<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Kebutuhan Co-Living Terus Meningkat, Saatnya Pengembang Melantai di Bursa?</title><description>Tren industri co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan di sektor properti.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/21/278/2132681/kebutuhan-co-living-terus-meningkat-saatnya-pengembang-melantai-di-bursa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/21/278/2132681/kebutuhan-co-living-terus-meningkat-saatnya-pengembang-melantai-di-bursa"/><item><title>   Kebutuhan Co-Living Terus Meningkat, Saatnya Pengembang Melantai di Bursa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/21/278/2132681/kebutuhan-co-living-terus-meningkat-saatnya-pengembang-melantai-di-bursa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/21/278/2132681/kebutuhan-co-living-terus-meningkat-saatnya-pengembang-melantai-di-bursa</guid><pubDate>Kamis 21 November 2019 13:54 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/21/278/2132681/kebutuhan-co-living-terus-meningkat-saatnya-pengembang-melantai-di-bursa-sKtux6dI3T.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengembang Melantai di Bursa? (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/21/278/2132681/kebutuhan-co-living-terus-meningkat-saatnya-pengembang-melantai-di-bursa-sKtux6dI3T.jpg</image><title>Pengembang Melantai di Bursa? (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Tren industri co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan di sektor properti. Khususnya pada bisnis residensial dengan harga dibawah Rp800 juta dan memiliki pendapatan berulang atau tetap seperti passive income setiap bulannya.
Baca Juga: MNC Sekuritas Sabet Penghargaan IDX Islamic Challenge 2019
Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan kebutuhan masyarakat akan hunian seperti hotel maupun properti berkonsep co-living masih sangat besar. Apalagi, angka backlog atau defisit ketersediaan rumah masih sangat tinggi yang mana jumlahnya mencapai 300-400 ribu unit per tahun.

&amp;ldquo;Perusahaan properti yang memiliki prospek bagus antara lain properti di sektor industri, berkaitan dengan emiten properti yang mendapatkan pendapatan berulang seperti hotel, mal dan konsep co-living karena lebih stabil dibanding yang hanya khusus jual putus,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, Kamis (21/11/2019).
Baca Juga: Bidik Milenial, MNC Sekuritas Buka Galeri Investasi di Karawang
Edwin menambahkan apabila dilihat secara rata-rata year to date kinerja emiten properti terbilang masih lumayan bagus. Namun, hal itu juga harus didasari oleh kinerja fundamental perusahaan tersebut.

Apabila ada perusahaan properti berencana melakukan IPO, saat ini dinilai sebagai waktu yang tepat. Selain tren suku bunga pinjaman terus menurun, loan to value (LTV) diperlonggar dan asing makin mudah memiliki aset properti di Indonesia.

&amp;ldquo;Sektor properti kedepannya diperkirakan akan bergairah. Kalau mau IPO saat ini, sangat tepat karena kondisi ekonomi sedang stabil,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/08/57972/295794_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Salah satu aspek keberhasilan dari perusahaan properti yang ingin IPO  sebenarnya ditentukan bagaimana cara emiten tersebut mendapatkan  pendapatan atau revenue saat kondisi properti sekarang sedang lesu.

Selain itu juga, investor melihat valuasi, besaran size IPO,  portofolio proyek properti yang berada di pusat keramaian hingga harga  yang dimainkan oleh pelaku industri dalam memasarkan produknya.

&amp;ldquo;Untuk hunian co-living kalau berada di daerah industri, wilayah  perdagangan, dekat sekolah atau universitas itu sangat bagus. Jadi  memang beberapa emiten fokus bangun properti di industri, perdagangan  dan bisnis dan untuk sekolah apalagi kalau dia juga dekat dengan sarana  transportasi kereta api atau Transit Oriented Development (TOD) karena  strategis untuk mobilitas,&amp;rdquo; katanya.

Sementara itu, CEO PT Hoppor International atau Kamar Keluarga  Charles Kwok mengatakan, dalam menjalankan bisnis co-living perlu lima  pilar bisnis yang dikembangkan. Pertama, pilar KK BOT (build operate  transfer), dimana pihaknya membantu pemilik tanah membangun properti dan  nantinya menggunakan sistem bagi hasil.
</description><content:encoded>JAKARTA - Tren industri co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan di sektor properti. Khususnya pada bisnis residensial dengan harga dibawah Rp800 juta dan memiliki pendapatan berulang atau tetap seperti passive income setiap bulannya.
Baca Juga: MNC Sekuritas Sabet Penghargaan IDX Islamic Challenge 2019
Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan kebutuhan masyarakat akan hunian seperti hotel maupun properti berkonsep co-living masih sangat besar. Apalagi, angka backlog atau defisit ketersediaan rumah masih sangat tinggi yang mana jumlahnya mencapai 300-400 ribu unit per tahun.

&amp;ldquo;Perusahaan properti yang memiliki prospek bagus antara lain properti di sektor industri, berkaitan dengan emiten properti yang mendapatkan pendapatan berulang seperti hotel, mal dan konsep co-living karena lebih stabil dibanding yang hanya khusus jual putus,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta, Kamis (21/11/2019).
Baca Juga: Bidik Milenial, MNC Sekuritas Buka Galeri Investasi di Karawang
Edwin menambahkan apabila dilihat secara rata-rata year to date kinerja emiten properti terbilang masih lumayan bagus. Namun, hal itu juga harus didasari oleh kinerja fundamental perusahaan tersebut.

Apabila ada perusahaan properti berencana melakukan IPO, saat ini dinilai sebagai waktu yang tepat. Selain tren suku bunga pinjaman terus menurun, loan to value (LTV) diperlonggar dan asing makin mudah memiliki aset properti di Indonesia.

&amp;ldquo;Sektor properti kedepannya diperkirakan akan bergairah. Kalau mau IPO saat ini, sangat tepat karena kondisi ekonomi sedang stabil,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/08/57972/295794_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Salah satu aspek keberhasilan dari perusahaan properti yang ingin IPO  sebenarnya ditentukan bagaimana cara emiten tersebut mendapatkan  pendapatan atau revenue saat kondisi properti sekarang sedang lesu.

Selain itu juga, investor melihat valuasi, besaran size IPO,  portofolio proyek properti yang berada di pusat keramaian hingga harga  yang dimainkan oleh pelaku industri dalam memasarkan produknya.

&amp;ldquo;Untuk hunian co-living kalau berada di daerah industri, wilayah  perdagangan, dekat sekolah atau universitas itu sangat bagus. Jadi  memang beberapa emiten fokus bangun properti di industri, perdagangan  dan bisnis dan untuk sekolah apalagi kalau dia juga dekat dengan sarana  transportasi kereta api atau Transit Oriented Development (TOD) karena  strategis untuk mobilitas,&amp;rdquo; katanya.

Sementara itu, CEO PT Hoppor International atau Kamar Keluarga  Charles Kwok mengatakan, dalam menjalankan bisnis co-living perlu lima  pilar bisnis yang dikembangkan. Pertama, pilar KK BOT (build operate  transfer), dimana pihaknya membantu pemilik tanah membangun properti dan  nantinya menggunakan sistem bagi hasil.
</content:encoded></item></channel></rss>
