<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Minta Pesantren Go Digital Perluas Pangsa Pasar Industri Syariah</title><description>BI mendorong seluruh pesantren Indonesia bisa memanfaatkan perkembangan  teknologi dalam memasarkan produk di unit usahanya alias go digital</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/12/20/2128968/bi-minta-pesantren-go-digital-perluas-pangsa-pasar-industri-syariah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/12/20/2128968/bi-minta-pesantren-go-digital-perluas-pangsa-pasar-industri-syariah"/><item><title>BI Minta Pesantren Go Digital Perluas Pangsa Pasar Industri Syariah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/12/20/2128968/bi-minta-pesantren-go-digital-perluas-pangsa-pasar-industri-syariah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/12/20/2128968/bi-minta-pesantren-go-digital-perluas-pangsa-pasar-industri-syariah</guid><pubDate>Selasa 12 November 2019 18:50 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/12/20/2128968/bi-minta-pesantren-go-digital-perluas-pangsa-pasar-industri-syariah-eKd5kR72Su.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia. Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/12/20/2128968/bi-minta-pesantren-go-digital-perluas-pangsa-pasar-industri-syariah-eKd5kR72Su.jpg</image><title>Bank Indonesia. Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mendorong seluruh pesantren Indonesia bisa memanfaatkan perkembangan teknologi dalam memasarkan produk di unit usahanya alias go digital. Mengingat, Indonesia merupakan pasar yang besar untuk produk-produk syariah.
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyatakan, pada masa kini digitalisasi telah menyebabkan perubahan besar di berbagai aspek kehidupan, mulai dari komunikasi, hubungan sosial, hingga kepada perilaku ekonomi. Oleh sebab itu, pesantren harus bisa mengambil peluang dari perubahan tersebut.
Baca Juga: Mengenal 8 Pahlawan yang Ada di Uang Kertas Rupiah
&quot;Pentingnya peran dari pesantren untuk bisa memanfaatkan teknologi dan informasi dengan baik, terutama memasuki era yang sudah serba digital seperti sekarang,&quot; katanya dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (12/11/2019).
Potensi pasar yang besar melalui digitalisasi, tercermin dari total populasi Indonesia yang sekitar 268 juta jiwa penduduk. Di mana sebanyak 56% di antaranya, atau 150 juta orang merupakan pengguna internet aktif.

Dari 150 juta orang tersebut, sebanyak 91% menggunakan smartphone dan lebih dari 10% sudah rutin memanfaatkannya untuk transaksi secara online. Bahkan, pada salah salah satu riset memprediksi jika market size ekonomi digital Indonesia pada akhir tahun 2019 akan mencapai USD40 miliar atau setara Rp560 triliun.
&quot;Kemudian pada tahun 2025 ekonomi digital Indonesia berpotensi mencapai USD100 miliar atau Rp1.400 triliun,&quot; jelasnya.Di sisi lain, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk  muslim terbesar di dunia, tentunya memiliki preferensi yang tinggi  terhadap produk-produk bersertifikat halal. Sehingga, menengok potensi  ekonomi digital dan pasar produk syariah di Indonesia tersebut, sangat  perlu dimanfaatkan oleh pesantren.
&quot;Persiapan yang matang justru harus dilakukan dalam mengantisipasi era baru ekonomi digital,&quot; imbuh dia.
Baca Juga: Ziarah ke Makam Pahlawan, Gubernur BI Ajak Teruskan Perjuangan
Meski demikian, Dody menyadari adaptasi ke sistem digitalisasi tentu  tidak mudah, apalagi jika tidak ditunjang dengan infrastruktur teknologi  dan aksesibilitas layanan publik yang memadai. Namun demikian, bukan  berarti itu adalah hal yang mustahil dilakukan karena dapat didorong  dengan penguatan sinergi di kalangan pesantren.

