<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>      Ekonomi RI Melambat Picu Kenaikan Kredit Macet</title><description>Perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu penyebab naiknya risiko kredit macet.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/11/320/2128318/ekonomi-ri-melambat-picu-kenaikan-kredit-macet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/11/320/2128318/ekonomi-ri-melambat-picu-kenaikan-kredit-macet"/><item><title>      Ekonomi RI Melambat Picu Kenaikan Kredit Macet</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/11/320/2128318/ekonomi-ri-melambat-picu-kenaikan-kredit-macet</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/11/320/2128318/ekonomi-ri-melambat-picu-kenaikan-kredit-macet</guid><pubDate>Senin 11 November 2019 13:57 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/11/320/2128318/ekonomi-ri-melambat-picu-kenaikan-kredit-macet-GZMtv8iVlW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kredit Macet (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/11/320/2128318/ekonomi-ri-melambat-picu-kenaikan-kredit-macet-GZMtv8iVlW.jpg</image><title>Kredit Macet (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu penyebab naiknya risiko kredit macet atau non performing loan (NPL) di industri jasa keuangan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) peningkatan rasio NPL secara gross dari Juli 2019 sebesar 2,55% menjadi 2,60% pada Agustus 2019.

Adapun pada kuartal III-2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat hanya sebesar 5,02%. Realiasi itu melambat dari posisi kuartal III-2018 yang tumbuh 5,17%, maupun dari kuartal II-2019 yang tumbuh 5,02%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi Melambat, Menko Airlangga: Masih Lebih Baik dari Malaysia
Direktur Utama Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu menyatakan, berdasarkan catatan Pefindo porsi debitur dengan tingkat risiko tinggi dan sangat tinggi mencapai 46%, sementara debitur dengan risiko kredit rendah dan sangat rendah porsinya sebesar 54%.

Dia menjelaskan, kondisi risiko peningkatan kredit macet tersebut memang tak lepas dari kondisi perlambatan ekonomi. Namun, tetap terdapat kontribusi dari karakter debitur tersebut dalam membayarkan kewajiban kreditnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Jokowi: Patut Kita Syukuri
&quot;Secara eksternal bisa seperti itu (perlambatan pertumbuhan ekonomi), mengakibatkan debitur tidak mampu atau terlambat bayar. Tapi secara internal perlu dilihat bahwa kemampuan atau behaviour dari masing-masing debitur,&quot; ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/11/2019).
&amp;nbsp;Dia menjelaskan, saat ini risiko kredit macet tertinggi ada pada Bank  Perkreditan Rakyat (BPR) sebesar 7%, sementara untuk bank umum dan bank  syariah berada di kisaran 2%-3%. Oleh sebab itu, Pefindo meminta untuk  industri jasa keuangan menggunakan kredit skoring guna memitigasi risiko  kredit macet.

Menurutnya, dari sisi perbankan yang menggunakan jasa kredit skoring  dari Pefindo memiliki tingkat kredit macet yang rendah yakni di bawah 2%.  Sebaliknya, perbankan yang tidak menggunakan jasa kredit skoring  tingkal NPL-nya di atas 2%. Saat ini ada 223 lembaga jasa keuangan yang  terdaftar sebagai anggota Pefindo.

&quot;Kami sudah sampaikan di awal tahun ini, agar perbankan atau lembaga  pembiayaan lebih berhati-hati menyalurkan kredit karena kami melihat  risiko kredit cukup tinggi. Itu kami buktikan sekarang risiko kredit  masih tinggi untuk debitur yang risiko tinggi dan sangat tinggi,&quot;  jelasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan    Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, perlambatan    ekonomi domestik tidak terlepas dari kondisi perekonomian global. IMF    bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya mampu mencapai 3%    di tahun 2019.
&amp;nbsp;
Kondisi global tersebut pun berimbas pada ekonomi domestik, ditandai   dengan perlambatan pertumbuhan laju ekspor. Menurutnya, pertumbuhan   ekspor yang negatif terjadi di 62 negara dari 95 negara terbesar di   dunia.

&quot;Realitasnya mau suka atau enggak suka, pertumbuhan ekonomi dunia memang sedang melambat,&quot; katanya di kesempatan yang sama.

