<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nenek-Nenek Bakal Jadi Konsumen Utama Fashion dan Kecantikan, Bisa Tembus Rp191 Triliun</title><description>Industri fashion dan kecantikan memiliki sejarah panjang tentang ageism  yang biasanya mendiskriminasi seseorang berdasarkan umurnya.&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152798/nenek-nenek-bakal-jadi-konsumen-utama-fashion-dan-kecantikan-bisa-tembus-rp191-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152798/nenek-nenek-bakal-jadi-konsumen-utama-fashion-dan-kecantikan-bisa-tembus-rp191-triliun"/><item><title>Nenek-Nenek Bakal Jadi Konsumen Utama Fashion dan Kecantikan, Bisa Tembus Rp191 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152798/nenek-nenek-bakal-jadi-konsumen-utama-fashion-dan-kecantikan-bisa-tembus-rp191-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/14/320/2152798/nenek-nenek-bakal-jadi-konsumen-utama-fashion-dan-kecantikan-bisa-tembus-rp191-triliun</guid><pubDate>Selasa 14 Januari 2020 18:08 WIB</pubDate><dc:creator>Irene</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/14/320/2152798/nenek-nenek-bakal-jadi-konsumen-utama-fashion-dan-kecantikan-bisa-tembus-rp191-triliun-kXzHsFV5ox.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wanita Tua fesyen (Business Insider)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/14/320/2152798/nenek-nenek-bakal-jadi-konsumen-utama-fashion-dan-kecantikan-bisa-tembus-rp191-triliun-kXzHsFV5ox.jpg</image><title>Wanita Tua fesyen (Business Insider)</title></images><description>JAKARTA - Industri fashion dan kecantikan memiliki sejarah panjang tentang ageism yang biasanya mendiskriminasi seseorang berdasarkan umurnya. Namun, dengan mengalihkan perhatiannya hanya kepada generasi muda, industri ini berisiko kehilangan miliaran dolar AS.

Melansir Business Insider, Senin (13/1/2020), menurut sebuah studi yang dibuat oleh International Longevity Centre-UK (ILC), mengatakan bahwa ageism dapat menyedot hingga 11 miliar poundsterling atau lebih dari USD14 miliar atau Rp191,45 triliun (kurs Rp13.675/USD). Hal ini diprediksikan bakal terjadi dalam 20 tahun ke depan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: RI Bersaing dengan Malaysia hingga UEA Berebut Industri Fesyen Muslim
&quot;Sudah terlalu lama industri fashion dan kecantikan telah sangat menentang untuk mengakui betapa generasi konsumen yang berusia matang ingin tetap tampil modis dan penuh gaya&quot; ujar Diane Kenwood, perwakilan studi ILC kepada The Guardian, Senin (13/1/2020)

Diane juga mengatakan potensi dari generasi konsumen berumur matang sangatlah besar, namun telah tergeser dengan cara yang memalukan. Peningkatan dalam iklan dan daya beli tidaklah cukup untuk sepenuhnya mempengaruhi industri mode untuk tidak meninggalkan konsumen berumur matang ini.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Promosikan Kerajinan Bordir, Pemkot Kudus Gandeng Desainer Ternama 
Sedangkan para model dengan umur matang telah lama melintang dalam industri fashion beberapa tahun terakhir. Misalnya aktris 72 tahun Helen Mirren yang berperan sebagai brand ambassador L'Oreal. Juga seorang penulis berumur 82 tahun Joan Didion yang disorot ntuk membintangi kampanye pada 2015 silam untuk brand Celine. Tidak hanya itu, penyanyi sekaligus penulis lagu Joni Mitchell yang berumur 76 tahun juga menjadi model dalam kampanye brand Saint Laurent, dan 2019 lalu, Iris Apfel yang berusia 92 tahun menandatangani kontrak permodelan dengan IMG.

Penelitian Centre yang mengatakan perempuan biasanya berhenti menghabiskan uang untuk fashion mereka saat mencapai umur 75 tahun terbukti salah. Menurut laporan Amelia Hill kepada The Guardian, mereka yang dianggap sebagai &quot;orang tua&quot; memiliki peningkatan dalam pengeluaran mereka untuk fashion.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indonesia Display Buka Warehouse di Swiss
Peningkatan mencapai angka 21% antara tahun 2011 dan 2018. Generasi umur matang ini ternyata masih tertarik untuk mencari dan merasa modis dan penuh gaya.&quot;Fashion dan produk kecantikan telah mengabaikan pelanggan mereka  yang memiliki umur matang. Daripada berusaha mencapai demografi yang  cerdas ini, mereka memangsa rasa ketidakamanan dan menggunakan ketakutan  untuk mempropagandakan umur untuk menjual produk kecantikan yang  menjanjikan ideologi konyol dari 'anti-ageing' (atau anti penuaan  dini),&quot; ungkap Ari Seth Cohen, dari Advanced Style.

