<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos OJK Pamer ke Jokowi Inklusi Keuangan Capai Target</title><description>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim saat ini angka inklusi keuangan Indonesia berada di angka 75%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/10/320/2140171/bos-ojk-pamer-ke-jokowi-inklusi-keuangan-capai-target</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/10/320/2140171/bos-ojk-pamer-ke-jokowi-inklusi-keuangan-capai-target"/><item><title>Bos OJK Pamer ke Jokowi Inklusi Keuangan Capai Target</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/10/320/2140171/bos-ojk-pamer-ke-jokowi-inklusi-keuangan-capai-target</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/10/320/2140171/bos-ojk-pamer-ke-jokowi-inklusi-keuangan-capai-target</guid><pubDate>Selasa 10 Desember 2019 13:57 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/10/320/2140171/bos-ojk-pamer-ke-jokowi-inklusi-keuangan-capai-target-4Rd4s29LZr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bos OJK (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/10/320/2140171/bos-ojk-pamer-ke-jokowi-inklusi-keuangan-capai-target-4Rd4s29LZr.jpg</image><title>Bos OJK (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim saat ini angka inklusi keuangan Indonesia berada di angka 75%. Angka ini sesuai target yang ditetapkan pemerintah hingga akhir tahun 2019 ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, sejalan dengan angka tersebut, angka literasi keuangan Indonesia juga saat ini berada di angka 35%.

&quot;Inklusi keuangan targetnya 75% pada 2019. Kami survei 75% ini sudah tercapai, literasi keuangan 35%,&quot; ujarnya saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (10/12/2019).
Baca Juga: Kumpulkan Kepala Daerah, Jokowi Minta Pemda Bantu Tingkatkan Inklusi Keuangan
Salah satu cara untuk mendorong angka inklusi keuangan dan literasi keuangan adalah dengan cara mengakselerasi kepemilikan tabungan oleh masyarakat. Utamanya adalah sosialisasi tabungan kepada para pelajar.

Menurut Wimboh, nantinya dirinya meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mendorong anak-anak SMP membuka tabungan. Bahkan kalau bisa, Wimboh meminta agar perbankan mempermudah proses pembukaan rekening.
Baca Juga: OJK Sebut Pentingnya Inovasi Pacu Inklusi Keuangan
&quot;Kami literasi anak-anak SD-SMP dengan tabungan. Kami minta dan haruskan, anak SMP dibukakan buku tabungan secara elektronik ini kerja sama dengan Pemda dan seluruh jasa keuangan,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Selain itu lanjut Wimboh, pihaknya juga akan mendorong penyaluran  kredit perbankan kepada pra pelaku UMKM. Saat ini ada beberapa saluran  perbankan yang bisa diakses dengan mudah, seperti kredit usaha mikro  (KUR), program Mekaar PT PNM (Persero), program kredit usaha mikro (UMi)  milik Kementerian Keuangan, hingga Bank Wakaf Mikro (BWM) bagi para  santri di tanah air.

Berdasarkan data OJK, kredit UMKM sudah mencapai 20% dari total  kredit bank yang sebesar Rp1.102 triliun. Penyaluran KUR sudah Rp127,3  triliun dari target Rp140 triliun di 2019.

Sementara program Jaring sudah mencapai Rp31,9 triliun di sektor  perikanan, program laku pandai sudah Rp8,8 triliun dari 21,6 juta  pelajar di 3.500 sekolah. Sedangkan asuransi mikro sudah tersalurkan ke  25,8 juta dan untuk BWM sudah ada 55 pesantren yang menjadi mitra dengan  24.021 nasabah.

&quot;Tentunya ini bukan hal yang mudah untuk kita bisa laksanakan, kami  sekali lagi memohon kerja sama semua pemangku kepentingan di daerah,  agar sinergi dari sisi tabungan dan pembiayaan. Kami akan berupaya untuk  perluas akses dan percepat akses dengan teknologi, sehingga  digitalisasi penting,&quot; kata Wimboh.
</description><content:encoded>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim saat ini angka inklusi keuangan Indonesia berada di angka 75%. Angka ini sesuai target yang ditetapkan pemerintah hingga akhir tahun 2019 ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, sejalan dengan angka tersebut, angka literasi keuangan Indonesia juga saat ini berada di angka 35%.

&quot;Inklusi keuangan targetnya 75% pada 2019. Kami survei 75% ini sudah tercapai, literasi keuangan 35%,&quot; ujarnya saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (10/12/2019).
Baca Juga: Kumpulkan Kepala Daerah, Jokowi Minta Pemda Bantu Tingkatkan Inklusi Keuangan
Salah satu cara untuk mendorong angka inklusi keuangan dan literasi keuangan adalah dengan cara mengakselerasi kepemilikan tabungan oleh masyarakat. Utamanya adalah sosialisasi tabungan kepada para pelajar.

Menurut Wimboh, nantinya dirinya meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mendorong anak-anak SMP membuka tabungan. Bahkan kalau bisa, Wimboh meminta agar perbankan mempermudah proses pembukaan rekening.
Baca Juga: OJK Sebut Pentingnya Inovasi Pacu Inklusi Keuangan
&quot;Kami literasi anak-anak SD-SMP dengan tabungan. Kami minta dan haruskan, anak SMP dibukakan buku tabungan secara elektronik ini kerja sama dengan Pemda dan seluruh jasa keuangan,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Selain itu lanjut Wimboh, pihaknya juga akan mendorong penyaluran  kredit perbankan kepada pra pelaku UMKM. Saat ini ada beberapa saluran  perbankan yang bisa diakses dengan mudah, seperti kredit usaha mikro  (KUR), program Mekaar PT PNM (Persero), program kredit usaha mikro (UMi)  milik Kementerian Keuangan, hingga Bank Wakaf Mikro (BWM) bagi para  santri di tanah air.

Berdasarkan data OJK, kredit UMKM sudah mencapai 20% dari total  kredit bank yang sebesar Rp1.102 triliun. Penyaluran KUR sudah Rp127,3  triliun dari target Rp140 triliun di 2019.

Sementara program Jaring sudah mencapai Rp31,9 triliun di sektor  perikanan, program laku pandai sudah Rp8,8 triliun dari 21,6 juta  pelajar di 3.500 sekolah. Sedangkan asuransi mikro sudah tersalurkan ke  25,8 juta dan untuk BWM sudah ada 55 pesantren yang menjadi mitra dengan  24.021 nasabah.

&quot;Tentunya ini bukan hal yang mudah untuk kita bisa laksanakan, kami  sekali lagi memohon kerja sama semua pemangku kepentingan di daerah,  agar sinergi dari sisi tabungan dan pembiayaan. Kami akan berupaya untuk  perluas akses dan percepat akses dengan teknologi, sehingga  digitalisasi penting,&quot; kata Wimboh.
</content:encoded></item></channel></rss>
