<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>'Cerai' dengan Garuda, Sriwijaya Air Bisa Beroperasi Sendiri?</title><description>Kisruh kerjasama antara Garuda Indonesia Group dengan Sriwijaya Air Group akhirnya berhenti juga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/10/320/2128056/cerai-dengan-garuda-sriwijaya-air-bisa-beroperasi-sendiri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/10/320/2128056/cerai-dengan-garuda-sriwijaya-air-bisa-beroperasi-sendiri"/><item><title>'Cerai' dengan Garuda, Sriwijaya Air Bisa Beroperasi Sendiri?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/10/320/2128056/cerai-dengan-garuda-sriwijaya-air-bisa-beroperasi-sendiri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/10/320/2128056/cerai-dengan-garuda-sriwijaya-air-bisa-beroperasi-sendiri</guid><pubDate>Minggu 10 November 2019 20:31 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/10/320/2128056/cerai-dengan-garuda-sriwijaya-air-bisa-beroperasi-sendiri-QsuzKNKK1K.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Garuda dan Sriwijaya Air (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/10/320/2128056/cerai-dengan-garuda-sriwijaya-air-bisa-beroperasi-sendiri-QsuzKNKK1K.jpg</image><title>Garuda dan Sriwijaya Air (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kisruh kerjasama antara Garuda Indonesia Group dengan Sriwijaya Air Group akhirnya berhenti juga. Hal tersebut menyusul keinginan Sriwijaya Air Group mengakhiri kerjasama manajemen (KSN) ini.
&amp;nbsp;Baca Juga: Audit Kerjasama Garuda-Sriwijaya Air Cukup 1 Hari
Pengamat Penerbangan sekaligus Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Alvin Lie mengatakan, keputusan pemegang saham Sriwijaya untuk mengakhiri kerjasama ini sama sekali tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Justru sebaliknnya, keputusan ini murni pada kondisi Sriwijaya yang saat ini sudah sehat dan cukup baik untuk mengelola perusahaan secara mandiri

&quot;Setelah sekian lama bekerjasama, pemilik Sriwijaya saat ini merasa yakin bahwa perusahaan mereka sudah cukup baik dan sudah saatnya untuk kembali mandiri. Saya percaya Garuda Indonesia menghormati keputusan Sriwijaya ini dan mereka OK,&quot; ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (10/11/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: BPKP Masih Tunggu Laporan Kisruh Kerjasama Garuda-Sriwijaya Air
Alvin pun menceritakan awal mula kerjasama yang terjalin antara Sriwijaya dengan Garuda Indonesia. Awalnnya, Sriwijaya meminta bantuan kepada Garuda Indonesia agar perusahaan mereka tidak berhenti beroperasi pada akhir tahun lalu.

Pasalnnya, utang Sriwijaya kepada GMF, serta dua BUMN lainya cukup besar. Ditambah lagi Sriwijaya juga tak kunjung mendapatkan keuntungan sela selama beroperasi.

&quot;Pada saat itu saya senang dengan keputusan Garuda Indonesia bersedia membantu mereka. Saya tidak bisa membayangkan nasib 6.000 karyawannya beserta keluarganya yang kehilangan mata pencaharian bila Sriwijaya berhenti beroperasi,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Menurutnya, kerjasama itu merupakan langkah yang bagus untuk  memastikan Sriwijaya tidak tutup. Karena jika sampai tutup, ada banyak  sekali orang yang menggantungkan hidupnya dari sana dan terancam PHK.

&quot;Ini menjadi nilai utama menurut saya karena ini masalah kemanusiaan.  Selain itu pada saat tersebut menjelang pemilu dan tentunya ini akan  menjadi issue besar,&quot; kata Alvin Lie.

Dirinya juga mendengar jika Garuda Indonesia mempertimbangkan  kelancaran pembayaran utang oleh Sriwijaya bila mereka berhenti  beroperasi, selain juga sebagai penugasan oleh KBUMN untuk mengamankan  aset negara berupa piutang kebeberapa BUMN. Serta pertimbangan  keseimbangan industri penerbangan akan terganggu bila Sriwijaya  berhenti.

&quot;Saya melihat Garuda Indonesia telah memperbaiki sistem dan standar  layanan, maintenance, safety dan pengelolaan SDM di Sriwijaya sehingga  mereka mengalami perubahan yang progressive,&quot; ucapnya.

