<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi Tidak Ingin Ibu Kota Baru Mahal dan Sepi</title><description>Perpindahan ibu kota negara bukan hanya sebagai perpindahan pemerintahan saja, melainkan munculnya sebuah transformasi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/16/470/2142553/jokowi-tidak-ingin-ibu-kota-baru-mahal-dan-sepi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/16/470/2142553/jokowi-tidak-ingin-ibu-kota-baru-mahal-dan-sepi"/><item><title>Jokowi Tidak Ingin Ibu Kota Baru Mahal dan Sepi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/16/470/2142553/jokowi-tidak-ingin-ibu-kota-baru-mahal-dan-sepi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/16/470/2142553/jokowi-tidak-ingin-ibu-kota-baru-mahal-dan-sepi</guid><pubDate>Senin 16 Desember 2019 17:12 WIB</pubDate><dc:creator>Fabbiola Irawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/16/470/2142553/jokowi-tidak-ingin-ibu-kota-baru-mahal-dan-sepi-XHc07dAVfy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/16/470/2142553/jokowi-tidak-ingin-ibu-kota-baru-mahal-dan-sepi-XHc07dAVfy.jpg</image><title>Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone.com)</title></images><description> 
JAKARTA &amp;ndash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan perpindahan ibu kota negara bukan hanya sebagai perpindahan pemerintahan saja, melainkan munculnya sebuah transformasi.
&amp;ldquo;Pindah cara kerja, pindah budaya kerja, pindah sistem kerja, dan juga ada perpindahan basis ekonomi, sehingga  saya sampaikan kemarin juga bahwa sebelum kita pindah, sistemnya sudah terinstal dengan baik,&amp;rdquo; jelas Presiden Jokowi saat menyampaikan sambutan pada Rapat Terbatas (Ratas) dilansir dari Setkab, Senin (16/12/2019).
Baca Juga: Ke Ibu Kota Baru, Jokowi Cek Lokasi Istana Presiden di Sepaku
Presiden juga mengungkapkan pengalaman-pengalaman beberapa negara yang pindah ibu kota tetapi ibu kotanya menjadi kota yang mahal.

&amp;ldquo;Ini Jangan. Kemudian sepi enggak, jangan, kemudian yang menghuni hanya pegawai pemerintah ini juga tidak, atau plus diplomat juga tidak,&amp;rdquo; lanjut Presiden Indonesia Ke-7 itu.
Presiden juga menambahkan, dari awal harus dirancang perpindahan ibu kota sebagai sebuah transformasi ekonomi, perpindahan basis ekonomi menuju ke sebuah smart economy. Pemerintah juga  ingin perpindahan ibu kota ini juga menandai proses transformasi produktivitas nasional, transformasi kreativitas nasional, transformasi industri nasional, dan transformasi talenta-talenta nasional.
Baca Juga: Demi Ibu Kota Baru, SDM Konstruksi RI Belajar dari Korea
&amp;ldquo;Itu saya kira  tujuan utama kita. Sekali lagi bukan semata-mata memindahkan istana atau memindahkan gedung-gedung perkantoran pemerintah, bukan, bukan itu,&amp;rdquo; tegas Presiden.
Presiden Jokowi juga berharap rancangan ibu kota yang baru juga bertransformasi menjadi smart economy. Untuk menggapai hal itu, harus dibangun cluster-cluster pendidikan, cluster-cluster riset dan inovasi.&amp;ldquo;Sudah saatnya talenta-talenta Indonesia, talenta-talenta global  berkolaborasi mengembangkan smart energy, smart health, smart food  production yang akan menciptakan lapangan kerja baru bagi anak-anak muda  kita, serta mendorong usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah kita  untuk masuk dan terintegrasi dengan global value chain,&amp;rdquo; lanjut Presiden  saat membahas gambaran rencana ibu kota baru dalam aspek pendidikan.
Jokowi juga menegaskan, jika impian membangun ibu kota yang smart maka pembangunannya harus smart juga.
