<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berpenghasilan Tinggi tapi Milenial Sering Bokek, Kenapa?</title><description>Memiliki uang yang banyak adalah impian dari setiap orang, apalagi milenial yang memiliki banyak keinginan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152338/berpenghasilan-tinggi-tapi-milenial-sering-bokek-kenapa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152338/berpenghasilan-tinggi-tapi-milenial-sering-bokek-kenapa"/><item><title>Berpenghasilan Tinggi tapi Milenial Sering Bokek, Kenapa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152338/berpenghasilan-tinggi-tapi-milenial-sering-bokek-kenapa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152338/berpenghasilan-tinggi-tapi-milenial-sering-bokek-kenapa</guid><pubDate>Selasa 14 Januari 2020 08:35 WIB</pubDate><dc:creator>Fabbiola Irawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/13/320/2152338/berpenghasilan-tinggi-tapi-milenial-sering-bokek-kenapa-7Xblvly0Kz.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Milenial (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/13/320/2152338/berpenghasilan-tinggi-tapi-milenial-sering-bokek-kenapa-7Xblvly0Kz.jpeg</image><title>Milenial (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Memiliki uang yang banyak adalah impian dari setiap orang, apalagi milenial yang memiliki banyak keinginan. Namun, zaman modern serba canggih ini, kebutuhan tersier sudah menjadi kebutuhan primer.
Kebutuhan seperti mobil mewah, pakaian bermerek, tas branded, atau arloji yang keren menjadi keperluan yang wajib dimiliki oleh seorang milenial. Milenial kini identik dengan kemewahan dan memiliki banyak uang.
Baca Juga: Uniknya Pola Asuh Generasi Milenial dalam Membesarkan Anak, Banyak Nilai Plus Lho
 
Namun beberapa milenial yang berpenghasilan tinggi masih saja merasa kekurangan uang. Simak tiga alasan para milenial yang masih merasa bangkrut:
1. Gaya Hidup Berlebihan
Kebanyakan milenial yang memiliki pendapatan luar biasa, biasanya menjadi korban gaya hidup. Salah satu masalah ialah mereka biasanya hidup atau memiliki gaya hidup di atas kemampuan mereka. Demikian dikatakan oleh Perencana Keuangan di Drucker Wealth, Gideon Drucker dilansir dari Business Insider, Selasa (14/1/2020).

Memaksakan gaya hidup di luar kemampuan dan berpura-pura &amp;lsquo;kaya&amp;rsquo;, akan membuat para milenial mengeluarkan lebih banyak uang. Menurut Drucker, milenial tadinya terbiasa hidup sekitar USD3.000 atau Rp40 juta (Kurs13.476/USD) sampai USD4.000 atau Rp53 juta per bulannya, para milenial dapat mengeluarkan uang hingga USD10 ribu atau Rp134 juta per bulan karena gaya hidup yang boros.
Pilihan gaya hidup ini adalah kontradiksi yang tepat untuk menggambarkan pepatah &amp;lsquo;hindari gaya hidup boros adalah cara kunci untuk membangun kekayaan.2. Dikelilingi Harga Tinggi
Walau menempuh gaya hidup hemat, ada juga milenial yang masih  kekurangan uang. Hal ini bisa saja disebabkan oleh harga-harga yang kian  tinggi. Ekonomi juga sedang dalam tingkat tertinggi, apalagi  pengangguran di Amerika Serikat (AS) sebesar 3,5% atau angka paling  rendah dalam beberapa kurun waktu terakhir.
Sementara itu, harga rata-rata penjualan rumah telah meningkat  sebesar 39% dan biaya kesehatan juga meningkat USD9.000 atau Rp121 juta  sejak 1970. Biaya pendidikan juga meningkat lebih dari dua kali lipat  dan membuat para siswa AS meminjam lebih banyak daripada sebelumnya.  Total utang pinjaman mahasiswa nasional AS kini mencapai USD1,5 triliun  atau Rp20.214 triliun.