Keberadaan sekitar 29 ribu pondok pesantren dan 5 juta orang santri,  menurutnya, menjadi modal besar pesantren untuk membangun ekosistem  digital secara internal. Bahkan lebih jauh dari itu, ekosistem digital  antar pesantren tidak harus selalu diarahkan pada kegiatan ekonomi,  namun juga bisa dimanfaatkan dalam rangka menunjang kegiatan  pembelajaran maupun koordinasi antar pesantren.
&quot;Targetnya, pesantren tidak hanya menjadi obyek dan pasar dalam era  ekonomi digital yang berkembang pesat seperti sekarang ini. Tetapi juga  menjadi subyek atau penggerak utama dalam iklim ekonomi digital,  terutama pada lingkup produk dan layanan berbasis syariah,&quot; kata Dody.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mendorong seluruh pesantren Indonesia bisa memanfaatkan perkembangan teknologi dalam memasarkan produk di unit usahanya alias go digital. Mengingat, Indonesia merupakan pasar yang besar untuk produk-produk syariah.
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyatakan, pada masa kini digitalisasi telah menyebabkan perubahan besar di berbagai aspek kehidupan, mulai dari komunikasi, hubungan sosial, hingga kepada perilaku ekonomi. Oleh sebab itu, pesantren harus bisa mengambil peluang dari perubahan tersebut.
Baca Juga: Mengenal 8 Pahlawan yang Ada di Uang Kertas Rupiah
&quot;Pentingnya peran dari pesantren untuk bisa memanfaatkan teknologi dan informasi dengan baik, terutama memasuki era yang sudah serba digital seperti sekarang,&quot; katanya dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (12/11/2019).
Potensi pasar yang besar melalui digitalisasi, tercermin dari total populasi Indonesia yang sekitar 268 juta jiwa penduduk. Di mana sebanyak 56% di antaranya, atau 150 juta orang merupakan pengguna internet aktif.

Dari 150 juta orang tersebut, sebanyak 91% menggunakan smartphone dan lebih dari 10% sudah rutin memanfaatkannya untuk transaksi secara online. Bahkan, pada salah salah satu riset memprediksi jika market size ekonomi digital Indonesia pada akhir tahun 2019 akan mencapai USD40 miliar atau setara Rp560 triliun.
&quot;Kemudian pada tahun 2025 ekonomi digital Indonesia berpotensi mencapai USD100 miliar atau Rp1.400 triliun,&quot; jelasnya.Di sisi lain, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk  muslim terbesar di dunia, tentunya memiliki preferensi yang tinggi  terhadap produk-produk bersertifikat halal. Sehingga, menengok potensi  ekonomi digital dan pasar produk syariah di Indonesia tersebut, sangat  perlu dimanfaatkan oleh pesantren.
&quot;Persiapan yang matang justru harus dilakukan dalam mengantisipasi era baru ekonomi digital,&quot; imbuh dia.
Baca Juga: Ziarah ke Makam Pahlawan, Gubernur BI Ajak Teruskan Perjuangan
Meski demikian, Dody menyadari adaptasi ke sistem digitalisasi tentu  tidak mudah, apalagi jika tidak ditunjang dengan infrastruktur teknologi  dan aksesibilitas layanan publik yang memadai. Namun demikian, bukan  berarti itu adalah hal yang mustahil dilakukan karena dapat didorong  dengan penguatan sinergi di kalangan pesantren.

Keberadaan sekitar 29 ribu pondok pesantren dan 5 juta orang santri,  menurutnya, menjadi modal besar pesantren untuk membangun ekosistem  digital secara internal. Bahkan lebih jauh dari itu, ekosistem digital  antar pesantren tidak harus selalu diarahkan pada kegiatan ekonomi,  namun juga bisa dimanfaatkan dalam rangka menunjang kegiatan  pembelajaran maupun koordinasi antar pesantren.
&quot;Targetnya, pesantren tidak hanya menjadi obyek dan pasar dalam era  ekonomi digital yang berkembang pesat seperti sekarang ini. Tetapi juga  menjadi subyek atau penggerak utama dalam iklim ekonomi digital,  terutama pada lingkup produk dan layanan berbasis syariah,&quot; kata Dody.</content:encoded></item></channel></rss>
