<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Akademisi, Pengusaha hingga Pemerintah Kumpul Bareng Bahas Ekonomi Inklusif</title><description>Pada dasarnya semua pihak menegaskan pentingnya ekonomi inklusif sebagai usaha untuk pemenuhan kesejahteraan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/20/2138492/akademisi-pengusaha-hingga-pemerintah-kumpul-bareng-bahas-ekonomi-inklusif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/20/2138492/akademisi-pengusaha-hingga-pemerintah-kumpul-bareng-bahas-ekonomi-inklusif"/><item><title>Akademisi, Pengusaha hingga Pemerintah Kumpul Bareng Bahas Ekonomi Inklusif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/20/2138492/akademisi-pengusaha-hingga-pemerintah-kumpul-bareng-bahas-ekonomi-inklusif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/20/2138492/akademisi-pengusaha-hingga-pemerintah-kumpul-bareng-bahas-ekonomi-inklusif</guid><pubDate>Kamis 05 Desember 2019 20:38 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/05/20/2138492/akademisi-pengusaha-hingga-pemerintah-kumpul-bareng-bahas-ekonomi-inklusif-ikMl7dK9em.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bali Democracy Forum. (Foto: Okezone.com/Kemenlu)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/05/20/2138492/akademisi-pengusaha-hingga-pemerintah-kumpul-bareng-bahas-ekonomi-inklusif-ikMl7dK9em.jpg</image><title>Bali Democracy Forum. (Foto: Okezone.com/Kemenlu)</title></images><description>JAKARTA - Bali Demokrasi Forum (BDF) ke-12 mengangkat tema besar &amp;rsquo;Demokrasi dan Inklusivitas dan untuk pertama kalinya menyelenggarakan sebuah dialog khusus di bidang Bisnis dan Ekonomi. Dialog bisnis ini mengusung tema Ekonomi Inklusif dan menghadirkan peserta dari sektor pemerintah, swasta, himpunan pengusaha, organisasi internasional dan akademisi.
Baca Juga: Kepemimpinan Perempuan Akan Jadi Salah Satu Fokus Bahasan BDF XII
Dialog Ekonomi Inklusif ini menghadirkan sebelas orang panelis seperti Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kemenko Perekonomian RI, Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen, wakil Kadin. Kemudain ada juga wakil dari Traveloka, Bukalapak, CEO Genashtim Malaysia, Direktur Micro-Finance Center BRI, wakil Bank Indonesia, UNDP Resident Representative, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

&amp;ldquo;Demokrasi tanpa pemenuhan kebutuhan ekonomi akan sulit berkembang,&amp;rdquo; ujar Deputi Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir, dalam keterangannya, Kamis (12/5/2019).
Pada dasarnya semua pihak menegaskan pentingnya ekonomi inklusif sebagai usaha untuk pemenuhan kesejahteraan.
Baca Juga: Pensiun Wapres, Jusuf Kalla Bosan Setiap Hari Terasa Sabtu
Dialog dalam BDF yang mengangkat tema ekonomi inklusif dianggap tepat mengingat munculnya gejolak akibat ketimpangan ekonomi di sejumlah negara dan menurunnya pertumbuhan ekonomi global.
Para pembicara menyampaikan berbagai tantangan dan hambatan dalam  perwujudan ekonomi inklusif, antara lain jangkauan geografis, akses  pendidikan yang terbatas, meningkatnya ketimpangan, serta pembangunan  yang cenderung hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi. Panel  Ekonomi Inklusif ini juga menyimpulkan saran-saran untuk terwujudnya  ekonomi yang inklusif.
Beberapa saran tersebut yaitu perlunya pemerataan pembangunan  infrastruktur di daerah non-pusat ekonomi, pemanfaatan teknologi, dan  peningkatan akses terhadap sistem pendidikan.
&amp;ldquo;Ekonomi kreatif memegang peranan yang penting dalam memperluas  inklusivitas pembangunan,&amp;rdquo; ujar Direktur UNDP Indonesia Christophe  Bahuet.</description><content:encoded>JAKARTA - Bali Demokrasi Forum (BDF) ke-12 mengangkat tema besar &amp;rsquo;Demokrasi dan Inklusivitas dan untuk pertama kalinya menyelenggarakan sebuah dialog khusus di bidang Bisnis dan Ekonomi. Dialog bisnis ini mengusung tema Ekonomi Inklusif dan menghadirkan peserta dari sektor pemerintah, swasta, himpunan pengusaha, organisasi internasional dan akademisi.
Baca Juga: Kepemimpinan Perempuan Akan Jadi Salah Satu Fokus Bahasan BDF XII
Dialog Ekonomi Inklusif ini menghadirkan sebelas orang panelis seperti Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kemenko Perekonomian RI, Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen, wakil Kadin. Kemudain ada juga wakil dari Traveloka, Bukalapak, CEO Genashtim Malaysia, Direktur Micro-Finance Center BRI, wakil Bank Indonesia, UNDP Resident Representative, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

&amp;ldquo;Demokrasi tanpa pemenuhan kebutuhan ekonomi akan sulit berkembang,&amp;rdquo; ujar Deputi Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir, dalam keterangannya, Kamis (12/5/2019).
Pada dasarnya semua pihak menegaskan pentingnya ekonomi inklusif sebagai usaha untuk pemenuhan kesejahteraan.
Baca Juga: Pensiun Wapres, Jusuf Kalla Bosan Setiap Hari Terasa Sabtu
Dialog dalam BDF yang mengangkat tema ekonomi inklusif dianggap tepat mengingat munculnya gejolak akibat ketimpangan ekonomi di sejumlah negara dan menurunnya pertumbuhan ekonomi global.
Para pembicara menyampaikan berbagai tantangan dan hambatan dalam  perwujudan ekonomi inklusif, antara lain jangkauan geografis, akses  pendidikan yang terbatas, meningkatnya ketimpangan, serta pembangunan  yang cenderung hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi. Panel  Ekonomi Inklusif ini juga menyimpulkan saran-saran untuk terwujudnya  ekonomi yang inklusif.
Beberapa saran tersebut yaitu perlunya pemerataan pembangunan  infrastruktur di daerah non-pusat ekonomi, pemanfaatan teknologi, dan  peningkatan akses terhadap sistem pendidikan.
&amp;ldquo;Ekonomi kreatif memegang peranan yang penting dalam memperluas  inklusivitas pembangunan,&amp;rdquo; ujar Direktur UNDP Indonesia Christophe  Bahuet.</content:encoded></item></channel></rss>