Sementara itu, penelitian menunjukkan konsumen dengan umur matang  menginginkan lebih dari sebuah pengalaman dalam hal berbelanja. Mereka  menginginkan merek dengan pesan yang mendukung penyebab yang penting  bagi mereka. Mereka juga ingin sebuah merek yang inklusif dan beragam  dalam kampanye dan iklan. Dan yang terpenting, merek itu bisa tampil  se-otentik mungkin di mana segala sesuatu dipentaskan untuk media  sosial.

Jika generasi boomer (kelahiran 1946-1964) telah dianggap sebagai  &quot;orang tua&quot; dan gen x sedang dalam perjalanan ke sana, maka  mengesampingkan keduanya ini tidak hanya dimaksudkan untuk  mendiskriminasikan usia atau ageism yang menjadi masalah budaya dan  sosial. Tetapi juga hal ini juga mengabaikan suatu kombinasi yang dapat  menjadi pasar triliunan dolar.</description><content:encoded>JAKARTA - Industri fashion dan kecantikan memiliki sejarah panjang tentang ageism yang biasanya mendiskriminasi seseorang berdasarkan umurnya. Namun, dengan mengalihkan perhatiannya hanya kepada generasi muda, industri ini berisiko kehilangan miliaran dolar AS.

Melansir Business Insider, Senin (13/1/2020), menurut sebuah studi yang dibuat oleh International Longevity Centre-UK (ILC), mengatakan bahwa ageism dapat menyedot hingga 11 miliar poundsterling atau lebih dari USD14 miliar atau Rp191,45 triliun (kurs Rp13.675/USD). Hal ini diprediksikan bakal terjadi dalam 20 tahun ke depan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: RI Bersaing dengan Malaysia hingga UEA Berebut Industri Fesyen Muslim
&quot;Sudah terlalu lama industri fashion dan kecantikan telah sangat menentang untuk mengakui betapa generasi konsumen yang berusia matang ingin tetap tampil modis dan penuh gaya&quot; ujar Diane Kenwood, perwakilan studi ILC kepada The Guardian, Senin (13/1/2020)

Diane juga mengatakan potensi dari generasi konsumen berumur matang sangatlah besar, namun telah tergeser dengan cara yang memalukan. Peningkatan dalam iklan dan daya beli tidaklah cukup untuk sepenuhnya mempengaruhi industri mode untuk tidak meninggalkan konsumen berumur matang ini.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Promosikan Kerajinan Bordir, Pemkot Kudus Gandeng Desainer Ternama 
Sedangkan para model dengan umur matang telah lama melintang dalam industri fashion beberapa tahun terakhir. Misalnya aktris 72 tahun Helen Mirren yang berperan sebagai brand ambassador L'Oreal. Juga seorang penulis berumur 82 tahun Joan Didion yang disorot ntuk membintangi kampanye pada 2015 silam untuk brand Celine. Tidak hanya itu, penyanyi sekaligus penulis lagu Joni Mitchell yang berumur 76 tahun juga menjadi model dalam kampanye brand Saint Laurent, dan 2019 lalu, Iris Apfel yang berusia 92 tahun menandatangani kontrak permodelan dengan IMG.

Penelitian Centre yang mengatakan perempuan biasanya berhenti menghabiskan uang untuk fashion mereka saat mencapai umur 75 tahun terbukti salah. Menurut laporan Amelia Hill kepada The Guardian, mereka yang dianggap sebagai &quot;orang tua&quot; memiliki peningkatan dalam pengeluaran mereka untuk fashion.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indonesia Display Buka Warehouse di Swiss
Peningkatan mencapai angka 21% antara tahun 2011 dan 2018. Generasi umur matang ini ternyata masih tertarik untuk mencari dan merasa modis dan penuh gaya.&quot;Fashion dan produk kecantikan telah mengabaikan pelanggan mereka  yang memiliki umur matang. Daripada berusaha mencapai demografi yang  cerdas ini, mereka memangsa rasa ketidakamanan dan menggunakan ketakutan  untuk mempropagandakan umur untuk menjual produk kecantikan yang  menjanjikan ideologi konyol dari 'anti-ageing' (atau anti penuaan  dini),&quot; ungkap Ari Seth Cohen, dari Advanced Style.

Sementara itu, penelitian menunjukkan konsumen dengan umur matang  menginginkan lebih dari sebuah pengalaman dalam hal berbelanja. Mereka  menginginkan merek dengan pesan yang mendukung penyebab yang penting  bagi mereka. Mereka juga ingin sebuah merek yang inklusif dan beragam  dalam kampanye dan iklan. Dan yang terpenting, merek itu bisa tampil  se-otentik mungkin di mana segala sesuatu dipentaskan untuk media  sosial.

Jika generasi boomer (kelahiran 1946-1964) telah dianggap sebagai  &quot;orang tua&quot; dan gen x sedang dalam perjalanan ke sana, maka  mengesampingkan keduanya ini tidak hanya dimaksudkan untuk  mendiskriminasikan usia atau ageism yang menjadi masalah budaya dan  sosial. Tetapi juga hal ini juga mengabaikan suatu kombinasi yang dapat  menjadi pasar triliunan dolar.</content:encoded></item></channel></rss>
