<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi Jawab Ribut Ekspor Benih Lobster, Bela Susi Pudjiastuti atau Edhy Prabowo?</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tanggapan terkait polemik kebijakan untuk membuka kembali ekspor benih lobster</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/17/320/2143035/jokowi-jawab-ribut-ekspor-benih-lobster-bela-susi-pudjiastuti-atau-edhy-prabowo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/12/17/320/2143035/jokowi-jawab-ribut-ekspor-benih-lobster-bela-susi-pudjiastuti-atau-edhy-prabowo"/><item><title>Jokowi Jawab Ribut Ekspor Benih Lobster, Bela Susi Pudjiastuti atau Edhy Prabowo?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/12/17/320/2143035/jokowi-jawab-ribut-ekspor-benih-lobster-bela-susi-pudjiastuti-atau-edhy-prabowo</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/12/17/320/2143035/jokowi-jawab-ribut-ekspor-benih-lobster-bela-susi-pudjiastuti-atau-edhy-prabowo</guid><pubDate>Selasa 17 Desember 2019 17:08 WIB</pubDate><dc:creator>Maylisda Frisca Elenor Solagracia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/17/320/2143035/jokowi-jawab-ribut-ekspor-benih-lobster-bela-susi-pudjiastuti-atau-edhy-prabowo-XKfBcj4FhX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jokowi soal Ekspor Benih Lobster (Foto: Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/17/320/2143035/jokowi-jawab-ribut-ekspor-benih-lobster-bela-susi-pudjiastuti-atau-edhy-prabowo-XKfBcj4FhX.jpg</image><title>Jokowi soal Ekspor Benih Lobster (Foto: Setkab)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tanggapan terkait polemik kebijakan untuk membuka kembali ekspor benih lobster oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Menurut Presiden, yang paling penting negara mendapatkan manfaat, nelayan mendapatkan manfaat dan lingkungan tidak rusak.
&amp;ldquo;Yang paling penting itu, nilai tambah ada di dalam negeri. Ekspor dan tidak ekspor hitungannya dari situ,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi seperti dilansir dari laman Setkab, Jakarta, Selasa (17/12/2019).
Baca Juga: Ketika Susi Dapat WA Tarif Penyelundupan Benih Lobster
Presiden mengingatkan, agar keseimbangan antara faktor lingkungan serta nilai ekonomi harus terjaga. &quot;Jangan nilai ekonominya saja tapi lingkungannya harus dipelihara. Keseimbangan antara itu yang penting,&quot; kata dia.
&amp;ldquo;Bukan hanya bilang jangan, ndak, mestinya keseimbangan itu yang diperlukan, jangan juga awur-awuran, semua ditangkapin diekspor itu juga enggak bener,&amp;rdquo; tegas Presiden.
Baca Juga: Polemik Ekspor Benih Lobster, Jika Direekspor ke Indonesia Nilai Jual Menjadi Tinggi 
Presiden meyakini, para pakar tentunya mengetahui bagaimana tetap menjaga lingkungan agar benih lobster tidak diselundupkan, termasuk tidak diekspor secara awur-awuran. &quot;Tapi juga nelayan mendapat manfaat dari sana, nilai tambah ada di negara kita,&quot; cetus dia.Aliran Dana Rp900 Miliar
Sebelum ini Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)  mengungkapkan dana penyelundupan benih lobster ke luar negeri mencapai  Rp900 miliar per tahun. Dana tersebut digunakan mendanai pengepul dalam  negeri dan membeli benih tangkapan nelayan lokal.
&amp;ldquo;Dalam setahun, aliran dana dari luar negeri yang diduga untuk  mendanai pengepul membeli benur tangkapan nelayan lokal mencapai Rp300  miliar hingga Rp900 miliar,&amp;rdquo; kata Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin  dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2019, di kantor PPATK.
Penyelundupan lobster ke luar negeri ini, menurut Badaruddin,  menggunakan sindikat internasional. Ia mengemukakan, aliran dana  sindikat di luar negeri ke pelaku Indonesia menggunakan perantara  kegiatan usaha valuta asing atau money changer.
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengingatkan selama ini  langkah menyetop ekspor kenyataannya sepenuhnya tidak mampu membendung  kasus-kasus penyelundupan benih ekspor. &amp;ldquo;Penyelundupan ada terus,&amp;rdquo; tegas  Edhy di Yogyakarta, Minggu (16/12).
Dia menjelaskan, rencana untuk membuka kembali ekspor benih lobster  adalah dalam rangka meningkatkan nilai keekonomian di masyarakat. (fbn) </description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tanggapan terkait polemik kebijakan untuk membuka kembali ekspor benih lobster oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Menurut Presiden, yang paling penting negara mendapatkan manfaat, nelayan mendapatkan manfaat dan lingkungan tidak rusak.
&amp;ldquo;Yang paling penting itu, nilai tambah ada di dalam negeri. Ekspor dan tidak ekspor hitungannya dari situ,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi seperti dilansir dari laman Setkab, Jakarta, Selasa (17/12/2019).
Baca Juga: Ketika Susi Dapat WA Tarif Penyelundupan Benih Lobster
Presiden mengingatkan, agar keseimbangan antara faktor lingkungan serta nilai ekonomi harus terjaga. &quot;Jangan nilai ekonominya saja tapi lingkungannya harus dipelihara. Keseimbangan antara itu yang penting,&quot; kata dia.
&amp;ldquo;Bukan hanya bilang jangan, ndak, mestinya keseimbangan itu yang diperlukan, jangan juga awur-awuran, semua ditangkapin diekspor itu juga enggak bener,&amp;rdquo; tegas Presiden.
Baca Juga: Polemik Ekspor Benih Lobster, Jika Direekspor ke Indonesia Nilai Jual Menjadi Tinggi 
Presiden meyakini, para pakar tentunya mengetahui bagaimana tetap menjaga lingkungan agar benih lobster tidak diselundupkan, termasuk tidak diekspor secara awur-awuran. &quot;Tapi juga nelayan mendapat manfaat dari sana, nilai tambah ada di negara kita,&quot; cetus dia.Aliran Dana Rp900 Miliar
Sebelum ini Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)  mengungkapkan dana penyelundupan benih lobster ke luar negeri mencapai  Rp900 miliar per tahun. Dana tersebut digunakan mendanai pengepul dalam  negeri dan membeli benih tangkapan nelayan lokal.
&amp;ldquo;Dalam setahun, aliran dana dari luar negeri yang diduga untuk  mendanai pengepul membeli benur tangkapan nelayan lokal mencapai Rp300  miliar hingga Rp900 miliar,&amp;rdquo; kata Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin  dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2019, di kantor PPATK.
Penyelundupan lobster ke luar negeri ini, menurut Badaruddin,  menggunakan sindikat internasional. Ia mengemukakan, aliran dana  sindikat di luar negeri ke pelaku Indonesia menggunakan perantara  kegiatan usaha valuta asing atau money changer.
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengingatkan selama ini  langkah menyetop ekspor kenyataannya sepenuhnya tidak mampu membendung  kasus-kasus penyelundupan benih ekspor. &amp;ldquo;Penyelundupan ada terus,&amp;rdquo; tegas  Edhy di Yogyakarta, Minggu (16/12).
Dia menjelaskan, rencana untuk membuka kembali ekspor benih lobster  adalah dalam rangka meningkatkan nilai keekonomian di masyarakat. (fbn) </content:encoded></item></channel></rss>
