<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi Sebut Ekonomi RI Tempati Posisi Ketiga di G20, di Bawah India dan China</title><description>Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kondisi lebih baik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/28/320/2135514/jokowi-sebut-ekonomi-ri-tempati-posisi-ketiga-di-g20-di-bawah-india-dan-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/11/28/320/2135514/jokowi-sebut-ekonomi-ri-tempati-posisi-ketiga-di-g20-di-bawah-india-dan-china"/><item><title>Jokowi Sebut Ekonomi RI Tempati Posisi Ketiga di G20, di Bawah India dan China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/11/28/320/2135514/jokowi-sebut-ekonomi-ri-tempati-posisi-ketiga-di-g20-di-bawah-india-dan-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/11/28/320/2135514/jokowi-sebut-ekonomi-ri-tempati-posisi-ketiga-di-g20-di-bawah-india-dan-china</guid><pubDate>Kamis 28 November 2019 14:12 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/28/320/2135514/jokowi-sebut-ekonomi-ri-tempati-posisi-ketiga-di-g20-di-bawah-india-dan-china-TKXsKJoAvb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/28/320/2135514/jokowi-sebut-ekonomi-ri-tempati-posisi-ketiga-di-g20-di-bawah-india-dan-china-TKXsKJoAvb.jpg</image><title>Presiden Jokowi (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, Indonesia dalam kondisi lebih baik.
Baca Juga: Instruksi Jokowi, Ekonomi RI Jangan Tertekan Perang Dagang
Jokowi menyebutkan, kalau di negara-negara anggota Group 20 (G20), pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada posisi ranking yang ketiga.

&amp;ldquo;Ini yang patut kita syukuri dan yang sering kita lupakan. Nomor 3, di bawah India dan China, baru Indonesia. Sehingga rasa optimisme ini harus terus kita kembangkan, jangan sampai kita itu selalu berada pada posisi kelihatan tertekan,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi seperti dikutip setkab, Jakarta, Kamis (28/11/2019).
Baca Juga: Presiden Jokowi Targetkan Defisit Transaksi Berjalan Selesai dalam 3 Tahun
Menurut Presiden, semua negara sekarang ini tertekan oleh kondisi eksternal, pertumbuhan ekonomi global, perang dagang yang tidak semakin jelas, masalah-masalah yang ada di Amerika Latin, masalah Brexit, masalah-masalah yang ada di Timur Tengah, di dekat Indonesia ada masalah Hong Kong yang tidak selesai-selesai.

Tapi, Presiden meyakini, kalau berkonsentrasi menghadapi tantangan-tantangan internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin baik. Pertumbuhan ekonomi tahun ini, diakui Presiden, mungkin masih berada 5,04% atau 5,05%.
&amp;nbsp;Sementara tahun depan, lanjut Presiden, dengan kondisi ekonomi global  yang menurut Bank Dunia, menurut IMF juga kemungkinan bisa turun lagi  karena persoalan-persoalan yang ada belum bisa diselesaikan. Presiden  Jokowi setuju fiskal memang harus prudent, karena APBN itu hanya  mempengaruhi kurang lebih 14% dari ekonomi yang dimiliki.

&amp;ldquo;Artinya apa? 86% baik yang itu namanya perputaran uang, baik itu  yang namanya ekonomi itu berada di sektor swasta yang didalamnya  termasuk BUMN. Artinya apa? APBN itu hanya memacu, memicu, men-trigger,  menstimulasi agar ekonomi kita bisa bergerak. Tetapi 86% yang menentukan  adalah swasta dan BUMN,&amp;rdquo; jelas Presiden Jokowi.

Sementara terkait rasio defisit kita terhadap PDB, menurut Presiden,  pemerintah juga sangat hati-hati kalau dibandingkan dengan negara-negara  lain. Tahun ini di dalam APBN, sambung Presiden, pemerinah memasang  angka di 1,9% tetapi mungkin nanti jatuhnya di angka 2% lebih sedikit.

&amp;ldquo;Tahun depan kita memasang di angka 1,7% tetapi mungkin juga  bergerak, tetapi paling tidak itu masih semuanya masih prudent di bawah  angka 3% atau 2,5%,&amp;rdquo; ujar Presiden.

Kemudian inflasi, menurut Presiden, selama 5 tahun ini dapat dijaga  pada posisi kurang lebih di angka 3,5%. Sebelumnya, sambung Presiden,  kalau dilihat 8% atau 9% angka inflasi Indonesia.

