemerintah pada Maret 2019 melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), secara keseluruhan backlog rumah saat ini telah mencapai lebih dari 7.6 unit.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kabinet Baru Jokowi, Ini Harapan Pelaku Industri Properti
Di sisi lain, industri properti di Indonesia terus mengalami stagnasi. Seiring dengan perlambatan industri properti, para pelaku properti  terus berkurang, terutama broker properti dikarenakan sengitnya persaingan, penjualan yang semakin  susah dan susahnya mendapat tenaga pemasaran baru yang kompeten, memperkuat stigma di mata  masyarakat bahwa industri properti adalah industri yang ekslusif untuk kalangan tertentu, dan sangat  susah untuk ikut serta didalamnya.

Merespons hal itu, CEO SQM Property Denny Asalim mengatakan bahwa properti di Indonesia masuk ke masa yang cukup sulit. Bisnis properti melemah dari tahun ke tahun. Di mana ketika penjualan properti semakin sulit, untuk memastikan penjualan properti tetap bisa dijalankan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Lagi Tren Co-Living, Prospek Menggiurkan bagi Investor Properti
&quot;Maka itu, pengeluaran dari segi promosi juga akan bertambah. Penambahan biaya promosi tersebut tentunya selain mengurangi margin keuntungan pengembang. Tapi juga berakibat ke harga jual yang dibebankan ke konsumen akan lebih tinggi untuk mengimbangi biaya yang terus bertambah,&quot; ujar dia pada peluncuran perusahaan SQM Property di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

&amp;nbsp;Dia menuturkan, berangkat dari poin tersebut, maka itu, pihaknya  melihat peluang untuk SQM hadir untuk memberikan solusi. &quot;Tujuan kami  membangun SQM Property karena kita bisa mengubah cara pemasaran  properti,&quot; ungkap dia.

Kemudian, lanjut dia, apabila dilihat dari segi teknologi, platform  ini berbentuk crowdsourcing yang mempertemukan penjual dan pembeli  melalui sistem referensi.

&quot;Teknologi yang kami hadirkan secara garis besar adalah sistem  referensi, tetapi dibelakang interface aplikasi ini, sistem kita  ditopang dengan teknologi Search Algorithm yang bisa mempertemukan pihak  penjual dan pembeli dengan lebih mudah,&quot; jelas dia.
&amp;nbsp;
Dia manambahkan, SQM Property selanjutnya akan menempatkan staff yang  telah berpengalaman dibidang properti untuk menghubungi prospek  tersebut, dari penjelasan mendalam sampai ke janji pertemuan hingga  transaksi properti berhasil dan pengguna akan mendapat insentif berupa  komisi jutaan Rupiah per transaksi dan juga point yang bisa ditukarkan  dengan hadiah menarik lainnya.

&quot;Pengguna atau member bisa berinteraksi dengan staff SQM langsung  atau juga bisa hanya dengan memantau proses penjualan tersebut ditangan  melalui aplikasi SQM Property,&quot; kata dia

Ketika ditanya apakah dengan hadirnya SQM Property akan mendisruptif  para pemain atau broker properti yang sudah eksis. &quot;Saya katakan banyak  Proptech yang beberapa tahun ini hadir di Indonesia yang bersifat  disruptif,&quot; pungkas dia.

</content:encoded></item></channel></rss>
