<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Sederet Pemicu Mahalnya Harga Gas Industri, dari Ongkos Transportasi hingga Margin!</title><description>Ada beberapa penyebab yang menjadikan harga gas mahal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/09/320/2151135/sederet-pemicu-mahalnya-harga-gas-industri-dari-ongkos-transportasi-hingga-margin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/09/320/2151135/sederet-pemicu-mahalnya-harga-gas-industri-dari-ongkos-transportasi-hingga-margin"/><item><title>   Sederet Pemicu Mahalnya Harga Gas Industri, dari Ongkos Transportasi hingga Margin!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/09/320/2151135/sederet-pemicu-mahalnya-harga-gas-industri-dari-ongkos-transportasi-hingga-margin</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/09/320/2151135/sederet-pemicu-mahalnya-harga-gas-industri-dari-ongkos-transportasi-hingga-margin</guid><pubDate>Kamis 09 Januari 2020 16:52 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/09/320/2151135/sederet-pemicu-mahalnya-harga-gas-industri-dari-ongkos-transportasi-hingga-margin-rnVFvynnjq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pipa Gas PGN (Foto: Okezone.com/Feby)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/09/320/2151135/sederet-pemicu-mahalnya-harga-gas-industri-dari-ongkos-transportasi-hingga-margin-rnVFvynnjq.jpg</image><title>Pipa Gas PGN (Foto: Okezone.com/Feby)</title></images><description>JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut ada beberapa penyebab yang menjadikan harga gas industri di Indonesia mahal.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Setiawan Handoko mengatakan, ada banyak komponen yang membuat harga gas di pelaku industri menjadi tinggi.

&quot;Seperti komponen transportasi, kemudian ada toll fee termasuk margin dari penjualan di midstream,&quot; ujar dia di Gedung City Plaza, Jakarta, Kamis (9/1/2020).
Baca Juga: Menteri ESDM Pilih Terapkan Aturan DMO Baru untuk Turunkan Harga Gas
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan secara umum harga gas nasional di hulu sekitar USD5,4 per MMBTU.

&quot;Kalau on shore sekitar USD4 per MMBTU. Kemudian yang di off shore agak lebih tinggi sedikit. Berbeda-beda memang. Average kita di USD5,4 per MMBTU,&quot; ungkap dia.
Baca Juga: Menko Luhut Targetkan Harga Gas Turun Jadi USD6/MMBTU di Maret
Dia menjelaskan, dalam alur distribusi harga gas bisa berbeda-beda. Harga gas akan semakin mahal jika membeli melalui calo.

&quot;Namun, dalam perjalanannya sampai di industri kalau yang langsung dengan Kontrkator Kontrak Kerja Sama (K3S) bisa USD6-USD7 per MMBTU. Yang lewat trading atau calo bisa USD8-9 MMBTU,&quot; ungkap dia.

Dia juga menambahkan, saat ini pihaknya tengah melakukan kajian  mengenai kemungkinan penurunan harga gas di setiap tempat eksplorasi  gas.

&quot;Ada 3 opsi antara lain bagian negara yang kemungkinan bisa dikurangi  itu yang kita coba exercise, porsi-porsi pajak atau insentif lain  sehingga bisa menekan harga gas ini yang kita lakukan. Harus blok per  blok. Kondisi keekonomisan kalau di upstream selalu diaudit sama BPK,&quot;  pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, gas bukan  semata-mata sebagai komoditas, tapi juga modal pembangunan yang akan  memperkuat industri nasional. Ia menyebutkan, ada enam sektor industri  yang menggunakan 80% volume gas Indonesia, baik itu pembangkit listrik,  industri kimia, industri makanan, industri keramik, industri baja,  industri pupuk, industri gelas.

&quot;Artinya ketika porsi gas sangat besar bagi struktur biaya produksi  maka harga gas akan sangat berpengaruh pada daya saing produk industri  kita di pasar dunia. Kita kalah terus poduk-produk kita gara-gara harga  gas kita yang mahal,&quot; kata Presiden Jokowi.
</description><content:encoded>JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut ada beberapa penyebab yang menjadikan harga gas industri di Indonesia mahal.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Setiawan Handoko mengatakan, ada banyak komponen yang membuat harga gas di pelaku industri menjadi tinggi.

&quot;Seperti komponen transportasi, kemudian ada toll fee termasuk margin dari penjualan di midstream,&quot; ujar dia di Gedung City Plaza, Jakarta, Kamis (9/1/2020).
Baca Juga: Menteri ESDM Pilih Terapkan Aturan DMO Baru untuk Turunkan Harga Gas
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan secara umum harga gas nasional di hulu sekitar USD5,4 per MMBTU.

&quot;Kalau on shore sekitar USD4 per MMBTU. Kemudian yang di off shore agak lebih tinggi sedikit. Berbeda-beda memang. Average kita di USD5,4 per MMBTU,&quot; ungkap dia.
Baca Juga: Menko Luhut Targetkan Harga Gas Turun Jadi USD6/MMBTU di Maret
Dia menjelaskan, dalam alur distribusi harga gas bisa berbeda-beda. Harga gas akan semakin mahal jika membeli melalui calo.

&quot;Namun, dalam perjalanannya sampai di industri kalau yang langsung dengan Kontrkator Kontrak Kerja Sama (K3S) bisa USD6-USD7 per MMBTU. Yang lewat trading atau calo bisa USD8-9 MMBTU,&quot; ungkap dia.

Dia juga menambahkan, saat ini pihaknya tengah melakukan kajian  mengenai kemungkinan penurunan harga gas di setiap tempat eksplorasi  gas.

&quot;Ada 3 opsi antara lain bagian negara yang kemungkinan bisa dikurangi  itu yang kita coba exercise, porsi-porsi pajak atau insentif lain  sehingga bisa menekan harga gas ini yang kita lakukan. Harus blok per  blok. Kondisi keekonomisan kalau di upstream selalu diaudit sama BPK,&quot;  pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, gas bukan  semata-mata sebagai komoditas, tapi juga modal pembangunan yang akan  memperkuat industri nasional. Ia menyebutkan, ada enam sektor industri  yang menggunakan 80% volume gas Indonesia, baik itu pembangkit listrik,  industri kimia, industri makanan, industri keramik, industri baja,  industri pupuk, industri gelas.

&quot;Artinya ketika porsi gas sangat besar bagi struktur biaya produksi  maka harga gas akan sangat berpengaruh pada daya saing produk industri  kita di pasar dunia. Kita kalah terus poduk-produk kita gara-gara harga  gas kita yang mahal,&quot; kata Presiden Jokowi.
</content:encoded></item></channel></rss>