Menurutnya, pertimbangan menjaga reputasi dan safety penumpang di  industri penerbangan Indonesia menjadi sangat penting. Apalagi, setelah  beberapa penutupan maskapai penerbangan dan kecelakaan pesawat di  Indonesia, resiko industri dan keselamatan penerbangan di dalam negeri  menjadi perhatian banyak pihak khususnya investor global.

&quot;Dengan putusan Sriwijaya untuk kembali mandiri, itu membuktikan  bahwa Garuda Indonesia telah cukup baik mengelola Sriwijaya,&quot; katanya.

&amp;nbsp;

</description><content:encoded>JAKARTA - Kisruh kerjasama antara Garuda Indonesia Group dengan Sriwijaya Air Group akhirnya berhenti juga. Hal tersebut menyusul keinginan Sriwijaya Air Group mengakhiri kerjasama manajemen (KSN) ini.
&amp;nbsp;Baca Juga: Audit Kerjasama Garuda-Sriwijaya Air Cukup 1 Hari
Pengamat Penerbangan sekaligus Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Alvin Lie mengatakan, keputusan pemegang saham Sriwijaya untuk mengakhiri kerjasama ini sama sekali tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Justru sebaliknnya, keputusan ini murni pada kondisi Sriwijaya yang saat ini sudah sehat dan cukup baik untuk mengelola perusahaan secara mandiri

&quot;Setelah sekian lama bekerjasama, pemilik Sriwijaya saat ini merasa yakin bahwa perusahaan mereka sudah cukup baik dan sudah saatnya untuk kembali mandiri. Saya percaya Garuda Indonesia menghormati keputusan Sriwijaya ini dan mereka OK,&quot; ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (10/11/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: BPKP Masih Tunggu Laporan Kisruh Kerjasama Garuda-Sriwijaya Air
Alvin pun menceritakan awal mula kerjasama yang terjalin antara Sriwijaya dengan Garuda Indonesia. Awalnnya, Sriwijaya meminta bantuan kepada Garuda Indonesia agar perusahaan mereka tidak berhenti beroperasi pada akhir tahun lalu.

Pasalnnya, utang Sriwijaya kepada GMF, serta dua BUMN lainya cukup besar. Ditambah lagi Sriwijaya juga tak kunjung mendapatkan keuntungan sela selama beroperasi.

&quot;Pada saat itu saya senang dengan keputusan Garuda Indonesia bersedia membantu mereka. Saya tidak bisa membayangkan nasib 6.000 karyawannya beserta keluarganya yang kehilangan mata pencaharian bila Sriwijaya berhenti beroperasi,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Menurutnya, kerjasama itu merupakan langkah yang bagus untuk  memastikan Sriwijaya tidak tutup. Karena jika sampai tutup, ada banyak  sekali orang yang menggantungkan hidupnya dari sana dan terancam PHK.

&quot;Ini menjadi nilai utama menurut saya karena ini masalah kemanusiaan.  Selain itu pada saat tersebut menjelang pemilu dan tentunya ini akan  menjadi issue besar,&quot; kata Alvin Lie.

Dirinya juga mendengar jika Garuda Indonesia mempertimbangkan  kelancaran pembayaran utang oleh Sriwijaya bila mereka berhenti  beroperasi, selain juga sebagai penugasan oleh KBUMN untuk mengamankan  aset negara berupa piutang kebeberapa BUMN. Serta pertimbangan  keseimbangan industri penerbangan akan terganggu bila Sriwijaya  berhenti.

&quot;Saya melihat Garuda Indonesia telah memperbaiki sistem dan standar  layanan, maintenance, safety dan pengelolaan SDM di Sriwijaya sehingga  mereka mengalami perubahan yang progressive,&quot; ucapnya.

Menurutnya, pertimbangan menjaga reputasi dan safety penumpang di  industri penerbangan Indonesia menjadi sangat penting. Apalagi, setelah  beberapa penutupan maskapai penerbangan dan kecelakaan pesawat di  Indonesia, resiko industri dan keselamatan penerbangan di dalam negeri  menjadi perhatian banyak pihak khususnya investor global.

&quot;Dengan putusan Sriwijaya untuk kembali mandiri, itu membuktikan  bahwa Garuda Indonesia telah cukup baik mengelola Sriwijaya,&quot; katanya.

&amp;nbsp;

</content:encoded></item></channel></rss>