&amp;ldquo;Ini terus harus kita jaga bersama-sama, terutama di Bank Indonesia dalam menjaga inflasi ini,&amp;rdquo; tutur Presiden Jokowi.
&amp;nbsp;Kemudian tingkat kemiskinan, menurut Presiden, ini tantangan besar.   Angka kemiskinan, menurut Presiden, 5 tahun yang lalu berada di angka   11,2% kemudian bisa turun sekarang ini pada angka kurang lebih   9,4%-9,6%.

Sedangkan tingkat ketimpangan, gini rasio, juga bisa kita stop dan   kita turunkan meskipun juga tidak bisa drastis. Presiden Jokowi   menyampaikan, dari angka 0,408 di 2015 bisa kita turunkan berada pada   angka 0,38.

&amp;ldquo;Ini terus akan kita jaga agara berkurang, berkurang, berkurang ketimpangan kita,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi.

Program 5 Tahun Ke Depan

Untuk lima tahun ke depan, menurut Presiden, prioritas pertama yang   dikerjakan pemerintah adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia   mengingatkan, ini adalah hal yang paling sulit, tidak gampang   menyelesaikan memperbaiki masalah SDM ini.

Setelah 5 tahun yang lalu bekerja keras fokus di pembangunan   infrastruktur dan pada 5 tahun ke depan tetap dilanjutkan, menurut   Presiden, fokusnya adalah di pembangunan sumber daya manusia melanjutkan   pembangunan infrastruktur, kemudian penyederhanaan regulasi yang   nantinya akan dikerjakan dengan omnibus law, kemudian penyederhanaan   birokrasi, dan yang terakhir adalah transformasi ekonomi.

Yang terberat di bidang pembangunan sumber daya manusia sesuai   laporan dari Bank Dunia, menurut Presiden, adalah 54% dari pekerja   dulunya adalah balita yang mengalami stunting.

&amp;ldquo;Ini sebuah angka yang sangat besar sekali. Oleh sebab itu, stunting   menjadi program prioritas kita dalam pembangunan sumber daya manusia,&amp;rdquo;   kata Presiden seraya menambahkan prevalensi stunting anak balita kita   masih tinggi. Dulu waktu pemerintah masuk, berada pada angka 37%, Selama   5 tahun bisa kita turunkan menjadi kurang lebih 27%.
Pemerintah, lanjut Presiden, menargetkan Tapi 5 tahun ke depan angka    prevalensi stunting berada pada 19%. &amp;ldquo;Bukan 19% tapi 14% karena ini    kalau dikerjakan secara fokus angka itu bukan sesuatu yang sulit untuk    kita dapatkan. Tetapi memang perlu kerja keras dan fokus, detail untuk    menajam, menusuk pada masalah-masalah yang memang harus kita  kerjakan,&amp;rdquo;   jelas Presiden Jokowi.

Kemudian ini yang berpuluh tahun tidak pernah bisa diselesaikan    adalah agenda dalam menurunkan current account deficit. Tidak pernah    selesai. Tetapi Presiden meyakini dengan transformasi ekonomi yang    dikerjakan, pemerintah akan bisa menyelesaikan ini dalam waktu 3,    maksimal 4 tahun.

Frame work untuk untuk transformasi ekonomi dalam rangka    menyelesaikan current account deficit, menurut Presiden, selalu    bertahun-tahun ketergantungan yang namanya komoditas, baik itu    quantity-nya maupun harganya.

Harga komoditas, lanjut Presiden, selalu membayangi ekonomi karena    turunnya harga komoditas pasti akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,    Kemudian impor yang besar atas energi, terutama minyak dan gas, kemudian    barang-barang modal dan bahan baku.

Sebetulnya, menurut Presiden, barang-barang modal dan bahan baku juga    enggak ada masalah kalau itu dipakai lagi untuk dikeluarkan sebagai    barang-barang ekspor, produk-produk ekspor. Tetapi banyak juga, sambung    Presiden, dari bahan baku atau barang modal ini kemudian masuk untuk    konsumsi domestik, sehingga mempengaruhi defisit transaksi berjalan  yang   juga mempengaruhi volatilitas dari rupiah dan pertumbuhan  ekonomi.

&amp;ldquo;Oleh sebab itu, ke depan kita memiliki agenda besar yaitu    meningkatkan ekspor dan produk substitusi impor. Dua hal ini yang    menjadi agenda yang berkaitan dengan ekspor, dengan impor,&amp;rdquo; tegas    Presiden Jokowi.