Meski demikian, Iskandar menilai kinerja perbankan tetap sehat   ditengah kondisi pelemahan ekonomi. Tercermin dari rasio kecukupan modal   (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Agustus 2019 yang cukup tinggi   sebesar 23,48%, serta pertumbuhan kredit perbankan sebesar 8,59%.

&quot;Melihat angka CAR, kemudian NPL yang 2,6%, itu menurut saya sangat menunjukkan sisi kesehatan perbankan,&quot; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu penyebab naiknya risiko kredit macet atau non performing loan (NPL) di industri jasa keuangan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) peningkatan rasio NPL secara gross dari Juli 2019 sebesar 2,55% menjadi 2,60% pada Agustus 2019.

Adapun pada kuartal III-2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat hanya sebesar 5,02%. Realiasi itu melambat dari posisi kuartal III-2018 yang tumbuh 5,17%, maupun dari kuartal II-2019 yang tumbuh 5,02%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi Melambat, Menko Airlangga: Masih Lebih Baik dari Malaysia
Direktur Utama Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu menyatakan, berdasarkan catatan Pefindo porsi debitur dengan tingkat risiko tinggi dan sangat tinggi mencapai 46%, sementara debitur dengan risiko kredit rendah dan sangat rendah porsinya sebesar 54%.

Dia menjelaskan, kondisi risiko peningkatan kredit macet tersebut memang tak lepas dari kondisi perlambatan ekonomi. Namun, tetap terdapat kontribusi dari karakter debitur tersebut dalam membayarkan kewajiban kreditnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,02%, Jokowi: Patut Kita Syukuri
&quot;Secara eksternal bisa seperti itu (perlambatan pertumbuhan ekonomi), mengakibatkan debitur tidak mampu atau terlambat bayar. Tapi secara internal perlu dilihat bahwa kemampuan atau behaviour dari masing-masing debitur,&quot; ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/11/2019).
&amp;nbsp;Dia menjelaskan, saat ini risiko kredit macet tertinggi ada pada Bank  Perkreditan Rakyat (BPR) sebesar 7%, sementara untuk bank umum dan bank  syariah berada di kisaran 2%-3%. Oleh sebab itu, Pefindo meminta untuk  industri jasa keuangan menggunakan kredit skoring guna memitigasi risiko  kredit macet.

Menurutnya, dari sisi perbankan yang menggunakan jasa kredit skoring  dari Pefindo memiliki tingkat kredit macet yang rendah yakni di bawah 2%.  Sebaliknya, perbankan yang tidak menggunakan jasa kredit skoring  tingkal NPL-nya di atas 2%. Saat ini ada 223 lembaga jasa keuangan yang  terdaftar sebagai anggota Pefindo.

&quot;Kami sudah sampaikan di awal tahun ini, agar perbankan atau lembaga  pembiayaan lebih berhati-hati menyalurkan kredit karena kami melihat  risiko kredit cukup tinggi. Itu kami buktikan sekarang risiko kredit  masih tinggi untuk debitur yang risiko tinggi dan sangat tinggi,&quot;  jelasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan    Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, perlambatan    ekonomi domestik tidak terlepas dari kondisi perekonomian global. IMF    bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya mampu mencapai 3%    di tahun 2019.
&amp;nbsp;
Kondisi global tersebut pun berimbas pada ekonomi domestik, ditandai   dengan perlambatan pertumbuhan laju ekspor. Menurutnya, pertumbuhan   ekspor yang negatif terjadi di 62 negara dari 95 negara terbesar di   dunia.

&quot;Realitasnya mau suka atau enggak suka, pertumbuhan ekonomi dunia memang sedang melambat,&quot; katanya di kesempatan yang sama.

Meski demikian, Iskandar menilai kinerja perbankan tetap sehat   ditengah kondisi pelemahan ekonomi. Tercermin dari rasio kecukupan modal   (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Agustus 2019 yang cukup tinggi   sebesar 23,48%, serta pertumbuhan kredit perbankan sebesar 8,59%.

&quot;Melihat angka CAR, kemudian NPL yang 2,6%, itu menurut saya sangat menunjukkan sisi kesehatan perbankan,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
