<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menggiurkan, Pekerja Freelance Bangladesh Hasilkan Rp1,3 Triliun per Tahun</title><description>Digitalisasi ekonomi pada suatu negara tidak hanya mendorong inovasi, tetapi mendorong peluang kerja di dalam negerinya</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/320/2138445/menggiurkan-pekerja-freelance-bangladesh-hasilkan-rp1-3-triliun-per-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/320/2138445/menggiurkan-pekerja-freelance-bangladesh-hasilkan-rp1-3-triliun-per-tahun"/><item><title>Menggiurkan, Pekerja Freelance Bangladesh Hasilkan Rp1,3 Triliun per Tahun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/320/2138445/menggiurkan-pekerja-freelance-bangladesh-hasilkan-rp1-3-triliun-per-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/05/320/2138445/menggiurkan-pekerja-freelance-bangladesh-hasilkan-rp1-3-triliun-per-tahun</guid><pubDate>Kamis 05 Desember 2019 19:17 WIB</pubDate><dc:creator>Maylisda Frisca Elenor Solagracia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/05/320/2138445/menggiurkan-pekerja-freelance-bangladesh-hasilkan-rp1-3-triliun-per-tahun-Ov7oCj4Urf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pekerja di Bangladesh. (Foto: Okezone.com/Weforum/Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/05/320/2138445/menggiurkan-pekerja-freelance-bangladesh-hasilkan-rp1-3-triliun-per-tahun-Ov7oCj4Urf.jpg</image><title>Pekerja di Bangladesh. (Foto: Okezone.com/Weforum/Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Digitalisasi ekonomi pada suatu negara tidak hanya mendorong inovasi, tetapi mendorong peluang kerja di dalam negerinya. Ekonomi digital juga memungkinkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
Bangladesh, salah satu negara yang sekarang tengah mengarah ke teknologi layanan outsourcing teknologi informatika (TI) dengan tenaga kerja freelance.
Pekerjaan ini mencakup pemograman komputer, desain web hingga pengurusan pajak. Hal ini telah menghasilkan berbagai peluang kerja baru bagi orang-orang di negara berkembang.
Baca Juga: Bisnis Ini Bakal Booming di Era Transformasi Digital
Dilansir dari weforum, Kamis (05/12/2019), pekerjaan ini menawarkan banyak keuntungan, termasuk kebebasan memilih klien dan proyek, akses ke pasar global, dan fleksibilitas atas lokasi. Selain itu, pekerja lepas dapat menghindari jam kerja yang panjang.
Pekerjaan lepas telah menjadi pilihan karier yang populer bagi masyrakat Bangladesh, menawarkan sumber pendapatan baru dan fleksibel yang sesuai dengan gaya hidup mereka.

Menurut Oxford Internet Institute (OII), Bangladesh telah menjadi pemasok tenaga kerja online terbesar kedua. Sekitar 500.000 freelancer aktif bekerja secara teratur dari 650.000 freelancer terdaftar di negara ini.
Menurut Divisi TIK Bangladesh, pekerjaan ini di Bangladesh menghasilkan USD100 juta setara Rp1,3 triliun (kurs Rp13.988 per USD) per tahun.
Baca Juga: Ekonomi Digital Ditargetkan Jadi Ujung Tombak Pemasaran Produk Dalam Negeri
India adalah pemasok tenaga kerja online terbesar, dengan hampir 24% dari total pekerja lepas global, diikuti oleh Bangladesh (16%) dan AS (12%). Setiap negara memiliki fokus yang berbeda pada berbagai sektor freeelancing.
Misalnya, pengembangan teknologi dan perangkat lunak didominasi oleh freelancer India, sementara Bangladesh adalah pemasok utama layanan dukungan penjualan dan pemasaran.
Setiap 10 dari 44 juta anak muda Bangladesh menganggur, menurut  penelitian oleh World Vision Bangladesh. Selain itu, ribuan lulusan yang  menyelesaikan studi mereka di berbagai universitas negeri dan swasta di  Bangladesh gagal menemukan posisi yang cocok di pasar kerja setiap  tahunnya.
Akibatnya, tingkat pengangguran berpendidikan di negara ini meningkat  secara eksponensial. Namun, para pengangguran muda ini dapat dengan  mudah memulai karir mereka dengan mengikuti beberapa pelatihan IT  dan  freelancing secara online. Dengan melakukan hal ini, mereka tidak hanya  mencari nafkah, tetapi juga berkontribusi pada perekonomian dengan  mendapatkan gaji dalam mata uang asing.</description><content:encoded>JAKARTA - Digitalisasi ekonomi pada suatu negara tidak hanya mendorong inovasi, tetapi mendorong peluang kerja di dalam negerinya. Ekonomi digital juga memungkinkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
Bangladesh, salah satu negara yang sekarang tengah mengarah ke teknologi layanan outsourcing teknologi informatika (TI) dengan tenaga kerja freelance.
Pekerjaan ini mencakup pemograman komputer, desain web hingga pengurusan pajak. Hal ini telah menghasilkan berbagai peluang kerja baru bagi orang-orang di negara berkembang.
Baca Juga: Bisnis Ini Bakal Booming di Era Transformasi Digital
Dilansir dari weforum, Kamis (05/12/2019), pekerjaan ini menawarkan banyak keuntungan, termasuk kebebasan memilih klien dan proyek, akses ke pasar global, dan fleksibilitas atas lokasi. Selain itu, pekerja lepas dapat menghindari jam kerja yang panjang.
Pekerjaan lepas telah menjadi pilihan karier yang populer bagi masyrakat Bangladesh, menawarkan sumber pendapatan baru dan fleksibel yang sesuai dengan gaya hidup mereka.

Menurut Oxford Internet Institute (OII), Bangladesh telah menjadi pemasok tenaga kerja online terbesar kedua. Sekitar 500.000 freelancer aktif bekerja secara teratur dari 650.000 freelancer terdaftar di negara ini.
Menurut Divisi TIK Bangladesh, pekerjaan ini di Bangladesh menghasilkan USD100 juta setara Rp1,3 triliun (kurs Rp13.988 per USD) per tahun.
Baca Juga: Ekonomi Digital Ditargetkan Jadi Ujung Tombak Pemasaran Produk Dalam Negeri
India adalah pemasok tenaga kerja online terbesar, dengan hampir 24% dari total pekerja lepas global, diikuti oleh Bangladesh (16%) dan AS (12%). Setiap negara memiliki fokus yang berbeda pada berbagai sektor freeelancing.
Misalnya, pengembangan teknologi dan perangkat lunak didominasi oleh freelancer India, sementara Bangladesh adalah pemasok utama layanan dukungan penjualan dan pemasaran.
Setiap 10 dari 44 juta anak muda Bangladesh menganggur, menurut  penelitian oleh World Vision Bangladesh. Selain itu, ribuan lulusan yang  menyelesaikan studi mereka di berbagai universitas negeri dan swasta di  Bangladesh gagal menemukan posisi yang cocok di pasar kerja setiap  tahunnya.
Akibatnya, tingkat pengangguran berpendidikan di negara ini meningkat  secara eksponensial. Namun, para pengangguran muda ini dapat dengan  mudah memulai karir mereka dengan mengikuti beberapa pelatihan IT  dan  freelancing secara online. Dengan melakukan hal ini, mereka tidak hanya  mencari nafkah, tetapi juga berkontribusi pada perekonomian dengan  mendapatkan gaji dalam mata uang asing.</content:encoded></item></channel></rss>
