<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kepala BKPM Sulit Cari Produk Tekstil Made in Indonesia di Tanah Abang</title><description>Saat ini gempuran produk-produk tekstil dari luar negeri menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140548/kepala-bkpm-sulit-cari-produk-tekstil-made-in-indonesia-di-tanah-abang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140548/kepala-bkpm-sulit-cari-produk-tekstil-made-in-indonesia-di-tanah-abang"/><item><title>Kepala BKPM Sulit Cari Produk Tekstil Made in Indonesia di Tanah Abang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140548/kepala-bkpm-sulit-cari-produk-tekstil-made-in-indonesia-di-tanah-abang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140548/kepala-bkpm-sulit-cari-produk-tekstil-made-in-indonesia-di-tanah-abang</guid><pubDate>Rabu 11 Desember 2019 12:21 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/11/320/2140548/kepala-bkpm-sulit-cari-produk-tekstil-made-in-indonesia-di-tanah-abang-S6uKwanvEg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasar Tanah Abang. (Foto: Okezone.com/Yohana)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/11/320/2140548/kepala-bkpm-sulit-cari-produk-tekstil-made-in-indonesia-di-tanah-abang-S6uKwanvEg.jpg</image><title>Pasar Tanah Abang. (Foto: Okezone.com/Yohana)</title></images><description>JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggelar pertemuan dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) guna membahas permasalahan industri tekstil dalam negeri. Saat ini pelaku industri nasional tengah tertekan oleh banjirnya impor tekstil.
&quot;Kami telah selesai rapat membahas tentang bagaimana meningkatkan daya saing produk garmen Indonesia dari hulu maupun hilir. Mengingat industri ini salah satu yang berkontribusi terbesar dalam ekspor maupun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,&quot; ungkap Bahlil di Gedung BKPM, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Baca Juga: Tingkatkan Ekspor Tekstil, Presiden Jokowi Siapkan Apparel Park
Menurutnya, saat ini gempuran produk-produk tekstil dari luar negeri menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian. Hal ini guna melindungi produsen tekstil dalam negeri untuk tetap bisa berkelanjutan.

Dia mencontohkan, seperti di pasaran kini banyak produk yang berlabelkan pembuatan dari negara-negara lain. Meski tak menyebutkan data, Bahlil mengatakan fenomena ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.
Baca Juga: Aturan Safeguard Industri Tekstil Ditargetkan Terbit Pekan Depan
&quot;Akhir-akhir ini banyak produk dari luar Indonesia yang melakukan penetrasi yang sangat luar biasa sekali, sampai kemudian kalau cek di pasar-pasar maupun di Tanah Abang, itu sudah susah mendapatkan (produk tekstil) made in Indonesia,&quot; kata dia,
Oleh sebab itu, pihaknya akan mencari solusi untuk mendorong keberlanjutan bisnis industri tekstil dalam negeri, salah satunya dengan membuat harga produk tekstil menjadi kompetetif. Mengingat produk-produk tekstil impor memiliki harga jual yang jauh lebih murah.Menurutnya, penciptaan harga yang kompetitif dilakukan dengan  membentuk regulasi yang tidak memberatkan pelaku usaha dalam negeri,  seperti soal keringanan pajak. Selain itu perlu dilakukan revitalisasi  pada pabrik-pabrik tekstil  guna mendorong peningkatan produksi.
&quot;Ini memang harus ada sinergi antara pengusaha dan pemerintah.  regulasi yang harus kami beri juga harus jangan memberatkan. Ketika  regulasi memberatkan pengusaha maka membuat tidak akan kompetitif dengan  produk-produk impor,&quot; kata Bahlil.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggelar pertemuan dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) guna membahas permasalahan industri tekstil dalam negeri. Saat ini pelaku industri nasional tengah tertekan oleh banjirnya impor tekstil.
&quot;Kami telah selesai rapat membahas tentang bagaimana meningkatkan daya saing produk garmen Indonesia dari hulu maupun hilir. Mengingat industri ini salah satu yang berkontribusi terbesar dalam ekspor maupun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,&quot; ungkap Bahlil di Gedung BKPM, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Baca Juga: Tingkatkan Ekspor Tekstil, Presiden Jokowi Siapkan Apparel Park
Menurutnya, saat ini gempuran produk-produk tekstil dari luar negeri menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian. Hal ini guna melindungi produsen tekstil dalam negeri untuk tetap bisa berkelanjutan.

Dia mencontohkan, seperti di pasaran kini banyak produk yang berlabelkan pembuatan dari negara-negara lain. Meski tak menyebutkan data, Bahlil mengatakan fenomena ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.
Baca Juga: Aturan Safeguard Industri Tekstil Ditargetkan Terbit Pekan Depan
&quot;Akhir-akhir ini banyak produk dari luar Indonesia yang melakukan penetrasi yang sangat luar biasa sekali, sampai kemudian kalau cek di pasar-pasar maupun di Tanah Abang, itu sudah susah mendapatkan (produk tekstil) made in Indonesia,&quot; kata dia,
Oleh sebab itu, pihaknya akan mencari solusi untuk mendorong keberlanjutan bisnis industri tekstil dalam negeri, salah satunya dengan membuat harga produk tekstil menjadi kompetetif. Mengingat produk-produk tekstil impor memiliki harga jual yang jauh lebih murah.Menurutnya, penciptaan harga yang kompetitif dilakukan dengan  membentuk regulasi yang tidak memberatkan pelaku usaha dalam negeri,  seperti soal keringanan pajak. Selain itu perlu dilakukan revitalisasi  pada pabrik-pabrik tekstil  guna mendorong peningkatan produksi.
&quot;Ini memang harus ada sinergi antara pengusaha dan pemerintah.  regulasi yang harus kami beri juga harus jangan memberatkan. Ketika  regulasi memberatkan pengusaha maka membuat tidak akan kompetitif dengan  produk-produk impor,&quot; kata Bahlil.</content:encoded></item></channel></rss>