Kemudian, lanjut Presiden, pemerintah akan menarik devisa    sebanyak-banyaknya. Ini nanti akan dilakukan lewat pengembangan    destinasi wisata, dan tentu saja tugas besar dari BKPM (Badan Koordinasi    Penanaman Modal) adalah menarik investasi langsung atau FDI yang ini    juga bukan sesuatu yang gampang karena semua negara sekarang ini    berbondong-bondong ingin menarik FDI supaya masuk ke negara    masing-masing.
</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, Indonesia dalam kondisi lebih baik.
Baca Juga: Instruksi Jokowi, Ekonomi RI Jangan Tertekan Perang Dagang
Jokowi menyebutkan, kalau di negara-negara anggota Group 20 (G20), pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada posisi ranking yang ketiga.

&amp;ldquo;Ini yang patut kita syukuri dan yang sering kita lupakan. Nomor 3, di bawah India dan China, baru Indonesia. Sehingga rasa optimisme ini harus terus kita kembangkan, jangan sampai kita itu selalu berada pada posisi kelihatan tertekan,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi seperti dikutip setkab, Jakarta, Kamis (28/11/2019).
Baca Juga: Presiden Jokowi Targetkan Defisit Transaksi Berjalan Selesai dalam 3 Tahun
Menurut Presiden, semua negara sekarang ini tertekan oleh kondisi eksternal, pertumbuhan ekonomi global, perang dagang yang tidak semakin jelas, masalah-masalah yang ada di Amerika Latin, masalah Brexit, masalah-masalah yang ada di Timur Tengah, di dekat Indonesia ada masalah Hong Kong yang tidak selesai-selesai.

Tapi, Presiden meyakini, kalau berkonsentrasi menghadapi tantangan-tantangan internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin baik. Pertumbuhan ekonomi tahun ini, diakui Presiden, mungkin masih berada 5,04% atau 5,05%.
&amp;nbsp;Sementara tahun depan, lanjut Presiden, dengan kondisi ekonomi global  yang menurut Bank Dunia, menurut IMF juga kemungkinan bisa turun lagi  karena persoalan-persoalan yang ada belum bisa diselesaikan. Presiden  Jokowi setuju fiskal memang harus prudent, karena APBN itu hanya  mempengaruhi kurang lebih 14% dari ekonomi yang dimiliki.

&amp;ldquo;Artinya apa? 86% baik yang itu namanya perputaran uang, baik itu  yang namanya ekonomi itu berada di sektor swasta yang didalamnya  termasuk BUMN. Artinya apa? APBN itu hanya memacu, memicu, men-trigger,  menstimulasi agar ekonomi kita bisa bergerak. Tetapi 86% yang menentukan  adalah swasta dan BUMN,&amp;rdquo; jelas Presiden Jokowi.

Sementara terkait rasio defisit kita terhadap PDB, menurut Presiden,  pemerintah juga sangat hati-hati kalau dibandingkan dengan negara-negara  lain. Tahun ini di dalam APBN, sambung Presiden, pemerinah memasang  angka di 1,9% tetapi mungkin nanti jatuhnya di angka 2% lebih sedikit.

&amp;ldquo;Tahun depan kita memasang di angka 1,7% tetapi mungkin juga  bergerak, tetapi paling tidak itu masih semuanya masih prudent di bawah  angka 3% atau 2,5%,&amp;rdquo; ujar Presiden.

Kemudian inflasi, menurut Presiden, selama 5 tahun ini dapat dijaga  pada posisi kurang lebih di angka 3,5%. Sebelumnya, sambung Presiden,  kalau dilihat 8% atau 9% angka inflasi Indonesia.

&amp;ldquo;Ini terus harus kita jaga bersama-sama, terutama di Bank Indonesia dalam menjaga inflasi ini,&amp;rdquo; tutur Presiden Jokowi.
&amp;nbsp;Kemudian tingkat kemiskinan, menurut Presiden, ini tantangan besar.   Angka kemiskinan, menurut Presiden, 5 tahun yang lalu berada di angka   11,2% kemudian bisa turun sekarang ini pada angka kurang lebih   9,4%-9,6%.

