<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Erick Thohir Bereskan Bisnis Sampingan BUMN, Bos RNI: Itu Kalau Tak Ada Manfaatnya</title><description>Bos RNI menanggapi santai rencana Erick Thohir terkait peleburan bisnis-bisnis sampingan yang dimiliki oleh anak dan cucu dari BUMN.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/12/320/2141286/erick-thohir-bereskan-bisnis-sampingan-bumn-bos-rni-itu-kalau-tak-ada-manfaatnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/12/320/2141286/erick-thohir-bereskan-bisnis-sampingan-bumn-bos-rni-itu-kalau-tak-ada-manfaatnya"/><item><title>   Erick Thohir Bereskan Bisnis Sampingan BUMN, Bos RNI: Itu Kalau Tak Ada Manfaatnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/12/320/2141286/erick-thohir-bereskan-bisnis-sampingan-bumn-bos-rni-itu-kalau-tak-ada-manfaatnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/12/320/2141286/erick-thohir-bereskan-bisnis-sampingan-bumn-bos-rni-itu-kalau-tak-ada-manfaatnya</guid><pubDate>Kamis 12 Desember 2019 20:58 WIB</pubDate><dc:creator>Fathnur Rohman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/12/320/2141286/erick-thohir-bereskan-bisnis-sampingan-bumn-bos-rni-itu-kalau-tak-ada-manfaatnya-6d1NOz1xz6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirut RNI (Foto: Okezone.com/Fathnur)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/12/320/2141286/erick-thohir-bereskan-bisnis-sampingan-bumn-bos-rni-itu-kalau-tak-ada-manfaatnya-6d1NOz1xz6.jpg</image><title>Dirut RNI (Foto: Okezone.com/Fathnur)</title></images><description> 
BREBES - Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) (Persero) B Didik Prasetyo menanggapi santai rencana Menteri BUMN Erick Thohir terkait peleburan bisnis-bisnis sampingan yang dimiliki oleh anak dan cucu dari BUMN.

Menurut Didik, peleburan tersebut akan dilakukan bilamana bisnis-bisnis yang dijalankan oleh anak dan cucu dari BUMN tidak memiliki manfaat sama sekali. Hal ini tentu berbeda, jika bisnis tersebut bisa mendatangkan keuntungan untuk negara.
Baca Juga: Kini Pembentukan Anak Usaha BUMN Harus Seizin Erick Thohir
Didik mencontohkan, bisnis yang dijalankan oleh anak dan cucu BUMN yang bisa mendatangkan manfaat adalah seperti bisnis industri alat kesehatan (Alkes), yang dijalankan oleh anak perusahaan dari RNI Group yakni PT Mitra Rajawali Banjaran.

Dirinya mengungkapkan, PT Mitra Rajawali Banjaran bekerja sama dengan investor asing dari Korea Selatan yaitu Direktur Insung Medical Co. Jun Ho Song dan Direktur Tae Chang Industrial Co. Hanjin In, sudah mulai membangun pabrik Alkes di eks Pabrik Gula Ketanggungan seluas 25 Ha, di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Lahan tersebut merupakan aset lahan yang dimiliki oleh PT PG Rajawali II.
Baca Juga: Utang Krakatau Steel Rp40 Triliun dan Punya 60 Anak Usaha, Erick Thohir Angkat Tangan
&quot;Itu kalau tidak ada manfaatnya. Ini kan jelas kita bahwa, memasukan industri alat kesehatan yang selama ini 92% impor,&quot; ujar Didik kepada wartawan, seusai melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik Alkes, di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (12/12/2019).
Didik menjelaskan, nilai investasi dalam pembangunan pabrik Alkes ini  mencapai Rp120 miliar. Pabrik Alkes ini nantinya diharapkan mampu untuk  meningkatkan produktivitas produk Alkes PT RNI sehingga membuka peluang  ekspor ke luar negeri.

&quot;Untuk nilai investasi saja nilainya Rp120 miliar. Untuk model  kerjanya Rp27 miliar kita lihat perkembangannya, kalau totalnya bisa  mencapai Rp147 miliar sampai Rp150 miliar, &quot; tambahnya.

Disampaikan Didik, pabrik Alkes ini akan dipersiapkan untuk  memproduksi Alkes jenis bahan medis habis pakai (BMHP) yakni sejenis  catheter, tube, dan kantung darah. Pasalnya, produk tersebut banyak  dibutuhkan di unit pelayanan gawat darurat (UGD), ruang operasi, ICCU,  ruang perawatan dan Puskesmas yang memiliki ruang perawatan.

Dirinya mengaku, produk Alkes jenis tube dan catheter akan difokuskan  untuk memenuhi kebutuhan pasar di Korea Selatan sebanyak 70%. Sedangkan  30% sisanya akan diperuntukan untuk kebutuhan pasar dalam negeri.