&amp;ldquo;Kita harus meninggalkan cara berpikir lama yang selalu melihat  semuanya dari sisi anggaran, melihat semuanya dari sisi biaya, kita  harus berani menggunakan cara-cara baru yang lebih kreatif, termasuk  dalam pemanfaatan teknologi-teknologi inovasi, dengan bantuan  talenta-talenta hebat yang kita miliki, yang berada di dalam negeri  maupun saat ini belajar di berbagai negara di luar negeri,&amp;rdquo; tutup  Presiden Jokowi.
</description><content:encoded> 
JAKARTA &amp;ndash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan perpindahan ibu kota negara bukan hanya sebagai perpindahan pemerintahan saja, melainkan munculnya sebuah transformasi.
&amp;ldquo;Pindah cara kerja, pindah budaya kerja, pindah sistem kerja, dan juga ada perpindahan basis ekonomi, sehingga  saya sampaikan kemarin juga bahwa sebelum kita pindah, sistemnya sudah terinstal dengan baik,&amp;rdquo; jelas Presiden Jokowi saat menyampaikan sambutan pada Rapat Terbatas (Ratas) dilansir dari Setkab, Senin (16/12/2019).
Baca Juga: Ke Ibu Kota Baru, Jokowi Cek Lokasi Istana Presiden di Sepaku
Presiden juga mengungkapkan pengalaman-pengalaman beberapa negara yang pindah ibu kota tetapi ibu kotanya menjadi kota yang mahal.

&amp;ldquo;Ini Jangan. Kemudian sepi enggak, jangan, kemudian yang menghuni hanya pegawai pemerintah ini juga tidak, atau plus diplomat juga tidak,&amp;rdquo; lanjut Presiden Indonesia Ke-7 itu.
Presiden juga menambahkan, dari awal harus dirancang perpindahan ibu kota sebagai sebuah transformasi ekonomi, perpindahan basis ekonomi menuju ke sebuah smart economy. Pemerintah juga  ingin perpindahan ibu kota ini juga menandai proses transformasi produktivitas nasional, transformasi kreativitas nasional, transformasi industri nasional, dan transformasi talenta-talenta nasional.
Baca Juga: Demi Ibu Kota Baru, SDM Konstruksi RI Belajar dari Korea
&amp;ldquo;Itu saya kira  tujuan utama kita. Sekali lagi bukan semata-mata memindahkan istana atau memindahkan gedung-gedung perkantoran pemerintah, bukan, bukan itu,&amp;rdquo; tegas Presiden.
Presiden Jokowi juga berharap rancangan ibu kota yang baru juga bertransformasi menjadi smart economy. Untuk menggapai hal itu, harus dibangun cluster-cluster pendidikan, cluster-cluster riset dan inovasi.&amp;ldquo;Sudah saatnya talenta-talenta Indonesia, talenta-talenta global  berkolaborasi mengembangkan smart energy, smart health, smart food  production yang akan menciptakan lapangan kerja baru bagi anak-anak muda  kita, serta mendorong usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah kita  untuk masuk dan terintegrasi dengan global value chain,&amp;rdquo; lanjut Presiden  saat membahas gambaran rencana ibu kota baru dalam aspek pendidikan.
Jokowi juga menegaskan, jika impian membangun ibu kota yang smart maka pembangunannya harus smart juga.
&amp;ldquo;Kita harus meninggalkan cara berpikir lama yang selalu melihat  semuanya dari sisi anggaran, melihat semuanya dari sisi biaya, kita  harus berani menggunakan cara-cara baru yang lebih kreatif, termasuk  dalam pemanfaatan teknologi-teknologi inovasi, dengan bantuan  talenta-talenta hebat yang kita miliki, yang berada di dalam negeri  maupun saat ini belajar di berbagai negara di luar negeri,&amp;rdquo; tutup  Presiden Jokowi.
</content:encoded></item></channel></rss>