 
3. Punya Rp1 Miliar Bukan Berarti Kaya Raya
Ketika biaya hidup meningkat, penghasilan yang besar dirasa tidak  pernah cukup. Dalam perekonomian AS, kini USD100 ribu atau Rp1 miliar  dianggap kelas menengah di AS. The Pew Research Center mendefinisikan  kelas menengah AS adalah orang yang berpenghasilan dua pertiga hingga  dua kali lipat dari pendapatan rata-rata yaitu sebesar USD60.336 atau  Rp813 juta, itu berarti kelas menengah AS berpenghasilan sekitar  USD40.425 atau Rp544 juta hingga Rp120.672 atau Rp1 miliar.
Bagi milenial yang merasa bangkrut meski berpenghasilan tinggi,  situasi-situasi di atas haruslah diakali. Mereka harus pilih-pilih  ketika membagi uang mereka untuk beberapa keperluan. Milenial juga harus  mempertimbangkan untuk menyisihkan uang untuk masa depan.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Memiliki uang yang banyak adalah impian dari setiap orang, apalagi milenial yang memiliki banyak keinginan. Namun, zaman modern serba canggih ini, kebutuhan tersier sudah menjadi kebutuhan primer.
Kebutuhan seperti mobil mewah, pakaian bermerek, tas branded, atau arloji yang keren menjadi keperluan yang wajib dimiliki oleh seorang milenial. Milenial kini identik dengan kemewahan dan memiliki banyak uang.
Baca Juga: Uniknya Pola Asuh Generasi Milenial dalam Membesarkan Anak, Banyak Nilai Plus Lho
 
Namun beberapa milenial yang berpenghasilan tinggi masih saja merasa kekurangan uang. Simak tiga alasan para milenial yang masih merasa bangkrut:
1. Gaya Hidup Berlebihan
Kebanyakan milenial yang memiliki pendapatan luar biasa, biasanya menjadi korban gaya hidup. Salah satu masalah ialah mereka biasanya hidup atau memiliki gaya hidup di atas kemampuan mereka. Demikian dikatakan oleh Perencana Keuangan di Drucker Wealth, Gideon Drucker dilansir dari Business Insider, Selasa (14/1/2020).

Memaksakan gaya hidup di luar kemampuan dan berpura-pura &amp;lsquo;kaya&amp;rsquo;, akan membuat para milenial mengeluarkan lebih banyak uang. Menurut Drucker, milenial tadinya terbiasa hidup sekitar USD3.000 atau Rp40 juta (Kurs13.476/USD) sampai USD4.000 atau Rp53 juta per bulannya, para milenial dapat mengeluarkan uang hingga USD10 ribu atau Rp134 juta per bulan karena gaya hidup yang boros.
Pilihan gaya hidup ini adalah kontradiksi yang tepat untuk menggambarkan pepatah &amp;lsquo;hindari gaya hidup boros adalah cara kunci untuk membangun kekayaan.2. Dikelilingi Harga Tinggi
Walau menempuh gaya hidup hemat, ada juga milenial yang masih  kekurangan uang. Hal ini bisa saja disebabkan oleh harga-harga yang kian  tinggi. Ekonomi juga sedang dalam tingkat tertinggi, apalagi  pengangguran di Amerika Serikat (AS) sebesar 3,5% atau angka paling  rendah dalam beberapa kurun waktu terakhir.
Sementara itu, harga rata-rata penjualan rumah telah meningkat  sebesar 39% dan biaya kesehatan juga meningkat USD9.000 atau Rp121 juta  sejak 1970. Biaya pendidikan juga meningkat lebih dari dua kali lipat  dan membuat para siswa AS meminjam lebih banyak daripada sebelumnya.  Total utang pinjaman mahasiswa nasional AS kini mencapai USD1,5 triliun  atau Rp20.214 triliun.

 
3. Punya Rp1 Miliar Bukan Berarti Kaya Raya
Ketika biaya hidup meningkat, penghasilan yang besar dirasa tidak  pernah cukup. Dalam perekonomian AS, kini USD100 ribu atau Rp1 miliar  dianggap kelas menengah di AS. The Pew Research Center mendefinisikan  kelas menengah AS adalah orang yang berpenghasilan dua pertiga hingga  dua kali lipat dari pendapatan rata-rata yaitu sebesar USD60.336 atau  Rp813 juta, itu berarti kelas menengah AS berpenghasilan sekitar  USD40.425 atau Rp544 juta hingga Rp120.672 atau Rp1 miliar.
Bagi milenial yang merasa bangkrut meski berpenghasilan tinggi,  situasi-situasi di atas haruslah diakali. Mereka harus pilih-pilih  ketika membagi uang mereka untuk beberapa keperluan. Milenial juga harus  mempertimbangkan untuk menyisihkan uang untuk masa depan.</content:encoded></item></channel></rss>
