<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banjir Produk Impor hingga Upah Jadi Penyebab Pabrik Tekstil Tutup</title><description>Tiga hal yang menjadi penyebab dari tutupnya pabrik tekstil di dalam negeri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140609/banjir-produk-impor-hingga-upah-jadi-penyebab-pabrik-tekstil-tutup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140609/banjir-produk-impor-hingga-upah-jadi-penyebab-pabrik-tekstil-tutup"/><item><title>Banjir Produk Impor hingga Upah Jadi Penyebab Pabrik Tekstil Tutup</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140609/banjir-produk-impor-hingga-upah-jadi-penyebab-pabrik-tekstil-tutup</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/11/320/2140609/banjir-produk-impor-hingga-upah-jadi-penyebab-pabrik-tekstil-tutup</guid><pubDate>Rabu 11 Desember 2019 14:19 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/11/320/2140609/banjir-produk-impor-hingga-upah-jadi-penyebab-pabrik-tekstil-tutup-1ZwhSw5FKk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab Pabrik Tekstil Tutup (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/11/320/2140609/banjir-produk-impor-hingga-upah-jadi-penyebab-pabrik-tekstil-tutup-1ZwhSw5FKk.jpg</image><title>Penyebab Pabrik Tekstil Tutup (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, tiga hal yang menjadi penyebab dari tutupnya pabrik tekstil di dalam negeri. Pertama tekait upah tenaga kerja industri tekstil dinilai cukup mahal sehingga memberikan beban operasional bagi perusahaan.
Baca Juga: Kepala BKPM Sulit Cari Produk Tekstil Made in Indonesia di Tanah Abang
Hal ini juga yang membuat sejumlah pengusaha industri tekstil di Jawa Barat berencana untuk melakukan relokasi pabrik ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang ongkos pekerjannya dinilai lebih rendah. Menurut Bahlil, persoalan upah ini akan dikordinasikan dengan pemerintah daerah untuk menemukan solusi.

&quot;Pertama memang karena tenaga kerja, upah itu kan sudah mulai naik,&quot; ungkapnya di Kantor BPKM, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Baca Juga: Tingkatkan Ekspor Tekstil, Presiden Jokowi Siapkan Apparel Park
Faktor kedua adalah banjirnya impor produk tekstil ke dalam negeri. Banyaknya tekstil impor ke Indonesia menekan para produsen nasional, terlebih harganya sangat murah dibandingkan produk dalam negeri.
&amp;nbsp;Menurutnya, saat ini di pasaran banyak produk yang berlabelkan  pembuatan dari negara-negara lain. Meski tak menyebutkan data, Bahlil  bilang fenomena ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.

&quot;Ketiga karena memang HPP (Harga Pokok Penjualan) kita. Bahan baku  disini kan memang mahal, karena mesin-mesin sudah agak tua sehingga  memang harus ada peremajaan,&quot; ungkap dia.

Kendati demikian, Bahlil belum bisa menyebutkan berapa jumlah pabrik  tekstil yang sudah tutup. Menurunya masih menunggu data dari Asosiasi  Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia dan Asosiasi Pertekstilan  Indonesia (API).

&quot;Kami belum punya data. Nanti data teknisnya lagi minta teman-teman  asosiasi. Kami akan tindaklanjutnya di hari rabu lagi (pekan depan),&quot;  kata dia.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, tiga hal yang menjadi penyebab dari tutupnya pabrik tekstil di dalam negeri. Pertama tekait upah tenaga kerja industri tekstil dinilai cukup mahal sehingga memberikan beban operasional bagi perusahaan.
Baca Juga: Kepala BKPM Sulit Cari Produk Tekstil Made in Indonesia di Tanah Abang
Hal ini juga yang membuat sejumlah pengusaha industri tekstil di Jawa Barat berencana untuk melakukan relokasi pabrik ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang ongkos pekerjannya dinilai lebih rendah. Menurut Bahlil, persoalan upah ini akan dikordinasikan dengan pemerintah daerah untuk menemukan solusi.

&quot;Pertama memang karena tenaga kerja, upah itu kan sudah mulai naik,&quot; ungkapnya di Kantor BPKM, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Baca Juga: Tingkatkan Ekspor Tekstil, Presiden Jokowi Siapkan Apparel Park
Faktor kedua adalah banjirnya impor produk tekstil ke dalam negeri. Banyaknya tekstil impor ke Indonesia menekan para produsen nasional, terlebih harganya sangat murah dibandingkan produk dalam negeri.
&amp;nbsp;Menurutnya, saat ini di pasaran banyak produk yang berlabelkan  pembuatan dari negara-negara lain. Meski tak menyebutkan data, Bahlil  bilang fenomena ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.

&quot;Ketiga karena memang HPP (Harga Pokok Penjualan) kita. Bahan baku  disini kan memang mahal, karena mesin-mesin sudah agak tua sehingga  memang harus ada peremajaan,&quot; ungkap dia.

Kendati demikian, Bahlil belum bisa menyebutkan berapa jumlah pabrik  tekstil yang sudah tutup. Menurunya masih menunggu data dari Asosiasi  Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia dan Asosiasi Pertekstilan  Indonesia (API).

&quot;Kami belum punya data. Nanti data teknisnya lagi minta teman-teman  asosiasi. Kami akan tindaklanjutnya di hari rabu lagi (pekan depan),&quot;  kata dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