&quot;Semua produknya akan didistribusikan oleh seluruh anak perusahaan  RNI. Jumlahnya ada 43 cabang di seluruh Indonesia. 30% untuk dipasarkan  di Indonesia dan regional, 70% untuk kebutuhan pasar di Korea, &quot; kata  Didik.

Masih dikatannya, pengembangan bisnis Alkes ini merupakan upaya PT  RNI untuk mendukung percepatan industri Alkes nasional sesuai dengan  Instruksi Presiden No.6 Tahun 2016. Seperti diketahui, pasar Alkes  sendiri masih sangat potensial.

&quot;Kalau kita investasinya sekitar Rp120 miliar, tahun pertama mungkin dua kali lipat dari itu, &quot; ucap dia.

</description><content:encoded> 
BREBES - Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) (Persero) B Didik Prasetyo menanggapi santai rencana Menteri BUMN Erick Thohir terkait peleburan bisnis-bisnis sampingan yang dimiliki oleh anak dan cucu dari BUMN.

Menurut Didik, peleburan tersebut akan dilakukan bilamana bisnis-bisnis yang dijalankan oleh anak dan cucu dari BUMN tidak memiliki manfaat sama sekali. Hal ini tentu berbeda, jika bisnis tersebut bisa mendatangkan keuntungan untuk negara.
Baca Juga: Kini Pembentukan Anak Usaha BUMN Harus Seizin Erick Thohir
Didik mencontohkan, bisnis yang dijalankan oleh anak dan cucu BUMN yang bisa mendatangkan manfaat adalah seperti bisnis industri alat kesehatan (Alkes), yang dijalankan oleh anak perusahaan dari RNI Group yakni PT Mitra Rajawali Banjaran.

Dirinya mengungkapkan, PT Mitra Rajawali Banjaran bekerja sama dengan investor asing dari Korea Selatan yaitu Direktur Insung Medical Co. Jun Ho Song dan Direktur Tae Chang Industrial Co. Hanjin In, sudah mulai membangun pabrik Alkes di eks Pabrik Gula Ketanggungan seluas 25 Ha, di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Lahan tersebut merupakan aset lahan yang dimiliki oleh PT PG Rajawali II.
Baca Juga: Utang Krakatau Steel Rp40 Triliun dan Punya 60 Anak Usaha, Erick Thohir Angkat Tangan
&quot;Itu kalau tidak ada manfaatnya. Ini kan jelas kita bahwa, memasukan industri alat kesehatan yang selama ini 92% impor,&quot; ujar Didik kepada wartawan, seusai melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik Alkes, di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (12/12/2019).
Didik menjelaskan, nilai investasi dalam pembangunan pabrik Alkes ini  mencapai Rp120 miliar. Pabrik Alkes ini nantinya diharapkan mampu untuk  meningkatkan produktivitas produk Alkes PT RNI sehingga membuka peluang  ekspor ke luar negeri.

&quot;Untuk nilai investasi saja nilainya Rp120 miliar. Untuk model  kerjanya Rp27 miliar kita lihat perkembangannya, kalau totalnya bisa  mencapai Rp147 miliar sampai Rp150 miliar, &quot; tambahnya.

Disampaikan Didik, pabrik Alkes ini akan dipersiapkan untuk  memproduksi Alkes jenis bahan medis habis pakai (BMHP) yakni sejenis  catheter, tube, dan kantung darah. Pasalnya, produk tersebut banyak  dibutuhkan di unit pelayanan gawat darurat (UGD), ruang operasi, ICCU,  ruang perawatan dan Puskesmas yang memiliki ruang perawatan.

Dirinya mengaku, produk Alkes jenis tube dan catheter akan difokuskan  untuk memenuhi kebutuhan pasar di Korea Selatan sebanyak 70%. Sedangkan  30% sisanya akan diperuntukan untuk kebutuhan pasar dalam negeri.

&quot;Semua produknya akan didistribusikan oleh seluruh anak perusahaan  RNI. Jumlahnya ada 43 cabang di seluruh Indonesia. 30% untuk dipasarkan  di Indonesia dan regional, 70% untuk kebutuhan pasar di Korea, &quot; kata  Didik.

Masih dikatannya, pengembangan bisnis Alkes ini merupakan upaya PT  RNI untuk mendukung percepatan industri Alkes nasional sesuai dengan  Instruksi Presiden No.6 Tahun 2016. Seperti diketahui, pasar Alkes  sendiri masih sangat potensial.

&quot;Kalau kita investasinya sekitar Rp120 miliar, tahun pertama mungkin dua kali lipat dari itu, &quot; ucap dia.

</content:encoded></item></channel></rss>