Sedangkan tingkat ketimpangan, gini rasio, juga bisa kita stop dan   kita turunkan meskipun juga tidak bisa drastis. Presiden Jokowi   menyampaikan, dari angka 0,408 di 2015 bisa kita turunkan berada pada   angka 0,38.

&amp;ldquo;Ini terus akan kita jaga agara berkurang, berkurang, berkurang ketimpangan kita,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi.

Program 5 Tahun Ke Depan

Untuk lima tahun ke depan, menurut Presiden, prioritas pertama yang   dikerjakan pemerintah adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia   mengingatkan, ini adalah hal yang paling sulit, tidak gampang   menyelesaikan memperbaiki masalah SDM ini.

Setelah 5 tahun yang lalu bekerja keras fokus di pembangunan   infrastruktur dan pada 5 tahun ke depan tetap dilanjutkan, menurut   Presiden, fokusnya adalah di pembangunan sumber daya manusia melanjutkan   pembangunan infrastruktur, kemudian penyederhanaan regulasi yang   nantinya akan dikerjakan dengan omnibus law, kemudian penyederhanaan   birokrasi, dan yang terakhir adalah transformasi ekonomi.

Yang terberat di bidang pembangunan sumber daya manusia sesuai   laporan dari Bank Dunia, menurut Presiden, adalah 54% dari pekerja   dulunya adalah balita yang mengalami stunting.

&amp;ldquo;Ini sebuah angka yang sangat besar sekali. Oleh sebab itu, stunting   menjadi program prioritas kita dalam pembangunan sumber daya manusia,&amp;rdquo;   kata Presiden seraya menambahkan prevalensi stunting anak balita kita   masih tinggi. Dulu waktu pemerintah masuk, berada pada angka 37%, Selama   5 tahun bisa kita turunkan menjadi kurang lebih 27%.
Pemerintah, lanjut Presiden, menargetkan Tapi 5 tahun ke depan angka    prevalensi stunting berada pada 19%. &amp;ldquo;Bukan 19% tapi 14% karena ini    kalau dikerjakan secara fokus angka itu bukan sesuatu yang sulit untuk    kita dapatkan. Tetapi memang perlu kerja keras dan fokus, detail untuk    menajam, menusuk pada masalah-masalah yang memang harus kita  kerjakan,&amp;rdquo;   jelas Presiden Jokowi.

Kemudian ini yang berpuluh tahun tidak pernah bisa diselesaikan    adalah agenda dalam menurunkan current account deficit. Tidak pernah    selesai. Tetapi Presiden meyakini dengan transformasi ekonomi yang    dikerjakan, pemerintah akan bisa menyelesaikan ini dalam waktu 3,    maksimal 4 tahun.

Frame work untuk untuk transformasi ekonomi dalam rangka    menyelesaikan current account deficit, menurut Presiden, selalu    bertahun-tahun ketergantungan yang namanya komoditas, baik itu    quantity-nya maupun harganya.

Harga komoditas, lanjut Presiden, selalu membayangi ekonomi karena    turunnya harga komoditas pasti akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,    Kemudian impor yang besar atas energi, terutama minyak dan gas, kemudian    barang-barang modal dan bahan baku.

Sebetulnya, menurut Presiden, barang-barang modal dan bahan baku juga    enggak ada masalah kalau itu dipakai lagi untuk dikeluarkan sebagai    barang-barang ekspor, produk-produk ekspor. Tetapi banyak juga, sambung    Presiden, dari bahan baku atau barang modal ini kemudian masuk untuk    konsumsi domestik, sehingga mempengaruhi defisit transaksi berjalan  yang   juga mempengaruhi volatilitas dari rupiah dan pertumbuhan  ekonomi.

&amp;ldquo;Oleh sebab itu, ke depan kita memiliki agenda besar yaitu    meningkatkan ekspor dan produk substitusi impor. Dua hal ini yang    menjadi agenda yang berkaitan dengan ekspor, dengan impor,&amp;rdquo; tegas    Presiden Jokowi.

Kemudian, lanjut Presiden, pemerintah akan menarik devisa    sebanyak-banyaknya. Ini nanti akan dilakukan lewat pengembangan    destinasi wisata, dan tentu saja tugas besar dari BKPM (Badan Koordinasi    Penanaman Modal) adalah menarik investasi langsung atau FDI yang ini    juga bukan sesuatu yang gampang karena semua negara sekarang ini    berbondong-bondong ingin menarik FDI supaya masuk ke negara    masing-masing.
</content:encoded></item></channel></rss>
